rok mini dan media sosial

Hanya delapan baris. Pesan pengirimnya, Lela, terang-benderang: kontes rok mini itu mengekspos aurat wanita.  “Apalagi ketua tim juri adalah Titiek Puspa, penyanyi terkenal, hajjah, dan anggota MPR,” tulis Lela yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Protes ini disampaikan ketika belum ada media sosial. Dimuat di rubrik surat pembaca TEMPO edisi 17 September 1988. Saya menemukannya saat ngabuburit di Blok M Square di lapak-lapak bacaan lawas.

Lela dan teman-temannya tak punya banyak keleluasaan. Hanya ada media massa arus utama: koran, majalah, radio, dan televisi.  Para pengelola memasang filter ketat dalam memilah dan memilih konten. Kita abaikan pertimbangannya — mungkin politis, entah ekonomis. Yang pasti  tak gampang bagi ‘nobody’ seperti Lela untuk bersuara dan didengar publik.

Itu sebabnya hadir  kebanggaan tersendiri jika seseorang bisa menembus halaman opini Kompas. Ah, jangankan Kompas, dimuat di Pikiran Rakyat saja membuat penulisnya seperti punya hak menepuk dada.

Bahkan sekadar mengirim surat pembaca, belum pasti dimuat. Mesti bersaing dengan ribuan surat lain. Antre atau dibuang ke keranjang sampah. Jika dimuat, usianya hanya sehari. Besok ada surat-surat lain. Jangan bayangkan pesan itu menjadi viral. Nyaris tak pernah ada.

Lupakan menulis kolom di TEMPO. Karena hampir semua merupakan tulisan pesanan redaksi. Mereka yang dipesan pun hanya nama-nama tenar di jagat penulisan: Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Ong Hok Ham, atau Mahbub Djunaidi.

Saya membayangkan, jika kontes rok mini digelar hari ini, bisa dipastikan bakal jauh lebih riuh. Pro dan kontra meruyak. Pemrotesnya tak akan mengirim surat pembaca ke TEMPO atau Kompas. Tapi dia akan mengunggah ke media sosial, dilengkapi eflyer acara, dan ngetag sejumlah pihak. Tak perlu filter dari redaksi. Pun tak butuh antre – kelar ditulis, dalam hitungan detik langsung tersebar.

Usia pesan bukan hanya sehari. Bisa berhari-hari, bahkan sepekan. Berkat tombol share, pesan menjangkau sangat banyak orang di seluruh penjuru dunia. Berlipat ganda daya tekannya.

Pihak yang pro juga demikian, bakal mengeluarkan argumentasi-argumentasi. Debat tergelar, hiruk-pikuk mewarnai linimasa kita.

Demokratisasi informasi? Iya. Selamat tinggal ‘mercusuar opini’ yang dikekalkan media massa? Iya. Kehadiran blog beberapa tahun sebelumnya menjadi pembuka jalan menuju itu semua.

Tunggu dulu. Ini hanya satu sisi dari sekeping uang logam. Satu sisi lainnya sungguh mencemaskan. Media sosial membuat hoaks mudah sekali bergulir dan menyebar. Saya sendiri tak mendukung delik pencemaran nama baik. Enyahkan saja itu dari hukum positif kita — subjektif dan bersifat ‘karet’. Tapi beda dengan kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Kita menengok sebentar ke Myanmar. Penyelidik HAM dan tim investigasi PBB untuk kasus Rohingya menyebut Facebook diduga memiliki andil dalam terciptanya kerusuhan dan persekusi yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan lebih 650 ribu orang mengungsi dari Rakhine pada 2017 lalu.

Tim investigasi menggarisbawahi: Facebook sangat populer di Myanmar dan membuatnya jadi saluran utama penyebaran ujaran kebencian yang menyasar kelompok Rohingya.

Myanmar hanya contoh. Di balik berkah media sosial, ada potensi musibah. Celakanya, musibah itu mustahil dikategorikan ‘enteng-entengan.’ Sedih sekali, misalnya, menonton video seorang anak muda yang bilang ingin memenggal kepala Jokowi. Juga kasus-kasus penyebaran kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian lain di media sosial.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk membikin media sosial lebih sehat. Sejak 2018, Facebook mengembangkan program fact-checking untuk teks, lalu berlanjut untuk foto dan video. Tapi belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh.

Bu Lela sendiri tak jauh dari usia 50 tahun kini. Barangkali punya akun media sosial. Jika punya uneg-uneg, mudah sekali menyampaikannya. Ia tak perlu lagi mengirim surat pembaca ke TEMPO dan lama menanti. Tak cuma delapan baris, boleh sesuka hati.

* Setelah diunggah, tulisan ini beberapa kali disunting. Terakhir pada Senin 3 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.

tragedi amir sjarifuddin

Tentara Jepang itu bertanya, “Kamu seorang Kristen. Apakah kamu tetap pada keyakinan itu?”

“Tetap,” jawab pria itu. Namanya Amir Sjarifuddin.

“Pasti?”

“Pasti.”

“Kristus bersedia berkorban pada kayu salib. Kalau betul-betul seorang Kristen, mestinya kamu juga bersedia digantung pada salib. Kamu berjuang melawan Belanda dulu, sekarang melawan Jepang demi kemerdekaan bangsamu. Bersediakah kamu digantung pula demi keyakinan dan bangsamu?”

