kang yoyon

Orde Baru membredel TEMPO, DeTIK, dan Editor pada 21 Juni 1994. Di Radio Mara, Bandung, Mohamad Sunjaya memutar berulang-ulang Song for Liberty dari Opera Nabuco karya Giuseppe Verdi.

“Saya protes, saya marah, saya pilu, saya tak bisa apa-apa lagi. Saya ulang-ulang tuh lagu,” kata Kang Yoyon, panggilan akrab Sunjaya, kepada jurnalis Agus Sopian yang menulis kisah Radio Mara.

Kang Yoyon bukan penyiar biasa. Dia juga seorang aktor teater yang andal. Dibesarkan Studiklub Teater Bandung (STB), dia lalu mendirikan Actors Unlimited. Untuk Radio Mara, dia bekerja sejak 1971.

Pada 1990-an itu, saya beberapa kali ke kantor Radio Mara untuk bertemu Noor Achirul Layla atau Mbak Ea, dosen wali, yang juga bekerja di sana. “Elu beruntung dapat dia,” kata Mbak Ea saat saya mengajak pacar. Saya hanya tergelak.

(Mbak Ea lebih dulu pamit pada November 2003. Ribuan orang mengantar pemakamannya.)

Orang-orang Mara, dalam penglihatan saya: berpikiran bebas, urakan, ogah menyembah-nyembah otoritas formal.

Pada November 1991, Kang Yoyon dipecat dari posisi pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan Radio pada Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat. Pria kelahiran 1937 itu dianggap bersalah menugaskan reporter untuk meliput demonstrasi mahasiswa yang menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

Sejatinya, Kang Yoyon bukan tak bisa berbuat apa-apa dengan pembredelan tiga media tersebut. Dia rajin merekam siaran radio-radio luar negeri berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah pembredelan.

Puluhan kaset rekaman milik adik kandung Jenderal Yogie S Memet itu kemudian ditranskrip dan dibukukan dengan judul Bredel di Udara. Inilah dokumentasi amat berharga atas kezaliman sebuah rezim.

Kemarin sore kabar duka itu tiba. Wilujeng angkat, Kang Yoyon. Titip salam buat Pak Ton ( atau Jenderal HR Dharsono yang banyak membantu Radio Mara di masa-masa awal) dan Mbak Ea.

akhir pekan tanpa kompas

Sudah sebulan lebih tak menerima Kompas edisi akhir pekan. Tak ada kabar dari bapak yang biasa mengantar dengan sepeda motor itu.

O iya, kami hanya berlangganan untuk Sabtu dan Minggu. Menunggu puisi, cerpen, cerita persona, laporan perjalanan dan pertunjukan, juga kolom Samuel Mulia dan Bre Redana.

Bre pernah menulis kolom di Kompas Minggu yang menuai kontroversi. Judulnya “Inikah Senjakala Kami?” Ia membuka dengan kalimat ini: “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat.

Baris-baris selanjutnya adalah kritik atas anjloknya kualitas jurnalisme di tangan media daring. “Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik,” tulis Bre.

Soal penurunan mutu ini yang memantik polemik. Bre dianggap terlalu menggeneralisir. Siapa bilang koran juga tak menghasilkan sampah? Apakah otomatis media daring tak menghasilkan karya level juara? Dan seterusnya.

Nah, perihal meredupnya media cetak, itu mustahil dibantah. Tiras terus merosot, pemasang iklan kian menjauh. Ya, tak banyak lagi memang yang membaca media cetak. Seorang teman, Tommy Hutomo, menuliskan kisahnya sebagai dosen di halaman facebook saya.

“Baik, sebelum saya mulai. siapa yang satu minggu terakhir membaca koran atau majalah?” tanya Tommy ke mahasiswanya.

Hening.

“Dalam satu bulan terakhir?”

Hening.

“Oke, dalam satu tahun terakhir membaca koran atau majalah?”

Dua dari 30 mahasiswa di kelas pengantar jurnalistik mengangkat tangan.

