selalu bersama di mana-mana

Sendiri.  Menyendiri. Mengapa kita cemas jika sendiri dan menyendiri?

Pada buku Roanne Van Voorst, Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta, terselip satu bab penting, menyentuh, sekaligus kocak soal “menyendiri.”

Di Indonesia, juga di Bantaran Kali yang pernah dihuni Roanne, ganjil belaka jika ada seseorang yang menyendiri.

Warga miskin di Bantaran Kali mengaku tidak takut dengan penyakit, banjir, atau penggusuran. Hal yang ditakutkan adalah “tidur sendirian” seperti yang dilakoni Roanne di kampung mereka.

Roanne, antropolog muda Belanda yang meneliti respons manusia terhadap banjir, tinggal di sebuah kampung kumuh di Jakarta. Lebih dari setahun. Bergaul dengan orang-orang di sana, coba memahami alam pikiran mereka.

Salah satu temuannya: mereka sangat terbiasa dengan kolektivisme. Kebersamaan. Nonton bola bareng, ngopi juga demikian. Dan seterusnya.

Padahal, di Belanda, kata Roanne, “Saya sering pergi berlibur tanpa pacar atau sangat menikmati pergi ke bioskop sendirian.”

Roanne bilang itu semua adalah cara untuk memulihkan tenaga, mengisi ulang energi sebelum melakukan perjumpaan-perjumpaan sosial berikutnya.

Saya kira, memang bukan hanya di Bantaran Kali. Ini fenomena umum di Indonesia. Kehadiran idiom “mangan ora mangan sing penting kumpul” sejatinya mengafirmasi prinsip hidup demikian.

Di sini, miskin bukan masalah sepanjang ada keluarga yang bisa menjadi semacam jaring pengaman sosial. Atau, tetangga yang siap menyingsingkan lengan baju jika kita memerlukan bantuan.

Tapi selalu ada batas seharusnya. Niscaya perlu momen-momen ketika kita hanya sendiri. Benar belaka kata-kata Roanne: berada di lingkungan pergaulan sosial kerap bikin lelah. Kita tak hanya berjumpa orang-orang yang sepemahaman. Tidak jarang kita dihadapkan pada pertikaian pendapat atau mereka yang mengeluh. Bukankah itu semua bikin capek?!

Menyendiri kini bukan monopoli para begawan atau resi. Dulu mereka menjauh dari keramaian, bermeditasi. Tapi siapa bilang kita, orang-orang biasa ini, tak perlu sesekali “bermeditasi”?

Bab berjudul “Selalu Bersama di Mana-mana” tersebut ditutup dengan kisah Roanne untuk menggapai “me time”-nya, yaitu nonton di bioskop. Di sana dia berharap bisa sejenak “menyendiri” setelah hampir 10 bulan tinggal di Bantaran Kali dan cuma pernah beberapa jam sendirian.

Dia membeli tiket, lalu  duduk nyaman di ruangan sejuk, siap menikmati hiburan. Tiba-tiba, dari belakang, meluncur suara seorang ibu, “Dari mana?”

“Dari Belanda,” jawab Roanne.

Si ibu kemudian meminta anak-anaknya menemani Roanne, di kiri dan kanan. “Senang kan, nonton film ramai-ramai kayak gini,” ujar dia.

warkop, pintu menuju kemasyhuran

Kasino Hadiwibowo diajak ke rumah bundar di Desa Rarahan, di kaki Gunung Gede. Rumah itu tak sampai satu kilometer dari pintu gerbang Kebun Raya Cibodas.

Mahasiswa Administrasi Niaga FISIP UI ini langsung terkesan, “Wuiihh, asyik tempatnya, mana udara dingin dan sepi suasananya,” kata Kasino.

Selanjutnya adalah bujukan agar Kasino mau bergabung dengan tim kecil Mapala UI untuk mengisi acara di malam api unggun di Perkampungan UI di Cibubur, akhir September 1973. Kasino direncanakan berduet dengan Nanu Mulyono, juga mahasiswa FISIP UI. Keduanya jago bercanda, piawai melempar humor.