Hening. Serdadu itu melanjutkan, “Kristus digantung dengan kepala di atas. Kamu akan digantung dengan kepala di bawah. Sebab setiap murid harus bersedia berkorban lebih berat daripada Sang Guru…”

Amir pun digantung dengan kepala di bawah. Manusia mana yang bisa menanggung kebiadaban semacam itu? Ia kepayahan, nyaris mati. Tapi, prajurit-prajurit itu tak bermaksud menghabisi nyawa Amir. Ia pun diturunkan.

Pada Januari 1943, bersama aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) lain, Amir ditangkap polisi Jepang. Tuduhannya menggalang kekuatan anti-Jepang. Pada Februari 1944, vonis mati jatuh. Sepupunya, Goenoeng Moelia, mendengar kabar itu dan segera menemui , penasihat pemerintahan militer Jepang di Indonesia, Mohammad Hatta. Kondisi Amir disampaikan plus permintaan tolong. Hatta pun bergerak.

Pada Oktober 1945, akhirnya Amir menghirup udara kebebasan. Dari penjara Lowokwaru di Malang itu, ia dibawa ke Surabaya, lalu menuju Jakarta dengan kereta api. Kesehatannya buruk, giginya rusak karena siksaan. Ia ditunggu sebagai Menteri Penerangan dari sebuah republik yang baru lahir.

Setiba di Jakarta, Amir segera menggelar konferensi pers dengan para jurnalis asing. Ia bilang, “Saya adalah seorang demokrat sampai ke tulang sumsum. Perjuangan kemeredekaan di zaman pemerintahan Jepang saya lanjutkan dengan ratusan kawan saya dengan cara underground. Pada tanggal 30 Januari 1943 saya dan 54 kawan seperjuangan ditangkap. Tiga orang di antaranya sudah ditembak mati…Semua itu menunjukkan bahwa cerita-cerita di luar bahwa Pemerintah RI adalah boneka Jepang, tidak benar sama sekali…”

Sukarno, orang yang menunjuknya sebagai Menteri Penerangan,  bukan kawan baru buat Amir. Mereka telah bersama di Partai Indonesia (Partindo) sejak 1933. Keduanya sama-sama orator yang memesona.

 

AMIR LEBIH MUDA ENAM tahun ketimbang Sukarno. Ia dilahirkan di Tapanuli Selatan pada 1907. Ayahnya adalah seorang jaksa, bernama Djamin gelar Baginda Soripada Harahap. Djamin pindah ke Islam untuk menikahi Basunu Siregar, anak seorang saudagar di Tapanuli Utara. Mereka punya tujuh anak dengan Amir sebagai si sulung. Amir memperoleh gelar Sutan Gunung Soaloon. Namun predikat kebangsawanan itu seumur hidup tak pernah dipakainya.

sumber: Wikipedia

Pada usia 14, setelah menamatkan sekolah dasar berbahasa Belanda, Amir dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi. Amir belajar di sebuah sekolah negeri atau gymnasium di Leiden dan Haarlem, tinggal bersama sebuah keluarga Calvinis konservatif dan kemudian dengan seorang janda mantan misionaris. “Di sinilah saya mulai belajar dan menghargai kesusasteraan dan filsafat,” tulis Amir dalam sebuah risalah otobiografis ringkas yang disimpan Arsip Kerajaan Belanda.

Pada 1926, setahun sebelum Amir pulang dari Belanda, ayahnya kehilangan jabatan sebagai jaksa. Baginda Soripada lalu mendapat pekerjaan di Tarutung, bukan sebagai jaksa melainkan karyawan biasa di birokrasi Hindia Belanda.

Dia pun pulang ke Hindia Belanda dan menetap di Jakarta, masuk sekolah tinggi hukum, Rechts Hoogeschool. “Di sini, setelah tahun pelajaran kedua, saya berkenalan dengan politik,” aku Amir. Ia menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan redaktur majalah mahasiswa Indonesia Raja.

Amir tinggal di  asrama Indonesis-Clubgebouw di Jalan Kramat 106, di dekat Senen. Penghuni asrama kebanyakan mahasiswa kedokteran, STOVIA, dan sekolah tinggi lain. Pada 1928-1931, yang tinggal di Indonesis-Clubgebouw di antaranya adalah Amir, Muhammad Yamin, Assat, Abas, Abu Hanifah, dan sejumlah mahasiswa lain.

Mereka semua segelintir kaum pribumi yang beruntung bisa sekolah untuk meraih gelar sarjana – tentu lantaran orangtua mereka juga bukan orang sembarangan. Tapi, mereka bukan anak-anak orang kaya yang mengisi waktu dengan hura-hura. Mereka dekat dengan bacaan-bacaan serius dan aktivitas politik.

“Karena masing-masing memiliki cukup perasaan kritis terhadap apa-apa yang terjadi di Indonesia dan dunia, serta terang mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan buat membicarakan dan memperdebatkan soal-soal politik, kultur, masyarakat, kolonialisme Belanda, teori-teori politik dan hal-hal sehari-hari. Ini sering terjadi ketika habis makan malam pukul 8,” kenang Abu Hanifah.

Pernah berbulan-bulan mereka memperdebatkan revolusi Prancis. Masing-masing mempunyai jago sendiri. Yamin mengagumi Marat, Assat memilih Danton, Abu Hanifah menunjuk Mirabeau, sementara Amir mengidolakan Roberspierre. Diskusi bisa sangat sengit tapi tak ada persoalan pribadi sesudahnya.

sumber: tak terlacak

“Kalau telah capek, pukul 1 malam, kami kumpulkan uang buat cari kopi plus sate atau soto ke pasar Senen. Judul percakapan sudah berubah, lebih ke  soal-soal yang dekat dengan hati pemuda,” tulis Abu Hanifah.

