makelar

HB Jassin pernah juga menjadi “makelar” tulisan. Kritikus dan dokumentator sastra ini menerima surat dari Buchari. Isinya tanggapan atas esai Pramoedya Ananta Toer di Bintang Timur pada rubrik “Lentera”, 27 Oktober 1963.

Semula Jassin akan memuat surat tersebut di media yang diasuhnya, Berita Republik. “…tapi setelah dipikir-pikir maka kami batalkan karena mungkin hanya akan mengeruhkan suasana. Barangkali Saudara punya perhatian untuk mempelajarinya dan mengumumkannya untuk dijawab,” tulis Jassin dalam surat untuk Pramoedya Ananta Toer, 2 November 1963.

Pram ternyata memuatnya di Bintang Timur. Jassin pun menyampaikan apresiasi dalam surat tertanggal 13 November 1963: “Bersama ini saya teruskan surat kedua dari Buchari. Oleh karena suratnya yang pertama telah secara fair play telah saudara muat di Lentera – untuk mana kami menyatakan penghormatan dan terima kasih – diharap saudara pun suka memuat surat yang kedua ini…”

Eh, siapa sih Buchari? Dalam keterbatasan referensi, saya teringat Prahara Budaya. Membuka lagi buku kontroversial itu, surat Buchari ternyata ada di sana. Dalam pengantar editor, terkuak bahwa Buchari adalah Bokor Hutasuhut, salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan.

Nama asli Bokor memang Buchari. Kenapa Bokor “menyamar” dengan memakai nama asli yang sedikit orang tahu dan menanggalkan marganya? Barangkali ia sudah mengendus bahaya.

Kira-kira, Manifes merupakan ungkapan protes pada upaya subordinasi kesenian pada politik –hal yang dinisbahkan kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Petikannya,”Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.

Selain Bokor, para penandatangan Manifes adalah Wiratmo Soekito, Jassin, Trisno Sumardjo, Soe Hok Djin (belakangan menjadi Arief Budiman), Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Zaini, Ras Siregar, DS Moeljanto, Djufri Tanissan, A. Bastari Asnin, Sjahwil, Taufiq Ismail, M. Saribi Afn., Purnawan Tjondronegoro, Hartojo Andangdjaja, Binsar Sitompul, dan Boen S. Oemarjati.

Manifes akhirnya dilarang Presiden Sukarno pada 8 Mei 1964. Sebab dianggap tak sesuai dengan semangat revolusi. Tapi, aroma pemberangusan telah tercium beberapa bulan sebelumnya.

“Sejak September 1963 sampai 8 Mei 1964, serangkaian kampanye yang sengit, kadang tidak adil, dan yang jelas sistematis, dilancarkan terutama oleh mereka yang punya hubungan dengan PKI dan PNI. Selama tujuh bulan Manifes Kebudayaan itu diserang lewat statement, pidato, dan tulisan, sampai akhirnya ia dinyatakan terlarang,” tulis Goenawan Mohamad dalam esai panjangnya di TEMPO, 21 Mei 1988.

Para seniman yang terlibat dalam Manifes segera mendapat stempel “kontrarevolusioner,” sebuah cap sangat buruk pada masa itu. Tak mengherankan jika, pada akhir Oktober 1963 itu, Bokor merasa jeri.

Bahwa Jassin membatalkan pemuatan di Berita Republik, agaknya juga harus dibaca dalam konteks tersebut. Ada kecemasan karena ternyata penolakan terhadap Manifes begitu besar. Berbeda jika ditayangkan di koran kiri seperti Bintang Timur. Jassin seperti mengambil jalan memutar: ide yang (mungkin) diyakininya tetap muncul tapi dengan meminjam tangan orang lain.

Setelah Mei 1964, pengganyangan berlanjut kencang. Mereka tak bisa menulis lagi di media massa, tak diizinkan mengajar – seperti yang terjadi pada Jassin. Meski, kata Goenawan dalam tulisan yang sama, itu semua tak sebanding dengan penindasan yang dialami para penulis dan cendekiawan kiri pasca-30 September 1965.

Merasa jeri namun Bokor memilih tak 100% tiarap dan terus menulis meski dengan menyamarkan diri. Dua surat lain dikirim ke Jassin yang lalu meneruskan ke Pram. Surat kedua dimuat dan Pram merespons dengan tulisan. Tapi, surat ketiga Buchari tak ditayangkan.

Jangan bayangkan polemik itu memperdebatkan kualitas karya sastra. Ini lebih menyoal posisi “politis” masing-masing. Judul surat pertama Bokor adalah Apakah Bung Pram Memang Revolusioner?. Di sana Bokor mempermasalahkan, salah satunya, kepergian Pram ke Belanda atas biaya Sticusa (badan kerja sama kebudayaan Indonesia-Belanda) pada 1953. Surat itu ditutup dengan signature: “Dari konco lawasmu, (Buchori).”

Dalam esai tanggapan sebagaimana terbaca di Prahara Budaya, Pram menyebut Buchari adalah Bokor. Saya tak punya akses ke naskah asli di Bintang Timur. Jadi tak bisa memastikan apakah Pram memang tahu bahwa Buchari adalah Bokor. Sementara, dalam surat Jassin ke Pram tertulis,”…saya kirimkan bersama ini surat terbuka dari seorang bernama Buchari.”

