hikmat yang (terlalu cepat) berangkat

Sering seusai mengunggah tulisan di website pribadi, dia mengirim link-nya ke saya. Selalu disertai komentar pendek — ada humor, ada sikap rendah hati di sana.

Esai-esainya mencerminkan bacaan yang luas, tilikan yang tajam, dan bahasa yang enak. Dia bukan intelektual kaleng-kaleng. Skripsinya di Sosiologi UGM, yang kemudian dibukukan, membahas pemikiran Daniel Bell.

Beberapa bulan lalu, saya ngomporin, “Kapan buku utuh kayak Lubang Hitam Kebudayaan terbit, Mas? Jangan2 lagi diedit…”

“Masih lama. Masih dalam angan-angan,” jawab dia.

Lalu pria baik hati itu menyambar lagi, “Saya, antara lain, pingin nulis soal media sosial dan kekuasaan. Tapi datanya masih minim.”

Buku tersebut tak akan pernah lahir. Kabar kepergiannya datang pagi ini. Sangat mengagetkan dan membuat mata hangat.

Selamat jalan, Mas Hikmat Budiman.

anugerah membaca cerita dea

Pernah dengar nama Georg Eberherd Rumpf?  Ia lahir di Hanau, Jerman, pada 1627. Dari ayahnya, ia belajar matematika, bahasa Latin, dan teknik menggambar mekanik. Tapi ia tak mengikuti jejak sebagai insinyur sipil. Rumpf memilih melanglang buana. Termasuk, akhirnya, menetap di Maluku.

Bosan jadi serdadu, Rumpf alias Rumphius terpikat untuk mempelajari alam tropis.  Rumpf kelak dikenal sebagai pakar botani masyhur yang menulis D’Amboinsche Rariteitkamer alias Kotak Keajaiban Pulau Ambon (1705) dan Herbarium Amboinense atau Kitab Jamu-jamuan Ambon (1741).

Jauh sebelumnya, pada 1670, Rumpf buta karena glukoma. “Tanpa penglihatan, Rumphius mengandalkan indra-indranya yang lain buat memahami dan menggambarkan temuannya. Ia menyentuh, mencecap, dan menghidu aroma spesimen-spesimennya dengan perhatian lebih, dan upaya itu melengkapi ingatannya yang kuat atas warna dan keterampilannya menciptakan perumpamaan visual,” tulis Dea Anugerah dalam esai Orang Buta Berpandangan Jauh.

Empat tahun sejak kebutaan datang, istri dan putri Rumpf tewas karena gempa besar. Rangkaian tregadi ini tak meremukkannya.  Ia melanjutkan penelitian. Tiga belas tahun kemudian,  api memusnahkan   rumah, termasuk perpustakaan, Rumpf. Gambar-gambar yang akan melengkapi Herbarium Amboinense, manuskrip tentang kerang-kerang dan siput-siput (bakal buku D’Amboinsche Rariteitkamer), dan koleksi spesimennya ludes terbakar. Yang selamat hanya naskah Herbarium Amboinense.  Tetap tak surut, ia mengerjakan ulang naskahnya.

Rumphius merupakan salah satu sosok yang dipaparkan Dea dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yang Kita Punya. Di luar itu, kita diajak bertemu tokoh-tokoh kondang seperti Clint Eastwood atau Ernest Hemingway. Dibujuk pula menyimak kisah mereka yang jauh dari terkenal, tapi menarik, seperti  mantan tahanan politik Rosidi atau penulis cum penerjemah Nurul Hanafi.

Membaca hikayat Eastwood, kita bisa sedikit tenang: menjadi tua tak identik dengan nestapa. Lihat, sampai usia 30-an, ia adalah aktor kelas dua di Hollywood. Makin ke sini, makin moncer. Sejumlah penghargaan Oscar mampir ke tangannya. “…Eastwood adalah bagian dari sekelompok kecil sutradara istimewa yang membuat para penonton berpikir, ” kutip Dea dari Clint Eastwood’s America karya Sam B. Girgus.

Beberapa paragraf dibentangkan  secara atraktif sebagai pengantar.  Pada akhirnya, Dea menyusun daftar sejumlah film Eastwood yang disebut  sebagai “pengantar buat mengenal dunia sinematik” pria yang pernah jadi simbol machoisme itu.