Rata-rata dari mereka terpesona dengan ide kaum kiri, terutama karena menanam tujuan menolong kaum proletar. Namun, menurut Abu Hanifah, tidak ada yang terlalu terpengaruh dengan ajaran komunis.

 

DUKA MELANDA AMIR pada Juni 1931. Ibunya bunuh diri. Tak jelas penyebabnya. Konon, sejak Baginda Soripada pensiun sebagai jaksa, Basunu terpukul. Aktivitas politik Amir kian membuat dirinya depresi.

Setelah ibunya meninggal dunia,  Amir pindah ke Kristen – agama yang dianut kakeknya.

Amir sendiri kian larut dalam kegiatan politik.  Terutama karena tulisan-tulisannya di majalah Partindo, Benteng, dia dipenjara dari Desember 1933 sampai Juni 1935. “Desember 1933, saya menyelesaikan studi dan dua hari kemudian saya dimasukkan ke penjara Jakarta. Lalu dikirim ke Sukamiskin sampai tahun 1935. Tahun itu saya dikeluarkan dari penjara dan menjadi pengacara,” tulis Amir.

Pada 1937, Amir Sjarifuddin bersama sejumlah tokoh lain mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), wadah politik yang mengikat berbagai unsur gerakan nasional setelah PKI dilarang pemerintah kolonial Hindia Belanda dan PNI dibubarkan.

Menjelang Jepang tiba, pejabat senior Hindia Belanda, Van der Plas memberikan 25 ribu gulden ke Amir.  Dengan duit itu, dia diminta menggalang gerakan bawah tanah melawan Jepang.

Buat Amir, fasisme adalah lawan sejati demokrasi. Tak mungkin bersekutu dengannya. Di depan mata, fasisme itu berwujud tentara-tentara cebol dan bermata sipit, datang dari Tokyo dan sekitarnya.

Sial, catatan soal gerakan ini jatuh ke tangan Jepang. Tak lama berselang, puluhan orang, termasuk Amir, dicokok. Amir dipenjara dan mesti menghadapi siksa.

Namun Amir baru menemui ajal pada 1948. Ironisnya, nyawanya pergi di tangan para tentara RI pasca-Peristiwa Madiun. Pengagum Kristus itu ditembak bersama-sama para pengikut komunis.Usianya 41 saat itu, sama dengan ibunya saat menghadap Tuhan.

Sebelum dieksekusi, Amir dan teman-temannya menyanyikan Indonesia Raya dan lagu kaum komunis, Internasionale. Alkitab di tangannya.

Sumber:

Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifuddin, Abu Hanifah, Prisma, Agustus 1977

Amir Sjarifuddin 75 Tahun, Jacques Lecrec, Prisma, Desember 1982

5 Penggerak Bangsa yang Terlupa, Gerry van Klinken, LKiS, 2010

 

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di blog lain yang kini sudah tamat riwayat.

kaum ngeyel

Raymond Babbit  adalah sosok dengan autisme tapi genius. Ia mampu menyelesaikan perhitungan rumit dengan sangat cepat. Juga memiliki ruang penyimpanan data sungguh besar di otaknya.

Tapi, tokoh dalam Rain Man ini tidak kuasa mengelola data-data itu  menjadi konteks yang koheren. “Apa pun yang diingat Ray jauh lebih penting ketimbang semua fakta lain di dunia,” tulis Tom Nichols dalam bukunya yang sangat relevan, The Death of Expertise.

Suatu hari, Ray (diperankan dengan gemilang oleh Dustin Hoffman) harus terbang dari Ohio ke California bersama saudaranya, Charlie (Tom Cruise yang memerankan). Ray panik dan menolak terbang. Ingatannya mencatat: semua maskapai pernah mengalami kecelakaan. Bahkan ia mengingat seluruh tanggal dan jumlah korban dalam masing-masing kecelakaan.

Charlie jengkel. “Jadi maskapai apa yang kamu percaya?”

“Qantas. Tidak pernah mengalami kecelakaan,” kata Ray.

Masalahnya, maskapai Australia tersebut tak melayani rute domestik di Amerika Serikat.

Akhirnya, mereka menuju California dengan mobil. Ray tak menolak. Kalau saja kepalanya terisi data kecelakaan mobil, cerita bakal berbeda.

“Kita semua rada mirip dengan Ray. Kita fokus ke data yang mengonfirmasi ketakutan kita atau mendukung harapan kita,” tulis Tom Nichols. Inilah bias konfirmasi.

Pada hari-hari ini, mudah belaka memergoki orang-orang yang mengidap bias konfirmasi. Tengok saja media sosial atau kehidupan riil. Ngeyel-nya minta ampun meski sudah disodori data atau fakta yang akurat.

Jadi teringat dengan frasa post-truth? Ya, mirip-mirip. “…relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief,” demikian definisi post-truth di kamus Oxford.

Banyak juga dari mereka yang berpendidikan tinggi.  Celakanya, tak sedikit yang punya pengaruh di masyarakat.