Kasino setuju. Duet itu terbukti mampu bikin gempar. “…Kasino dan Nanu tampil gaya dengan gaya slengean. Penonton tertawa, panitia pun puas. Kasino dan Nanu menjadi bintang, a star is born kata Temmy (Lesanpura) yang jadi panitia inti,’ kenang Rudy Badil, aktivis Mapala UI, yang punya andil mempertemukan keduanya.

Kisah berlanjut. Selain kuliah di UI, Temmy juga bekerja sebagai Kepala Program Radio Prambors. Ia rupanya sangat terkesan dengan Kasino dan Nanu. Kepada Badil, ia minta mereka mau mengisi acara di Radio Prambors.

Kasino dan Nanu setuju untuk siaran. Badil juga diminta nimbrung. Mereka diminta untuk ngobrol yang lucu-lucu saja. Tapi punya isi. “Ingat ya, kalian mahasiswa yang biasa mengisi acara di alam terbuka, juga bawakan lagu-lagu kampus sambil cerita lucu-lucuan. Itu saja dipelihara, tapi pakai persiapan,” kata Temmy.

Dalam istilah Temmy, mereka diminta “bercanda otak.”

Djodi Wuryantoro, mahasiswa Psikologi UI dan juga penyiar Prambors, ikut melempar saran. Ia mengingatkan penampilan Kasino dan Nanu di Perkampungan UI. “Kasino sukses menyanyikan lagu pop dangdut yang bercanda abis soal nasib orang di bui… atau Nanu yang dengan suara serak dan kocokan gitar menyanyikan  Hello Dolly, menirukan Louis Armstrong. Atau Nanu dan Kasino duet dengan lagu Tirtonadi yang rada-rada porno. Itu kan ciri kalian. Itu aja yang diterusin,” kata Djodi.

Slot acara mereka di Kamis malam, pukul 21.00. Itu persis bersamaan dengan dimulainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI, acara paling digemari se-Indonesia. Saat itu hanya ada TVRI, belum ada televisi-televisi swasta.

Acara malam Jumat itu pada mulanya hanya punya pendengar terbatas. Cuma kalangan mahasiswa UI. Sejak 1974, ketika lingkup pendengar mulai meluas, pengelola menamakan acara itu Warung Kopi Prambors. Mereka juga dikenal sebagai Warkop Prambors.

Mereka bertiga jadi penyebar terdepan gosip-gosip di seputar anak muda. Juga istilah-istilah khas yang dipakai semacam indehoy asoy, bohai, gintur, atau mana tahan.

Lalu, Wahyu Sardono atau Dono ikut bergabung. Itu bermula ketika mereka menjadi Panitia Pelaksana Pelatihan Nasional Lingkungan Hidup untuk Pemuda Indonesia di Puncak Pass, awal Juni 1975. Dono juga terlibat sebagai jurnalis yang membuat buletin harian acara pelatihan.

Saat malam tiba, mereka mengisi panggung kecil: ngobrol lucu dan menyanyi. Sepulang ke Jakarta, Dono dibujuk untuk ikut bergabung di acara malam Jumat itu.  Mahasiswa Sosiologi UI tersebut bersedia.

Kemudian, mahasiswa Universitas Pancasila bernama Indrojoyo Kusumonegoro atau Indro juga terlibat. Indro tinggal dekat dari studio Radio Prambors di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Ayahnya seorang jenderal polisi. Kawasan tersebut memang banyak dihuni pejabat. Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin dan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo juga tinggal di sana.

Foto: @Warkop_ID

PARODI LAGU MENJADI CIRI khas.  Nanu terampil memainkan gitar. Dia belajar sendiri, tak pernah ikut kursus.

Tak terlalu mahir bergitar, Kasino lebih menonjol sebagai penyanyi. Ia bisa bernyanyi dalam berbagai cengkok. Mulai dari Jawa, Batak, Betawi, sampai Mandarin. Urusan musik di Warkop, pria kelahiran Kebumen ini diplot sebagai frontman – seperti Ariel di Noah atau Duta di Sheila on 7.

Bahkan, pada 1979, Kasino diminta Guruh Soekarnoputra menyanyikan lagu Selamat Datang versi dangdut pada Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra 1979. Juga Jockie Suryoprayogo meminta Kasino menyanyikan parodi lagu Cinderella — aslinya dinyanyikan Ira Maya Sopha – di album “Musik Saya adalah Saya.”

