hikmat yang (terlalu cepat) berangkat

Sering seusai mengunggah tulisan di website pribadi, dia mengirim link-nya ke saya. Selalu disertai komentar pendek — ada humor, ada sikap rendah hati di sana.

Esai-esainya mencerminkan bacaan yang luas, tilikan yang tajam, dan bahasa yang enak. Dia bukan intelektual kaleng-kaleng. Skripsinya di Sosiologi UGM, yang kemudian dibukukan, membahas pemikiran Daniel Bell.

Beberapa bulan lalu, saya ngomporin, “Kapan buku utuh kayak Lubang Hitam Kebudayaan terbit, Mas? Jangan2 lagi diedit…”

“Masih lama. Masih dalam angan-angan,” jawab dia.

Lalu pria baik hati itu menyambar lagi, “Saya, antara lain, pingin nulis soal media sosial dan kekuasaan. Tapi datanya masih minim.”

Buku tersebut tak akan pernah lahir. Kabar kepergiannya datang pagi ini. Sangat mengagetkan dan membuat mata hangat.

Selamat jalan, Mas Hikmat Budiman.

cinta di braga

Banyak upaya mengekalkan ingatan pada sepotong jalan itu. Acep Zamzam Noor menulis  “Lagu Malam Braga”pada 1984 ketika becak masih boleh melintas. Nukilannya:

Deru kendaraan yang sesekali/ Keloneng becak/ Bagai gumam yang dingin// Deretan pintu/ Dan barisan tiang listrik yang bisu//

Kini becak sudah tiada. Sepeda motor dan mobil ramai melaju, bukan sesekali. Kami berjalan kaki di trotoarnya beberapa malam lalu. Menghirup kenangan.

Udara gerah. Bandung sejuk mungkin tinggal cerita. Dulu, pada 1990-an, saya tidur mesti berselimut jika tak mau kedinginan. AC? Kamar kos di Bandung zaman itu tak ada yang ber-AC.

Di perempatan, kantor ANTARA Biro Jawa Barat masih ada. Kami pernah magang kerja di sana. Ketika kampus mengharuskan para mahasiswa untuk belajar langsung kepada para jurnalis.

Saat mendekat, ternyata terkunci pintunya. Aneh juga bahwa kantor media tutup ketika senja baru turun.

Kafe-kafe tumbuh, semakin banyak. Toko Buku Djawa musnah digantikan tempat ngopi juga. Dulu saya suka singgah ke toko buku itu, mendapati buku-buku lawas yang sudah menyingkir dari rak-rak di Gramedia.

Braga tak pernah kedaluwarsa. Mereka yang usianya jauh di bawah kami asyik mengawetkan momen via kamera telepon genggam, kiranya menabung konten untuk media sosial.

Lalu kami mampir di Braga Permai. Memesan bitterbalen dan pisang goreng, menikmati secangkir teh dan kopi tubruk. Memilih meja di udara terbuka. Di belakang, sepasang pria dan perempuan ngobrol, sebotol bir tersaji.

Konon restoran ini merupakan salah satu yang tertua di Bandung. Berdiri sejak 1923, awalnya bernama Maison Bogerijen. Ketika semangat anti-kolonialisme bergelora, namanya diubah.

Teman satu sekolah Acep di Seni Rupa ITB, Kurnia Effendi, malah punya beberapa cerpen dengan meminjam Braga sebagai latar tempat. Kalau tidak keliru ada lima versi dan semua berjudul “Sepanjang Braga.”  Semua beraroma percintaan. Versi pertama meluncur pada 1988 dan meraih juara pertama lomba cerpen majalah Gadis.

Dengan deretan bangunan kolonial dan kafe, Braga boleh jadi memang tempat yang pas untuk para kekasih bercengkerama. Termasuk mereka yang kelak dibekap melankolia, seperti dalam cerita-cerita Kurnia, lantaran harus kembali ke pasangan sah masing-masing.