Saya kok agak yakin fenomena kaum ngeyel (maafkan jika istilah ini kurang tepat) ini akan semakin marak pada hari-hari esok. Iklim curiga dan prasangka yang dicekokkan jadi pupuk mujarab untuk menyuburkannya. Satu lagi, kian banyak orang yang merasa jadi pakar hanya karena membaca satu-dua artikel di Internet.

Merisaukan? Pasti. Sebab kaum ngeyel ini berbeda dengan Raymond Babbit. Mereka berbahaya secara sosial.

 

pagi di taman

Saya kembali ke Pagi di Taman hari ini. Karya keren konon tak gampang dienyahkan dari ingatan. Memanggil-manggil untuk dijenguk ulang.

Cerita pendek Avianti Armand itu saya baca tiga bulan lalu, saat membawa pulang Kereta Tidur. Menjadi kisah penutup di antologi tersebut.

“Cengkeraman” cerita itu sebenarnya baru mulai terasa di paragraf ketiga:

“Bertahun-tahun yang lalu, sulit membayangkan hari ini. Bahkan sekarang pun, rasanya masih aneh berusia tujuh puluh. Banyak hal telah berubah, banyak hal tetap. Mereka  tetap bertetangga dan masih berbagi kopi di malam hari. Tiga hari sekali keduanya akan berbelanja ke pasar, membeli roti, susu, daging, dan berbagai keperluan remeh harian. Tiap Rabu, mereka berjalan ke gedung pertemuan di sebelah kantor walikota, bermain bridge bersama orang-orang tua lain. Sesekali akan datang sekelompok anak muda yang memainkan musik untuk mereka. Anak-anak muda yang rajin ke gereja di hari Minggu dan penuh semangat menjawab, “Baik sekali!” jika kita bertanya, “Apa kabar?”

Perlahan suasana dibangun. Sam dan Dom rutin duduk-duduk di taman. Dua pria 70 tahun itu bicara ngalor-ngidul, juga tentang Mathilda Mendez, perempuan baik hati yang membersihkan rumah mereka. Mathilda rajin memasak untuk mereka meski tak diminta. Masalahnya, ia gagal sebagai koki. Masakannya tidak pernah nikmat.

Tapi tak ada yang mengalahkan supnya. Perasaan mereka kontan hambar jika Mathilda menyuguhkan sup. Dom teringat kencing kuda, sementara Sam melabelinya sebagai ‘racun dari neraka’.

Sam dan Dom telah ditinggal pasangan masing-masing. Istri Sam, Doris, berpulang lebih dulu karena penyakit paru-paru.

Perihal Dom, “Cecil meninggalkannya dan bayi enam bulan mereka untuk pergi bersama seorang gitaris rock, entah ke mana…Dom tak pernah berhenti mencintai Cecil. Ia cuma berhenti mendengarkan musik.”

Bayi enam bulan itu, Monique, sudah dewasa. Namun, agaknya Monique lebih mencintai Kiki, anjingnya, ketimbang Dom.

“Natal tahun lalu, ia tidak datang karena Kiki terserang gatal-gatal. Dokter hewan bilang, anjing peking itu alergi terhadap udara dingin. Thanks Giving tahun ini juga terpaksa dilewatkan Dom hanya bersama Sam, karena kuku Kiki patah ketika ia mengejar rubah di halaman belakang. Lain kali, Monique bilang, anjingnya itu kena selesma, hingga ia tak bisa menemani Dom pergi ke dokter memeriksakan rematiknya yang kumat berkala.”

Teman Sam dan Dom tinggal tiga. Berdua, mereka menjalani masa tua dan melawan kesepian dengan canda. Sesekali terantuk melankolia masa lalu atau sup buatan Mathilda.

Usai membaca Pagi di Taman, saya tiba pada kesimpulan: Avianti sukses mengamalkan realisme. Wajar, mengharukan, tanpa ambisi didaktik yang melanda sejumlah pengarang.

selalu bersama di mana-mana

Sendiri.  Menyendiri. Mengapa kita cemas jika sendiri dan menyendiri?

Pada buku Roanne Van Voorst, Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta, terselip satu bab penting, menyentuh, sekaligus kocak soal “menyendiri.”

Di Indonesia, juga di Bantaran Kali yang pernah dihuni Roanne, ganjil belaka jika ada seseorang yang menyendiri.

Warga miskin di Bantaran Kali mengaku tidak takut dengan penyakit, banjir, atau penggusuran. Hal yang ditakutkan adalah “tidur sendirian” seperti yang dilakoni Roanne di kampung mereka.

Roanne, antropolog muda Belanda yang meneliti respons manusia terhadap banjir, tinggal di sebuah kampung kumuh di Jakarta. Lebih dari setahun. Bergaul dengan orang-orang di sana, coba memahami alam pikiran mereka.

Salah satu temuannya: mereka sangat terbiasa dengan kolektivisme. Kebersamaan. Nonton bola bareng, ngopi juga demikian. Dan seterusnya.

Padahal, di Belanda, kata Roanne, “Saya sering pergi berlibur tanpa pacar atau sangat menikmati pergi ke bioskop sendirian.”

Roanne bilang itu semua adalah cara untuk memulihkan tenaga, mengisi ulang energi sebelum melakukan perjumpaan-perjumpaan sosial berikutnya.

Saya kira, memang bukan hanya di Bantaran Kali. Ini fenomena umum di Indonesia. Kehadiran idiom “mangan ora mangan sing penting kumpul” sejatinya mengafirmasi prinsip hidup demikian.

