perjalanan dan ketidakterdugaan

Ketidakterdugaan. Perjalanan liburan lebaran kemarin membawa kami dalam sejumlah ketidakterdugaan. Justru ketika menggunakan teknologi untuk menghalau spekulasi.

Menjelang tengah malam, mungkin di sekitar Kebumen, aplikasi waze mengarahkan untuk mengambil jalanan kampung. Memisahkan diri dari jalan raya.

Arus balik lebaran menyebabkan laju lalu-lintas tersendat. Pun di arah sebaliknya. Kami berangkat dari Pangandaran menuju Jogja.

Roda-roda lalu menggilas aspal kasar. Saat itu giliran istri saya, Raya, yang mengemudi. Saya jadi navigator.

Rumah-rumah pedesaan Jawa terlihat di kiri dan kanan. Lampu-lampu menyala. Hanya sedikit warga yang terlihat. Sisanya boleh jadi telah mengarungi langit mimpi — seperti juga dua bocah di kursi belakang.

Di satu titik, jalanan ternyata sedikit menanjak. Di ujung, terbentang rel kereta api.  Gelap merundung karena hanya persawahan mengurung. Tiba-tiba, persis di rel, kendaraan terhenti. Tak bergerak meski pedal gas telah diinjak. Ada apa ini?

Saya memutuskan turun, mencari tahu. Oh, ternyata ada batu lumayan besar, mengadang laju ban kanan depan. Saya pun meminta Raya untuk memundurkan mobil dan menggeser stir ke kiri.

Wuuss…kami pun lepas dari ketegangan sesaat. Sempat mampir pikiran bagaimana kiranya jika saat itu ada kereta melintas.

***

Aplikasi seperti waze ini mungkin seperti kompas pada beberapa abad silam. Kompas membuat manusia berani menjelajahi belahan dunia lain, tak perlu lagi cemas bagaimana cara kembali ke rumah. Ketidakpastian dilawan dengan teknologi.

Konon, bersama mesin cetak dan mesiu, kompas menjadi bekal penting era renaissance, pintu gerbang abad modern yang membebaskan manusia (baca: manusia Eropa) dari kungkungan otoritas lama.

Jika tak ada kompas, susah membayangkan Christopher Columbus bisa meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai perjalanannya. Maka berlayarlah Nina, Pinta, dan Santa Maria pada Agustus 1492.

***

Ketidakterdugaan berikut hadir saat ingin ke Candi Prambanan. Titik berangkat adalah kawasan Mangunan, Bantul. Di waze sudah diketik: Prambanan.  Let’s go

Kami diarahkan ke jalan Jogja-Solo. Ya, masuk akal. Tapi kemudian diminta keluar dari jalan raya, masuk ke pedesaan. Ah, siapa tahu ini rute tercepat.

Panorama indah memanjakan mata. Petang telah datang.

Kok jalanan makin kecil. Kalau dua mobil berpapasan, ngepas banget. Mulai tumbuh ragu. Di sebuah pertigaan, keraguan mengeras. Kepada seorang warga, kami pun bertanya, “Nuwun sewu, Mas. Ini jalan menuju Candi Prambanan?’

“Oh bukan, tidak lewat sini,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

Matahari sudah redup. Kami bertanya-tanya apa yang salah. Usut punya usut, kami hanya memasukkan “Prambanan” di waze. Padahal seharusnya “Candi Prambanan.”

Prambanan merupakan juga nama kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang menggunakan nama tersebut. Satu di Sleman, satu di Klaten. Keduanya bersisian. Candi Prambanan ada di Klaten.

Lakukan perjalanan. Maka, kita bakal kian yakin bahwa hidup adalah himpunan ketidakterdugaan meski telah dibantu teknologi.

 

 

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.

 

hatta dan sjahrir, sesaat sebelum jepang datang

Catatan: ini petikan “mentah” dari naskah buku yang entah kapan kelarnya.

Tak lama sebelum meninggalkan Banda Neira, Mohammad Hatta menulis artikel yang menyatakan dukungan kepada Sekutu, sekaligus memperlihatkan penolakan terhadap Jerman dan Jepang. Hatta ada di Banda Neira sejak Januari 1936. Statusnya: orang buangan rezim kolonial Belanda.

Sejak awal abad ke-20, Jepang menggeliat. Menjadi satu kekuatan militer baru dari Timur. Syahwat imperialisme negeri tersebut pun sempurna mekar. Pada awal Desember 1941, Jepang menghajar Pearl Harbour di Hawaii. Api Perang Pasifik berkobar.

