imran dan kontroversinya

Buku terbitan 1982 ini tiba kemarin. Tua dan langka. Saya pesan secara online. Isinya dakwaan, pledoi, replik, duplik, dan tuntutan dalam perkara Imran, yang dituding sebagai otak pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla. Terlampir juga sejumlah berita terkait perkara menghebohkan ini.

Banyak hal menarik dimuat. Salah satunya percakapan Pembela di persidangan dengan seorang anggota jamaah Imran yang dijadikan saksi. Percakapan itu dikutip koran Pelita.

“Siapa yang memerintahkan penyerangan Cicendo?”

“Najamudin.”

“Saudara tahu siapa Najamudin itu?”

“Tahu, dia seorang intel.” Continue reading “imran dan kontroversinya”

brad dan angelina

Havel dan Kafka,

Pasang mata, pasang telinga. Ternyata inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak terkecuali, dari ranah selebritas yang di sini kerap dicerca.

———————

Brad Pitt & Angelina Jolie
By George Clooney

It is one thing to talk about the problems of the world and quite another to actually try to change things.

As a team, actors Brad Pitt, 44, and Angelina Jolie, 32, have served as our goodwill ambassadors worldwide. They brought help to Pakistan in 2005, after a catastrophic earthquake killed tens of thousands of people and left millions homeless. They have tended to the poor and sick in Africa. And they’ve raised global awareness—and contributed $1 million of their own money—for the victims of atrocities in Darfur. Brad co-founded Not on Our Watch, an organization set up to focus global attention on Darfur and other hot spots.

In the U.S., Brad and Angelina didn’t just talk about, or even just throw money at, the tragic fallout from Hurricane Katrina. They actually moved to New Orleans and have set about trying to make right what so many have made wrong. Brad established a project to finance and build 150 new homes in the Ninth Ward.

Angelina has worked tirelessly through the United Nations on behalf of refugees around the world, touring border camps in Africa, Asia and Latin America and lobbying on Capitol Hill. The couple cares for three adopted children, from Cambodia, Ethiopia and Vietnam, in addition to their biological daughter.

There are hundreds of people who could be honored for their good works, but I’ve seen Brad and Angelina firsthand, and their commitment together is truly impressive.

*) Clooney is actively engaged in trying to resolve the Darfur crisis

(sumber tulisan di atas adalah ini.)

marsillam

Havel,

Pada 1989, ketika menginjak usia 46 tahun, Marsillam Simanjuntak mempertahankan skripsi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Judulnya: Unsur Hegelian dalam Pandangan Negara Integralistik. Niscaya, ini bukan skripsi formalitas, yang dibikin sekadar agar bisa keluar kampus dengan menenteng status sarjana. Kata beberapa orang, mutunya tak kalah dengan disertasi.

Lima tahun kemudian, dengan sejumlah revisi di sana-sini, skripsi tersebut diterbitkan. Judulnya lebih singkat: Pandangan Negara Integralistik. Dua nama begitu kerap disebut di buku itu: Georg W.F. Hegel dan Supomo. Pemilik nama pertama ditengarai sangat memengaruhi si empunya nama kedua. Itu terbaca dalam proses penyusunan UUD 1945, yang juga melibatkan Supomo dan bapak bangsa lain.

Dari benak Supomo, meluncurlah pandangan negara integralistik: negara dan rakyat tak terpisahkan, keduanya memiliki kepentingan yang identik—lantaran itu, mustahil negara menindas rakyat. Maka, enyahlah individualisme dan liberalisme!

Ada Hatta yang menentang pandangan Supomo. Putra Minang itu menyerukan unsur-unsur kedaulatan rakyat. Dan, inilah ujung persabungan ide: Supomo kalah, tafsirnya masuk tong sampah sejarah. Namun, ketika Marsillam menulis karya itu, tafsir tersebut telah dimunculkan lagi ke permukaan. Dan, praktik politik Orde Baru mengafirmasinya.

Marsillam sendiri adalah salah seorang seteru Orde Baru. Gara-gara Malari, ia pernah masuk bui. Jika ingatanku tak berkhianat, saat itu ia bekerja sebagai dokter di Garuda Indonesia. Lepas dari penjara, aktivis 66 ini kembali ke Garuda. Tapi, akibat emoh mengikuti penataran P4, ia mesti hengkang.

Sedikit saja informasi yang aku miliki tentang Marsillam. Aku cuma pernah dengar, teman Gus Dur sejak kecil ini punya keluasan wawasan dan sangat kuat berlogika. Jangan berani menantang berdiskusi jika tak siap dengan segudang “amunisi.” Lalu, bahwa halak hita ini punya integritas, susah diajak kompromi. Ketika para politisi di Senayan tak meloloskannya sebagai anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa tahun lalu, seorang teman berkata, “Duh, para koruptor pasti lega….”

Saat Pandangan Negara Integralistik terbit, arwah Supomo mungkin gerah di alam kubur. Kini, sejumlah kalangan gusar menyaksikan Marsillam masuk (lagi) ke lingkaran dalam istana.

nachtwey

Havel,

Hanya dengan delapan ribu perak, aku memperoleh War Photographer. (Ssst, jangan bilang pada teman-temanku. Malu. Banyak di antara mereka sudah menontonnya di Jiffest 2002). Film dokumenter karya Christian Frei ini merekam beberapa penggal pengalaman James Nachtwey di lapangan. Luar biasa.

Banyak orang bilang, Nachtwey adalah fotografer perang nomor satu sejagat. Lahir pada 1948, pria Amerika ini telah terjun di banyak kancah konflik, termasuk Indonesia. Tapi, jangan silap: Nachtewy bukan pemuja “darah.” Cermati ideologi antiperang dari kredo dia di bawah ini.