Pada masa itu para buzzer belum merebut arena. Makhluk bernama netizen belum menjelma. Hanya segelintir elite cendikia yang bisa bersuara — meski harus menyamar. Bokor menulis surat dan Sang Paus Sastra pun menjadi “makelar.”

 

 

adil

Alkisah, terjadi tawuran antara anak-anak SMA 6 versus SMA 70 Jakarta (ini sekolah saya…hehe…). Ada satu mobil yang parkir di GOR Bulungan, isinya anak-anak 70. Mereka turun dan buka bagasi. Ternyata bagasi memuat batang-batang bambu buat tawuran. Saat bambu dibagi-bagi, Mas Bawor Prayitno melihat dan murka.

“Jangan pernah bagi-bagi senjata di sini. GOR ini kawasan netral, kawasan damai. Boleh berantem di jalan tapi begitu masuk harus lupakan perkelahian!” ujar aktor teater itu kepada mereka.

Entah sejak kapan dia berkegiatan di GOR Bulungan, yang pasti GOR adalah ‘rumah’ buat pria asal Purwokerto tersebut. Selain pegiat teater, dia juga sensei alias guru aikido.

Cerita lain. Seorang pedagang minuman ditegur Mas Bawor. Gara-garanya, di samping gerobak dia ada tripleks besar bertuliskan: tempat itu markas anak-anak dari sekolah tertentu. Pedagang itu pun disemprot Mas Bawor. “GOR ini untuk siapa saja, mereka bebas beraktivitas di sini selama tertib. Nggak ada markas-markasan, nanti ada rajanya segala lagi,” ujar Mas Bawor.

Mas Bawor menyodorkan pilihan buat pedagang itu, hapus tulisan atau dibakar tripleksnya. Sang pedagang memilih menghapus.

Saya kutip dua kisah di atas dari status Mas Bawor di Facebook. Untuk sesaat saya membeku dan terharu ketika membacanya kemarin pagi. Lalu teringat definisi “adil” yang disampaikan pak guru di sekolah dasar dulu, yaitu “letakkan sesuatu pada tempatnya.”

Sehat selalu, Sensei. Salam hormat dari Cinere.

ibunda

“Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda, maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka aku,” kata sang ibunda.

“Ampun, Bunda,” kata Minke. Ia menjatuhkan diri, memeluk kaki orang yang melahirkannya itu.

Minke melanjutkan, “Jangan katakan seperti itu, Bunda.  Jangan hukum sahaya lebih berat dari kesalahan sahaya. Sahaya hanya mengetahui yang orang Jawa tidak mengetahui, karena pengetahuan itu milik bangsa Eropa, dan karena memang sahaya belajar dan mereka.”

Demikian petikan percakapan menggetarkan (oh, jangan-jangan paling menggetarkan) di novel  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Meninggalkan tilas yang tak lekas pudar di ingatan, menaruh rasa hangat di dada usai membacanya.

Minke asyik dengan dunianya sendiri di tanah rantau. Tak tahu bahwa sang ayah dipromosikan menjadi bupati di B. Surat-surat itu dibawa ke Wonokromo, rumah Nyai Ontosoroh, tapi tak dibacanya.

Ia dijemput polisi di rumah sang nyai. Tanpa penjelasan apa pun,  dibawa dalam kereta kuda. Ternyata ia diangkut ke B, menuju kediaman resmi bupati.  Apa urusanku dibawa ke sini, batin Minke.

Beberapa saat kemudian segenap rasa penasaran musnah ketika sosok ayahanda Minke muncul di hadapan dengan cambuk di tangan.

Kalau ayahanda main cemeti, ibunda menggunakan tangan langsung. Istri (bakal) bupati itu menjewer telinga anaknya, lalu berlutut dan berbisik:

“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.”

Sebelumnya, perempuan itu pula yang “membela” Minke saat berseteru dengan kakak lelakinya. Sang kakak membaca catatan harian Minke tanpa izin. Sang adik pun murka. Di tengah adu mulut, ibu mereka datang.

“Kau belum lagi ambtenaar yang berhak menjual adikmu untuk sekadar dapat pujian. Kau sendiri belum tentu lebih baik dari adikmu,” ujar perempuan itu saat mendengar niat kakak Minke menyerahkan catatan harian tersebut ke ayahanda.

Tembok feodalisme tak menghalangi sang ibunda untuk bersikap adil. Juga kepada anak HBS yang menyusahkan hatinya itu. Iya, Minke bikin masalah dengan bergaul dengan nyai tapi bukan juga tersedia alasan bagi sang kakak untuk mencari muka.

Setelah debat panjang yang “dimenangkan” sang ibunda, pipi dan rambut Minke dibelai.

“Pada waktu aku hamilkan kau, aku bermimpi seorang tak kukenal telah datang memberikan sebilah belati. Sejak itu aku tahu, Gus, anak dalam kandungan itu bersenjata tajam. Berhati-hati menggunakannya. Jangan sampai terkena dirimu sendiri …”

hidup di luar tempurung

Tiba juga saat itu. Anak yang belasan tahun bersama kini harus meninggalkan rumah, pergi menempuh hidup di kota lain. Tempat barunya berjarak hampir 800 km dari kami, di Surabaya.