Sahabat dekat Hatta dan sesama penghuni tanah pembuangan Banda Neira, Sutan Sjahrir, dikirimi ikhtisar artikel tersebut. “…aku segera menemuinya dan mengusulkan supaya artikel itu jangan dipublikasikan. Aku merasa bahwa pubikasi itu akan mempunyai akibat-akibat yang tidak bisa diramalkan bagi kami, dan tidak ada gunanya untuk mendukung Belanda dengan cara itu,” tulis Sjahrir dalam catatan hariannya.

Sial. Karangan itu telah dikirimkan satu jam sebelumnya via pos. Mereka gagal menganulir pengiriman. Belanda pun menggunakan artikel itu sebagai propaganda. Diterjemahkan dalam beberapa bahasa daerah.

Menurut Sjahrir, sikap Hatta yang anti-fasis lahir dari akal sehat, bukan menjilat Belanda. Sebagai demokrat, Hatta merasa tak punya alasan harus pro-Jepang.

Judul artikel itu Rakjat Indonesia dengan Perang Pasifik, dimuat di Pemandangan, 22 dan 23 Desember 1941. Nukilannya:

“Memang demokrasi Barat tidak akan membawa tertjapainja tjita-tjita Indonesia begitu sadja, djika ia menang dalam pertempuran ini. Ini telah lebih dahulu saja kemukakan. Tetapi adakah Djepang akan memberikannja? Djika Djepang dengan kawan-kawannja menang, dunia akan diperbudaknja. Djika Indonesia tidak diperbagikan antara Djerman dengan Djepang, ia akan jatuh kebawah perintah Djepang. Dan tjita-tjita Indonesia akan sia-sia sama sekali. Pada fascisme tidak dapat dikemukakan tjita-tjita sebagai hak untuk menentukan nasib sendiri. Fascisme menghendaki cuma satu: t u n d u k kepada kekuasaannja. Kepada demokrasi Barat, jang masih membatasi demokrasi bagi dia sendiri, masih dapat dimadjukan alasan jang terambil dari teorinja sendiri.”

Dua tahun sebelumnya, Hatta memperlihatkan sikap anti-fasis secara eksplisit.  Di majalah Pandji Islam, ia menulis esai berjudul Mendjadi Perang Ideologi.

“Kita tidak perlu melihat djauh kenegeri lain seperti ke India, dimana suatu gerakan terus terang menjatakan aliran fasisme. Kita lihat sadja di Indonesia kita ini. Berbagai gerakan pemuda dalam golongan ‘padvinderij”, mengambil gelagat fasis. Tidak heran, sebab fasisme mengetok pada rasa kebangsaan. Dan pemuda jang belum tahu berpikir pandjang terpikat dengan suara itu. Sebagaimana Hitlerjugend memberi salam pada pemimpinnya, tjara itu pula yang dipakaikan. Pakaian militer jang memperkuat semangat disiplin sangat disukai. Anak ketjil jang baru balita hanja mengatakan, bahwa bahaja fasis jang akan meratjun masjarakat kita sudah tampak tanda-tandanja. Sebab itu kita harus awas. Pergerakan jang berdasarkan demokrasi jang harus dikemukakan, bukan pergerakan  jang memakai dasar diktatur atau diktatorium. Ini ratjun, ini bahaja; sebab itu disebut terus-terang disini,” tulis Hatta.

Rumah pembuangan Hatta di Banda Neira (KOMPAS)

Konsistensi Hatta soal fasisme kukuh. Sepuluh tahun sebelumnya, ia menulis esai yang memperingatkan bahaya imperialisme Jepang. Di bawah judul Politik Imperialisme Djepang di Tiongkok, Hatta mengatakan Jepang datang ke Mansjuria, yang merupakan bagian dari Tiongkok, karena kebutuhan dalam negerinya.

Mansjuria adalah tanah yang subur dan kaya. Kekayaan alam itu belum  digarap sepenuhnya. Penduduknya masih sedikit. Jika Mansjuria bisa dikuasai, perekonomian Jepang bakal kuat. Jepang miskin sumber daya alam tapi berupaya keras menyulap diri menjadi negara industri.

“Untuk penghidupan penduduknja dan kemajuan industrinja bergantung pada negeri luaran. Untuk mentjukupi makanan rakjatnya ia perlu mendatangkan gandum dari luar. Untuk industrinja ia perlu akan benda-benda kasar jang ada dalam tanah seperti besi, minjak, dan segala rupa. Kemudian hasil industri itu mesti didjual ke luar negeri. Supaja industrinya djangan roboh dibawah persaingan, maka ia harus mempunjai pasar yang semata-mata dibawah pengaruhnja. Pendeknya ia terpaksa mendjalankan politik imperialisme, mengembangkan sajap kenegeri asing,” tulis Hatta di Daulat Ra’jat, Februari 1932.