Saat Indro direkrut, salah satu pertimbangan adalah kemampuan bermusiknya. Ia bisa bergitar dan meniup seruling. “Yang gua ingat itu gua disuruh menyanyikan lagu Melati-nya Grace Simon.  Tapi harus dalam langgam Jawa. Edan kan? Kurang kerjaan banget tuh Kasino…hehe…” kenang Indro.

Hanya Dono yang relatif tak bisa bermusik. Terkadang ia ikut menyanyi atau sekadar menabuh ketipung dan bongo.

Dengan parodi, mereka mengobrak-abrik lagu, terutama unsur liriknya.  Bayangkan lagu Kidung yang syahdu itu mereka acak-acak, menjadi menjurus porno.

Soal bahan lawakan, mereka banyak menyerap dari folklore, yang juga diajarkan di jurusan Antropologi. Dalam folklore, berlimpah cerita-cerita cabul, stereotip etnis, atau anekdot. Rudy Badil yang kuliah di Antropologi kerap diminta membawa bahan-bahan kuliah folklore yang diasuh Prof James Danandjaja. Itu semua dikemas ulang Warkop Prambors.

Ada satu contoh lelucon yang digali dari stereotip etnis. Jadi, ada calo bus di Lapangan Banteng, namanya Ucok. Suatu kali, dia ditusuk seseorang dan dibawa ke RSCM. Bapaknya datang sambil menangis, “Ucok, mangucaplah…Ucok, mengucaplah.”

Lalu, Ucok membuka mata dan berujar lirih, “Garogol…Garogol…”

MALAM TAHUN BARU 1977 menjadi pintu bagi kemasyhuran yang lebih gila. Warkop Prambors tampil di acara “Terminal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI. Sejak itu, ketenaran mereka melebar se-Indonesia. Di sini, Rudy Badil sudah tidak aktif. Ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai jurnalis Kompas.

Undangan manggung berdatangan. Dari seluruh penjuru Indonesia. Kocek mereka mulai tebal.

Rupiah kian berlimpah saat tawaran kontrak album kaset datang. Menariknya, album pertama berasal dari pertunjukan live mereka di Palembang. Ternyata sukses!

“Pramaqua langsung mengontrak Warkop untuk proyek kedua. “Kami membayar Warkop dengan jumlah fantastis, Rp 25 juta!” kata Johannes Soerjoko, bos Pramaqua.  Album yang dirilis Agustus 1979 itu juga meledak: terjual 180 ribu kaset dalam 45 hari.

Album kedua ini juga direkam live. Lokasinya Pontianak. Di album ini, Indro mengajukan teka-teki: apa bedanya laki-laki dengan sepak bola?

Tiga rekannya menyerah. Jawaban Indro, “Kalau sepak bola, penyerang membawa bola; bolanya masuk gawang, penyerang tunggu di luar. Kalau laki-laki, penyerang dibawa bola;  penyerang masuk gawang, bola tunggu di luar.”

—————–

Referensi: Warkop: Main-main jadi Bukan Main, Rudy Badil dan Indro Warkop (Editor), Kepustakaan Populer Gramedia, 2016 (cetakan ketiga)

simpang jalan dua wartawan

“Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja,” tulis Sutan Sjahrir dalam esai “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian.”

Pada 17 Februari 1946, koran Merdeka menerbitkan “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia.” Tebalnya 124 halaman. Salah satu yang dimuat adalah esai Sjahrir yang kutipannya nongol di atas.

Sebulan setelah “Nomor Peringatan” terbit, Merdeka terbelah. Kubu Rosihan Anwar mulai didepak. Di Merdeka, BM Diah menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum, Rosihan adalah redaktur utama. Keduanya sudah kerja bareng sejak koran Asia Raja pada masa pendudukan Jepang.

Merdeka mulai terbit 1 Oktober 1945. Koran itu dibangun setelah para wartawan dan karyawan Asia Raja mengambil alih percetakan De Unie dan menempelkan kertas bertuliskan “Milik Repoeblik Indonesia”.

Pemicu friksi Diah dan Rosihan adalah perbedaan visi. Rosihan terlalu dekat dengan faksi Sjahrir, Diah berafiliasi ke Sukarno. Konon tindakan Diah ini hanya reaksi. Sebelumnya, ia mendengar Rosihan dkk yang akan mendepaknya.

