subur bulungan

Kami berjumpa di depan SMA 6 Jakarta. Tak sengaja. Kebetulan.

“Lho, Mas Subur, apa kabar?” kata saya.

“Eh baik. Dari mana? Ambil raport juga?” kata Subur. Saya tak yakin dia ingat nama saya. Ingat wajah mungkin. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Saya memang baru mengambil raport bayangan Havel.

“Yang mana anakmu? Ada fotonya gak?” kata dia. Saya merogoh saku, mengambil ponsel. Menunjukkan foto si sulung.

Subur tinggal di lingkungan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan di Bulungan. Sampai sekarang di sana, bahkan ketika usianya menjelang senja kini. Dia bagian dari kaum Arek Blok M.

Anak-anak SMA 6 sekarang mengenalnya sebagai Babeh Taman — karena memang kerap nongkrong di taman depan sekolah.

Saat sekolah di SMA 70, saya mengenal dia. Orangnya ramah. Meski, banyak orang bilang, dia jagoan. Dia sering membantu ketika kelompok drama kami hendak manggung.

Langit gelap. Sebentar lagi hujan. Saya pamit ke Subur. Dia tersenyum.

kacamata

Kami menuju sebuah optik. Hasil pemeriksaan, Kafka disarankan mengenakan kacamata. Mata dia dinyatakan minus dan ada silindrisnya.  Mata kanan minus 0,5; yang kiri 1,25.

Usia Kafka baru sembilan tahun. Terlalu dini, pikir saya. Kami menghampiri optik lain — hanya belasan meter dari optik pertama. Semoga ada kabar baik. Ups, hasilnya sama: anak bungsu kami itu memang kudu menggunakan kacamata.

Ada masa ketika kacamata identik dengan sosok serius, pendiam, kaku. Mengingat asosiasi ini, saya mengernyitkan jidat: Kafka lumayan jauh dengan semua sifat itu.

Mungkin Bung Hatta bisa menjadi contoh paripurna. “Oom Hatta selalu terlihat serius, untuk itu kami menjulukinya “Oom Kacamata” … Oom Hatta sangat teratur menyusun acara-acaranya yang dilakukan setiap hari. Mengajar murid jam 11.00, membaca jam 13.00 hingga 14.00. Setelah makan siang, dilanjutkan istirahat siang selama satu jam,” tulis Des Alwi.

Des mengenal Hatta saat orang Minang itu dibuang rezim kolonial ke Banda Neira. Des lahir di Banda. Ia masih bocah saat Hatta mendarat di sana pada awal 1936.

Terkait buku, Hatta dikenal kaku. Ia kerap meminjamkan buku-bukunya. Namun, akan gusar jika peminjam mengembalikan dalam keadaan lecek atau dihiasi coretan.  Hatta memperlakukan buku sebagai harta tak ternilai, yang layak dijaga sepenuh hati.

Pernyataan Hatta ini masih sering dikutip: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas.” Sejumlah anak muda bahkan menaruhnya sebagai teks di kaos oblong.

Namun, ada sosok berkacamata lain yang mengendap di ingatan: John Lennon. Berbeda dengan Hatta, Lennon adalah sosok urakan. Ya, soal karakter, Kafka rada dekat dengan Lennon.

Bentuk kacamata Lennon bundar. Jenis ini disebut teashades. Mulai banyak digunakan sejak awal 1960-an di Amerika Serikat dan Eropa. Terutama, konon, untuk menyembunyikan efek narkotika di sekitar mata.

Untuk memperingati ulang tahun ke-44 pernikahan dengan Lennon, Maret 2013, Yoko Ono men-tweet foto kacamata yang berlumuran darah itu — salah satu benda yang dipakai Lennon saat kematiannya. Dalam tweet itu, Yoko Ono menulis, “Lebih dari 1.057.000 orang tewas akibat penyalahgunaan senjata di AS, sejak Lennon ditembak dan dibunuh Mark Chapman pada 8 Desember 1980.”

Hatta dan Lennon sama-sama pejuang. Dengan cara masing-masing, mereka melawan ketidakadilan, peduli dengan situasi di luar. Pada 1969,  Give Peace a Chance  dinyanyikan ratusan ribu orang pada demonstrasi besar di Washington DC untuk menentang Perang Vietnam. Pada tahun yang sama, Lennon mengembalikan penghargaan dari Ratu Elizabeth II beberapa tahun sebelumnya sebagai protes atas dukungan Inggris untuk perang tersebut.