Teman satu generasi  Acep dan Kurnia, Soni Farid Maulana, menulis “Malam Braga.” Petikannya:

Aku akan pergi, itu pasti/ Meninggalkan kabut dan cuaca yang kelam/ Bersama malaikat berwajah segar/ Bersama cinta yang tumbuh ramah di dada//

 

kang jalal pamit

Jalaluddin Rakhmat sangat menguasai teknik bercerita, baik secara lisan maupun dalam tulisan.

Pada kolom ini (TEMPO 19 Juli 1986), ia sebenarnya “hanya” mau bilang: pemikiran keislaman Nurcholish Madjid yang saat itu dominan (mungkin karena juga di-support rezim) segera menemui devian-deviannya.

Ide tersebut dibungkus dalam dialog antara dirinya dengan Tuparev. Teman ngobrol ini digambarkan Kang Jalal secara menarik: gagah, bersih, sehat, — profil mahasiswa kini yang makan dengan gizi “Orde Baru.”

Mereka ngobrol di mobil, usai menyimak ceramah Nurcholish di ITB. Tuparev penasaran dan kecewa lantaran Kang Jalal tak memanfaatkan forum untuk mendebat Cak Nur. Tuparev tahu, Kang Jalal pernah bilang bahwa paham Nurcholish bukan satu-satunya cara memandang Islam.

Lalu dengan meminjam filsafat sejarah Ali Syariati, Kang Jalal coba meyakinkan Tuparev: tenang saja, ide-ide alternatif niscaya selalu hadir.

Percakapan berakhir saat mereka tiba di rumah Kang Jalal. Tuparev pun pamit.

Kemarin sore Kang Jalal pamit. Linimasa riuh dan penuh dengan eulogi. Almarhum yang biasa bercerita, dengan sangat piawai, kini jadi subjek cerita teman-teman saya.

Al Fatihah.

 

anugerah membaca cerita dea

Pernah dengar nama Georg Eberherd Rumpf?  Ia lahir di Hanau, Jerman, pada 1627. Dari ayahnya, ia belajar matematika, bahasa Latin, dan teknik menggambar mekanik. Tapi ia tak mengikuti jejak sebagai insinyur sipil. Rumpf memilih melanglang buana. Termasuk, akhirnya, menetap di Maluku.

Bosan jadi serdadu, Rumpf alias Rumphius terpikat untuk mempelajari alam tropis.  Rumpf kelak dikenal sebagai pakar botani masyhur yang menulis D’Amboinsche Rariteitkamer alias Kotak Keajaiban Pulau Ambon (1705) dan Herbarium Amboinense atau Kitab Jamu-jamuan Ambon (1741).

Jauh sebelumnya, pada 1670, Rumpf buta karena glukoma. “Tanpa penglihatan, Rumphius mengandalkan indra-indranya yang lain buat memahami dan menggambarkan temuannya. Ia menyentuh, mencecap, dan menghidu aroma spesimen-spesimennya dengan perhatian lebih, dan upaya itu melengkapi ingatannya yang kuat atas warna dan keterampilannya menciptakan perumpamaan visual,” tulis Dea Anugerah dalam esai Orang Buta Berpandangan Jauh.

Empat tahun sejak kebutaan datang, istri dan putri Rumpf tewas karena gempa besar. Rangkaian tregadi ini tak meremukkannya.  Ia melanjutkan penelitian. Tiga belas tahun kemudian,  api memusnahkan   rumah, termasuk perpustakaan, Rumpf. Gambar-gambar yang akan melengkapi Herbarium Amboinense, manuskrip tentang kerang-kerang dan siput-siput (bakal buku D’Amboinsche Rariteitkamer), dan koleksi spesimennya ludes terbakar. Yang selamat hanya naskah Herbarium Amboinense.  Tetap tak surut, ia mengerjakan ulang naskahnya.

Rumphius merupakan salah satu sosok yang dipaparkan Dea dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yang Kita Punya. Di luar itu, kita diajak bertemu tokoh-tokoh kondang seperti Clint Eastwood atau Ernest Hemingway. Dibujuk pula menyimak kisah mereka yang jauh dari terkenal, tapi menarik, seperti  mantan tahanan politik Rosidi atau penulis cum penerjemah Nurul Hanafi.