Sikap anti-fasisme ini bertolak belakang dengan pendirian rakyat: mendamba kedatangan Jepang sebagai pembebas. Memasuki 1942, rakyat tak lagi takut pada polisi Hindia Belanda. Mereka yakin keruntuhan rezim kolonial tinggal menunggu waktu. “Mereka menyatakan terus terang, bahwa ramalan Joyoboyo akan menjadi kenyataan dan bahwa zaman kekuasaan orang kulit putih sudah berakhir. Kedatangan bangsa Jepang, kata mereka, akan membawa kemerdekaan,” catat Sjahrir.

Sjahrir sendiri beranggapan, sia-sia melawan kepercayaan yang menjalar cepat itu. Ia merasa tak ada yang bisa diperbuat selain berdiam diri dan menunggu saat yang baik.

Lalu, mereka dipindahkan ke Sukabumi pada Februari 1942. Sempat ada usul agar Hatta dan Sjahrir meninggalkan Tanah Air. Rencana ini batal. Mereka belum tuntas berpikir. Pun karena Amir Sjarifuddin, tokoh Gerindo, yang membujuk mereka agar pergi ke Australia saat Jepang tiba, tak muncul lagi. Amir punya akses ke para pejabat kolonial Belanda yang bisa membantu pelarian. Seperti Hatta, Amir tak suka dengan fasisme tapi ia melangkah lebih jauh: berkolaborasi dengan Belanda.

Tak lama berselang, Jepang berhasil menguasai Hindia Belanda dengan lekas bin gampang. Kemudian, dua orang Jepang datang ke Hatta dan Sjahrir. Mereka minta Hatta pergi ke Bandung untuk menemui  para pejabat militer Jepang. Hatta semula menolak. Tapi dua orang itu mendesak.

Kata Sjahrir, Hatta kaget lantaran tak ditangkap meski tulisannya yang pro-Sekutu telah tersebar luas.

Pada akhirnya, “…kami memperhitungkan bahwa Hafil akan harus terpaksa bekerja sama dengan Jepang sampai tingkat tertentu demi kepentingan gerakan kami, sedang aku akan memimpin organisasi dan mengemudikan perjuangan kami di bawah tanah,” lanjut Sjahrir.  Dalam catatan harian itu, nama Hatta disamarkan sebagai Hafil.

Sjahrir benar. Hatta mustahil menolak tawaran Jepang untuk bekerja sama. Penolakan berarti menaruh katana di leher. Selanjutnya adalah sejarah. Hatta ada di dalam sistem, Sjahrir bergerak di bawah tanah.

when i’m sixty four

“Maaf, saya naikkan kaki, Mas.”

Bapak di samping berujar sambil tersenyum. Kakinya ditumpangkan ke kursi plastik. Beberapa meter di depan, sepeda motor saya tengah dicuci.

“Maklum, sudah tua. Gampang pegal. Kemarin nyetir ke Citeureup, pulangnya langsung tidur seharian,” lanjut dia.

Dia adalah ayah pemilik tempat cucian mobil-motor di belakang perumahan kami. Pensiunan PNS. Umurnya 64 tahun.

Seketika saya ingat lagu The Beatles, When I’m Sixty Four.

Rambutnya nyaris memutih semua. Tapi, badannya cukup ramping. Tak ada luberan lemak tak berguna. Dia mengenakan polo-shirt dan jeans hitam pudar.

Tidak tinggal di Cinere, dia bermukim di Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi sering bolak-balik ke Cinere. Bawaannya mau kontrol bisnis anak melulu, kata dia sambil terkekeh.

“Saya lagi bangun kandang ayam di Bogor,” jawabnya ketika saya tanya keperluan ke Citeureup. Kandang ayam kampung. Untuk pertama kali, dia akan mendatangkan 2.400 ekor. Skala kecil untuk bisnis ini, kata dia.

“Menarik, Mas. Mau Ikutan? Hehe…”

Ia bilang tak mau berleha-leha, nanti gampang pikun. Saya menimpali dengan setengah sok tahu, “Setuju, Pak. Kalau dibawa diam, gampang sakit.”

Setelah menanyakan usia saya, dia bilang: harus bersiap dari sekarang. Segalanya akan berubah di usia senja.

Ngobrol ngalor-ngidul, dia juga cerita sedikit soal dua cucunya yang tinggal di London. “Sudah setahun nggak ketemu. Kangen juga. Paling ngobrol pakai video conference di WA,” kata dia.