Diah tegas mengakui banyak bersimpang pendirian dengan Sjahrir. Perihal perlakuan Sjahrir atas dwitunggal Sukarno-Hatta tak disetujuinya. Sjahrir mengkritik keras mereka sebagai kolaborator Jepang dalam brosur Perjuangan Kita.

Juga soal perjuangan diplomasi yang banyak dipimpin Sjahrir. Dalam Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985, dinyatakan bahwa Diah tidak anti-diplomasi. Tapi, ia meminta jaminan bahwa semua itu bukan dilandasi oleh “bisikan” kubu sosialisme atau komunisme internasional. Harus berdasarkan kepentingan nasional Indonesia.

Karena ada dua “matahari” di Merdeka, pada suatu hari, Sjahrir dikritik. Pada hari lain, perdana menteri pertama RI itu dipuja-puji.

Tapi, kabarnya, soal pemilikan saham pun menjadi pangkal masalah. Rosihan menganggap Diah hendak menguasai Merdeka sendirian, sementara ia ingin semangat kolektif-kolegial dipertahankan. Tribuana Said, salah seorang menantu Diah, yang mengungkap hal ini dalam H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra.

Di autobiografinya, Menulis dalam Air, Rosihan tak menyinggung penyebab keluar dari Merdeka. Kisah yang dituliskan adalah perselisihan dengan Diah saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Oktober 197o. Rosihan mendapat suara terbanyak, tapi Diah mempermasalahkan prosedur pemilihan. Perpecahan PWI Pusat merembes sampai ke daerah. Dualisme kepengurusan terjadi.

Melalui proses yang alot, Rosihan disahkan juga menjadi Ketua PWI meski Rezim Orde Baru lebih suka jika Diah yang naik. Oh iya, di sini tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo, dikabarkan ikut ‘bermain’ dengan menyokong Diah.

Penting diingat bahwa sengketa ini memicu pemecatan Goenawan Mohamad dkk dari Ekspres — majalah yang 60% sahamnya dimiliki BM Diah. Goenawan menyayangkan Diah yang ogah berunding. Pernyataan ini dimuat beberapa surat kabar. Diah pun berang. Selepas Ekspres, pada 1971, Goenawan dkk mendirikan TEMPO.

Balik ke masa revolusi. Setelah keluar dari Merdeka, awal 1947,  Rosihan mendirikan Siasat, sebuah majalah politik dan budaya. Dalam waktu tiga bulan, tirasnya melesat ke 12.ooo.

Kemudian, Rosihan butuh mainan lain. Ia mendirikan Pedoman pada 1948. Koran ini kerap dibilang dekat dengan partai Sjahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia memang pengagum Sjahrir. Dalam autobiografinya itu, Rosihan bilang Perjuangan Kita meninggalkan kesan mendalam.

“Yang berkesan pula pada saya ialah nada kemanusiaan yang terdengar dari uraiannya. Inilah orang yang memperjuangkan tegaknya demenselijke waardigheld, martabat kemanusiaan di bumi persada Indonesia,” tulis Rosihan.

Nada esai ringkas Sjahrir di “Nomor Peringatan” kritis pada revolusi – ya, tak jauh berbeda dengan Perjuangan Kita. Bung Kecil menulis, “Agaknja salah-satoe sifat tiap-tiap revoloesi adalah, bahwa ia boeta, jaitoe bahwa orang yang berada dalam soeatoe revoloesi tiada dapat menangkap dan merasakan hoekoem sedjarah dengan pengertian, sehingga bagian terbesar dari pada tenaga yang lepas dari ikatannja dan bergolak didalam masjarakat itoe terboeang pertjoema.”

Saya membayangkan Diah jengkel ketika mengetahui Sjahrir menulis hal tersebut di koran yang dipimpinnya. Sementara Rosihan tersenyum.

 

 

martil kecil, rita hayworth, dan harapan

Kehidupan nyaman sebagai wakil direktur bank menguap ke udara. Andy Dufresne (Tim Robbins) mesti menjalani kehidupan keras di balik terali besi.

Dakwaan jaksa: membunuh istri dan pacar sang istri yang merupakan pegolf terkenal.  Vonis hakim: penjara dua kali seumur hidup. Pertanyaan pertama di benak penonton: Dufresne memang membunuh mereka?