Saya adalah bagian dari kaum minoritas itu. Edisi Senin sampai Jumat, baca di kantor. Bukan hanya Kompas, tapi juga Koran TEMPO, Republika, dan Jawa Pos. Nah, untuk edisi tertentu yang layak dikoleksi, saya membeli secara eceran di jalan. Misalnya edisi dalam foto di atas.

Ahad kemarin membongkar timbunan kertas di rumah, mencari bon tagihan koran. Ada nomor telepon di sana untuk mencari tahu. Tapi nihil. Kertas-kertas itu kadung dibuang.

Menyesal saya tak pernah menanyakan nama dan nomor teleponnya. Memang jarang bertemu. Ia biasa melemparkan koran ke teras depan dan berlalu. Sebulan sekali menyampaikan tagihan. Bahkan terkadang ia menagih dua bulan sekali.

Semoga Pak Pengantar sehat-sehat belaka. Semoga pula kualitas jurnalisme kita tak makin bikin hati merana.

koran rahman tolleng

Mereka adalah pendukung Orde Baru. Tapi belakangan justru dihabisi rezim tersebut, beberapa hari setelah Malari. Bulan madu yang tak sampai sewindu, Juni 1966 – Januari 1974.

Pada 1970, ketidakpuasan terhadap Orde Baru mulai merebak. Korupsi kembali terlihat, sementara perbaikan kehidupan rakyat masih jauh panggang dari api. Mahasiswa pun menggeliat lagi, turun ke jalan. Koran ini, Mahasiswa Indonesia, menunjukkan simpati dengan aktif melaporkan aksi-aksi mahasiswa.

Enam edisi Mahasiswa Indonesia ini tiba kemarin di gubuk kami dengan cara tak terduga. Dikirim Bli Gde Dwitya Arief Metera dari kota yang juga punya sejarah panjang soal gerakan mahasiswa: Jogja.

Nah, dalam pengamatan Francois Raillon, “Meski mereka setuju dengan amarah mahasiswa, para pemimpin Mahasiswa Indonesia tetap merasa bertanggung jawab pada Orde Baru. Mereka makin percaya bahwa modernisasi, reformasi, dan keberhasilan pelaksanaannya hanya mungkin dilaksanakan dalam rezim Orde Baru.”

Pemimpin Mahasiswa Indonesia? Ada sejumlah nama. Tapi yang paling menjulang tentu saja Rahman Tolleng, sang pemimpin redaksi. Ia disebut-sebut sebagai konseptor dan aktor intelektual mingguan ini. Pada awal 1970-an itu, Tolleng sudah masuk parlemen dari Golongan Karya (Golkar).

Tolleng adalah legenda aktivisme mahasiswa dekade 60-an dalam menumbangkan Orde Lama. Sosoknya unik: kerap dibicarakan tapi jarang muncul di kerumunan. Ia lebih banyak bergerak di bawah tanah.

Sempat kuliah di IPB, Tolleng lalu pindah ke Bandung untuk belajar di jurusan Farmasi UI (yang belakangan digabungkan ke dalam ITB). Di tingkat empat, ia meninggalkan ilmu eksakta dan masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran. Mahasiswa Indonesia pun berkantor di Bandung.

Meleset dari namanya, mingguan ini tak berbasis di kampus. Ia sejatinya media umum, bukan pers mahasiswa. Sejak awal, Mahasiswa Indonesia mencanangkan diri sebagai “koran ide.” Ide yang diperjuangkannya adalah menyelamatkan Indonesia dari dekadensi dan krisis yang diwariskan Orde Sukarno.

Mahasiswa Indonesia dikenal lantaran kualitasnya. Tulisan-tulisan dikurasi dengan saksama. Sejumlah intelektual rajin menulis di sana. Misalnya Soe Hok Gie, Wiratmo Soekito, atau Mochtar Lubis. Tak mengherankan kiranya jika banyak dibaca.