Kita, eh saya, tercenung: anak Bangka ini “berbahaya”  lantaran punya kejelian sudut pandang, kepiawaian bertutur, dan kerja riset yang serius. Satu lagi: stok humor getir di sana-sini.  Mau contoh?  “Demi masa, sesungguhnya tak ada kewajiban pada siapa pun untuk meniru  Amien Rais atau Taufiq Ismail. Dunia ini cukup luas untuk menampung orang-orang tua yang gembira dan menggembirakan,” tulis lulusan Filsafat UGM itu pada bagian awal esainya tentang Eastwood.

Saya sungguh menikmati kumpulan karya nonfiksi (esai dan feature) Dea yang pertama dan sebagian besar telah terbit di Tirto.id tersebut. O iya, ini buku terbitan 2019. Namun saya baru menyentuhnya pada awal tahun yang begitu mencemaskan dan menggamangkan ini.

Managing editor di Asumsi.co  ini tak melulu mengisahkan “tokoh.”  Ia juga menulis tentang  “pokok.”  Misalnya, soal industri pisang, sejarah pemusnahan buku, konflik Israel-Palestina, atau perseteruan antar penulis.  Untuk tema terakhir, hadir esai “Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh.”  Dea menuturkan cemooh William Faulkner pada Ernest Hemingway, Mark Twain yang mengejek Jane Austen,  dan cerita-cerita serupa di Eropa atau Amerika Utara. Pun memaparkan cemooh cerpenis Idrus untuk Pramoedya Ananta Toer: “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!”

“Cemooh antar penulis, terutama di dunia berbahasa Inggris, lumrah diklipingkan sebagai dokumen kebudayaan yang penting. Di dalamnya kerap terkandung rekaman pertentangan ideologi, estetika, dan lain-lain. Dan yang nilainya tak kalah besar,  saling cemooh adalah pertunjukan keterampilan mengolah kata-kata,” tulis Dea yang kumpulan cerpennya, Bakat Menggonggong,  menjadi salah satu Buku Indonesia Terbaik 2016 versi majalah Rolling Stone Indonesia itu.

Ia juga meriwayatkan, ehm,  soal masturbasi.  Ia menjelajahi  tema yang jarang diulik di luar rubrik kesehatan ini, mendedahkan kembali pendapat mereka yang kontra maupun yang pro. Dari kalangan yang kontra, salah satunya, Dea mengutip Bapak Pandu Sedunia, Robert Baden Powell, yang bilang cara terbaik mencegah masturbasi  “ialah dengan merendamnya dalam air sedingin es setiap pagi.”

Bacalah cerita-cerita  Dea. Semoga Anda mendapat anugerah, seperti saya, berupa pengetahuan baru atau perspektif segar atas sebuah persoalan atau hal lain. Dari kisah Georg Eberherd Rumpf, misalnya,  kita belajar: jangan jadi pencundang  yang  cuma meratap ketika dihimpit keterbatasan dan nasib buruk.

 

 

ibadah sehari-hari buldanul khuri

Saksi Mata  melambungkan nama Seno Gumira Ajidarma lebih tinggi ke langit kesusastraan Indonesia. Di sampul belakang tertulis, “Buku ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia untuk mempertahankan atau menyempurnakan kemanusiaannya.”

Dihiasi gambar Agung Kurniawan, desain sampul dibikin Buldanul Khuri – biasa disapa Buldan. Nama terakhir bukan hanya berurusan dengan sampul. Ia adalah otak di balik Bentang Budaya, penerbit kumpulan cerpen tersebut.

Bentang adalah salah satu “monumen budaya” dari  dekade 90-an. Masih lekat di ingatan beberapa  buku  penting dan menarik dari Bentang. Misalnya, Senjakala Kebudayaan (kumpulan esai Nirwan Dewanto yang memuat makalahnya di Kongres Kebudayaan 1991) atau Zaman Peralihan (kumpulan esai Soe Hok Gie). Juga kumpulan surat pelukis Nashar yang diterbitkan ulang di bawah judul Nashar oleh Nashar  dan terbitan ulang novel masyhur Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit.

Buldan dengan Tiga Bukan ini adalah catatan ringkas penyair Dorothea Rosa Herliany yang merekam kiprah Buldan sebagai “orang buku” sejak 1992, saat berada di puncak  maupun di nadir. Diterbitkan secara indie oleh Mata Angin, buku ini memantik rasa penasaran saya sejak pertama kali dipromosikan di media soaial.