Membaca hikayat Eastwood, kita bisa sedikit tenang: menjadi tua tak identik dengan nestapa. Lihat, sampai usia 30-an, ia adalah aktor kelas dua di Hollywood. Makin ke sini, makin moncer. Sejumlah penghargaan Oscar mampir ke tangannya. “…Eastwood adalah bagian dari sekelompok kecil sutradara istimewa yang membuat para penonton berpikir, ” kutip Dea dari Clint Eastwood’s America karya Sam B. Girgus.

Beberapa paragraf dibentangkan  secara atraktif sebagai pengantar.  Pada akhirnya, Dea menyusun daftar sejumlah film Eastwood yang disebut  sebagai “pengantar buat mengenal dunia sinematik” pria yang pernah jadi simbol machoisme itu.

Kita, eh saya, tercenung: anak Bangka ini “berbahaya”  lantaran punya kejelian sudut pandang, kepiawaian bertutur, dan kerja riset yang serius. Satu lagi: stok humor getir di sana-sini.  Mau contoh?  “Demi masa, sesungguhnya tak ada kewajiban pada siapa pun untuk meniru  Amien Rais atau Taufiq Ismail. Dunia ini cukup luas untuk menampung orang-orang tua yang gembira dan menggembirakan,” tulis lulusan Filsafat UGM itu pada bagian awal esainya tentang Eastwood.

Saya sungguh menikmati kumpulan karya nonfiksi (esai dan feature) Dea yang pertama dan sebagian besar telah terbit di Tirto.id tersebut. O iya, ini buku terbitan 2019. Namun saya baru menyentuhnya pada awal tahun yang begitu mencemaskan dan menggamangkan ini.

Managing editor di Asumsi.co  ini tak melulu mengisahkan “tokoh.”  Ia juga menulis tentang  “pokok.”  Misalnya, soal industri pisang, sejarah pemusnahan buku, konflik Israel-Palestina, atau perseteruan antar penulis.  Untuk tema terakhir, hadir esai “Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh.”  Dea menuturkan cemooh William Faulkner pada Ernest Hemingway, Mark Twain yang mengejek Jane Austen,  dan cerita-cerita serupa di Eropa atau Amerika Utara. Pun memaparkan cemooh cerpenis Idrus untuk Pramoedya Ananta Toer: “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!”

“Cemooh antar penulis, terutama di dunia berbahasa Inggris, lumrah diklipingkan sebagai dokumen kebudayaan yang penting. Di dalamnya kerap terkandung rekaman pertentangan ideologi, estetika, dan lain-lain. Dan yang nilainya tak kalah besar,  saling cemooh adalah pertunjukan keterampilan mengolah kata-kata,” tulis Dea yang kumpulan cerpennya, Bakat Menggonggong,  menjadi salah satu Buku Indonesia Terbaik 2016 versi majalah Rolling Stone Indonesia itu.

Ia juga meriwayatkan, ehm,  soal masturbasi.  Ia menjelajahi  tema yang jarang diulik di luar rubrik kesehatan ini, mendedahkan kembali pendapat mereka yang kontra maupun yang pro. Dari kalangan yang kontra, salah satunya, Dea mengutip Bapak Pandu Sedunia, Robert Baden Powell, yang bilang cara terbaik mencegah masturbasi  “ialah dengan merendamnya dalam air sedingin es setiap pagi.”

Bacalah cerita-cerita  Dea. Semoga Anda mendapat anugerah, seperti saya, berupa pengetahuan baru atau perspektif segar atas sebuah persoalan atau hal lain. Dari kisah Georg Eberherd Rumpf, misalnya,  kita belajar: jangan jadi pencundang  yang  cuma meratap ketika dihimpit keterbatasan dan nasib buruk.

 

 

ibadah sehari-hari buldanul khuri

Saksi Mata  melambungkan nama Seno Gumira Ajidarma lebih tinggi ke langit kesusastraan Indonesia. Di sampul belakang tertulis, “Buku ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia untuk mempertahankan atau menyempurnakan kemanusiaannya.”