Ini bukan momen biasa. Tak heran jika ada sesak di dada. Tapi saya telah coba bersiap sejak beberapa bulan lalu. Sebab Havel memang telah memperlihatkan sikap untuk memilih sekolah bukan di Jakarta dan sekitarnya.

It’s okay. Saya juga dulu merantau saat kuliah. Orang tua di Jakarta, saya melanglangbuana di Bandung. Namun Bandung hanya sepelemparan batu dari rumah. Sebulan sekali pulang.

Surabaya lumayan jauh. Tak bisa dia pulang saban bulan. Kami tak berlimpah duit.

Sebaliknya, berlimpah manfaat merantau yang bisa direguknya. Hidup nyaman di rumah segera digantikan dengan sejumlah ‘ketidakpastian’. Namun itu niscaya penting dalam proses pematangan diri.

Havel juga akan melihat dunia yang jauuuuuh lebih luas. Bakal punya perspektif yang lebih kaya karena hidup di zona berbeda dengan sebelumnya. Maka, semoga dia mudah mekar menjadi pribadi yang toleran, adaptif, dan rendah hati.

Apakah ada orang tua yang melarang anaknya merantau? Dari pengamatan saya, cukup banyak. Kira-kira alasan utamanya seragam: cemas dengan pergaulan sosial.

Mustahil dia selamanya hidup dalam ‘tempurung’ bersama keluarga.  Dengan keluar, dia belajar menata banyak hal, tak lagi berkutat dalam ‘supervisi’ kami. Kepercayaan penting diberikan. Bahwa ada risiko ini dan itu, mitigasi dan antisipasinya memang kudu disiapkan.

Si anak yang jadi pusat kepedulian. Maka, ketika pengumuman kelulusan terbit, saya cek, “Kamu senang diterima di ITS?”

Bagaimanapun, ITB yang menjadi pilihan pertamanya. Luput, bukan jodohnya. Karena itu pertanyaan di atas layak dilontarkan.

“Senang dong,” jawabnya dengan air muka cerah. Dia bukan tipe ekspresif. Jadi cerahnya wajah sudah lebih cukup bagi saya.

Sebelum Havel terbang ke Surabaya, saya juga minta dia menghubungi kakung-nya. Minta restu. Mata saya hangat saat Havel menunjukkan pesan Whatsapp dari bapak saya itu — jawaban atas permintaan restu.

Bapak saya sangat menyayanginya. “Kakung mau kok menemani waktu Havel ospek,” kata ibu, beberapa bulan silam. Saya teringat, ketika Havel berusia dua atau tiga tahun, kakung sering mengajaknya ke Toko Surya untuk membeli mainan.

Tempuhlah fase ini, Nak. Doa kami menemanimu.

Catatan: judul saya pinjam dari terjemahan memoar Ben Anderson.

cinta tak pernah kedaluwarsa

Seperti dongeng. Setelah hampir 30 tahun terpisah, mereka berjumpa lagi secara kebetulan di lobi Hotel Indonesia.

“Kamu tinggal di mana?” kata Njoo Tik Tjiong dengan jantung berdebar.

“Cik Di Tiro,” jawab Giok Nie. Itu nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tjiong ingin mencatat nomor telepon Giok Nie. Tapi tak membawa pulpen. Ia segera memanggil doorman Hotel Indonesia yang dikenalnya, William, dan berujar, “Will, pinjam pulpen.”

Nomor telepon rumah Giok Nie dicatat di telapak tangan Tjiong.

Setelah mobil Giok Nie berlalu, William menggoda, “Bekas pacar ya…”

Tjiong adalah pewaris perusahaan roti Orion di Solo. Pernah menikah lantas bercerai. Anaknya dua. Giok Nie adalah janda seorang dokter yang punya saham di RS Hermina. Anaknya tiga.

Lalu Tjiong menyambangi rumah di Jalan Cik Di Tiro tersebut.

“Oh, elu…” Sambutan sinis yang tak disangka-sangka diterima Tjiong. Orang yang mengucapkan adalah tante dari Giok Nie – orang yang puluhan tahun silam tak menyetujui hubungan mereka. Bukan hanya Sang Tante, seisi rumah Giok Nie tak setuju. Mami Giok Nie punya alasan khusus: ia ogah punya menantu Cina-Jawa.

Begitulah, Giok Nie akhirnya menikah dengan Budiono Wibowo, dokter yang meningggal karena kanker itu. Tjiong menjadi pendamping mempelai pria.

“Tjiong dari dulu saya anggap orang yang baik meski omongannya kasar.  Kasarnya itu tidak saya suka. Betapa pun kami berteman sangat baik,” kata Giok Nie kepada Bre Redana, penulis biografi Tjiong alias Purwohadi Sanjoto, Karmacinta.

Berteman sangat baik tapi tak berjodoh. Adakah yang lebih tragis ketimbang itu?