Pada edisi 26 Januari 1969, misalnya, esai Sanento Yuliman dimuat dengan judul “Gondrong.” Bergaya satire, tulisan ini mengkritisi aparat pemerintah yang memerangi anak-anak muda berambut gondrong. Kita simak paragraf pertamanya, “Rambut gondrong mempunjai beberapa manfaat — ketjuali barangkali bagi tukang2 tjukur. Salah satu manfaat rambut gondrong ialah untuk men-test apakah kepala seseorang masih bebas di Republik yang demokratis ini.”

Malari meletus, Tolleng ikut diciduk bersama ratusan orang lain. Akhirnya hanya 45 orang yang tak dilepaskan. Selain Tolleng, ada tokoh utama Hariman Siregar, advokat Adnan Buyung Nasution, politisi senior Subadio Sastrosatomo, ekonom Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, dan nama-nama lain. Mereka dituding sebagai otak demonstrasi mahasiswa yang berujung rusuh pada 14 Januari 1974.

Di Golongan Karya, tulis Raillon, ada kecurigaan bahwa Tolleng sebenarnya kader Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pada 1960, PSI dibubarkan Sukarno. Kendati demikian, tokoh-tokohnya sangat kritis terhadap Orde Baru. “Saya bukan anggota PSI, meskipun memang saya berteman dengan orang-orang PSI,” kata Tolleng dalam wawancara dengan TIARA, Oktober 1993.

Selama 16 bulan Tolleng ditahan tanpa pernah diadili. Sementara  Mahasiswa Indonesia telah lebih dulu pergi.

sak madya

Di sebuah SPBU, di perempatan yang sibuk, sekitar 2 km dari Stadion Manahan, Solo. Sebelum gas poll ke Jakarta, saya memeriksakan kembali tekanan ban kendaraan.

“Tolong dicek, Mas, minta 34 masing-masing,” kata saya.

Ternyata masih cukup oke. Rata-rata 32 psi. Hanya harus ditambah sedikit. Pria itu cekatan bekerja. Saya melihat daftar harga: Rp 5 ribu per ban untuk tambah nitrogen.

Setelah empat ban kelar dioprek, saya menyerahkan selembar uang 20 ribuan.

“Sepuluh ribu saja, kan nambahnya cuma sedikit,” ujar pria itu.

Saya yakin dia tahu bahwa saya dari Jakarta. Gampang diketahui dari aksen omongan dan pelat kendaraan. Jadi kemungkinan kembali ke sini kecil sekali. Jika saya orang Solo, mungkin dia akan berpikir soal merawat loyalitas konsumen.

Daftar itu tak menyebut perbedaan harga jika pertambahan nitrogen hanya sedikit. Dia sejatinya tak perlu melakukan “diskresi” karena panduan tersaji.

Dia, dalam spekulasi saya, memilih mengikuti hati, mengabaikan kalkulasi untung-rugi. Tak mau jadi makhluk loba. Kata orang Jawa, sak madya.

Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga berlimpah kebaikan yang kita pancarkan ke seluruh penjuru semesta.

sibuk bekerja, lupa bercinta

Dengan seorang teman lama, saya sepakat bertemu di sebuah kedai kopi di ujung Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Matahari telah tergelincir ke Barat.

Enak juga memandang dunia dari jendela ini. Sejuk, tidak berdebu. Selembar kaca bening memisahkan dengan kenyataan di luar sana. Kendaraan lalu-lalang, para pedagang kaki lima mulai memasang tenda dan tiang.

Berjarak dua meja di sebelah, pasangan muda bercengkerama. Saya menunggu kopi Vietnam Drip, mie rebus, dan air mineral. Sang teman terlambat, saya jadi punya waktu untuk melamun.

Beberapa jam sebelumnya, saya meninggalkan kompleks Kompas-Gramedia di Palmerah dan menuju kantor dengan menggunakan commuter line. Turun di Stasiun Tanah Abang, terhampar Jakarta yang berkeringat, tertatih-tatih, runyam.

Para penumpang, tua dan muda, berdesak-desakan di tangga untuk keluar stasiun. Getir hati membayangkan jika saudara-saudara kita yang difabel ada di sana.


Di koridor panjang menuju pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara itu, sepotong kaos tergantung menunggu pembeli. Banderol tercantum: Rp 50 ribu. Di bagian dada tertulis “Pejuang Rupiah: Sibuk Bekerja, Lupa Bercinta.”