Di sini, miskin bukan masalah sepanjang ada keluarga yang bisa menjadi semacam jaring pengaman sosial. Atau, tetangga yang siap menyingsingkan lengan baju jika kita memerlukan bantuan.

Tapi selalu ada batas seharusnya. Niscaya perlu momen-momen ketika kita hanya sendiri. Benar belaka kata-kata Roanne: berada di lingkungan pergaulan sosial kerap bikin lelah. Kita tak hanya berjumpa orang-orang yang sepemahaman. Tidak jarang kita dihadapkan pada pertikaian pendapat atau mereka yang mengeluh. Bukankah itu semua bikin capek?!

Menyendiri kini bukan monopoli para begawan atau resi. Dulu mereka menjauh dari keramaian, bermeditasi. Tapi siapa bilang kita, orang-orang biasa ini, tak perlu sesekali “bermeditasi”?

Bab berjudul “Selalu Bersama di Mana-mana” tersebut ditutup dengan kisah Roanne untuk menggapai “me time”-nya, yaitu nonton di bioskop. Di sana dia berharap bisa sejenak “menyendiri” setelah hampir 10 bulan tinggal di Bantaran Kali dan cuma pernah beberapa jam sendirian.

Dia membeli tiket, lalu  duduk nyaman di ruangan sejuk, siap menikmati hiburan. Tiba-tiba, dari belakang, meluncur suara seorang ibu, “Dari mana?”

“Dari Belanda,” jawab Roanne.

Si ibu kemudian meminta anak-anaknya menemani Roanne, di kiri dan kanan. “Senang kan, nonton film ramai-ramai kayak gini,” ujar dia.

warkop, pintu menuju kemasyhuran

Kasino Hadiwibowo diajak ke rumah bundar di Desa Rarahan, di kaki Gunung Gede. Rumah itu tak sampai satu kilometer dari pintu gerbang Kebun Raya Cibodas.

Mahasiswa Administrasi Niaga FISIP UI ini langsung terkesan, “Wuiihh, asyik tempatnya, mana udara dingin dan sepi suasananya,” kata Kasino.

Selanjutnya adalah bujukan agar Kasino mau bergabung dengan tim kecil Mapala UI untuk mengisi acara di malam api unggun di Perkampungan UI di Cibubur, akhir September 1973. Kasino direncanakan berduet dengan Nanu Mulyono, juga mahasiswa FISIP UI. Keduanya jago bercanda, piawai melempar humor.

Kasino setuju. Duet itu terbukti mampu bikin gempar. “…Kasino dan Nanu tampil gaya dengan gaya slengean. Penonton tertawa, panitia pun puas. Kasino dan Nanu menjadi bintang, a star is born kata Temmy (Lesanpura) yang jadi panitia inti,’ kenang Rudy Badil, aktivis Mapala UI, yang punya andil mempertemukan keduanya.

Kisah berlanjut. Selain kuliah di UI, Temmy juga bekerja sebagai Kepala Program Radio Prambors. Ia rupanya sangat terkesan dengan Kasino dan Nanu. Kepada Badil, ia minta mereka mau mengisi acara di Radio Prambors.

Kasino dan Nanu setuju untuk siaran. Badil juga diminta nimbrung. Mereka diminta untuk ngobrol yang lucu-lucu saja. Tapi punya isi. “Ingat ya, kalian mahasiswa yang biasa mengisi acara di alam terbuka, juga bawakan lagu-lagu kampus sambil cerita lucu-lucuan. Itu saja dipelihara, tapi pakai persiapan,” kata Temmy.

Dalam istilah Temmy, mereka diminta “bercanda otak.”

Djodi Wuryantoro, mahasiswa Psikologi UI dan juga penyiar Prambors, ikut melempar saran. Ia mengingatkan penampilan Kasino dan Nanu di Perkampungan UI. “Kasino sukses menyanyikan lagu pop dangdut yang bercanda abis soal nasib orang di bui… atau Nanu yang dengan suara serak dan kocokan gitar menyanyikan  Hello Dolly, menirukan Louis Armstrong. Atau Nanu dan Kasino duet dengan lagu Tirtonadi yang rada-rada porno. Itu kan ciri kalian. Itu aja yang diterusin,” kata Djodi.

Slot acara mereka di Kamis malam, pukul 21.00. Itu persis bersamaan dengan dimulainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI, acara paling digemari se-Indonesia. Saat itu hanya ada TVRI, belum ada televisi-televisi swasta.

Acara malam Jumat itu pada mulanya hanya punya pendengar terbatas. Cuma kalangan mahasiswa UI. Sejak 1974, ketika lingkup pendengar mulai meluas, pengelola menamakan acara itu Warung Kopi Prambors. Mereka juga dikenal sebagai Warkop Prambors.

Mereka bertiga jadi penyebar terdepan gosip-gosip di seputar anak muda. Juga istilah-istilah khas yang dipakai semacam indehoy asoy, bohai, gintur, atau mana tahan.

Lalu, Wahyu Sardono atau Dono ikut bergabung. Itu bermula ketika mereka menjadi Panitia Pelaksana Pelatihan Nasional Lingkungan Hidup untuk Pemuda Indonesia di Puncak Pass, awal Juni 1975. Dono juga terlibat sebagai jurnalis yang membuat buletin harian acara pelatihan.

Saat malam tiba, mereka mengisi panggung kecil: ngobrol lucu dan menyanyi. Sepulang ke Jakarta, Dono dibujuk untuk ikut bergabung di acara malam Jumat itu.  Mahasiswa Sosiologi UI tersebut bersedia.