Tentu, hampir seluruh halaman mengisahkan Buldan dalam membesarkan Bentang – meski penerbit itu tak lagi miliknya sejak 2004.

Periode 1994-1998 adalah masa-masa sulit untuk Buldan. Saking keteterannya, ia harus berjualan kaktus di Bundaran UGM.  “Selama empat tahun itu, Bentang berada dalam belitan utang yang terus menumpuk. Para karyawan Bentang yang rata-rata teman sehari-harinya, satu per satu pergi kerena gaji terbengkalai,” tulis Rosa.

 Saksi Mata, Senjakala Kebudayaan, dan Zaman Peralihan  terbit pada periode saat Buldan harus pontang-panting menghidupi perekonomian keluarganya tersebut. Tak meleset kiranya jika frasa dari Rendra disematkan ke Buldan: gagah dalam kemiskinan. Ia menerbitkan karya-karya kaliber juara meski hidupnya memprihatinkan.

Nasib tak selamanya kelam. Pada awal 1998, naluri bisnisnya bekerja dengan baik saat memutuskan untuk menerbitkan ulang karya Kahlil Gibran,  Cinta, Keindahan, Kesunyian. Buku terjemahan ini pertama kali meluncur pada November 1997. Eh, ternyata laris.

Sampai Maret 1998, buku itu dicetak enam kali, dengan total 16 ribu eksemplar. Bentang lalu menerbitkan terjemahan karya-karya Gibran yang lain. Eh, disambut pasar juga.  Bentang bersinar, Buldan pun merangkak ke titik puncak. Ia membeli rumah, mobil, juga pelesir ke luar negeri.

Selain buku-buku Gibran, bantuan dana dari Ford Foundation juga menghidupkan Bentang. Buku-buku diterbitkan dengan sokongan donasi tersebut. Periode 1998-2002 menjadi masa keemasan Bentang. Sebulan bisa menerbitkan 30 buku.

***

Ada dua ciri menonjol Bentang. Pertama, desain sampul.  Buldan kerap melibatkan para perupa menyumbangkan karyanya.  Karya perupa seperti Djoko Pekik, Nasirun, Danarto,  Agung Kurniawan, Agus Suwage pernah  mampir di sampul buku terbitan Bentang. Buldan mau meletakkan sampul sebagai sebuah elemen yang sungguh penting, tidak kalah dengan isi buku.

Tak ada yang baru di bawah matahari. “Buldan menyatakan apa yang telah dilakukannya  dalam pengolahan desain kover ini diilhami kekagumannya  atas sampul  buku-buku Pustaka Jaya  di era 1970-an,” tulis Rosa.

Cuma cerita Rosa nanggung. Tak diungkapkan apakah Buldan memperoleh karya-karya perupa itu secara gratis (karena alasan pertemanan) atau membayar. Detail-detail begini saya butuhkan sebagai pembaca. Tak usah bertele-tele, cukup 1-2  paragraf.

Hampir semua sampul buku Bentang didesain oleh Buldan. “Setiap kali mendapatkan naskah baru yang menarik, aku selalu merasakan hawa panas dalam tubuhku, dan ingin segera merancang covernya,” demikian pengakuan ayah empat anak ini. Ia pernah kuliah di Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan desain komunikasi visual.

Ciri menonjol yang kedua adalah pilihan tema buku. Bentang memilih seni, sastra, dan filsafat. Ini pilihan tema yang dijauhi kebanyakan penerbit pada masa itu karena pasar tak banyak menyerap.

***

Pada 2002, penerbit Mizan mengajak kerja sama. Buldan tak merespons. Wong lagi berjaya, ngapain? Tak lama berselang, Bentang mulai oleng dihantam beragam persoalan.  Minat pembaca mulai bergeser dan ada kelemahan dari sisi manajerial.

Tiga rumah dan tiga mobil Buldan harus dijual untuk menutup kerugian. Pada 2004, justru Buldan yang mengetuk pintu Mizan.

Bentang tidak bisa dibeli, karena tidak bisa diaudit. Buldan dan Mizan lalu sepakat membentuk perusahaan baru, namanya Bentang Pustaka. Ia menjadi direkturnya tapi tidak berkuasa. Karena ada CEO dari penerbit dari Bandung tersebut. Buldan hanya diwajibkan datang Senin dan Jumat. Senin untuk perancangan, Jumat evaluasi.