Tjiong ingin menuntaskan yang tertunda. Namun tak mulus juga. Sejumlah pihak bilang ke Giok Nie, Tjiong bukan orang yang beres. Hanya mengincar uang janda pemilik RS Hermina. Ada juga yang bilang, perceraian Tjiong karena dia menyia-nyiakan istrinya.

Giok Nie terpengaruh. Ia pun menjauh. “Saya telepon ke rumah, tidak pernah diangkat. Saya cari dia, bahkan sampai ke Singapura,” ungkap Tjiong yang juga kolektor lukisan itu.

Untuk menghindari Tjiong, Giok Nie kerap bepergian. Ke Eropa, Timur Tengah, atau Amerika Serikat — sembari menengok anaknya yang sekolah di sana.

Kemudian, kakak Giok Nie, Doddy, dirawat di Singapura.  Pada kurun waktu bersamaan, Tjiong juga harus menjalani operasi sinus di rumah sakit yang sama. Mengetahui Doddy dirawat, Tjiong menjenguk. Percakapan mereka membelokkan sejarah.

Ketika Giok Nie menjenguk, Doddy bilang, “Kamu sama dia saja. Ada orang yang take care of you.”

Giok Nie mulai goyah. Ia pun menemui teman baik Tjiong, Harry Tjan Silalahi, aktivis 66 dan pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

“Aduh kenapa tidak dari dulu-dulu kalian menikah? Rumah tangganya memang bermasalah, tapi orangnya baik, orangnya begini,” ujar Harry sambil mengacungkan jempol.

Pada 18 Maret 1995, akhirnya mereka menikah. Saat itu Tjiong menjelang 61 tahun, Giok Nie 60 tahun. Mereka kemudian memilih tinggal di Solo.

“Sehari-hari praktis kami hanya berdua. 24 jam sehari bersama dia. Dia tak pernah meninggalkan saya, tak pernah pergi sendiri. Daripada pergi sendiri, dia memilih tak pergi,” kata Giok Nie yang dipanggil “Non” oleh Tjiong.

Kalau Giok Nie sedang kurang sehat, Tjiong ikut menyiapkan obat. “Nonnn, sudah minum obat?”

Mereka jalan-jalan berdua. Ke Eropa, dari museum ke museum. Juga menonton teater. Atau, ke Jakarta — kota yang mempertemukan kembali mereka. Seperti dongeng…

Catatan: tulisan ini sepenuhnya bersumber dari Karmacinta karya Bre Redana.


depok baru – duren kalibata

“Stasiun berikutnya, Duren Kalibata.”

Suara perempuan dari pengeras suara itu membuat saya beringsut perlahan.  Menerobos sejumlah orang di dekat pintu. Harus perlahan, atau akan membuat mereka tak nyaman, seraya mengucap, “Permisi…”

Empat hari kemarin saya jadi penumpang commuter line Jakarta-Bogor. Berangkat dari Stasiun Depok Baru, turun di Stasiun Duren Kalibata. Pada malam hari, saya menempuh arah sebaliknya.

Saban mau turun di perjalanan pagi, secuil rasa cemas menyergap. Kereta sangat penuh. Sebagai gambaran, kita tak bisa merentangkan tangan ke depan atau ke samping tanpa menyentuh orang lain. Tak bisa, bahkan setengah tangan pun.

Nah, di setiap stasiun,  kereta berhenti sebentar saja. Hanya sekitar satu menit. Jika terlambat keluar, pintu tertutup dan kita harus terbawa ke stasiun berikutnya. Tanpa ampun!

Di sana, mustahil kita tak bersentuhan. Juga dengan lawan jenis. Kaum pengusung segregasi jenis kelamin seharusnya protes keras. Cuma, biasanya, dua gerbong di ujung kereta dikhususkan untuk kaum Hawa.

Pada Jumat kemarin, kereta berangkat dari Depok Baru pada pukul 06.39. Tiba di Duren Kalibata pada pukul 07.16. Sangat cepat untuk ukuran Jakarta. Jarak kedua tempat itu sekitar 18 kilometer. Ingat, jalur itu melewati kawasan Lenteng Agung-Pasar Minggu yang tersohor kemacetannya.

Saya belum pernah merasakan kepadatan yang sama pada MRT Jakarta. Bahkan pada jam-jam sibuk. Saya hanya punya satu dugaan: harga tiket MRT membuatnya secara otomotis membatasi zona ekonomi pengguna. Berbeda dengan commuter line yang jauh lebih murah.

Situasi commuter line pada Sabtu pagi.

Pada Sabtu pagi, situasi lebih manusiawi. Kereta tak sepadat Senin sampai Jumat. Namun, kalau naik dari Depok Baru, tetap jangan berharap untuk duduk–kecuali Anda sudah terlihat sangat sepuh.

Ini jelas moda transportasi yang tidak bersahabat dengan para kaum difabel.  Bagaimana bisa mereka mengejar ‘kecepatan’ pintu yang segera menutup itu?

Ini khas Jakarta? Tidak. Kalau menggunakan subway train di Tokyo, situasi umpel-umpelan juga mudah Anda pergoki pada jam-jam sibuk. Bahkan para petugas lazim mendorong masuk para penumpang agar pintu bisa ditutup.