Di Tanah Abang, tak ada kaca yang memisahkan. Saya terpilin dalam kenyataan itu: para pedagang yang asyik membujuk dan para ibu yang menyeret tas plastik besar berisi hasil belanjaan. Para pejuang dan perjuangan yang menggetarkan!

Selamat berakhir pekan, Tuan dan Puan. Jangan terlalu sibuk bekerja, sempatkan juga untuk bercinta.

perjalanan berdua

1.
Jika kami bepergian ke luar Indonesia, kemungkinannya dua: pergi sendiri atau mengajak anak-anak. Tak pernah kami, saya dan Raya, hanya pergi berdua.

Pergi berdua ke kantor tidak direken ya. Dalam setahun belakangan, hampir tiap hari kami bareng ngantor. Pulangnya kerap sendiri-sendiri lantaran pekerjaan saya yang sulit dipegang jadwalnya.

Pekan lalu berbeda. Kini dua bocah tersebut telah bisa ditinggal. Biasanya selalu diajak. Havel malah sudah meninggalkan rumah, ngekos di Surabaya. Kafka tak keberatan sendiri.

“Uti nginap di sini untuk menemani kamu?” tanya Raya. Uti adalah panggilan untuk ibu saya.

“Aku berani sendiri kok,’ kata Kafka. Ia 12 tahun, tubuh menjulang, melampaui orangtuanya.

2.
Tujuan hanya sepeminuman teh, yaitu Singapura, untuk menghadiri “kuliah budaya” yang diampu Bono dkk. U2 menggelar  “The Joshua Tree Tour 2019” namun melewatkan Indonesia.

Di sela-sela itu, ada kembara ke Orchard, Kampong Glam, dan Little India. Naik-turun MRT, menjajal ketahanan betis, menjelajahi sudut-sudut kota. Meski buat masing-masing bukan kunjungan yang pertama, Singapura masih menyisakan banyak titik untuk disambangi.

Saat di Orchard, kami berpisah. Saya balik ke hotel, Raya masih di Takashimaya. Pegal saya nungguin yang belanja…😁😂

Rencana jalan ke National Stadium pukul 15.00. Datang lebih awal dengan mimpi bisa mengeksplorasi venue dan sekitarnya. Pun sedikit berharap bisa jumpa beberapa teman dari Jakarta sebelum pertunjukan.

Saya bolak-balik menelepon, meminta Raya segera kembali ke hotel.

“Iya, sebentar lagi,” jawabnya. Ia baru muncul di hotel menjelang pukul 18.00.

Beruntung mentari telat tenggelam di Singapura. Pada 18.30, ketika kami tiba di lokasi, langit masih lumayan terang. Hasrat berfoto-foto tak terganggu gelap.

Dua jam kemudian, Larry Mullen Jr berjalan ke lidah panggung. Pukulan-pukulannya ke snare drum sontak membuat seisi National Stadium bersorak. Konser dimulai dengan Sunday Bloody Sunday.

3.
Pada hari terakhir petualangan, betis menyerah takluk. Kami naik taksi ke Harbour Front untuk menyeberang ke Batam.

Turun dari taksi, masuk dulu ke Vivo City buat cuci mata. Saat lagi lihat-lihat, jreengg…baru ngeh bahwa tas biru gak ada!

Ya, ketinggalan di taksi. Sialnya, kami lupa nama taksi dll. Waktu juga tak banyak. Power bank, kaca mata cadangan, topi, dan sejumlah barang lain harus diikhlaskan.

(Kami mungkin akan minta bantuan teman yang tinggal di Singapura. Siapa tahu masih berjodoh.)

Ujung cerita, kami bertekad: kapan-kapan bakal ada perjalanan berdua lagi, lebih jauh dan lebih lama. Begitu rencananya.

Tagline sudah disiapkan: berdua kita gempor bersama!

jogja

“Kalau pensiun, enak juga kayaknya pindah dari Jakarta,” kata sang istri.