Buldan mengaku, situasi baru ini ternyata membuatnya tidak kreatif. Kebebasan dan inspirasi dalam dirinya tidak muncul kalau harus bekerja dalam pengawasan “industrial. Ia pun akhirnya keluar dari Bentang.

***

Kemarin saya lihat Buldan memasang fotonya sedang membaca buku Puncak Kekuasaan Mataram karya H.J. De Graaf di akun facebook-nya. “…saat ini daminya sdg dikirim ke Belanda, utk dibaca yg terakhir kalinya oleh KITLV, sebelum dicetak banyak. Semoga bulan ini sdh bisa hadir ke hadapan Anda,” tulisnya di-caption. Buku terjemahan itu pada 1986 pernah diterbitkan Grafiti Pers.

Ia terus bergerak. Sendiri. Mencetak buku 300 eksemplar, dengan nama penerbit MataBangsa atau MataAngin, sudah cukup. Jika laku, ya alhamdulillah; kalau tidak dibeli, ya tidak apa-apa. Menurut Rosa, bekerja di perbukuan, bagi Buldan, adalah ibadah sehari-harinya.

“…aku itu sudah “selesai”  dalam perkara membuat buku-buku  seperti yang dulu-dulu pernah kubuat. Kalau sekarang masih bikin buku, itu sekadar untuk iseng dan kesenangan,” kata Buldan seperti dicatat Rosa.

Mungkin tak tersisa mimpi untuk membuat buku sefenomenal Saksi Mata,  25 tahun silam. Mungkin…

 

 

 

pria aceh dan tionghoa

Akhirnya kesampaian juga saya berkunjung ke Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di BSD, Tangeran Selatan.

Pria berdarah Aceh,  Azmi Abubakar, mendirikannya pada 2011. Ia mengumpulkan buku, koran, dan bahan tertulis lain soal Tionghoa sejak 1998.

Kerusuhan Mei 1998, dengan banyak keturunan Tionghoa menjadi korban, memicunya untuk mencari tahu: mengapa mereka menjadi sasaran.

Sebagian besar isi museum diperoleh Azmi dengan merogoh kantong sendiri. Sebagian kecilnya adalah hasil sumbangan. Ada sekitar 30 ribu item pustaka di sana dan terus bertambah. “Yang tertua dari tahun 1600-an,” ujar insinyur sipil ini.

Majalah TEMPO edisi 9 Maret 2019 menaruh judul “Manusia Langka dari Serpong” untuk reportase yang membahas kiprah pria murah senyum tersebut. Edisi itu membahas sejumlah calon legislatif dengan rekam jejak keren yang berniat maju ke Senayan. Salah satunya: Azmi.

Sejauh ini Azmi menolak bantuan berupa uang untuk museumnya. Ia tak mau terikat dan tergantung pihak lain.

Telah banyak peneliti dan mahasiswa yang memetik manfaat. Juga para pengunjung lain yang tertarik meski tanpa motif akademis.

Kini ruko dua lantai tersebut sudah sesak. Bahkan, di tangga juga teronggok buku-buku.

“Ada rencana mau pindah, sudah gak muat. Aku masih cari-cari lokasi. Yang pasti tetap di Tangsel atau Tangerang,” kata Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Banten itu.

bung karno dan polemik

Alkisah pada September 1980 – Maret 1981 meletus polemik tentang Bung Karno. Belum ada media sosial saat itu, gelanggangnya adalah koran dan majalah.

Rosihan Anwar yang memicu dengan mengungkap ulang, dalam artikelnya di koran KOMPAS, bahwa ada surat-surat Bung Karno yang meminta ampun pada Jaksa Agung Hindia Belanda pada 1933. Konon surat dilayangkan saat Bung Karno mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung.

Mengungkap ulang? Ya, Rosihan sebenarnya hanya mengutip temuan John Ingleson yang dituangkan dalam buku Road to Exile: The Indonesian Nationalist Movement 1927-1934. Melihat rekam jejak Ingleson, ia bukan pembual di warung kopi. Ia punya kredensial sebagai peneliti dan akademisi sejarah .