Bagaimana pun, perkeretapian Indonesia sudah jauh membaik. Ignasius Jonan punya andil besar dalam mengubahnya ketika menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Mulai dari 2009 itu, tak ada lagi penumpang yang merokok, pedagang berseliweran di gerbong, dan penumpang di atap. Ketepatan waktu perjalanan juga bisa diandalkan. Dan seterusnya.

Soal kepadatan, lain cerita. Maka, ketika suara perempuan itu terdengar, saya bergerak dengan semacam rasa cemas. Saya tak mau terbawa sampai Stasiun Cawang.

rok mini dan media sosial

Hanya delapan baris. Pesan pengirimnya, Lela, terang-benderang: kontes rok mini itu mengekspos aurat wanita.  “Apalagi ketua tim juri adalah Titiek Puspa, penyanyi terkenal, hajjah, dan anggota MPR,” tulis Lela yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Protes ini disampaikan ketika belum ada media sosial. Dimuat di rubrik surat pembaca TEMPO edisi 17 September 1988. Saya menemukannya saat ngabuburit di Blok M Square di lapak-lapak bacaan lawas.

Lela dan teman-temannya tak punya banyak keleluasaan. Hanya ada media massa arus utama: koran, majalah, radio, dan televisi.  Para pengelola memasang filter ketat dalam memilah dan memilih konten. Kita abaikan pertimbangannya — mungkin politis, entah ekonomis. Yang pasti  tak gampang bagi ‘nobody’ seperti Lela untuk bersuara dan didengar publik.

Itu sebabnya hadir  kebanggaan tersendiri jika seseorang bisa menembus halaman opini Kompas. Ah, jangankan Kompas, dimuat di Pikiran Rakyat saja membuat penulisnya seperti punya hak menepuk dada.

Bahkan sekadar mengirim surat pembaca, belum pasti dimuat. Mesti bersaing dengan ribuan surat lain. Antre atau dibuang ke keranjang sampah. Jika dimuat, usianya hanya sehari. Besok ada surat-surat lain. Jangan bayangkan pesan itu menjadi viral. Nyaris tak pernah ada.

Lupakan menulis kolom di TEMPO. Karena hampir semua merupakan tulisan pesanan redaksi. Mereka yang dipesan pun hanya nama-nama tenar di jagat penulisan: Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Ong Hok Ham, atau Mahbub Djunaidi.

Saya membayangkan, jika kontes rok mini digelar hari ini, bisa dipastikan bakal jauh lebih riuh. Pro dan kontra meruyak. Pemrotesnya tak akan mengirim surat pembaca ke TEMPO atau Kompas. Tapi dia akan mengunggah ke media sosial, dilengkapi eflyer acara, dan ngetag sejumlah pihak. Tak perlu filter dari redaksi. Pun tak butuh antre – kelar ditulis, dalam hitungan detik langsung tersebar.

Usia pesan bukan hanya sehari. Bisa berhari-hari, bahkan sepekan. Berkat tombol share, pesan menjangkau sangat banyak orang di seluruh penjuru dunia. Berlipat ganda daya tekannya.

Pihak yang pro juga demikian, bakal mengeluarkan argumentasi-argumentasi. Debat tergelar, hiruk-pikuk mewarnai linimasa kita.

Demokratisasi informasi? Iya. Selamat tinggal ‘mercusuar opini’ yang dikekalkan media massa? Iya. Kehadiran blog beberapa tahun sebelumnya menjadi pembuka jalan menuju itu semua.

Tunggu dulu. Ini hanya satu sisi dari sekeping uang logam. Satu sisi lainnya sungguh mencemaskan. Media sosial membuat hoaks mudah sekali bergulir dan menyebar. Saya sendiri tak mendukung delik pencemaran nama baik. Enyahkan saja itu dari hukum positif kita — subjektif dan bersifat ‘karet’. Tapi beda dengan kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Kita menengok sebentar ke Myanmar. Penyelidik HAM dan tim investigasi PBB untuk kasus Rohingya menyebut Facebook diduga memiliki andil dalam terciptanya kerusuhan dan persekusi yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan lebih 650 ribu orang mengungsi dari Rakhine pada 2017 lalu.

Tim investigasi menggarisbawahi: Facebook sangat populer di Myanmar dan membuatnya jadi saluran utama penyebaran ujaran kebencian yang menyasar kelompok Rohingya.

Myanmar hanya contoh. Di balik berkah media sosial, ada potensi musibah. Celakanya, musibah itu mustahil dikategorikan ‘enteng-entengan.’ Sedih sekali, misalnya, menonton video seorang anak muda yang bilang ingin memenggal kepala Jokowi. Juga kasus-kasus penyebaran kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian lain di media sosial.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk membikin media sosial lebih sehat. Sejak 2018, Facebook mengembangkan program fact-checking untuk teks, lalu berlanjut untuk foto dan video. Tapi belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh.

Bu Lela sendiri tak jauh dari usia 50 tahun kini. Barangkali punya akun media sosial. Jika punya uneg-uneg, mudah sekali menyampaikannya. Ia tak perlu lagi mengirim surat pembaca ke TEMPO dan lama menanti. Tak cuma delapan baris, boleh sesuka hati.