Kemudian, mahasiswa Universitas Pancasila bernama Indrojoyo Kusumonegoro atau Indro juga terlibat. Indro tinggal dekat dari studio Radio Prambors di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Ayahnya seorang jenderal polisi. Kawasan tersebut memang banyak dihuni pejabat. Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin dan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo juga tinggal di sana.

Foto: @Warkop_ID

PARODI LAGU MENJADI CIRI khas.  Nanu terampil memainkan gitar. Dia belajar sendiri, tak pernah ikut kursus.

Tak terlalu mahir bergitar, Kasino lebih menonjol sebagai penyanyi. Ia bisa bernyanyi dalam berbagai cengkok. Mulai dari Jawa, Batak, Betawi, sampai Mandarin. Urusan musik di Warkop, pria kelahiran Kebumen ini diplot sebagai frontman – seperti Ariel di Noah atau Duta di Sheila on 7.

Bahkan, pada 1979, Kasino diminta Guruh Soekarnoputra menyanyikan lagu Selamat Datang versi dangdut pada Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra 1979. Juga Jockie Suryoprayogo meminta Kasino menyanyikan parodi lagu Cinderella — aslinya dinyanyikan Ira Maya Sopha – di album “Musik Saya adalah Saya.”

Saat Indro direkrut, salah satu pertimbangan adalah kemampuan bermusiknya. Ia bisa bergitar dan meniup seruling. “Yang gua ingat itu gua disuruh menyanyikan lagu Melati-nya Grace Simon.  Tapi harus dalam langgam Jawa. Edan kan? Kurang kerjaan banget tuh Kasino…hehe…” kenang Indro.

Hanya Dono yang relatif tak bisa bermusik. Terkadang ia ikut menyanyi atau sekadar menabuh ketipung dan bongo.

Dengan parodi, mereka mengobrak-abrik lagu, terutama unsur liriknya.  Bayangkan lagu Kidung yang syahdu itu mereka acak-acak, menjadi menjurus porno.

Soal bahan lawakan, mereka banyak menyerap dari folklore, yang juga diajarkan di jurusan Antropologi. Dalam folklore, berlimpah cerita-cerita cabul, stereotip etnis, atau anekdot. Rudy Badil yang kuliah di Antropologi kerap diminta membawa bahan-bahan kuliah folklore yang diasuh Prof James Danandjaja. Itu semua dikemas ulang Warkop Prambors.

Ada satu contoh lelucon yang digali dari stereotip etnis. Jadi, ada calo bus di Lapangan Banteng, namanya Ucok. Suatu kali, dia ditusuk seseorang dan dibawa ke RSCM. Bapaknya datang sambil menangis, “Ucok, mangucaplah…Ucok, mengucaplah.”

Lalu, Ucok membuka mata dan berujar lirih, “Garogol…Garogol…”

MALAM TAHUN BARU 1977 menjadi pintu bagi kemasyhuran yang lebih gila. Warkop Prambors tampil di acara “Terminal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI. Sejak itu, ketenaran mereka melebar se-Indonesia. Di sini, Rudy Badil sudah tidak aktif. Ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai jurnalis Kompas.

Undangan manggung berdatangan. Dari seluruh penjuru Indonesia. Kocek mereka mulai tebal.

Rupiah kian berlimpah saat tawaran kontrak album kaset datang. Menariknya, album pertama berasal dari pertunjukan live mereka di Palembang. Ternyata sukses!

“Pramaqua langsung mengontrak Warkop untuk proyek kedua. “Kami membayar Warkop dengan jumlah fantastis, Rp 25 juta!” kata Johannes Soerjoko, bos Pramaqua.  Album yang dirilis Agustus 1979 itu juga meledak: terjual 180 ribu kaset dalam 45 hari.

Album kedua ini juga direkam live. Lokasinya Pontianak. Di album ini, Indro mengajukan teka-teki: apa bedanya laki-laki dengan sepak bola?

Tiga rekannya menyerah. Jawaban Indro, “Kalau sepak bola, penyerang membawa bola; bolanya masuk gawang, penyerang tunggu di luar. Kalau laki-laki, penyerang dibawa bola;  penyerang masuk gawang, bola tunggu di luar.”

—————–

Referensi: Warkop: Main-main jadi Bukan Main, Rudy Badil dan Indro Warkop (Editor), Kepustakaan Populer Gramedia, 2016 (cetakan ketiga)

simpang jalan dua wartawan

“Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja,” tulis Sutan Sjahrir dalam esai “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian.”

Pada 17 Februari 1946, koran Merdeka menerbitkan “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia.” Tebalnya 124 halaman. Salah satu yang dimuat adalah esai Sjahrir yang kutipannya nongol di atas.

Sebulan setelah “Nomor Peringatan” terbit, Merdeka terbelah. Kubu Rosihan Anwar mulai didepak. Di Merdeka, BM Diah menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum, Rosihan adalah redaktur utama. Keduanya sudah kerja bareng sejak koran Asia Raja pada masa pendudukan Jepang.

Merdeka mulai terbit 1 Oktober 1945. Koran itu dibangun setelah para wartawan dan karyawan Asia Raja mengambil alih percetakan De Unie dan menempelkan kertas bertuliskan “Milik Repoeblik Indonesia”.