Dihiasi gambar Agung Kurniawan, desain sampul dibikin Buldanul Khuri – biasa disapa Buldan. Nama terakhir bukan hanya berurusan dengan sampul. Ia adalah otak di balik Bentang Budaya, penerbit kumpulan cerpen tersebut.

Bentang adalah salah satu “monumen budaya” dari  dekade 90-an. Masih lekat di ingatan beberapa  buku  penting dan menarik dari Bentang. Misalnya, Senjakala Kebudayaan (kumpulan esai Nirwan Dewanto yang memuat makalahnya di Kongres Kebudayaan 1991) atau Zaman Peralihan (kumpulan esai Soe Hok Gie). Juga kumpulan surat pelukis Nashar yang diterbitkan ulang di bawah judul Nashar oleh Nashar  dan terbitan ulang novel masyhur Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit.

Buldan dengan Tiga Bukan ini adalah catatan ringkas penyair Dorothea Rosa Herliany yang merekam kiprah Buldan sebagai “orang buku” sejak 1992, saat berada di puncak  maupun di nadir. Diterbitkan secara indie oleh Mata Angin, buku ini memantik rasa penasaran saya sejak pertama kali dipromosikan di media soaial.

Tentu, hampir seluruh halaman mengisahkan Buldan dalam membesarkan Bentang – meski penerbit itu tak lagi miliknya sejak 2004.

Periode 1994-1998 adalah masa-masa sulit untuk Buldan. Saking keteterannya, ia harus berjualan kaktus di Bundaran UGM.  “Selama empat tahun itu, Bentang berada dalam belitan utang yang terus menumpuk. Para karyawan Bentang yang rata-rata teman sehari-harinya, satu per satu pergi kerena gaji terbengkalai,” tulis Rosa.

 Saksi Mata, Senjakala Kebudayaan, dan Zaman Peralihan  terbit pada periode saat Buldan harus pontang-panting menghidupi perekonomian keluarganya tersebut. Tak meleset kiranya jika frasa dari Rendra disematkan ke Buldan: gagah dalam kemiskinan. Ia menerbitkan karya-karya kaliber juara meski hidupnya memprihatinkan.

Nasib tak selamanya kelam. Pada awal 1998, naluri bisnisnya bekerja dengan baik saat memutuskan untuk menerbitkan ulang karya Kahlil Gibran,  Cinta, Keindahan, Kesunyian. Buku terjemahan ini pertama kali meluncur pada November 1997. Eh, ternyata laris.

Sampai Maret 1998, buku itu dicetak enam kali, dengan total 16 ribu eksemplar. Bentang lalu menerbitkan terjemahan karya-karya Gibran yang lain. Eh, disambut pasar juga.  Bentang bersinar, Buldan pun merangkak ke titik puncak. Ia membeli rumah, mobil, juga pelesir ke luar negeri.

Selain buku-buku Gibran, bantuan dana dari Ford Foundation juga menghidupkan Bentang. Buku-buku diterbitkan dengan sokongan donasi tersebut. Periode 1998-2002 menjadi masa keemasan Bentang. Sebulan bisa menerbitkan 30 buku.

***

Ada dua ciri menonjol Bentang. Pertama, desain sampul.  Buldan kerap melibatkan para perupa menyumbangkan karyanya.  Karya perupa seperti Djoko Pekik, Nasirun, Danarto,  Agung Kurniawan, Agus Suwage pernah  mampir di sampul buku terbitan Bentang. Buldan mau meletakkan sampul sebagai sebuah elemen yang sungguh penting, tidak kalah dengan isi buku.

Tak ada yang baru di bawah matahari. “Buldan menyatakan apa yang telah dilakukannya  dalam pengolahan desain kover ini diilhami kekagumannya  atas sampul  buku-buku Pustaka Jaya  di era 1970-an,” tulis Rosa.