Vonis jatuh, hidupnya mendadak rapuh. Lalu Shawshank Redemption pun bergulir.

Napi senior, Red (Morgan Freeman),  menebak, Dufresne akan menjadi yang pertama menangis di antara anggota kelompok napi yang tiba bersamaan di penjara saat itu.

Red bertaruh 10 batang rokok kepada teman-temannya. “Angin sepoi-sepoi saja akan membuat dia terhempas,” ujar Red sambil memperhatikan kelompok napi tersebut. Ternyata, sang narator sepanjang film dan kelak menjadi sahabat Dufresne itu keliru. Dufresne sama sekali tak menangis.

Dengan ketenangan, keuletan, dan kecerdasan, Dufresne bertahan – sejak detik pertama di penjara Shawshank pada 1947. Ia menolak bertekuk lutut pada takdir. Termasuk menghadapi geng napi homoseksual yang mengincar. Ia melawan meski berujung babak-belur.

Belakangan, berkat kemampuan akuntansi sebagai eks bankir, Dufresne memperoleh proteksi dan keistimewaan. Dia mengelola pencucian uang kepala penjara, Samuel Norton (Bob Gunton). Gangguan para napi homoseksual itu tak lagi mampir. Para sipir bahkan menggebuki pentolan geng hingga cacat.

Sempat terbit harapan Dufresne untuk bebas setelah Tommy Williams (Gil Bellows) masuk. Tommy bilang pernah bertemu seseorang yang mengaku membunuh seorang perempuan dan kekasihnya yang pegolf tenar.

Harapan pupus setelah Tommy ditembak mati oleh kaki tangan Norton. Maka, rencana awal dilanjutkan.

Dufresne berhasil kabur. Modalnya:  martil kecil yang ia pesan dari Red dan… poster aktris Rita Hayworth, Marilyn Monroe, serta Raquel Welch. Perihal cara dia kabur, mending tonton sendiri filmnya.

Dalam surat kepada Red, ketika telah di luar, Dufresne menulis, “Remember, Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.”

Dufresne seperti menjawab kata-kata Red beberapa tahun sebelumnya: “Hope is a dangerous thing, my friend, it can kill a man…”

Pada 1966, Dufresne membuktikan bahwa menaruh harapan itu bukan kemubaziran. Dia tak sekadar kabur, namun juga merancang skenario penghancuran rezim penjara yang korup dan bengis itu.

Film ini dirilis pada 1994. Banyak menuai pujian. Saya baru menontonnya akhir pekan ini di HBO. Tabik buat semua yang membuat The Shawshank Redemption terwujud.

Inilah cerita tentang hidup yang rapuh tapi tak layak diratapi jika kita punya sahabat, imajinasi,  dan harapan.

 

perjalanan dan ketidakterdugaan

Ketidakterdugaan. Perjalanan liburan lebaran kemarin membawa kami dalam sejumlah ketidakterdugaan. Justru ketika menggunakan teknologi untuk menghalau spekulasi.

Menjelang tengah malam, mungkin di sekitar Kebumen, aplikasi waze mengarahkan untuk mengambil jalanan kampung. Memisahkan diri dari jalan raya.

Arus balik lebaran menyebabkan laju lalu-lintas tersendat. Pun di arah sebaliknya. Kami berangkat dari Pangandaran menuju Jogja.

Roda-roda lalu menggilas aspal kasar. Saat itu giliran istri saya, Raya, yang mengemudi. Saya jadi navigator.

Rumah-rumah pedesaan Jawa terlihat di kiri dan kanan. Lampu-lampu menyala. Hanya sedikit warga yang terlihat. Sisanya boleh jadi telah mengarungi langit mimpi — seperti juga dua bocah di kursi belakang.

Di satu titik, jalanan ternyata sedikit menanjak. Di ujung, terbentang rel kereta api.  Gelap merundung karena hanya persawahan mengurung. Tiba-tiba, persis di rel, kendaraan terhenti. Tak bergerak meski pedal gas telah diinjak. Ada apa ini?

Saya memutuskan turun, mencari tahu. Oh, ternyata ada batu lumayan besar, mengadang laju ban kanan depan. Saya pun meminta Raya untuk memundurkan mobil dan menggeser stir ke kiri.