Ibu saya, semalam, bilang ke Havel, sulung saya, untuk sering-sering ke rumahnya. “Kalau pulang sekolah, mampir aja. Kan satu jalur,” ujar dia.

Deg! Saya merasa bersalah karena jarang mengajak Havel dan Kafka ke rumah beliau. Padahal jarak terbentang hanya 12 kilometer. Pasti rasa kangen ke cucu kerap menerjangnya.

Lagu Beatles yang dinyanyikan Paul McCartney itu terus terngiang di kepala:

Will you still need me, will you still feed me,  when I’m sixty-four?

bis membawa kami pergi

Afrizal Malna, pada 1985, menulis puisi berjudul “Bis Membawa Mereka Pergi.” Kala itu Orde Baru lagi di puncak. Pertumbuhan ekonomi diburu, tapi korupsi mulai menular seperti virus yang mematikan.

Afrizal menulis: Dengan bis yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah tanpa listrik itu. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di sepanjang jalan. 

Ya, sejak beberapa pekan lalu, saya pindah moda transportasi. Kini mengandalkan Transjakarta untuk menuju dan pulang dari kantor. Dengan ojek online sebagai pendamping.

Asyik juga ternyata. Bisa melaju dalam dekapan hawa sejuk. Sementara kemacetan membekap ribuan mobil di luar, bus kami meluncur (relatif) leluasa.

Saya teringat beberapa teman, para pengendara mobil pribadi, yang sinis dengan Transjakarta. Buat mereka, tak ada hak untuk memperoleh jalur khusus. Ah, kelas menengah ngehek jangan sering-sering didengar. Kebijakan publik mesti berpihak pada orang banyak atau kemacetan akan semakin gila.

Para penumpang memang asing satu sama lain. Nyaris tak pernah bertegur sapa. Paling banter “permisi…” ketika hendak turun dan menguak tubuh-tubuh yang menghalangi. Mereka berkutat dengan gawai masing-masing.

Jika tak menggenggam gawai, mereka tertidur. Atau melamun – mungkin memikirkan cicilan rumah, anak yang harus masuk sekolah menengah, atau tetangga yang bikin resah.

Tabik untuk para pejuang itu, yang melangkahkan kaki untuk mencari rezeki. Tak banyak memang yang punya kemewahan bisa bekerja di rumah atau bebas dari “hukum besi” office hours.

O iya, saya tahu bahwa Seno Gumira Ajidarma konon pernah menulis begini, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Tapi, jika Anda tak korupsi, tak menyikut kolega, atau tak menjilat atasan sembari menginjak bawahan; hidup agaknya masih bisa dibanggakan. Masih ada kisah yang layak dibagikan ke anak dan cucu.

Termasuk soal mesti berdiri sepanjang perjalanan ke kantor di Transjakarta ketika pencuri uang rakyat duduk nyaman di jok empuk nan lembut sedan 3.000 cc.

hari tua pak jo

Mekanik bilang perawatan mobil butuh sekitar dua jam. Oke, saatnya cari sarapan meski terbilang telat. Menuju lantai dua Pasar Segar Cinere, ke lapak yang menyajikan nasi uduk, lontong sayur, dll.

Saya mengambil kursi plastik. Di sebelah, seorang ibu berkacamata menyantap nasi uduk.

Percakapan dua ibu pun lalu terdengar. Keduanya, saya taksir, sudah di atas 50 tahun. Agaknya telah saling mengenal lama.

“Pak Jo sakit,” kata ibu pembeli di sebelah.

“Iya lama gak ke sini. Kasihan sendirian,” balas ibu penjual di depan.

“Nanti sore anak perempuannya datang. Anak lelakinya jauh, di seberang,” ujar ibu pembeli sebelum melahap gorengan.

Saya teringat maraknya fenomena kodokushi di Jepang sejak beberapa tahun belakangan. Kodokushi merupakan istilah buat para orang tua yang hidup sendiri lalu meninggal dunia tanpa diketahui. Mungkin mereka punya anak tapi tinggal terpisah dan berjauhan.

Barangkali juga mereka memang melajang. Tumbuh tren sejak puluhan tahun lalu bahwa ada cukup banyak warga yang memilih tidak menikah. Biasanya punya teman kencan, tapi ya temporer. Lalu, memasuki usia 60 tahun, kebanyakan mereka mulai hidup sendiri.

pasar segar

Kematian baru terendus beberapa hari kemudian setelah “aroma” meruap ke hidung tetangga atau ada yang berkunjung dan tak ada jawaban saat pintu diketuk.