Cuma cerita Rosa nanggung. Tak diungkapkan apakah Buldan memperoleh karya-karya perupa itu secara gratis (karena alasan pertemanan) atau membayar. Detail-detail begini saya butuhkan sebagai pembaca. Tak usah bertele-tele, cukup 1-2  paragraf.

Hampir semua sampul buku Bentang didesain oleh Buldan. “Setiap kali mendapatkan naskah baru yang menarik, aku selalu merasakan hawa panas dalam tubuhku, dan ingin segera merancang covernya,” demikian pengakuan ayah empat anak ini. Ia pernah kuliah di Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan desain komunikasi visual.

Ciri menonjol yang kedua adalah pilihan tema buku. Bentang memilih seni, sastra, dan filsafat. Ini pilihan tema yang dijauhi kebanyakan penerbit pada masa itu karena pasar tak banyak menyerap.

***

Pada 2002, penerbit Mizan mengajak kerja sama. Buldan tak merespons. Wong lagi berjaya, ngapain? Tak lama berselang, Bentang mulai oleng dihantam beragam persoalan.  Minat pembaca mulai bergeser dan ada kelemahan dari sisi manajerial.

Tiga rumah dan tiga mobil Buldan harus dijual untuk menutup kerugian. Pada 2004, justru Buldan yang mengetuk pintu Mizan.

Bentang tidak bisa dibeli, karena tidak bisa diaudit. Buldan dan Mizan lalu sepakat membentuk perusahaan baru, namanya Bentang Pustaka. Ia menjadi direkturnya tapi tidak berkuasa. Karena ada CEO dari penerbit dari Bandung tersebut. Buldan hanya diwajibkan datang Senin dan Jumat. Senin untuk perancangan, Jumat evaluasi.

Buldan mengaku, situasi baru ini ternyata membuatnya tidak kreatif. Kebebasan dan inspirasi dalam dirinya tidak muncul kalau harus bekerja dalam pengawasan “industrial. Ia pun akhirnya keluar dari Bentang.

***

Kemarin saya lihat Buldan memasang fotonya sedang membaca buku Puncak Kekuasaan Mataram karya H.J. De Graaf di akun facebook-nya. “…saat ini daminya sdg dikirim ke Belanda, utk dibaca yg terakhir kalinya oleh KITLV, sebelum dicetak banyak. Semoga bulan ini sdh bisa hadir ke hadapan Anda,” tulisnya di-caption. Buku terjemahan itu pada 1986 pernah diterbitkan Grafiti Pers.

Ia terus bergerak. Sendiri. Mencetak buku 300 eksemplar, dengan nama penerbit MataBangsa atau MataAngin, sudah cukup. Jika laku, ya alhamdulillah; kalau tidak dibeli, ya tidak apa-apa. Menurut Rosa, bekerja di perbukuan, bagi Buldan, adalah ibadah sehari-harinya.

“…aku itu sudah “selesai”  dalam perkara membuat buku-buku  seperti yang dulu-dulu pernah kubuat. Kalau sekarang masih bikin buku, itu sekadar untuk iseng dan kesenangan,” kata Buldan seperti dicatat Rosa.

Mungkin tak tersisa mimpi untuk membuat buku sefenomenal Saksi Mata,  25 tahun silam. Mungkin…

 

 

 

pria aceh dan tionghoa

Akhirnya kesampaian juga saya berkunjung ke Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di BSD, Tangeran Selatan.

Pria berdarah Aceh,  Azmi Abubakar, mendirikannya pada 2011. Ia mengumpulkan buku, koran, dan bahan tertulis lain soal Tionghoa sejak 1998.

Kerusuhan Mei 1998, dengan banyak keturunan Tionghoa menjadi korban, memicunya untuk mencari tahu: mengapa mereka menjadi sasaran.

Sebagian besar isi museum diperoleh Azmi dengan merogoh kantong sendiri. Sebagian kecilnya adalah hasil sumbangan. Ada sekitar 30 ribu item pustaka di sana dan terus bertambah. “Yang tertua dari tahun 1600-an,” ujar insinyur sipil ini.