Pemicu friksi Diah dan Rosihan adalah perbedaan visi. Rosihan terlalu dekat dengan faksi Sjahrir, Diah berafiliasi ke Sukarno. Konon tindakan Diah ini hanya reaksi. Sebelumnya, ia mendengar Rosihan dkk yang akan mendepaknya.

Diah tegas mengakui banyak bersimpang pendirian dengan Sjahrir. Perihal perlakuan Sjahrir atas dwitunggal Sukarno-Hatta tak disetujuinya. Sjahrir mengkritik keras mereka sebagai kolaborator Jepang dalam brosur Perjuangan Kita.

Juga soal perjuangan diplomasi yang banyak dipimpin Sjahrir. Dalam Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985, dinyatakan bahwa Diah tidak anti-diplomasi. Tapi, ia meminta jaminan bahwa semua itu bukan dilandasi oleh “bisikan” kubu sosialisme atau komunisme internasional. Harus berdasarkan kepentingan nasional Indonesia.

Karena ada dua “matahari” di Merdeka, pada suatu hari, Sjahrir dikritik. Pada hari lain, perdana menteri pertama RI itu dipuja-puji.

Tapi, kabarnya, soal pemilikan saham pun menjadi pangkal masalah. Rosihan menganggap Diah hendak menguasai Merdeka sendirian, sementara ia ingin semangat kolektif-kolegial dipertahankan. Tribuana Said, salah seorang menantu Diah, yang mengungkap hal ini dalam H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra.

Di autobiografinya, Menulis dalam Air, Rosihan tak menyinggung penyebab keluar dari Merdeka. Kisah yang dituliskan adalah perselisihan dengan Diah saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Oktober 197o. Rosihan mendapat suara terbanyak, tapi Diah mempermasalahkan prosedur pemilihan. Perpecahan PWI Pusat merembes sampai ke daerah. Dualisme kepengurusan terjadi.

Melalui proses yang alot, Rosihan disahkan juga menjadi Ketua PWI meski Rezim Orde Baru lebih suka jika Diah yang naik. Oh iya, di sini tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo, dikabarkan ikut ‘bermain’ dengan menyokong Diah.

Penting diingat bahwa sengketa ini memicu pemecatan Goenawan Mohamad dkk dari Ekspres — majalah yang 60% sahamnya dimiliki BM Diah. Goenawan menyayangkan Diah yang ogah berunding. Pernyataan ini dimuat beberapa surat kabar. Diah pun berang. Selepas Ekspres, pada 1971, Goenawan dkk mendirikan TEMPO.

Balik ke masa revolusi. Setelah keluar dari Merdeka, awal 1947,  Rosihan mendirikan Siasat, sebuah majalah politik dan budaya. Dalam waktu tiga bulan, tirasnya melesat ke 12.ooo.

Kemudian, Rosihan butuh mainan lain. Ia mendirikan Pedoman pada 1948. Koran ini kerap dibilang dekat dengan partai Sjahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia memang pengagum Sjahrir. Dalam autobiografinya itu, Rosihan bilang Perjuangan Kita meninggalkan kesan mendalam.

“Yang berkesan pula pada saya ialah nada kemanusiaan yang terdengar dari uraiannya. Inilah orang yang memperjuangkan tegaknya demenselijke waardigheld, martabat kemanusiaan di bumi persada Indonesia,” tulis Rosihan.

Nada esai ringkas Sjahrir di “Nomor Peringatan” kritis pada revolusi – ya, tak jauh berbeda dengan Perjuangan Kita. Bung Kecil menulis, “Agaknja salah-satoe sifat tiap-tiap revoloesi adalah, bahwa ia boeta, jaitoe bahwa orang yang berada dalam soeatoe revoloesi tiada dapat menangkap dan merasakan hoekoem sedjarah dengan pengertian, sehingga bagian terbesar dari pada tenaga yang lepas dari ikatannja dan bergolak didalam masjarakat itoe terboeang pertjoema.”

Saya membayangkan Diah jengkel ketika mengetahui Sjahrir menulis hal tersebut di koran yang dipimpinnya. Sementara Rosihan tersenyum.

 

 

martil kecil, rita hayworth, dan harapan

Kehidupan nyaman sebagai wakil direktur bank menguap ke udara. Andy Dufresne (Tim Robbins) mesti menjalani kehidupan keras di balik terali besi.

Dakwaan jaksa: membunuh istri dan pacar sang istri yang merupakan pegolf terkenal.  Vonis hakim: penjara dua kali seumur hidup. Pertanyaan pertama di benak penonton: Dufresne memang membunuh mereka?

Vonis jatuh, hidupnya mendadak rapuh. Lalu Shawshank Redemption pun bergulir.

Napi senior, Red (Morgan Freeman),  menebak, Dufresne akan menjadi yang pertama menangis di antara anggota kelompok napi yang tiba bersamaan di penjara saat itu.

Red bertaruh 10 batang rokok kepada teman-temannya. “Angin sepoi-sepoi saja akan membuat dia terhempas,” ujar Red sambil memperhatikan kelompok napi tersebut. Ternyata, sang narator sepanjang film dan kelak menjadi sahabat Dufresne itu keliru. Dufresne sama sekali tak menangis.

Dengan ketenangan, keuletan, dan kecerdasan, Dufresne bertahan – sejak detik pertama di penjara Shawshank pada 1947. Ia menolak bertekuk lutut pada takdir. Termasuk menghadapi geng napi homoseksual yang mengincar. Ia melawan meski berujung babak-belur.