Wuuss…kami pun lepas dari ketegangan sesaat. Sempat mampir pikiran bagaimana kiranya jika saat itu ada kereta melintas.

***

Aplikasi seperti waze ini mungkin seperti kompas pada beberapa abad silam. Kompas membuat manusia berani menjelajahi belahan dunia lain, tak perlu lagi cemas bagaimana cara kembali ke rumah. Ketidakpastian dilawan dengan teknologi.

Konon, bersama mesin cetak dan mesiu, kompas menjadi bekal penting era renaissance, pintu gerbang abad modern yang membebaskan manusia (baca: manusia Eropa) dari kungkungan otoritas lama.

Jika tak ada kompas, susah membayangkan Christopher Columbus bisa meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai perjalanannya. Maka berlayarlah Nina, Pinta, dan Santa Maria pada Agustus 1492.

***

Ketidakterdugaan berikut hadir saat ingin ke Candi Prambanan. Titik berangkat adalah kawasan Mangunan, Bantul. Di waze sudah diketik: Prambanan.  Let’s go

Kami diarahkan ke jalan Jogja-Solo. Ya, masuk akal. Tapi kemudian diminta keluar dari jalan raya, masuk ke pedesaan. Ah, siapa tahu ini rute tercepat.

Panorama indah memanjakan mata. Petang telah datang.

Kok jalanan makin kecil. Kalau dua mobil berpapasan, ngepas banget. Mulai tumbuh ragu. Di sebuah pertigaan, keraguan mengeras. Kepada seorang warga, kami pun bertanya, “Nuwun sewu, Mas. Ini jalan menuju Candi Prambanan?’

“Oh bukan, tidak lewat sini,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

Matahari sudah redup. Kami bertanya-tanya apa yang salah. Usut punya usut, kami hanya memasukkan “Prambanan” di waze. Padahal seharusnya “Candi Prambanan.”

Prambanan merupakan juga nama kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang menggunakan nama tersebut. Satu di Sleman, satu di Klaten. Keduanya bersisian. Candi Prambanan ada di Klaten.

Lakukan perjalanan. Maka, kita bakal kian yakin bahwa hidup adalah himpunan ketidakterdugaan meski telah dibantu teknologi.

 

 

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.

 

hatta dan sjahrir, sesaat sebelum jepang datang

Catatan: ini petikan “mentah” dari naskah buku yang entah kapan kelarnya.

Tak lama sebelum meninggalkan Banda Neira, Mohammad Hatta menulis artikel yang menyatakan dukungan kepada Sekutu, sekaligus memperlihatkan penolakan terhadap Jerman dan Jepang. Hatta ada di Banda Neira sejak Januari 1936. Statusnya: orang buangan rezim kolonial Belanda.

Sejak awal abad ke-20, Jepang menggeliat. Menjadi satu kekuatan militer baru dari Timur. Syahwat imperialisme negeri tersebut pun sempurna mekar. Pada awal Desember 1941, Jepang menghajar Pearl Harbour di Hawaii. Api Perang Pasifik berkobar.

Sahabat dekat Hatta dan sesama penghuni tanah pembuangan Banda Neira, Sutan Sjahrir, dikirimi ikhtisar artikel tersebut. “…aku segera menemuinya dan mengusulkan supaya artikel itu jangan dipublikasikan. Aku merasa bahwa pubikasi itu akan mempunyai akibat-akibat yang tidak bisa diramalkan bagi kami, dan tidak ada gunanya untuk mendukung Belanda dengan cara itu,” tulis Sjahrir dalam catatan hariannya.

Sial. Karangan itu telah dikirimkan satu jam sebelumnya via pos. Mereka gagal menganulir pengiriman. Belanda pun menggunakan artikel itu sebagai propaganda. Diterjemahkan dalam beberapa bahasa daerah.

Menurut Sjahrir, sikap Hatta yang anti-fasis lahir dari akal sehat, bukan menjilat Belanda. Sebagai demokrat, Hatta merasa tak punya alasan harus pro-Jepang.