Di Jepang, lebih dari seperempat warga berusia di atas 65 tahun. Tak ada statistik resmi terkait kodokushi, namun diyakini sekitar 30.000 orang meninggal dunia dalam kesendirian per tahun.

Banyaknya kodokushi memicu profesi baru: mereka yang bertugas membawa jenazah, membersihkan kamar mendiang, dan mengamankan benda-benda peninggalan.

Para orang tua yang kesepian bukan khas Jepang. Di Inggris, fenomena ini sudah dianggap mengganggu. Karena itu, Januari 2018,  PM Theresa May menunjuk seorang pejabat setingkat menteri untuk menanganinya. Menteri Olahraga dan Masyarakat Sipil, Tracey Crouch, ditunjuk memimpin kementerian baru itu.

Di Inggris, diperkirakan 9 juta orang hidup dihantui kesepian. Ada yang selama beberapa pekan tak mengalami interaksi sosial. “Kesepian itu realitas menyedihkan di kehidupan modern,” ujar May.

Sambil menikmati lontong sayur, saya lanjut menguping.

“Ini apa?” kata ibu pembeli.

“Nah itu kue kesukaan Pak Jo, kue sus.”

“Minta lima deh. Buat Pak Jo dan anaknya. Pastel minta delapan.”

Saya tak tahu apa hubungan ibu pembeli dengan Pak Jo. Kemungkinan sih tetangganya.

Pak Jo dan hari tua yang sunyi…

 

yuval noah harari dan realitas ganda

Yuval Noah Harari pintar menjelaskan dengan cara sederhana. Kita, eh saya, pun gampang terpukau. Juga ketika ia memaparkan bagaimana manusia, homo sapiens, mengendalikan dunia.

Saya lagi baca Sapiens, karya Harari yang membuatnya tenar di seantero jagat. Karya ini, aslinya dalam Bahasa Ibrani, telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa lain.

Pada halaman-halaman awal, ia menulis, kendali manusia atas dunia terjadi lantaran manusia dalam jumlah sangat besar bisa bekerja sama.

“Bila Anda mengumpulkan ribuan simpanse di Lapangan Tiananmen, Wall Street, Vatikan, atau kantor pusat PBB, hasilnya adalah kekacauan,” tulis sejarawan yang kini mengajar di Hebrew University di Jerusalem tersebut. Tak bakal ada kerja sama di antara mereka.

Namun bagaimana manusia dalam jumlah sangat besar bisa bekerja sama? Jawabannya adalah karena kita menciptakan realitas fiktif.

Dengan bahasa, hewan-hewan berkomunikasi hanya untuk melukiskan realitas. Misalnya, seekor simpanse bilang ke kawanannya, “Di sana ada singa. Ayo kita lari.” Tapi, dengan perantaraan bahasa, manusia sanggup lebih jauh. Di sini, fiktif jelas bukan bermakna dusta, melainkan tak kasat mata.

Seseorang bisa berujar, kata Harari dalam sebuah video, “Lihat, ada Tuhan di langit. Bila kalian ingkar, Tuhan akan menghukum kalian di neraka.”

Mereka yang mempercayai omongan itu kemudian mengikuti nilai, norma, dan hukum yang sama. Pada gilirannya, kerja sama terselenggara.

Simpanse tidak bisa dibujuk begini: “Berilah pisang, nanti kamu akan masuk surga buat simpanse.” Para simpanse tidak akan percaya dengan propaganda ini.

Realitas fiktif itu yang, menurut Harari, membikin ratusan ribu orang bersedia pergi berperang, misalnya. Atau, menyumbang untuk pembangunan rumah ibadah.

Setiap skema kerja sama manusia mengandaikan kehadiran realitas fiktif ini. Tak hanya urusan agama. Di ranah hukum, ada konsep hak asasi manusia. Di ranah politik, terdapat konsep negara dan bangsa. Keduanya realitas fiktif juga. Tidak ada bendanya secara objektif.

sapiens

Pun perihal uang. Memang ada bendanya. Tapi sejatinya uang tak memiliki nilai objektif. Beda dengan pisang atau beras yang kuasa memusnahkan lapar. Sekeping logam atau selembar kertas itu tak bisa dimakan. Tapi bisa ditukarkan untuk memperoleh pisang atau beras.

Ya, nilai uang baru muncul ketika para “pendongeng ulung” beraksi, yaitu para bankir dan menteri keuangan. Mereka bilang, sebagai contoh, “Selembar kertas ini bisa Anda tukar dengan 10 butir telur.” Dan seterusnya.