Mereka dalam perjalanan ke kantor. Lalu lintas lumayan bersahabat. Sejak ada Tol Desari, Cinere-Sudirman kurang dari satu jam. Mereka berpisah di Sudirman, menuju tujuan masing-masing.

“Kita kan tinggal di Cinere, bukan Jakarta,” ujar sang suami sambil lanjut nyetir.

“Bali enak kali yak. Indra Lesmana dan Sophie Navita kan tinggal di sana,” ujar istri. Sang suami membatin, jurnalis cum sineas Erwin Arnada juga tinggal di sana sejak beberapa tahun lalu.

“Gimana kalau Jogja? Pasti tidak di di kotanya, tapi di Sleman atau Mbantul. Pinggiran gituu, biar dapat yang murah…” kata suami.

Dulu sang suami punya impian tinggal di Bogor. Membuka jendela rumah, Gunung Salak tegak anggun di kejauhan. Hujan saban hari. Dedaunan hijau di sekeliling.

Menginjak dunia perkuliahan, sang suami sempat memendam hasrat pindah ke Jogja. Saat itu ia sudah diterima di kampus negeri di Bandung. Belakangan, ingin mendaftar ke Sosiologi atau Antropologi UGM. Sayup-sayup ia mendengar kehidupan intelektual yang bergelora dan ingin juga kecemplung di sana.

Niat itu diurungkan. Tak tega dengan orangtua yang telah membiayai setahun jadi alasan utama. Tapi Jogja tak pernah pergi dari hati.

Buat sang suami, kini Jogja lebih berdaya magnet ketimbang daerah mana pun di Nusantara. Karakter intelektual dan kultural-nya menyeruak kokoh ke permukaan.

Pesohor medsos, Arman Dhani, pernah menulis pada sebuah esai, “Di Jogja…Terlampau banyak perpustakaan, toko buku murah dan kantung-kantung kebudayaan yang membuat kita cerdas. Terlalu sedikit alasan untuk tidak mendatangi mereka dan menjadi pintar karenanya.”

Anda akan sebut semua ini sebagai semacam romantisme? Rasanya sang suami tidak keberatan.

Imajinasi tentang masa pensiun mulai bekerja. Kehidupan yang melambat, menebus masa muda yang bergelimang tenggat. Sambil menyesap teh panas dan mengganyang mendoan di angkringan…

“Eh iya, kayaknya Jogja asik juga.”

Ahaaaiii, perempuan cantik itu mulai tertarik. Mereka pun membuka sarapan yang disiapkan Bibi.

nyonya cemplon

Nyonya Cemplon adalah tokoh rekaan. Umar Nur Zain menciptakan sosok tersebut sebagai pipa yang mengalirkan pikiran-pikirannya. Saya menemuinya kembali akhir pekan ini, sekadar meredam lelah dan jenuh.

Renyah mengalir, dengan taburan humor dan sinisme di sana-sini. Sang narator berperan sebagai teman Nyonya Cemplon yang kerap diajak ngobrol, curhat, juga berjumpa di berbagai acara. Cemplon digambarkan super-fleksibel: ada di mana saja, kapan saja.

Tulisan-tulisan itu hadir rutin di Sinar Harapan Minggu pada awal 1980-an. Belum lahir? Saya juga…hehe… Sinar Harapan terbit sore. Sebagian orang, dengan nada mencibir atau bergurau, menyebutnya “koran Kristen.” Beberapa kali dibredel penguasa tapi boleh terbit lagi. Lalu akhirnya benar-benar menemui ajal pada 1986.

Nah, kiranya tak banyak yang mengingat Umar Nur sebagai kolomnis yang oke. Berbeda dengan Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, atau Mahbub Djunaidi. Umar Nur sendiri merupakan jurnalis di Sinar Harapan. Dari hasil googling, ia juga menulis novel.

Saya juga baru tahu belakangan soal Nyonya Cemplon, puluhan tahun setelah kolom-kolom itu dibukukan. Tapi sudah tahu soal penulisnya karena dia juga menyusun buku penulisan feature, yang dipakai saat kami kuliah.