Judul artikel itu Rakjat Indonesia dengan Perang Pasifik, dimuat di Pemandangan, 22 dan 23 Desember 1941. Nukilannya:

“Memang demokrasi Barat tidak akan membawa tertjapainja tjita-tjita Indonesia begitu sadja, djika ia menang dalam pertempuran ini. Ini telah lebih dahulu saja kemukakan. Tetapi adakah Djepang akan memberikannja? Djika Djepang dengan kawan-kawannja menang, dunia akan diperbudaknja. Djika Indonesia tidak diperbagikan antara Djerman dengan Djepang, ia akan jatuh kebawah perintah Djepang. Dan tjita-tjita Indonesia akan sia-sia sama sekali. Pada fascisme tidak dapat dikemukakan tjita-tjita sebagai hak untuk menentukan nasib sendiri. Fascisme menghendaki cuma satu: t u n d u k kepada kekuasaannja. Kepada demokrasi Barat, jang masih membatasi demokrasi bagi dia sendiri, masih dapat dimadjukan alasan jang terambil dari teorinja sendiri.”

Dua tahun sebelumnya, Hatta memperlihatkan sikap anti-fasis secara eksplisit.  Di majalah Pandji Islam, ia menulis esai berjudul Mendjadi Perang Ideologi.

“Kita tidak perlu melihat djauh kenegeri lain seperti ke India, dimana suatu gerakan terus terang menjatakan aliran fasisme. Kita lihat sadja di Indonesia kita ini. Berbagai gerakan pemuda dalam golongan ‘padvinderij”, mengambil gelagat fasis. Tidak heran, sebab fasisme mengetok pada rasa kebangsaan. Dan pemuda jang belum tahu berpikir pandjang terpikat dengan suara itu. Sebagaimana Hitlerjugend memberi salam pada pemimpinnya, tjara itu pula yang dipakaikan. Pakaian militer jang memperkuat semangat disiplin sangat disukai. Anak ketjil jang baru balita hanja mengatakan, bahwa bahaja fasis jang akan meratjun masjarakat kita sudah tampak tanda-tandanja. Sebab itu kita harus awas. Pergerakan jang berdasarkan demokrasi jang harus dikemukakan, bukan pergerakan  jang memakai dasar diktatur atau diktatorium. Ini ratjun, ini bahaja; sebab itu disebut terus-terang disini,” tulis Hatta.

Rumah pembuangan Hatta di Banda Neira (KOMPAS)

Konsistensi Hatta soal fasisme kukuh. Sepuluh tahun sebelumnya, ia menulis esai yang memperingatkan bahaya imperialisme Jepang. Di bawah judul Politik Imperialisme Djepang di Tiongkok, Hatta mengatakan Jepang datang ke Mansjuria, yang merupakan bagian dari Tiongkok, karena kebutuhan dalam negerinya.

Mansjuria adalah tanah yang subur dan kaya. Kekayaan alam itu belum  digarap sepenuhnya. Penduduknya masih sedikit. Jika Mansjuria bisa dikuasai, perekonomian Jepang bakal kuat. Jepang miskin sumber daya alam tapi berupaya keras menyulap diri menjadi negara industri.

“Untuk penghidupan penduduknja dan kemajuan industrinja bergantung pada negeri luaran. Untuk mentjukupi makanan rakjatnya ia perlu mendatangkan gandum dari luar. Untuk industrinja ia perlu akan benda-benda kasar jang ada dalam tanah seperti besi, minjak, dan segala rupa. Kemudian hasil industri itu mesti didjual ke luar negeri. Supaja industrinya djangan roboh dibawah persaingan, maka ia harus mempunjai pasar yang semata-mata dibawah pengaruhnja. Pendeknya ia terpaksa mendjalankan politik imperialisme, mengembangkan sajap kenegeri asing,” tulis Hatta di Daulat Ra’jat, Februari 1932.

Sikap anti-fasisme ini bertolak belakang dengan pendirian rakyat: mendamba kedatangan Jepang sebagai pembebas. Memasuki 1942, rakyat tak lagi takut pada polisi Hindia Belanda. Mereka yakin keruntuhan rezim kolonial tinggal menunggu waktu. “Mereka menyatakan terus terang, bahwa ramalan Joyoboyo akan menjadi kenyataan dan bahwa zaman kekuasaan orang kulit putih sudah berakhir. Kedatangan bangsa Jepang, kata mereka, akan membawa kemerdekaan,” catat Sjahrir.