Sejumlah pihak pun unjuk tanggapan atas hal tersebut. Di antaranya Mohamad Roem, Sitor Situmorang, Mahbub Djunaidi, Taufik Abdullah, Onghokham dll. Banyak di antara mereka yang meragukan otentisitas surat-surat itu. Sangat mungkin rezim kolonial mengkreasinya untuk merontokkan kredibilitas Bung Karno, kata mereka.

“Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada berita di surat kabar pada waktu itu mengenai surat-surat Bung Karno itu. Tetapi adalah aneh sekali mengapa pemerintah Belanda pada waktu itu begitu bodoh untuk tidak mengumumkan surat-surat Bung Karno tersebut kalau memang ada,” kata sejarawan Onghokham kepada koran Merdeka.

Di luar itu semua, buku 50 halaman ini penting karena memuat (mungkin) semua tulisan yang terlibat polemik. Ada sejumlah esai, juga reportase.

arief budiman, pergi dengan penghormatan

Dia menatap jenazah adik kandungnya, terbungkus dalam plastik transparan dengan kedua ujung diikat tali.

Saat itu tengah malam di rumah seorang kepala desa di kaki Gunung Semeru, Jawa Timur. Pria itu, terlahir sebagai Soe Hok Djin dan lebih dikenal sebagai Arief Budiman, membatin, “Tentu sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu.”

Sang adik, Soe Hok Gie, meninggal dunia beberapa hari sebelumnya, tercekik asap beracun puncak Semeru. Arief menuliskan kenangan tersebut dalam kata pengantar Catatan Seorang Demonstran.

Siang tadi, Arief menyusul  sang adik, hampir 50 tahun kemudian. Linimasa lantas riuh rendah dengan penghormatan untuknya.

 

2.

Perjalanan hidup Arief memang layak menuai pujian. Ia banyak menulis di media massa, mengkritisi penguasa yang korup bin zalim. Juga turun ke jalan. Pada 1971, ia sempat dibui karena memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah.

Ia pula yang terdepan menggelindingkan ide “Golongan Putih” atau Golput — gerakan menolak menggunakan hak suara dalam Pemilu 1971.  Arief menggagasnya karena menganggap Orde Baru membonsai demokrasi dengan  membatasi partai yang ikut pemilu. Sampai hari ini, istilah Golput abadi.

Sejumlah buku ditulisnya. Termasuk yang berasal dari disertasinya di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Judul buku itu gagah: Jalan Demokratis ke Sosialisme – Pengalaman Chili di Bawah Allende.

Sepulang dari Harvard pada 1981, Arief menjadi juru kampanye utama untuk pendekatan struktural dalam ilmu sosial di Indonesia – pendekatan yang banyak diadvokasi cendekiawan neo-marxis seperti Paul Baran atau Andre Gunder Frank.  Ia dengan lugas mengkritik pendekatan psikologis/kebudayaan yang ketika itu mendominasi.

Pendek cerita, pendekatan psikologis/kebudayaan percaya bahwa akar masalah sosial adalah mentalitas. Perihal kemiskinan, misalnya, terjadi karena kemalasan atau etos kerja yang payah. Di seberangnya, pendekatan struktural meyakini bahwa  seseorang atau sekelompok orang rudin lantaran ada sistem yang melanggengkan ketimpangan sosial-ekonomi.

Arief percaya pada sosialisme. “Hidup di negara kapitalis membuat saya kasihan melihat kaum miskin yang tertindas. Parah sekali jadi orang miskin di Amerika,” katanya kepada MATRA, April 1994.

Lalu, ia bertengkar dengan pihak rektorat Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang dianggap melanggar aturan main. Arief pun dipecat dan beberapa tahun kemudian pindah mengajar ke Universitas Melbourne, Australia.

 

3.

Terutama pada masa mudanya, Arief juga banyak bergerak di ranah kesenian. Ia rutin menulis kritik sastra. Bersama Goenawan Mohamad, ia adalah penandatangan Manifes Kebudayaan termuda – baru 22 tahun. Mereka ketika itu sama-sama mahasiswa Psikologi UI.

Arief juga gemar baca filsafat. Goenawan mengaku kagum dengan Arief yang menguasai bagian-bagian yang sulit dari Being and Nothingness  versi Inggris karya Sartre.