Why photograph war?

There has always been war. War is raging throughout the world at the present moment. And there is little reason to believe that war will cease to exist in the future. As man has become increasingly civilized, his means of destroying his fellow man have become ever more efficient, cruel and devastating.

Is it possible to put an end to a form of human behavior which has existed throughout history by means of photography? The proportions of that notion seem ridiculously out of balance. Yet, that very idea has motivated me.

For me, the strength of photography lies in its ability to evoke a sense of humanity. If war is an attempt to negate humanity, then photography can be perceived as the opposite of war and if it is used well it can be a powerful ingredient in the antidote to war.

In a way, if an individual assumes the risk of placing himself in the middle of a war in order to communicate to the rest of the world what is happening, he is trying to negotiate for peace. Perhaps that is the reason why those in charge of perpetuating a war do not like to have photographers around.

It has occurred to me that if everyone could be there just once to see for themselves what white phosphorous does to the face of a child or what unspeakable pain is caused by the impact of a single bullet or how a jagged piece of shrapnel can rip someone’s leg off – if everyone could be there to see for themselves the fear and the grief, just one time, then they would understand that nothing is worth letting things get to the point where that happens to even one person, let alone thousands.

But everyone cannot be there, and that is why photographers go there – to show them, to reach out and grab them and make them stop what they are doing and pay attention to what is going on – to create pictures powerful enough to overcome the diluting effects of the mass media and shake people out of their indifference – to protest and by the strength of that protest to make others protest.

The worst thing is to feel that as a photographer I am benefiting from someone else’s tragedy. This idea haunts me. It is something I have to reckon with every day because I know that if I ever allow genuine compassion to be overtaken by personal ambition I will have sold my soul. The stakes are simply too high for me to believe otherwise.

I attempt to become as totally responsible to the subject as I possibly can. The act of being an outsider aiming a camera can be a violation of humanity. The only way I can justify my role is to have respect for the other person’s predicament. The extend to which I do that is the extent to which I become accepted by the other, and to that extent I can accept myself.

James Nachtwey

(sumber: www.war-photographer.com)

lagu gadis itali

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur

(Havel, sepupumu bertambah satu. Perempuan, seperti kakaknya. Namanya: Ferarri Milano. Ehm, Italia banget, padahal ayahnya asli Kutoarjo. Kupilih sajak opung Sitor Situmorang di atas untuk mengantarkan kita pada ujung perhelatan terakbar sejagat tahun ini. Jika Italia gugur, hatiku pun hancur..he..he..)

surakarta, 7 november 1935

Havel,

Aku mengetahui sosok Rendra pertama kali pada 1985 atau 1986. Ketika duduk di bangku SMP itu, aku mulai menyimak HAI — majalah remaja ini masih dipimpin Arswendo Atmowiloto. Beberapa kali Rendra mengisi kolom di sana. Temanya ringan-ringan saja: seputar pengembangan diri sebagai remaja.

Buat abg sepertiku saat itu, Rendra memukau. Samar-samar, aku masih ingat artikel tentang pentingnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Ia berkisah, selama beberapa hari, mata sejumlah cantrik di Bengkel Teater ditutup dengan kain. Latihan ini dilakoni demi mempertajam fungsi pendengaran dan penciuman. Mereka diharapkan sanggup membedakan aneka bunyi hujan, meresapi aroma tanah basah, atau mengenali bau masing-masing ruangan di sanggar.

Lalu, aku melihat foto Rendra terpampang di Kompas saat membacakan sajak-sajak protesnya. Ia mengenakan kemeja dan celana jins. Rambutnya nyaris menyentuh bahu. Tangannya mengepal. Mimiknya meyakinkan.

Periode SMA pun tiba. Aku masuk grup teater di sekolah. Cukup intens, meski hanya beberapa kali ikut pentas — salah satu naskahnya adalah Biduanita Botak karya Ionesco yang absurd dan tak aku mengerti. Yang lebih penting, aku belajar bahwa teater bukan melulu kesenian. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Berlatih teater adalah berlatih menjalani hidup. Dan, inilah masa remaja yang menggetarkan….

Ketika telah nyemplung ke dunia kampus, aku memergoki sebuah kitab kurus: Mempertimbangkan Tradisi. Antologi tulisan Rendra tersebut kubeli 1990 atau 1991 di Gramedia Bandung. Malam ini, ia kutengok lagi. Pada sampul abu-abu itu, terpajang foto Rendra hampir setengah badan. Ignas Kleden menyusun kata penutup yang sangat mencerahkan. Masih ada label harga: Rp2.500.

Aku menikmati jalan pikiran Rendra. Ia menulis, “…sebenarnya tradisi kebudayaan alam kita itu antikepribadian. Dan juga anti-pertumbuhan-spriritual….Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan….Alangkah sempurnanya pendidikan kita dalam menciptakan robot-robot yang konservatif.”

Lalu, aku menemukan Potret Pembangunan dalam Puisi. Di situ, Rendra menyajikan pamflet-pamflet. Dengarlah:
“…….
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju

……”

Anak muda mana yang tak terbius oleh “ganja” pemberontakan semacam itu?! Inspirasi mengaliri darah, segaris horison baru menjadi arah.

Namun, hanya sebentar. Belakangan, pesona pria flamboyan ini memudar. Sejumlah figur datang dengan pemikiran yang — dalam anggapanku — lebih mumpuni dan “seksi” untuk menginterogasi situasi. Ia perlahan-lahan menjelma masa silam. Huh, hati muda, ley, ley….

Hari ini, Rendra genap 70 tahun. Selamat ulang tahun, Sang Burung Merak! Semoga senantiasa sentosa di sepanjang sisa usia.