Di kolom-kolomnya, Umar Nur meluncurkan kritik sosial, terutama terkait perilaku masyarakat Jakarta di masa tersebut. Tentang fenomena orang kaya baru, transportasi publik yang menyedihkan, merebaknya disko, penyebaran video porno dll.

Buat milenial dan generasi Z, membacanya bisa menjadi pintu masuk untuk meraba denyut nadi kehidupan sosial pada masa Orde Baru. Buat mereka yang lahir 1960-an atau sebelumnya, antologi ini niscaya menyeret mereka dalam nostalgia.

Itu semua berkat  kehadiran perempuan tajir, cantik, dan wangi bernama Cemplon.

tangan yang mesti istirahat

“Yuk berangkat, nanti dokternya keburu pulang,” kata saya. Keinginan leyeh-leyeh pada Sabtu pagi, apa boleh buat, mesti dilawan.

Kafka bergegas mandi. Ia kembali mengenakan kaos favoritnya. Hitam, sudah mulai pudar lantaran terlalu kerap dicuci.

Pada awal tahun pelajaran lalu, para siswa baru diminta bikin papan karton untuk digantung di leher. Lalu ditulisi nama sendiri dan nama idola.

Dia menulis ‘James Owen Sullivan.’

Ibunya langsung pening. Sullivan adalah drummer Avenged Sevenfold yang meninggal dunia di usia muda. Permainannya gahar, tangannya penuh tato.

“Masak di sekolah Islam yang jadi idola dia,” kata Raya. Tapi Kafka ogah mengubah.

Avenged Sevenfold memang band favoritnya. Kalau membuka YouTube, dia sering memutar lagu-lagunya. Havel yang memperkenalkan kelompok musik cadas ini ke adiknya.

Saya hanya tertawa soal Sullivan di papan karton. Asal bukan koruptor atau penjahat HAM yang jadi idola.

Rabu lalu, di sekolah itu, Kafka terpeleset saat berolah raga. Tangan jadi tumpuan ke lantai secara refleks. Sikunya kemudian bermasalah. Sakit jika diluruskan.

Pagi tadi, kami ke dokter ortopedi. Dirontgen. Ada retak sedikit tapi tak sampai geser atau dislokasi. Perasaan lega segera menghampiri.

Untuk seminggu ke depan, Kafka tak boleh menyentuh drum. Tangannya harus istirahat untuk pemulihan. Arm sling jadi teman yang hanya boleh ditanggalkan saat mandi.

Jeda adalah koentji!

makelar

HB Jassin pernah juga menjadi “makelar” tulisan. Kritikus dan dokumentator sastra ini menerima surat dari Buchari. Isinya tanggapan atas esai Pramoedya Ananta Toer di Bintang Timur pada rubrik “Lentera”, 27 Oktober 1963.

Semula Jassin akan memuat surat tersebut di media yang diasuhnya, Berita Republik. “…tapi setelah dipikir-pikir maka kami batalkan karena mungkin hanya akan mengeruhkan suasana. Barangkali Saudara punya perhatian untuk mempelajarinya dan mengumumkannya untuk dijawab,” tulis Jassin dalam surat untuk Pramoedya Ananta Toer, 2 November 1963.

Pram ternyata memuatnya di Bintang Timur. Jassin pun menyampaikan apresiasi dalam surat tertanggal 13 November 1963: “Bersama ini saya teruskan surat kedua dari Buchari. Oleh karena suratnya yang pertama telah secara fair play telah saudara muat di Lentera – untuk mana kami menyatakan penghormatan dan terima kasih – diharap saudara pun suka memuat surat yang kedua ini…”

Eh, siapa sih Buchari? Dalam keterbatasan referensi, saya teringat Prahara Budaya. Membuka lagi buku kontroversial itu, surat Buchari ternyata ada di sana. Dalam pengantar editor, terkuak bahwa Buchari adalah Bokor Hutasuhut, salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan.

Nama asli Bokor memang Buchari. Kenapa Bokor “menyamar” dengan memakai nama asli yang sedikit orang tahu dan menanggalkan marganya? Barangkali ia sudah mengendus bahaya.