Pada kenyataannya semua orang percaya uang. Pada konsep lain, agama misalnya, tidak demikian. Ada yang percaya Islam, ada yang memilih Hindu. Atau ada yang tidak beragama.

“Uang adalah satu-satunya konsep kepercayaan ciptaan manusia yang bisa menjembatani nyaris setiap jurang budaya, dan tidak membeda-bedakan berdasarkan agama, gender, ras, usia, atau orientasi seksual,” tulis Harari.

Homo sapiens mengontrol dunia karena hidup dalam realitas ganda. Selain di realitas objektif, terutama dalam beberapa abad terakhir, kita juga hidup di realitas fiktif.

Bahkan, realitas fiktif inilah yang menentukan realitas objektif.  Sebidang hutan (realitas objektif), misalnya, akan dijaga atau dijarah ditentukan oleh politik (realitas fiktif).

Harari memukau dan membuat hasrat baca sampai kelar bangkit. Di saat jeda, saya teringat betapa banyak kerusakan yang dipicu realitas fiktif bikinan manusia meski tak kurang berlimpah maslahat yang terbit dari kemampuan tersebut.

sawarna

Malam masih muda saat kami memasuki Pandeglang, Banten. Jalanan cukup ramai sehari jelang tutup tahun itu.

Raya duduk di sisi saya yang menyetir sejak Jakarta. Dia jadi navigator dengan mengandalkan aplikasi Waze. Dua anak kami, Havel dan Kafka, duduk di belakang.

“Berapa kilo lagi ke Malingping?” kata saya.

“61 kilo lagi,” jawab Raya sambil menjenguk Waze di telepon genggamnya.

Kami berniat menginap di Malingping. Transit sebelum ke Pantai Sawarna, Lebak. Penjelajahan di Internet menyatakan, dianjurkan tiba sebelum malam di Sawarna. Mendekati pantai itu, jalan berkelok-kelok, naik turun, dan….rusak. Berisiko jika berkendara di malam hari untuk pertama kali.

Oke. Kami bersepakat untuk menginap di Malingping – “peradaban” terakhir sebelum Sawarna.

“Eh, Malingping kan kampungnya Arti. Mampir aja nanti ke rumahnya,” kata Raya tiba-tiba.

Arti adalah mantan asisten di rumah kami. Dia yang ikut mengasuh Kafka sejak lahir sampai usia setahun. Dari beberapa asisten yang datang silih berganti, Arti salah satu yang terbaik.

Dengan bensin penuh di tangki, saya tenang menginjak pedal gas. Di luar ekspektasi, kondisi jalan bersahabat: dicor mulus…luss.

Tapi kegelapan dan ketidaktahuan tentang medan membuat saya memilih main aman: tak berani menembus 40 km per jam.

Mendekati Malingping, kami menjumpai hutan dan perkebunan di kiri-kanan. Diam-diam terbit juga sedikit jeri di hati. Bagaimana jika ada gangguan di mobil? Lalu mogok… Saya telan perasaan itu, tak diungkapkan.

Tak sepenuhnya hutan. Setelah beberapa kilometer, kami bertemu juga dengan perkampungan. Satu-dua penduduk terlihat di pinggir jalan. Lantas hutan dan kegelapan lagi.

Kami pernah mengalami situasi yang mirip saat pulang ke Yogya dari Pantai Baron, Gunungkidul, beberapa tahun silam. Melaju di perbukitan, berkelak-kelok. Gelap menyungkup.

“Nyalakan lampu jauh aja,” ujar Raya.

Saya patuh meski merasa tak ada masalah dangan penglihatan di depan. Sesekali kami berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Lalu déjà vu. Pada tahun pertama kuliah, saya menemani Tony, adik kelas, yang harus survei lokasi untuk acara pelantikan anggota organisasi kami di Lebak. Tony mengendarai sepeda motor, saya membonceng. Berangkat dari Bulungan. Saya sedang libur.

Ya, juga menembus jalanan di hutan. Dalam gulita malam dan hujan saat perjalanan pulang. Kami basah kuyup. Tapi seingat saya, tak ada rasa takut. Saya malah sempat pipis di pinggir jalan karena kebelet.

Usia bertambah, rasa takut menebal.

 

PAGI TIBA. Kami bersiap, check out dari hotel yang kamar termahalnya hanya Rp 250 ribu per malam, dan meninggalkan Malingping.

Saya menyiapkan mental untuk menyetir ke Kecamatan Bayah di jalanan rusak.