* Setelah diunggah, tulisan ini beberapa kali disunting. Terakhir pada Senin 3 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.

tragedi amir sjarifuddin

Tentara Jepang itu bertanya, “Kamu seorang Kristen. Apakah kamu tetap pada keyakinan itu?”

“Tetap,” jawab pria itu. Namanya Amir Sjarifuddin.

“Pasti?”

“Pasti.”

“Kristus bersedia berkorban pada kayu salib. Kalau betul-betul seorang Kristen, mestinya kamu juga bersedia digantung pada salib. Kamu berjuang melawan Belanda dulu, sekarang melawan Jepang demi kemerdekaan bangsamu. Bersediakah kamu digantung pula demi keyakinan dan bangsamu?”

Hening. Serdadu itu melanjutkan, “Kristus digantung dengan kepala di atas. Kamu akan digantung dengan kepala di bawah. Sebab setiap murid harus bersedia berkorban lebih berat daripada Sang Guru…”

Amir pun digantung dengan kepala di bawah. Manusia mana yang bisa menanggung kebiadaban semacam itu? Ia kepayahan, nyaris mati. Tapi, prajurit-prajurit itu tak bermaksud menghabisi nyawa Amir. Ia pun diturunkan.

Pada Januari 1943, bersama aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) lain, Amir ditangkap polisi Jepang. Tuduhannya menggalang kekuatan anti-Jepang. Pada Februari 1944, vonis mati jatuh. Sepupunya, Goenoeng Moelia, mendengar kabar itu dan segera menemui , penasihat pemerintahan militer Jepang di Indonesia, Mohammad Hatta. Kondisi Amir disampaikan plus permintaan tolong. Hatta pun bergerak.

Pada Oktober 1945, akhirnya Amir menghirup udara kebebasan. Dari penjara Lowokwaru di Malang itu, ia dibawa ke Surabaya, lalu menuju Jakarta dengan kereta api. Kesehatannya buruk, giginya rusak karena siksaan. Ia ditunggu sebagai Menteri Penerangan dari sebuah republik yang baru lahir.

Setiba di Jakarta, Amir segera menggelar konferensi pers dengan para jurnalis asing. Ia bilang, “Saya adalah seorang demokrat sampai ke tulang sumsum. Perjuangan kemeredekaan di zaman pemerintahan Jepang saya lanjutkan dengan ratusan kawan saya dengan cara underground. Pada tanggal 30 Januari 1943 saya dan 54 kawan seperjuangan ditangkap. Tiga orang di antaranya sudah ditembak mati…Semua itu menunjukkan bahwa cerita-cerita di luar bahwa Pemerintah RI adalah boneka Jepang, tidak benar sama sekali…”

Sukarno, orang yang menunjuknya sebagai Menteri Penerangan,  bukan kawan baru buat Amir. Mereka telah bersama di Partai Indonesia (Partindo) sejak 1933. Keduanya sama-sama orator yang memesona.

 

AMIR LEBIH MUDA ENAM tahun ketimbang Sukarno. Ia dilahirkan di Tapanuli Selatan pada 1907. Ayahnya adalah seorang jaksa, bernama Djamin gelar Baginda Soripada Harahap. Djamin pindah ke Islam untuk menikahi Basunu Siregar, anak seorang saudagar di Tapanuli Utara. Mereka punya tujuh anak dengan Amir sebagai si sulung. Amir memperoleh gelar Sutan Gunung Soaloon. Namun predikat kebangsawanan itu seumur hidup tak pernah dipakainya.

sumber: Wikipedia

Pada usia 14, setelah menamatkan sekolah dasar berbahasa Belanda, Amir dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi. Amir belajar di sebuah sekolah negeri atau gymnasium di Leiden dan Haarlem, tinggal bersama sebuah keluarga Calvinis konservatif dan kemudian dengan seorang janda mantan misionaris. “Di sinilah saya mulai belajar dan menghargai kesusasteraan dan filsafat,” tulis Amir dalam sebuah risalah otobiografis ringkas yang disimpan Arsip Kerajaan Belanda.

Pada 1926, setahun sebelum Amir pulang dari Belanda, ayahnya kehilangan jabatan sebagai jaksa. Baginda Soripada lalu mendapat pekerjaan di Tarutung, bukan sebagai jaksa melainkan karyawan biasa di birokrasi Hindia Belanda.

Dia pun pulang ke Hindia Belanda dan menetap di Jakarta, masuk sekolah tinggi hukum, Rechts Hoogeschool. “Di sini, setelah tahun pelajaran kedua, saya berkenalan dengan politik,” aku Amir. Ia menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan redaktur majalah mahasiswa Indonesia Raja.

Amir tinggal di  asrama Indonesis-Clubgebouw di Jalan Kramat 106, di dekat Senen. Penghuni asrama kebanyakan mahasiswa kedokteran, STOVIA, dan sekolah tinggi lain. Pada 1928-1931, yang tinggal di Indonesis-Clubgebouw di antaranya adalah Amir, Muhammad Yamin, Assat, Abas, Abu Hanifah, dan sejumlah mahasiswa lain.