Goenawan pernah menulis, dunia pergaulan Hok Gie dan Arief berbeda. Gie akrab dengan aktivis politik, terutama dari Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). “Sementara Arief lebih banyak bergaul dengan perupa seperti Nashar, Zaini, Oesman Effendi, dan Trisno Sumardjo, dan kemudian dengan saya, Rendra, dan penulis lain,” tulis Goenawan dalam esai Arief Budiman: Yang Akrab dengan Yang Murni.

Sewaktu SMP, Arief pernah belajar melukis pada sejumlah perupa di Balai Budaya, Menteng.  Namun ia merasa paling dekat dengan Nashar, sosok yang digambarkannya dengan “bajunya selalu kusam, sepatunya (kalau dia pakai sepatu) tidak pernah makan semir.” Arief mengaku, dengan Nashar, jarak dan tembok antara murid dangan guru tidak ada.

Setelah Orde Lama tumbang, Arief ikut mendirikan majalah sastra Horison,  bahkan menjadi inisiatornya. Jadi, suatu hari di 1966, Arief mengunjungi jurnalis dan sastrawan Mochtar Lubis yang masih menjadi tahanan politik Orde Lama. Mereka ngobrol soal suasana kesusastraan yang pengap oleh tekanan rezim. Mochtar berjanji, jika keluar penjara nanti, dia akan mendirikan majalah sastra.

Orde Baru membebaskan Mochtar. Tak lama kemudian, dia mendatangi sejumlah teman pengusahanya.  Dana penerbitan pun tercukupi. Nama yang disepakati adalah Horison. Terbit pertama kali pada Juli 1966. Selain Mochtar dan Arief, ada HB Jassin, DS Moeljanto, Zaini, dan Taufiq Ismail di Dewan Redaksi Horison.

 

4.

Publik akan terus mengingat Arief sebagai pejuang demokrasi dan cendekiawan teladan, bakal mengenang ayah dua anak ini selaku sosok yang lurus dalam sikap dan perbuatan.

Ia (mungkin) akan berjumpa lagi dengan Hok Gie dan bisa kembali ngomong, “Gie, kamu tidak sendirian” – seperti saat menutup kata pengantar  yang menggetarkan itu.

 

 

melambat

Thomas L. Friedman membuka Thank You For Being Late dengan mengutip ilmuwan Marie Curie: “Nothing in life is to be feared, it is only to be understood. Now is the time to understand more, so that we may fear less.”

Untuk bisa mengerti, kata Friedman, kita perlu melambat. Membaca, mendengar, merenung.

Tapi agaknya cukup banyak dari kita, mungkin termasuk saya, tak cukup punya kesabaran. Akhirnya, gampang berkomentar meski pengetahuan cuma seujung kuku atau jempol super lincah menyebar informasi tanpa filterisasi yang memadai.

Juga pada hari-hari ini. Tengok  media sosial. Banyak orang berlomba ingin mengabarkan hal-ihwal soal Corona. Langsung main forward — mungkin dengan semacam disclaimer setelahnya: “ini bener gak ya?” atau “cuma copas dari sebelah.”

sumber: pixabay.com

Sindrom fear of missing out (FOMO) terlihat nyata. Demokratisasi informasi mencapai titik ekstrem, yaitu terciptanya situasi “the death of expertise.” Berbekal sejumput bacaan di dunia maya, banyak orang langsung merasa pintar tentang sesuatu hal dan memiliki otoritas untuk berbicara.

Bising dan bikin mental cedera, kata seorang kawan. Barangkali ada benarnya.

Dua telinga, satu mulut. Kita seharusnya lebih banyak menyimak ketimbang ngoceh. Dengan begitu bisa memilah dan memilih dengan lebih baik. Agar bisa lebih mengerti…

kang yoyon

Orde Baru membredel TEMPO, DeTIK, dan Editor pada 21 Juni 1994. Di Radio Mara, Bandung, Mohamad Sunjaya memutar berulang-ulang Song for Liberty dari Opera Nabuco karya Giuseppe Verdi.

“Saya protes, saya marah, saya pilu, saya tak bisa apa-apa lagi. Saya ulang-ulang tuh lagu,” kata Kang Yoyon, panggilan akrab Sunjaya, kepada jurnalis Agus Sopian yang menulis kisah Radio Mara.