Kira-kira, Manifes merupakan ungkapan protes pada upaya subordinasi kesenian pada politik –hal yang dinisbahkan kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Petikannya,”Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.

Selain Bokor, para penandatangan Manifes adalah Wiratmo Soekito, Jassin, Trisno Sumardjo, Soe Hok Djin (belakangan menjadi Arief Budiman), Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Zaini, Ras Siregar, DS Moeljanto, Djufri Tanissan, A. Bastari Asnin, Sjahwil, Taufiq Ismail, M. Saribi Afn., Purnawan Tjondronegoro, Hartojo Andangdjaja, Binsar Sitompul, dan Boen S. Oemarjati.

Manifes akhirnya dilarang Presiden Sukarno pada 8 Mei 1964. Sebab dianggap tak sesuai dengan semangat revolusi. Tapi, aroma pemberangusan telah tercium beberapa bulan sebelumnya.

“Sejak September 1963 sampai 8 Mei 1964, serangkaian kampanye yang sengit, kadang tidak adil, dan yang jelas sistematis, dilancarkan terutama oleh mereka yang punya hubungan dengan PKI dan PNI. Selama tujuh bulan Manifes Kebudayaan itu diserang lewat statement, pidato, dan tulisan, sampai akhirnya ia dinyatakan terlarang,” tulis Goenawan Mohamad dalam esai panjangnya di TEMPO, 21 Mei 1988.

Para seniman yang terlibat dalam Manifes segera mendapat stempel “kontrarevolusioner,” sebuah cap sangat buruk pada masa itu. Tak mengherankan jika, pada akhir Oktober 1963 itu, Bokor merasa jeri.

Bahwa Jassin membatalkan pemuatan di Berita Republik, agaknya juga harus dibaca dalam konteks tersebut. Ada kecemasan karena ternyata penolakan terhadap Manifes begitu besar. Berbeda jika ditayangkan di koran kiri seperti Bintang Timur. Jassin seperti mengambil jalan memutar: ide yang (mungkin) diyakininya tetap muncul tapi dengan meminjam tangan orang lain.

Setelah Mei 1964, pengganyangan berlanjut kencang. Mereka tak bisa menulis lagi di media massa, tak diizinkan mengajar – seperti yang terjadi pada Jassin. Meski, kata Goenawan dalam tulisan yang sama, itu semua tak sebanding dengan penindasan yang dialami para penulis dan cendekiawan kiri pasca-30 September 1965.

Merasa jeri namun Bokor memilih tak 100% tiarap dan terus menulis meski dengan menyamarkan diri. Dua surat lain dikirim ke Jassin yang lalu meneruskan ke Pram. Surat kedua dimuat dan Pram merespons dengan tulisan. Tapi, surat ketiga Buchari tak ditayangkan.

Jangan bayangkan polemik itu memperdebatkan kualitas karya sastra. Ini lebih menyoal posisi “politis” masing-masing. Judul surat pertama Bokor adalah Apakah Bung Pram Memang Revolusioner?. Di sana Bokor mempermasalahkan, salah satunya, kepergian Pram ke Belanda atas biaya Sticusa (badan kerja sama kebudayaan Indonesia-Belanda) pada 1953. Surat itu ditutup dengan signature: “Dari konco lawasmu, (Buchori).”

Dalam esai tanggapan sebagaimana terbaca di Prahara Budaya, Pram menyebut Buchari adalah Bokor. Saya tak punya akses ke naskah asli di Bintang Timur. Jadi tak bisa memastikan apakah Pram memang tahu bahwa Buchari adalah Bokor. Sementara, dalam surat Jassin ke Pram tertulis,”…saya kirimkan bersama ini surat terbuka dari seorang bernama Buchari.”

Pada masa itu para buzzer belum merebut arena. Makhluk bernama netizen belum menjelma. Hanya segelintir elite cendikia yang bisa bersuara — meski harus menyamar. Bokor menulis surat dan Sang Paus Sastra pun menjadi “makelar.”