Mereka semua segelintir kaum pribumi yang beruntung bisa sekolah untuk meraih gelar sarjana – tentu lantaran orangtua mereka juga bukan orang sembarangan. Tapi, mereka bukan anak-anak orang kaya yang mengisi waktu dengan hura-hura. Mereka dekat dengan bacaan-bacaan serius dan aktivitas politik.

“Karena masing-masing memiliki cukup perasaan kritis terhadap apa-apa yang terjadi di Indonesia dan dunia, serta terang mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan buat membicarakan dan memperdebatkan soal-soal politik, kultur, masyarakat, kolonialisme Belanda, teori-teori politik dan hal-hal sehari-hari. Ini sering terjadi ketika habis makan malam pukul 8,” kenang Abu Hanifah.

Pernah berbulan-bulan mereka memperdebatkan revolusi Prancis. Masing-masing mempunyai jago sendiri. Yamin mengagumi Marat, Assat memilih Danton, Abu Hanifah menunjuk Mirabeau, sementara Amir mengidolakan Roberspierre. Diskusi bisa sangat sengit tapi tak ada persoalan pribadi sesudahnya.

sumber: tak terlacak

“Kalau telah capek, pukul 1 malam, kami kumpulkan uang buat cari kopi plus sate atau soto ke pasar Senen. Judul percakapan sudah berubah, lebih ke  soal-soal yang dekat dengan hati pemuda,” tulis Abu Hanifah.

Rata-rata dari mereka terpesona dengan ide kaum kiri, terutama karena menanam tujuan menolong kaum proletar. Namun, menurut Abu Hanifah, tidak ada yang terlalu terpengaruh dengan ajaran komunis.

 

DUKA MELANDA AMIR pada Juni 1931. Ibunya bunuh diri. Tak jelas penyebabnya. Konon, sejak Baginda Soripada pensiun sebagai jaksa, Basunu terpukul. Aktivitas politik Amir kian membuat dirinya depresi.

Setelah ibunya meninggal dunia,  Amir pindah ke Kristen – agama yang dianut kakeknya.

Amir sendiri kian larut dalam kegiatan politik.  Terutama karena tulisan-tulisannya di majalah Partindo, Benteng, dia dipenjara dari Desember 1933 sampai Juni 1935. “Desember 1933, saya menyelesaikan studi dan dua hari kemudian saya dimasukkan ke penjara Jakarta. Lalu dikirim ke Sukamiskin sampai tahun 1935. Tahun itu saya dikeluarkan dari penjara dan menjadi pengacara,” tulis Amir.

Pada 1937, Amir Sjarifuddin bersama sejumlah tokoh lain mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), wadah politik yang mengikat berbagai unsur gerakan nasional setelah PKI dilarang pemerintah kolonial Hindia Belanda dan PNI dibubarkan.

Menjelang Jepang tiba, pejabat senior Hindia Belanda, Van der Plas memberikan 25 ribu gulden ke Amir.  Dengan duit itu, dia diminta menggalang gerakan bawah tanah melawan Jepang.

Buat Amir, fasisme adalah lawan sejati demokrasi. Tak mungkin bersekutu dengannya. Di depan mata, fasisme itu berwujud tentara-tentara cebol dan bermata sipit, datang dari Tokyo dan sekitarnya.

Sial, catatan soal gerakan ini jatuh ke tangan Jepang. Tak lama berselang, puluhan orang, termasuk Amir, dicokok. Amir dipenjara dan mesti menghadapi siksa.

Namun Amir baru menemui ajal pada 1948. Ironisnya, nyawanya pergi di tangan para tentara RI pasca-Peristiwa Madiun. Pengagum Kristus itu ditembak bersama-sama para pengikut komunis.Usianya 41 saat itu, sama dengan ibunya saat menghadap Tuhan.

Sebelum dieksekusi, Amir dan teman-temannya menyanyikan Indonesia Raya dan lagu kaum komunis, Internasionale. Alkitab di tangannya.

Sumber:

Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifuddin, Abu Hanifah, Prisma, Agustus 1977

Amir Sjarifuddin 75 Tahun, Jacques Lecrec, Prisma, Desember 1982

5 Penggerak Bangsa yang Terlupa, Gerry van Klinken, LKiS, 2010

 

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di blog lain yang kini sudah tamat riwayat.

kaum ngeyel

Raymond Babbit  adalah sosok dengan autisme tapi genius. Ia mampu menyelesaikan perhitungan rumit dengan sangat cepat. Juga memiliki ruang penyimpanan data sungguh besar di otaknya.

Tapi, tokoh dalam Rain Man ini tidak kuasa mengelola data-data itu  menjadi konteks yang koheren. “Apa pun yang diingat Ray jauh lebih penting ketimbang semua fakta lain di dunia,” tulis Tom Nichols dalam bukunya yang sangat relevan, The Death of Expertise.

Suatu hari, Ray (diperankan dengan gemilang oleh Dustin Hoffman) harus terbang dari Ohio ke California bersama saudaranya, Charlie (Tom Cruise yang memerankan). Ray panik dan menolak terbang. Ingatannya mencatat: semua maskapai pernah mengalami kecelakaan. Bahkan ia mengingat seluruh tanggal dan jumlah korban dalam masing-masing kecelakaan.