Belakangan, berkat kemampuan akuntansi sebagai eks bankir, Dufresne memperoleh proteksi dan keistimewaan. Dia mengelola pencucian uang kepala penjara, Samuel Norton (Bob Gunton). Gangguan para napi homoseksual itu tak lagi mampir. Para sipir bahkan menggebuki pentolan geng hingga cacat.

Sempat terbit harapan Dufresne untuk bebas setelah Tommy Williams (Gil Bellows) masuk. Tommy bilang pernah bertemu seseorang yang mengaku membunuh seorang perempuan dan kekasihnya yang pegolf tenar.

Harapan pupus setelah Tommy ditembak mati oleh kaki tangan Norton. Maka, rencana awal dilanjutkan.

Dufresne berhasil kabur. Modalnya:  martil kecil yang ia pesan dari Red dan… poster aktris Rita Hayworth, Marilyn Monroe, serta Raquel Welch. Perihal cara dia kabur, mending tonton sendiri filmnya.

Dalam surat kepada Red, ketika telah di luar, Dufresne menulis, “Remember, Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.”

Dufresne seperti menjawab kata-kata Red beberapa tahun sebelumnya: “Hope is a dangerous thing, my friend, it can kill a man…”

Pada 1966, Dufresne membuktikan bahwa menaruh harapan itu bukan kemubaziran. Dia tak sekadar kabur, namun juga merancang skenario penghancuran rezim penjara yang korup dan bengis itu.

Film ini dirilis pada 1994. Banyak menuai pujian. Saya baru menontonnya akhir pekan ini di HBO. Tabik buat semua yang membuat The Shawshank Redemption terwujud.

Inilah cerita tentang hidup yang rapuh tapi tak layak diratapi jika kita punya sahabat, imajinasi,  dan harapan.

 

perjalanan dan ketidakterdugaan

Ketidakterdugaan. Perjalanan liburan lebaran kemarin membawa kami dalam sejumlah ketidakterdugaan. Justru ketika menggunakan teknologi untuk menghalau spekulasi.

Menjelang tengah malam, mungkin di sekitar Kebumen, aplikasi waze mengarahkan untuk mengambil jalanan kampung. Memisahkan diri dari jalan raya.

Arus balik lebaran menyebabkan laju lalu-lintas tersendat. Pun di arah sebaliknya. Kami berangkat dari Pangandaran menuju Jogja.

Roda-roda lalu menggilas aspal kasar. Saat itu giliran istri saya, Raya, yang mengemudi. Saya jadi navigator.

Rumah-rumah pedesaan Jawa terlihat di kiri dan kanan. Lampu-lampu menyala. Hanya sedikit warga yang terlihat. Sisanya boleh jadi telah mengarungi langit mimpi — seperti juga dua bocah di kursi belakang.

Di satu titik, jalanan ternyata sedikit menanjak. Di ujung, terbentang rel kereta api.  Gelap merundung karena hanya persawahan mengurung. Tiba-tiba, persis di rel, kendaraan terhenti. Tak bergerak meski pedal gas telah diinjak. Ada apa ini?

Saya memutuskan turun, mencari tahu. Oh, ternyata ada batu lumayan besar, mengadang laju ban kanan depan. Saya pun meminta Raya untuk memundurkan mobil dan menggeser stir ke kiri.

Wuuss…kami pun lepas dari ketegangan sesaat. Sempat mampir pikiran bagaimana kiranya jika saat itu ada kereta melintas.

***

Aplikasi seperti waze ini mungkin seperti kompas pada beberapa abad silam. Kompas membuat manusia berani menjelajahi belahan dunia lain, tak perlu lagi cemas bagaimana cara kembali ke rumah. Ketidakpastian dilawan dengan teknologi.

Konon, bersama mesin cetak dan mesiu, kompas menjadi bekal penting era renaissance, pintu gerbang abad modern yang membebaskan manusia (baca: manusia Eropa) dari kungkungan otoritas lama.

Jika tak ada kompas, susah membayangkan Christopher Columbus bisa meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai perjalanannya. Maka berlayarlah Nina, Pinta, dan Santa Maria pada Agustus 1492.

***

Ketidakterdugaan berikut hadir saat ingin ke Candi Prambanan. Titik berangkat adalah kawasan Mangunan, Bantul. Di waze sudah diketik: Prambanan.  Let’s go

Kami diarahkan ke jalan Jogja-Solo. Ya, masuk akal. Tapi kemudian diminta keluar dari jalan raya, masuk ke pedesaan. Ah, siapa tahu ini rute tercepat.

Panorama indah memanjakan mata. Petang telah datang.

Kok jalanan makin kecil. Kalau dua mobil berpapasan, ngepas banget. Mulai tumbuh ragu. Di sebuah pertigaan, keraguan mengeras. Kepada seorang warga, kami pun bertanya, “Nuwun sewu, Mas. Ini jalan menuju Candi Prambanan?’

“Oh bukan, tidak lewat sini,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

Matahari sudah redup. Kami bertanya-tanya apa yang salah. Usut punya usut, kami hanya memasukkan “Prambanan” di waze. Padahal seharusnya “Candi Prambanan.”

Prambanan merupakan juga nama kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang menggunakan nama tersebut. Satu di Sleman, satu di Klaten. Keduanya bersisian. Candi Prambanan ada di Klaten.

Lakukan perjalanan. Maka, kita bakal kian yakin bahwa hidup adalah himpunan ketidakterdugaan meski telah dibantu teknologi.

 

 

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.