Kang Yoyon bukan penyiar biasa. Dia juga seorang aktor teater yang andal. Dibesarkan Studiklub Teater Bandung (STB), dia lalu mendirikan Actors Unlimited. Untuk Radio Mara, dia bekerja sejak 1971.

Pada 1990-an itu, saya beberapa kali ke kantor Radio Mara untuk bertemu Noor Achirul Layla atau Mbak Ea, dosen wali, yang juga bekerja di sana. “Elu beruntung dapat dia,” kata Mbak Ea saat saya mengajak pacar. Saya hanya tergelak.

(Mbak Ea lebih dulu pamit pada November 2003. Ribuan orang mengantar pemakamannya.)

Orang-orang Mara, dalam penglihatan saya: berpikiran bebas, urakan, ogah menyembah-nyembah otoritas formal.

Pada November 1991, Kang Yoyon dipecat dari posisi pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan Radio pada Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat. Pria kelahiran 1937 itu dianggap bersalah menugaskan reporter untuk meliput demonstrasi mahasiswa yang menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

Sejatinya, Kang Yoyon bukan tak bisa berbuat apa-apa dengan pembredelan tiga media tersebut. Dia rajin merekam siaran radio-radio luar negeri berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah pembredelan.

Puluhan kaset rekaman milik adik kandung Jenderal Yogie S Memet itu kemudian ditranskrip dan dibukukan dengan judul Bredel di Udara. Inilah dokumentasi amat berharga atas praktik kezaliman sebuah rezim.

Kemarin sore kabar duka itu tiba. Wilujeng angkat, Kang Yoyon. Titip salam buat Pak Ton ( atau Jenderal HR Dharsono yang banyak membantu Radio Mara di masa-masa awal) dan Mbak Ea.

akhir pekan tanpa kompas

Sudah sebulan lebih tak menerima Kompas edisi akhir pekan. Tak ada kabar dari bapak yang biasa mengantar dengan sepeda motor itu.

O iya, kami hanya berlangganan untuk Sabtu dan Minggu. Menunggu puisi, cerpen, cerita persona, laporan perjalanan dan pertunjukan, juga kolom Samuel Mulia dan Bre Redana.

Bre pernah menulis kolom di Kompas Minggu yang menuai kontroversi. Judulnya “Inikah Senjakala Kami?” Ia membuka dengan kalimat ini: “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat.

Baris-baris selanjutnya adalah kritik atas anjloknya kualitas jurnalisme di tangan media daring. “Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik,” tulis Bre.

Soal penurunan mutu ini yang memantik polemik. Bre dianggap terlalu menggeneralisir. Siapa bilang koran juga tak menghasilkan sampah? Apakah otomatis media daring tak menghasilkan karya level juara? Dan seterusnya.

Nah, perihal meredupnya media cetak, itu mustahil dibantah. Tiras terus merosot, pemasang iklan kian menjauh. Ya, tak banyak lagi memang yang membaca media cetak. Seorang teman, Tommy Hutomo, menuliskan kisahnya sebagai dosen di halaman facebook saya.

“Baik, sebelum saya mulai. siapa yang satu minggu terakhir membaca koran atau majalah?” tanya Tommy ke mahasiswanya.

Hening.

“Dalam satu bulan terakhir?”

Hening.

“Oke, dalam satu tahun terakhir membaca koran atau majalah?”

Dua dari 30 mahasiswa di kelas pengantar jurnalistik mengangkat tangan.

Saya adalah bagian dari kaum minoritas itu. Edisi Senin sampai Jumat, baca di kantor. Bukan hanya Kompas, tapi juga Koran TEMPO, Republika, dan Jawa Pos. Nah, untuk edisi tertentu yang layak dikoleksi, saya membeli secara eceran di jalan. Misalnya edisi dalam foto di atas.

Ahad kemarin membongkar timbunan kertas di rumah, mencari bon tagihan koran. Ada nomor telepon di sana untuk mencari tahu. Tapi nihil. Kertas-kertas itu kadung dibuang.

Menyesal saya tak pernah menanyakan nama dan nomor teleponnya. Memang jarang bertemu. Ia biasa melemparkan koran ke teras depan dan berlalu. Sebulan sekali menyampaikan tagihan. Bahkan terkadang ia menagih dua bulan sekali.

Semoga Pak Pengantar sehat-sehat belaka. Semoga pula kualitas jurnalisme kita tak makin bikin hati merana.