Anak-anak riang, membayangkan bermain di ombak Sawarna, sekitar 50 kilometer di tenggara Malingping. Sebuah surga konon…

Ajaib. Perjalanan dilalui di beton dan aspal yang relatif mulus. Hanya terselip dua kilometer yang terbilang rusak: aspal kasar tapi tanpa lubang-lubang yang menganga. Pasti ada perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ruas Malingping-Bayah ini ternyata juga bukan tanpa sentuhan “peradaban”. Indikasinya satu: gerai Alfamart dan Indomart bertebaran.

Di gapura Bayah, saya teringat Tan Malaka.

Bayah pernah menjadi tambang batubara di zaman pendudukan Jepang. Para romusha dikerahkan untuk mengerjakan. Mereka datang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di kawasan pesisir selatan inilah Tan Malaka bekerja sebagai juru tulis. Ia datang ke Bayah pada Juni 1943 dan dikenal masyarakat sebagai Ilyas Hussein.

Dalam perjalanan, sekitar enam atau tujuh kilometer dari gapura itu, kami melintasi Pantai Pulo Manuk.  Pada masanya tempat ini seperti neraka. “Sedikit sekali di antara romusha yang bekerja di sana  yang tiada penyakit yang bisa membawa maut, seperti borok, disentri, dan malaria,” tulis Tan Malaka di memoarnya, Dari Penjara ke Penjara.

Makanan seadanya, obat-obatan sangat terbatas, dokter dan juru rawat hanya beberapa. Mayat-mayat hidup gampang ditemui di pinggir jalan. Demikian Tan Malaka bercerita.

Eksplorasi batubara di sana sudah direncanakan sejak awal abad ke-20 oleh rezim Hindia Belanda. Izin konsesi diterbitkan pada 1903 untuk sejumlah perusahaan swasta. Namun eksplorasi tak kunjung dilakukan. Kabarnya karena pasokan yang mencukupi dari Sumatera dan Kalimantan. Plus, kualitas batubara yang kurang baik.

Jepang punya pendirian lain. Kebutuhan perang mereka tinggi. Kualitas rendah tak mengapa. Maka eksplorasi pun akhirnya dilakukan.

 

SAYA HANYA sesekali menyentuh air. Namun dua anak saya nyaris tak mau beranjak dari gelombang dan ombak. Surga memang…

Seraya menatap kaki langit di kejauhan, saya merenungi perjalanan pada 2017. Pada tahun itu keputusan penting ditempuh. Tidak dengan mudah.

Laut selatan di hadapan. Gelombangnya tinggi, berbahaya, tapi indah. Konon demikian juga kehidupan.

sore bersama rusdi

“Aku ngetik dengan satu jari, Yus,” kata Rusdi Mathari. Ia memperagakan. Tangan kiri memegang telepon genggam, jempol kanan beraksi di keyboard.

Sore kemarin, atas inisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), puluhan teman datang ke rumahnya di Srengseng Sawah, di tepi Setu Babakan. Mengguyurkan semangat, memanjatkan doa. Tiga hari lalu, Rusdi genap setengah abad.

Ia mengaku pernah mencoba mengetik dengan laptop. “Tapi nggak sinkron antara mata dan jari,” lanjut dia. Sesaat saya berniat mengejar soal ketidaksinkronan itu namun batal. Jurnalis senior ini sedang sakit. Kanker.

Sebelum sakit, ia terbilang ceking. Kini nyaris tak bersisa daging. Selembar selimut menutupi tubuhnya.

Rusdi mengaku sedang menyusun novel tentang sakitnya. “Ini novel tanpa dialog,” kata dia. Rusdi tak berubah: tetap bersemangat ketika bicara.

Serpihan-serpihan calon novel tersebut mulai muncul di Mojok.co, situs yang “sedikit nakal, banyak akal” itu.

“Ketika sakit begini, aku jadi tahu, banyak orang sayang sama aku,” lanjut anak Situbondo ini. Penyakit membuatnya sekarang hanya bisa berbaring di ranjang. Lima ruas tulang di punggung hancur dilumat kanker.

Ia berkisah, saat di rumah sakit selama 10 pekan, banyak yang datang membesuk. Beberapa bahkan tak dikenalnya secara pribadi. Beberapa yang lain rutin mengirim uang.

Rusdi juga bercerita tentang sebuah kelompok media yang kerap memberi proyek penulisan. “Mereka enggak pernah lupa dengan para ronin, kecuali orang-orang yang mereka anggap pengkhianat,” ujarnya sambil terkekeh.

Tak cuma itu. Beberapa anak muda, yang belajar menulis darinya, bergantian menemani di rumah sakit. Ia adalah guru yang tak dilupakan para cantrik. Padahal, ia terkenal keras, nyaris tanpa kompromi. Konon demikian beberapa anak muda memberi testimoni.