Majalah TEMPO edisi 9 Maret 2019 menaruh judul “Manusia Langka dari Serpong” untuk reportase yang membahas kiprah pria murah senyum tersebut. Edisi itu membahas sejumlah calon legislatif dengan rekam jejak keren yang berniat maju ke Senayan. Salah satunya: Azmi.

Sejauh ini Azmi menolak bantuan berupa uang untuk museumnya. Ia tak mau terikat dan tergantung pihak lain.

Telah banyak peneliti dan mahasiswa yang memetik manfaat. Juga para pengunjung lain yang tertarik meski tanpa motif akademis.

Kini ruko dua lantai tersebut sudah sesak. Bahkan, di tangga juga teronggok buku-buku.

“Ada rencana mau pindah, sudah gak muat. Aku masih cari-cari lokasi. Yang pasti tetap di Tangsel atau Tangerang,” kata Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Banten itu.

“shangri-la” bernama curug mariuk

Aliran deras air menghantam kolam di bawah, menyerempet dinding batu dan melahirkan bebunyian yang ritmis.

Kolamnya jernih, kehijauan, dan dingin menyegarkan. Sangat menggoda untuk diarungi.

Kami datang saat cuaca cerah di musim pancaroba. Angin sejuk menjinakkan rajam matahari. Ya, ini semacam “Shangri-La” yang hanya  60-an kilometer dari Jakarta.

***

Curug Mariuk terletak di kawasan Jonggol, Kabupaten Bogor. Saya mengetahui keberadaannya dari postingan teman di Instagram, beberapa pekan sebelumnya. Foto-foto nan membujuk.

Informasi ini segera saya jalarkan ke Havel dan Kafka. Mereka setuju untuk ke sana setelah mengetahui lintasan perjalanan yang bukan kaleng-kaleng dan curug yang elok.

Pandemi bikin tak leluasa keluar rumah. Padahal perlu juga sesekali pergi untuk menghalau jenuh. Nah, kalau masuk hutan mestinya aman. Apalagi  track yang menanti terbilang ekstrem. Dalam bayangan kami, tak akan banyak orang memilih ke sana.

Pertama kali saya mengajak Havel ke curug saat dia masih tujuh tahun. Kami berdua saja, menyambangi Curug Cilember di kawasan Puncak. Ini curug yang sangat mudah diakses. Dari parkiran mobil, hanya harus menempuh sekitar 50 meter.

Selanjutnya kami, lebih kerap berempat, mendatangi Curug Cigamea, Cibeureum, Sawer, dan sejumlah curug lain.

Saya sendiri mendatangi curug pertama kali saat SMA. Lupa nama curug itu, yang pasti di Ciapus, kaki Gunung Salak. Kami latihan olah vokal di sana, bersaing dengan gerojok air.

***

Minggu pagi, 27 September. Kami berangkat pukul 05.30.  Raya ternyata memutuskan ikut. “Aku mengawal Kafka,” kata dia. Kami tertawa mendengarnya.

Menempuh rute dari Cinere, kami masuk tol Jagorawi, lalu keluar di pintu Citeureup. Dari sana, kendaraan diarahkan menuju Kecamatan Sukamakmur — searah dengan Gunung Batu yang kami daki beberapa pekan sebelumnya.

Pada satu titik,  Google Maps memerintahkan belok kiri. Jalan mengecil. Hanya cukup untuk satu mobil. Jika berpapasan dengan sepeda motor, mohon maaf, yang bersangkutan harus menyisih ketimbang tersenggol.

Jalan terbuat dari, kebanyakan, semen. Di beberapa ruas telah terkelupas. Jelas bukan medan yang bersahabat dengan sedan. Beberapa rumah warga mengapit di kiri dan kanan. Tapi lebih banyak sawah dan kebun.

Hal yang membuat jantung berdegup lebih kencang adalah tanjakan-tanjakan terjal. Mungkin ada yang mendekati 60 derajat. Gigi L mesti digunakan beberapa kali ketimbang mobil tak sanggup melaju. Saya bersyukur karena tidak mengiyakan permintaan Havel untuk mengemudi dua jam sebelumnya.