Charlie jengkel. “Jadi maskapai apa yang kamu percaya?”

“Qantas. Tidak pernah mengalami kecelakaan,” kata Ray.

Masalahnya, maskapai Australia tersebut tak melayani rute domestik di Amerika Serikat.

Akhirnya, mereka menuju California dengan mobil. Ray tak menolak. Kalau saja kepalanya terisi data kecelakaan mobil, cerita bakal berbeda.

“Kita semua rada mirip dengan Ray. Kita fokus ke data yang mengonfirmasi ketakutan kita atau mendukung harapan kita,” tulis Tom Nichols. Inilah bias konfirmasi.

Pada hari-hari ini, mudah belaka memergoki orang-orang yang mengidap bias konfirmasi. Tengok saja media sosial atau kehidupan riil. Ngeyel-nya minta ampun meski sudah disodori data atau fakta yang akurat.

Jadi teringat dengan frasa post-truth? Ya, mirip-mirip. “…relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief,” demikian definisi post-truth di kamus Oxford.

Banyak juga dari mereka yang berpendidikan tinggi.  Celakanya, tak sedikit yang punya pengaruh di masyarakat.

Saya kok agak yakin fenomena kaum ngeyel (maafkan jika istilah ini kurang tepat) ini akan semakin marak pada hari-hari esok. Iklim curiga dan prasangka yang dicekokkan jadi pupuk mujarab untuk menyuburkannya. Satu lagi, kian banyak orang yang merasa jadi pakar hanya karena membaca satu-dua artikel di Internet.

Merisaukan? Pasti. Sebab kaum ngeyel ini berbeda dengan Raymond Babbit. Mereka berbahaya secara sosial.

 

pagi di taman

Saya kembali ke Pagi di Taman hari ini. Karya keren konon tak gampang dienyahkan dari ingatan. Memanggil-manggil untuk dijenguk ulang.

Cerita pendek Avianti Armand itu saya baca tiga bulan lalu, saat membawa pulang Kereta Tidur. Menjadi kisah penutup di antologi tersebut.

“Cengkeraman” cerita itu sebenarnya baru mulai terasa di paragraf ketiga:

“Bertahun-tahun yang lalu, sulit membayangkan hari ini. Bahkan sekarang pun, rasanya masih aneh berusia tujuh puluh. Banyak hal telah berubah, banyak hal tetap. Mereka  tetap bertetangga dan masih berbagi kopi di malam hari. Tiga hari sekali keduanya akan berbelanja ke pasar, membeli roti, susu, daging, dan berbagai keperluan remeh harian. Tiap Rabu, mereka berjalan ke gedung pertemuan di sebelah kantor walikota, bermain bridge bersama orang-orang tua lain. Sesekali akan datang sekelompok anak muda yang memainkan musik untuk mereka. Anak-anak muda yang rajin ke gereja di hari Minggu dan penuh semangat menjawab, “Baik sekali!” jika kita bertanya, “Apa kabar?”

Perlahan suasana dibangun. Sam dan Dom rutin duduk-duduk di taman. Dua pria 70 tahun itu bicara ngalor-ngidul, juga tentang Mathilda Mendez, perempuan baik hati yang membersihkan rumah mereka. Mathilda rajin memasak untuk mereka meski tak diminta. Masalahnya, ia gagal sebagai koki. Masakannya tidak pernah nikmat.

Tapi tak ada yang mengalahkan supnya. Perasaan mereka kontan hambar jika Mathilda menyuguhkan sup. Dom teringat kencing kuda, sementara Sam melabelinya sebagai ‘racun dari neraka’.

Sam dan Dom telah ditinggal pasangan masing-masing. Istri Sam, Doris, berpulang lebih dulu karena penyakit paru-paru.

Perihal Dom, “Cecil meninggalkannya dan bayi enam bulan mereka untuk pergi bersama seorang gitaris rock, entah ke mana…Dom tak pernah berhenti mencintai Cecil. Ia cuma berhenti mendengarkan musik.”

Bayi enam bulan itu, Monique, sudah dewasa. Namun, agaknya Monique lebih mencintai Kiki, anjingnya, ketimbang Dom.

“Natal tahun lalu, ia tidak datang karena Kiki terserang gatal-gatal. Dokter hewan bilang, anjing peking itu alergi terhadap udara dingin. Thanks Giving tahun ini juga terpaksa dilewatkan Dom hanya bersama Sam, karena kuku Kiki patah ketika ia mengejar rubah di halaman belakang. Lain kali, Monique bilang, anjingnya itu kena selesma, hingga ia tak bisa menemani Dom pergi ke dokter memeriksakan rematiknya yang kumat berkala.”

Teman Sam dan Dom tinggal tiga. Berdua, mereka menjalani masa tua dan melawan kesepian dengan canda. Sesekali terantuk melankolia masa lalu atau sup buatan Mathilda.

Usai membaca Pagi di Taman, saya tiba pada kesimpulan: Avianti sukses mengamalkan realisme. Wajar, mengharukan, tanpa ambisi didaktik yang melanda sejumlah pengarang.