video kafka

Kami menjenguk kembali video itu pekan lalu. Kafka jadi sosok dominan di sana. Dia baru dua tahun. Berkulit putih, tak seperti ayahnya. Beralis tebal, seperti ibunya.

“Mana awat?” ujar Kafka dalam video tersebut. Maksud dia, “Ke mana pesawatnya?” Saat itu dia ada di balkon rumah. Di langit terdengar deru. Dia tahu itu adalah suara pesawat terbang yang melintas.

Menontonnya kembali sekarang, saya senyum-senyum. Dulu boro-boro… Kafka disebut terlambat dalam soal bicara. Plus, dia juga dinilai sukar berkonsentrasi. Dokter menyarankan agar Kafka menjalani terapi. Continue reading

usia 17

Mira Sato merilis kumpulan puisi ini pada 1975, saat dirinya baru 17 tahun. Judulnya: MATI MATI MATI. Memuat 19 karya. Saya kutipkan satu:

Perjalanan

awan yang menggumpal berarak-arak
tetes hujan yang jatuh di pegunungan
mata air, sungai, dan muara
punggung lautan yang diusap matahari

Saya memperolehnya pekan lalu dari seorang penjual buku online. Hanya 25 ribu perak — sangat murah jika dibandingkan “nilai sejarah” kitab kurus ini. Continue reading

wij sluiten nu

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer berlayar ke Hindia Belanda. Pada Agustus 1936 itu, ia ditunjuk menjadi gubernur jenderal. Ia segera membetot perhatian lantaran dua hal. Pertama, baru 48 tahun – terbilang muda untuk jabatan tersebut. Kedua, nyaris tak mengenal Hindia Belanda.

Lantas, ia dikenang sebagai birokrat konservatif, tapi murah senyum. Saya membuka Runtuhnya Hindia Belanda karya Onghokham dan cerita soal van Starkenborgh hadir di sana.

Ong, mengutip penulis dan tokoh sosialis demokrat Belanda, J. de Kadt, untuk melukiskan van Starkenborgh. “…seorang birokrat kaku yang ditimbun tumpukan kertas di atas meja… rakyat melihatnya sebagai bapak yang selalu tersenyum saja… mengingatkan pada advertensi tapal gigi Pepsodent…” tulis Ong dalam karya yang semula merupakan skripsinya di jurusan Sejarah UI itu. Continue reading

jogja, sukarno-hatta, kemenangan

Musim mudik. Foto-foto bertebaran di linimasa. Juga foto-foto di Jogja. Lantas, saya yang tak mudik ke sana atau tempat lain, hanya bisa mengenang.

Dari lantai teratas toko itu, Juni lalu, saya menengok ke luar. Anak-anak sibuk dengan kentang goreng dan milk shake. Istri berkutat dengan batik di bawah sana. Ketika gerimis di luar, saya melihat Jogja. Becak, andong, pedagang kaki lima. Ramai manusia.

Toko itu terletak di Jl Ahmad Yani. Saya semula menyangka masih di Jl Malioboro. Ternyata, tak terputus tapi berubah nama. Continue reading

di rumah maeda

Saya memutar setir, masuk ke halaman gedung itu. “Parkir di pojok sana saja, Pak,” kata seseorang di pos jaga. Ia mengenakan safari hitam lengan panjang. Sempat terbayangkan betapa gerah dibalut busana semacam itu saat Jakarta dianiaya matahari.

Beberapa tukang tengah bekerja, mengecat ulang bagian depan gedung. Saya masuk dan tertegun. Inilah bekas rumah Laksamana Maeda yang bersejarah itu. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Saya ada janji dengan sejarawan Rusdhy Hoesein.

Rumah ini bernilai sejarah karena menjadi tempat naskah proklamasi disusun. Kini, nama resminya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Terletak di Jl Imam Bonjol, Menteng, hanya sepelemparan batu dari rumah dinas Jokowi di seberang Taman Surapati. Continue reading

den haag, 9 maret 1928

Buku pesanan itu tiba kemarin siang. Judulnya Indonesia Merdeka. Ya, ini terjemahan pledoi Mohammad Hatta di pengadilan Den Haag, Belanda, 9 Maret 1928. Ia ditahan bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Sutan Pamontjak, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat. Mereka semua aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Kalau kita baca memoar Hatta, semula ada tiga tuduhan buatnya: menjadi anggota organisasi terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut untuk melawan Kerajaan Belanda. Saat jaksa membacakan dakwaan, tinggal satu tersisa, yaitu tuduhan terakhir. Mr JEW Duijs, Mr Mobach, dan Mr Weber mendampingi mereka sebagai pengacara. Continue reading

membaca fariz

Semula arena di Java Jazz Festival 2014 itu nyaris penuh. Setelah sekitar 10 menit, keadaan berubah. Satu per satu penonton “Legendary Chrisye Dekade Project” keluar. Mungkin bosan hanya disuguhi cuplikan video dan penampilan musisi kurang terkenal.

Saya dan istri bertahan. Tengok kanan-kiri, ruangan kini tinggal berisi puluhan orang. Tiba-tiba, seorang pria ceking setengah berlari memasuki panggung. Rambutnya yang memutih diikat. Saya kira, bukan hanya kami yang terkejut. Kemudian seseorang berteriak, “Fariiiizz…” Continue reading

erwin arnada

Jika tak ada aral, September nanti, buku saya dilempar ke pasar. Judulnya: Jurnalis Berkisah. Tiga Serangkai yang menerbitkannya. Bisa ditebak dari judul, buku itu memuat cerita pengalaman para jurnalis–persisnya, jurnalis Indonesia. Dengan sejumlah pertimbangan, saya memilih 10 jurnalis.

Salah satu jurnalis itu adalah Erwin Arnada, mantan Pemimpin Redaksi Playboy Indonesia. Teman-teman, ini nukilan tulisan tentangnya di buku itu: Continue reading

pada sebuah kapal

“Kirimi makanan dan minuman. Saya tidak akan meninggalkan kapal.”

Demikian pesan Kapten Abdul Rivai, nakhoda KM Tampomas II, kepada Kapten Sumirat, nakhoda KM Sangihe. Tampomas II sedang terbakar di perairan Masalembo, akhir Januari 1981. Kapal tersebut hendak menuju Ujung Pandang (kini, Makassar). Sangihe mendekat, coba menolong.

Sumirat tahu benar watak Rivai. Mereka satu angkatan di akademi pelayaran. Pelaut sejati, kata Sumirat. Continue reading

imran dan kontroversinya

Buku terbitan 1982 ini tiba kemarin. Tua dan langka. Saya pesan secara online. Isinya dakwaan, pledoi, replik, duplik, dan tuntutan dalam perkara Imran, yang dituding sebagai otak pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla. Terlampir juga sejumlah berita terkait perkara menghebohkan ini.

Banyak hal menarik dimuat. Salah satunya percakapan Pembela di persidangan dengan seorang anggota jamaah Imran yang dijadikan saksi. Percakapan itu dikutip koran Pelita.

“Siapa yang memerintahkan penyerangan Cicendo?”

“Najamudin.”

“Saudara tahu siapa Najamudin itu?”

“Tahu, dia seorang intel.” Continue reading