Hingga tibalah kami di titik yang galib disebut gerbang curug. “Mobil bisa masuk ke dalam, Kang?” tanya saya ke seorang pria.

“Bisa aja, Pak. Cuma jalannya tidak bagus, berbatu-batu, naik-turun. Kecil juga,” kata pria itu. Ia bersama sejumlah teman. Sebuah warung kecil terselip di bagian lain dari gerbang, perlu sedikit menanjak untuk mencapainya.

Cukup sudah momen degdegan lantaran jalan sempit dan banyak tanjakan curam. Kami putuskan mulai hiking sejak gerbang.

Eitss, tunggu dulu. Ada urusan bayar-membayar. Biaya parkir Rp 20 ribu. Per orang kena Rp 20 ribu. Total Rp 100 ribu. Karcis atau tanda bukti lain? Nihil.

***

Hiking pun dimulai. Jalan tanah berbatu. Cukup untuk satu mobil. Naik-turun konturnya, memaksa betis dan lutut bekerja keras. Beberapa kali kami berhenti untuk meredakan lelah.

Pada kiri jalan terlihat perkebunan singkong, entah milik  siapa. Lalu perbukitan batu di atasnya. Di kanan jalan, hadir jurang yang ditutupi pepohonan, lembah, dan perbukitan lain nun di sana. Panorama yang memanjakan mata.

Sekitar 25 menit mengayun langkah, kami bertemu area mendatar di sebelah kiri. Di area tersebut terparkir empat mobil. “Oh, kalau tadi kita bawa, mobil parkir di sini,” kata Raya.

Lalu jalan menurun dan mengalir sungai kecil. Empat batang beton dibentangkan sebagai jembatan. Wah, iya, mobil pasti tak bisa melewati. Mentok di area tadi.

Sekitar 10 menit dari jembatan tersebut, kami sampai di tempat parkir sepeda motor.  Terdapat sebuah warung dan kami singgah untuk rehat.

Sambil menyantap tempe goreng, saya membatin: ini kok beda? Tidak ada menara pandang  di sisi kanan jalan. Saya sudah menonton beberapa video di YouTube yang memperlihatkan kondisi area parkir.

Teteh pengelola warung memungkasi rasa penasaran, “Tempat parkir baru dipindah ke sini. Tadinya di tempat mobil-mobil itu. Menara untuk lihat pemandangan gak dibangun lagi di sini.”

Lepas dari lokasi parkir itu, lansekap alam semakin menawan. Perbukitan hijau sepanjang mata memandang. Cakep banget

Pada saat bersamaan, betis dan lutut terus bekerja keras. Nafas memburu, peluh mengucur. Kontur tetap naik dan turun. Bebatuan semakin jarang di jalan. Terbayang licin dan berlumpurnya jika habis hujan.

Tak jauh dari perkiraan: kami hanya sesekali bertemu manusia lain di sepanjang perjalanan. Aman di masa pandemi, jauh dari kerumunan.

***

Setelah hampir dua jam berjalan, curug terhampar di hadapan. Sekitar 5-7 orang sudah nyemplung di kolamnya. Havel dan Kafka segera melepas kaos.

Tinggi curug hanya sekitar empat meter. Luas kolam tak lebih dari 40 meter persegi. Kedalamannya konon empat meter.

Saya menatap dua anak yang girang itu, sesekali mengambil foto dan video dengan telepon genggam. Ada dua muda-mudi, kayaknya sepasang kekasih, bermain air di sudut lain dari curug.

Sambil menghirup oksigen yang berlimpah, saya kian yakin: semua orang berhak bahagia dengan cara masing-masing, berhak mengejar “Shangri-La” versi diri sendiri.

 

cari tempat

“Cari tempat yang membuat kita bisa kelihatan beda,” kata seorang kawan, lalu mengisap rokok dalam-dalam. Berkaca mata, kemeja biru muda, dan helai-helai perak di kepala.