Kami pernah sekantor. Sejumlah reporter menghindari Rusdi — terutama jika baru saja membuat laporan asal jadi. Meja saya tak jauh dari dia. Saya ingat beberapa reporter yang menunduk saat ditegur redaktur kurus, yang kerap bersarung dan mengisap Dji Sam Soe itu.

Ayah satu anak ini juga esais yang “tajam”. Tulisannya biasa menguliti sebuah masalah  dan sosok tanpa tedeng aling-aling. Mudah bikin panas kuping yang dibahas.

Sore kemarin, saat kami berbincang, seorang pria masuk. Bersama dua anak perempuan kembarnya — taksiran saya, 10 atau 11 tahun usia mereka.

“Halo, Cak…Ini anak saya, mereka pembaca tulisan-tulisan sampeyan, yang terkumpul di Aleppo,” ujar tamu berkacamata itu. Rusdi tersenyum lebar.

Api tak pernah padam dalam dirinya.

sepotong danau, sejumlah cerita

“Kalau kita mancing, mungkin dapat mayat,” ujar Kafka saat menginjak bentangan beton mirip dermaga. Saya tertawa getir. Imajinasi anak sepuluh tahun ini kerap tak terduga.

Dari tempat kami berdiri, puncak gedung rektorat terlihat dan deru kereta terdengar. Perpustakaan Pusat UI, yang sedang direnovasi, menjulang di belakang.

Kami tiba menjelang petang di tepi danau. Angin sungkan menghamburkan diri. Tapi temperatur lumayan bersahabat. Mungkin lantaran kehadiran pepohonan yang menghijaukan lingkungan ini, kampus UI Depok.

Ini kali kedua saya mengajak anak-anak ke sana. Yang pertama, minus ibu mereka yang lagi menghadiri halal bihalal di Bandung. Kemarin komplet berempat.

Pada kunjungan pertama, saya memang bercerita soal kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa UI yang ditemukan di danau itu dalam kondisi tak bernyawa. Hingga kini kasus kematiannya belum terpecahkan.

Pandangan beralih ke titik lain, lokasi Taman Melingkar berada. Sebuah pohon besar tegak di tengah taman. Undak-undakan semen melingkari dan galib berfungsi sebagai tempat duduk.

Enam tahun silam, juga pada September, saya datang ke sana. Diskusi + pentas musik digelar di Taman Melingkar. Jakartabeat.net, yang didirikan sohib saya, Philips Vermonte, menjadi salah satu pihak yang membikin acara. Nama acaranya puitis: Muara Senja.

Sebelum pertunjukan musik, diskusi dilangsungkan. Temanya “Musik dan Kritik Sosial”. Jika tak keliru mengingat, dosen filsafat UI, Tommy F Awuy, juga hadir sebagai salah seorang pembicara.

Selanjutnya, giliran musisi yang tampil: Bangku Taman, Payung Teduh, Risky Summerbee & the Honeythief, dan sejumlah band indie lain.

Di acara tersebut, saya berjumpa para mahasiswa pintar yang hari ini sudah jadi penulis kesohor: Nuran Wibisono, Arman Dhani, Ardyan Erlangga. Jakartabeat jadi tempat mengasah kemampuan menulis. Mereka menempuh ratusan kilometer untuk sampai di Depok.

Ya, di tepi Danau UI saya pertama kali menonton langsung kelompok yang menyedot banyak respek: Efek Rumah Kaca. Ketika band indie itu tampil, sebagai pemuncak acara, gelap telah berkuasa. Hadirin ramai dan bergairah. Kebanyakan belia.

Pada malam itu, saya bersaksi, Cholil Mahmud bukan hanya propagandis yang piawai, melainkan juga penyanyi yang keren.

Sore kemarin tak ada musik yang menggelegar. Juga tak ramai pengunjung. Perpustakaan Pusat UI tutup. Gerai Starbucks Coffee di dalamnya ikut meliburkan diri. “Wah, gak jadi aku minum coklat,” kata Kafka dengan masygul.

Ketika kunjungan pertama, kami mampir ke kedai kopi tersebut. Kafka memesan coklat dingin — entah apa namanya. Eh, dia suka.

Saya belum bercerita soal Starbucks yang memantik kontroversi terkait beberapa hal. Terakhir, ada kampanye untuk memboikot karena pengelola Starbucks dianggap mendukung LGBT.

Masih banyak waktu untuk dihabiskan bersama, untuk berbagi cerita.