Nah, agar tudingan tak peduli menjauh, saya harus segera mencari kacamata buat Kafka. Give glasses a chance

rute pulang dan surat nashar

Dari kantor di Senayan, saya punya tiga rute pulang. Karang Tengah-Cinere, Cirendeu-Cinere, atau Ciputat Raya-Kertamukti-Cinere.  Ketika berangkat, saya nyaris pasti menempuh Karang Tengah.

Barangkali soal rasa lelah. Setelah berkutat beberapa jam di kantor, saya ingin perjalanan pulang lebih mengasyikkan. Atau, mungkin lebih tepatnya tidak membosankan. Berganti-ganti rute menjadi resep yang kiranya mujarab.

Begitu yang terjadi sampai kemudian saya membaca ulang kumpulan refleksi pelukis Nashar dalam Surat-surat Malam.  Pada surat kedua, Nashar teringat pertanyaan, atau lebih tepat gugatan, kawan yang dikiriminya surat tersebut: “Apa yang kau cari dengan perahu-perahu, hingga kau getol sekali bolak-balik ke Kali Baru? Apa tidak bosan? Kenapa kau terikat sekali pada perahu-perahu di Kali Baru itu?”

Penjelasan Nashar agak unik, menurut saya. Ia bilang tak ingin berjiwa turistik. Datang, lihat-lihat, lalu pergi. Ia ingin alam dan lingkungan kampung nelayan di Jakarta Utara itu merasuk ke dirinya. “Karena aku sering ke sini, lama-lama aku betah. Barangkali hanya inilah yang bisa aku katakan: kebetahan inilah yang kucari,” tulis seniman asal Minang ini.

Jadi kalau ada pelukis yang melukis obyek yang sama terus-menerus, ada kemungkinan dia memergoki hakikat hidup di sana. Lantas, terus menggali. Letak persoalan, kata Nashar, bukan pada pengulangan, tapi penggaliannya.

Tapi saya hanya hendak menuju rumah, bukan membuat karya seni. Bisakah pikiran-pikiran Nashar itu diterapkan? Oke, saya putuskan melakukan semacam “penggalian” seperti diargumenkan pelukis yang juga guru gambar sosiolog Arief Budiman saat SMP tersebut.

Saya pilih sebuah kedai ayam goreng pinggir jalan di ujung terminal Lebak Bulus. Nah, saban kali melintas, saya melambatkan sepeda motor, lalu mengamati kedai itu: ibu penjual mengenakan baju apa, bagaimana rupa para pembeli, di mana piring-piring dicuci, dan seterusnya.

Tentu saya tak mencari hakikat hidup — dengan observasi ala kadarnya itu. Tapi siapa tahu menemukan sesuatu. Entah apa.

Jadi, tak lagi tiga rute pulang? Tinggal dua. Beberapa puluh meter dari kedai itu, saya belok kiri. Lalu, bisa pilih masuk Karang Tengah atau lewat Cirendeu.

kang jalal

Kayaknya langka buku teks berbahasa Indonesia seperti Psikologi Komunikasi ini. Tak bikin jidat berkerut karena kemampuan bertutur yang mumpuni. Bernas lantaran riset kepustakaan yang serius.

Juga kaya ilustrasi. Penulisnya, Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal, mengutip dialog dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare. Pun menaruh puisi Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live. Petikannya:

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
…….

Kekuatan lain buku ini adalah humor. Kebanyakan berwajah satire, humor ditebar sejak halaman-halaman pertama. Pada pengantar edisi kedua, Kang Jalal menulis, “Resensi-resensi yang dilakukan pada surat kabar-surat kabar dan majalah memenuhi dua keinginan saya — ingin diperhatikan dan ingin dipuji.” Mak jleb! Continue reading “kang jalal”

berseteru, bersatu

“Meskipun mereka masih menghormati Sukarno sebagai lambang perjuangan nasional, mereka mengkritik taktiknya yang kaku…” tulis sejarawan Australia, John Ingleson, dalam Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934.

Sukarno dinilai terlalu frontal, kurang pintar menghitung posisi kaum pergerakan vis a vis rezim kolonial, dan hanya doyan menyihir massa dengan orasi tapi tak peduli edukasi.