Nama dia? Sebut saja K. Ia sedang berefleksi tentang pekerjaannya. Kami lebih dari lima tahun tak berjumpa.

Kemarin kami menghabiskan sore di Kuningan, Jakarta, di kawasan yang dibangun sebuah konglomerasi. Sore yang sejuk. Beberapa pelari terlihat di trotoar yang lebar.

K selalu bersemangat saat bicara. Cocok untuk bekal menjadi pengacara. Sejak 2013, ia berkonsentrasi menjadi kurator kepailitan.

Dulu, menjelang lulus, saya main ke kampus pusat di Dipati Ukur untuk menemui K di Fakultas Hukum. Ternyata lagi ada demo menentang keputusan rektorat menggusur PKL dari lingkungan kampus. Saya bertegur sapa dengan adik-adik kelas yang jadi korlap dan peserta aksi. Lalu pamit dan kembali ke rencana untuk bertemu K.

Sambil jalan di koridor kampus, K bilang, “Eh cari anak-anak yang lagi demo yuk.”

Cari punya cari, pihak rektorat ternyata bersedia menemui perwakilan teman-teman di sebuah ruangan. Kami buka pintu dan teman-teman di dalam berseru, “Ayo masuk, Kang, rektorat belum datang kok.”

Baru saja bergabung, dekan fakultas kami tiba. Agaknya Pak Dekan dilapori jajaran rektorat, bahwa banyak anak asuhnya hadir dalam demo.  Maka dia pun datang.

Ia langsung melihat ke saya. “Wah euy, nanaonan di dieu?” kata pria yang gemar bersafari itu.

Beberapa bulan terakhir saya dan beberapa teman memang  “cari perkara” dengan dekanat: menyoal tindak plagiasi seorang dosen. Sang dosen akhirnya diskors satu semester. Tapi entah kenapa Pak Dekan terlihat tak suka dengan saya.

Di ruangan itu saya terlihat beda, padahal tidak ngapa-ngapain.

Sepekan kemudian, sepucuk surat tiba ke rumah orang tua dari Jatinangor. Surat peringatan dekan. Ibu langsung panik. Gara-gara si K…haha…

Catatan: foto hanya ilustrasi. K juga suka ngopi. Tapi kemarin dia minum yang lain.

bung karno dan polemik

Alkisah pada September 1980 – Maret 1981 meletus polemik tentang Bung Karno. Belum ada media sosial saat itu, gelanggangnya adalah koran dan majalah.

Rosihan Anwar yang memicu dengan mengungkap ulang, dalam artikelnya di koran KOMPAS, bahwa ada surat-surat Bung Karno yang meminta ampun pada Jaksa Agung Hindia Belanda pada 1933. Konon surat dilayangkan saat Bung Karno mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung.

Mengungkap ulang? Ya, Rosihan sebenarnya hanya mengutip temuan John Ingleson yang dituangkan dalam buku Road to Exile: The Indonesian Nationalist Movement 1927-1934. Melihat rekam jejak Ingleson, ia bukan pembual di warung kopi. Ia punya kredensial sebagai peneliti dan akademisi sejarah .

Sejumlah pihak pun unjuk tanggapan atas hal tersebut. Di antaranya Mohamad Roem, Sitor Situmorang, Mahbub Djunaidi, Taufik Abdullah, Onghokham dll. Banyak di antara mereka yang meragukan otentisitas surat-surat itu. Sangat mungkin rezim kolonial mengkreasinya untuk merontokkan kredibilitas Bung Karno, kata mereka.

“Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada berita di surat kabar pada waktu itu mengenai surat-surat Bung Karno itu. Tetapi adalah aneh sekali mengapa pemerintah Belanda pada waktu itu begitu bodoh untuk tidak mengumumkan surat-surat Bung Karno tersebut kalau memang ada,” kata sejarawan Onghokham kepada koran Merdeka.

Di luar itu semua, buku 50 halaman ini penting karena memuat (mungkin) semua tulisan yang terlibat polemik. Ada sejumlah esai, juga reportase.