“Mereka” yang dimaksud Ingleson terutama kelompok Mohammad Hatta. Namun keprihatinan juga disampaikan kalangan lebih tua seperti Tjipto Mangunkusumo. Dokter itu menulis surat ke Sukarno dan berikut petikannya, “Jika saudara jatuh, PNI akan tidak mempunyai pemimpin. Tidakkah saudara sebaiknya lebih moderat? Saya kira pidato-pidato telah cukup banyak…” Continue reading “berseteru, bersatu”

video kafka

Kami menjenguk kembali video itu pekan lalu. Kafka jadi sosok dominan di sana. Dia baru dua tahun. Berkulit putih, tak seperti ayahnya. Beralis tebal, seperti ibunya.

“Mana awat?” ujar Kafka dalam video tersebut. Maksud dia, “Ke mana pesawatnya?” Saat itu dia ada di balkon rumah. Di langit terdengar deru. Dia tahu itu adalah suara pesawat terbang yang melintas.

Menontonnya kembali sekarang, saya senyum-senyum. Dulu boro-boro… Kafka disebut terlambat dalam soal bicara. Plus, dia juga dinilai sukar berkonsentrasi. Dokter menyarankan agar Kafka menjalani terapi. Continue reading “video kafka”

usia 17

Mira Sato merilis kumpulan puisi ini pada 1975, saat dirinya baru 17 tahun. Judulnya: MATI MATI MATI. Memuat 19 karya. Saya kutipkan satu:

Perjalanan

awan yang menggumpal berarak-arak
tetes hujan yang jatuh di pegunungan
mata air, sungai, dan muara
punggung lautan yang diusap matahari

Saya memperolehnya pekan lalu dari seorang penjual buku online. Hanya 25 ribu perak — sangat murah jika dibandingkan “nilai sejarah” kitab kurus ini. Continue reading “usia 17”

wij sluiten nu

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer berlayar ke Hindia Belanda. Pada Agustus 1936 itu, ia ditunjuk menjadi gubernur jenderal. Ia segera membetot perhatian lantaran dua hal. Pertama, baru 48 tahun – terbilang muda untuk jabatan tersebut. Kedua, nyaris tak mengenal Hindia Belanda.

Lantas, ia dikenang sebagai birokrat konservatif, tapi murah senyum. Saya membuka Runtuhnya Hindia Belanda karya Onghokham dan cerita soal van Starkenborgh hadir di sana.

Ong, mengutip penulis dan tokoh sosialis demokrat Belanda, J. de Kadt, untuk melukiskan van Starkenborgh. “…seorang birokrat kaku yang ditimbun tumpukan kertas di atas meja… rakyat melihatnya sebagai bapak yang selalu tersenyum saja… mengingatkan pada advertensi tapal gigi Pepsodent…” tulis Ong dalam karya yang semula merupakan skripsinya di jurusan Sejarah UI itu. Continue reading “wij sluiten nu”

jogja, sukarno-hatta, kemenangan

Musim mudik. Foto-foto bertebaran di linimasa. Juga foto-foto di Jogja. Lantas, saya yang tak mudik ke sana atau tempat lain, hanya bisa mengenang.

Dari lantai teratas toko itu, Juni lalu, saya menengok ke luar. Anak-anak sibuk dengan kentang goreng dan milk shake. Istri berkutat dengan batik di bawah sana. Ketika gerimis di luar, saya melihat Jogja. Becak, andong, pedagang kaki lima. Ramai manusia.

Toko itu terletak di Jl Ahmad Yani. Saya semula menyangka masih di Jl Malioboro. Ternyata, tak terputus tapi berubah nama. Continue reading “jogja, sukarno-hatta, kemenangan”

di rumah maeda

Saya memutar setir, masuk ke halaman gedung itu. “Parkir di pojok sana saja, Pak,” kata seseorang di pos jaga. Ia mengenakan safari hitam lengan panjang. Sempat terbayangkan betapa gerah dibalut busana semacam itu saat Jakarta dianiaya matahari.

Beberapa tukang tengah bekerja, mengecat ulang bagian depan gedung. Saya masuk dan tertegun. Inilah bekas rumah Laksamana Maeda yang bersejarah itu. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Saya ada janji dengan sejarawan Rusdhy Hoesein.

Rumah ini bernilai sejarah karena menjadi tempat naskah proklamasi disusun. Kini, nama resminya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Terletak di Jl Imam Bonjol, Menteng, hanya sepelemparan batu dari rumah dinas Jokowi di seberang Taman Surapati. Continue reading “di rumah maeda”