Sjahrir sendiri beranggapan, sia-sia melawan kepercayaan yang menjalar cepat itu. Ia merasa tak ada yang bisa diperbuat selain berdiam diri dan menunggu saat yang baik.

Lalu, mereka dipindahkan ke Sukabumi pada Februari 1942. Sempat ada usul agar Hatta dan Sjahrir meninggalkan Tanah Air. Rencana ini batal. Mereka belum tuntas berpikir. Pun karena Amir Sjarifuddin, tokoh Gerindo, yang membujuk mereka agar pergi ke Australia saat Jepang tiba, tak muncul lagi. Amir punya akses ke para pejabat kolonial Belanda yang bisa membantu pelarian. Seperti Hatta, Amir tak suka dengan fasisme tapi ia melangkah lebih jauh: berkolaborasi dengan Belanda.

Tak lama berselang, Jepang berhasil menguasai Hindia Belanda dengan lekas bin gampang. Kemudian, dua orang Jepang datang ke Hatta dan Sjahrir. Mereka minta Hatta pergi ke Bandung untuk menemui  para pejabat militer Jepang. Hatta semula menolak. Tapi dua orang itu mendesak.

Kata Sjahrir, Hatta kaget lantaran tak ditangkap meski tulisannya yang pro-Sekutu telah tersebar luas.

Pada akhirnya, “…kami memperhitungkan bahwa Hafil akan harus terpaksa bekerja sama dengan Jepang sampai tingkat tertentu demi kepentingan gerakan kami, sedang aku akan memimpin organisasi dan mengemudikan perjuangan kami di bawah tanah,” lanjut Sjahrir.  Dalam catatan harian itu, nama Hatta disamarkan sebagai Hafil.

Sjahrir benar. Hatta mustahil menolak tawaran Jepang untuk bekerja sama. Penolakan berarti menaruh katana di leher. Selanjutnya adalah sejarah. Hatta ada di dalam sistem, Sjahrir bergerak di bawah tanah.

when i’m sixty four

“Maaf, saya naikkan kaki, Mas.”

Bapak di samping berujar sambil tersenyum. Kakinya ditumpangkan ke kursi plastik. Beberapa meter di depan, sepeda motor saya tengah dicuci.

“Maklum, sudah tua. Gampang pegal. Kemarin nyetir ke Citeureup, pulangnya langsung tidur seharian,” lanjut dia.

Dia adalah ayah pemilik tempat cucian mobil-motor di belakang perumahan kami. Pensiunan PNS. Umurnya 64 tahun.

Seketika saya ingat lagu The Beatles, When I’m Sixty Four.

Rambutnya nyaris memutih semua. Tapi, badannya cukup ramping. Tak ada luberan lemak tak berguna. Dia mengenakan polo-shirt dan jeans hitam pudar.

Tidak tinggal di Cinere, dia bermukim di Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi sering bolak-balik ke Cinere. Bawaannya mau kontrol bisnis anak melulu, kata dia sambil terkekeh.

“Saya lagi bangun kandang ayam di Bogor,” jawabnya ketika saya tanya keperluan ke Citeureup. Kandang ayam kampung. Untuk pertama kali, dia akan mendatangkan 2.400 ekor. Skala kecil untuk bisnis ini, kata dia.

“Menarik, Mas. Mau Ikutan? Hehe…”

Ia bilang tak mau berleha-leha, nanti gampang pikun. Saya menimpali dengan setengah sok tahu, “Setuju, Pak. Kalau dibawa diam, gampang sakit.”

Setelah menanyakan usia saya, dia bilang: harus bersiap dari sekarang. Segalanya akan berubah di usia senja.

Ngobrol ngalor-ngidul, dia juga cerita sedikit soal dua cucunya yang tinggal di London. “Sudah setahun nggak ketemu. Kangen juga. Paling ngobrol pakai video conference di WA,” kata dia.

Ibu saya, semalam, bilang ke Havel, sulung saya, untuk sering-sering ke rumahnya. “Kalau pulang sekolah, mampir aja. Kan satu jalur,” ujar dia.

Deg! Saya merasa bersalah karena jarang mengajak Havel dan Kafka ke rumah beliau. Padahal jarak terbentang hanya 12 kilometer. Pasti rasa kangen ke cucu kerap menerjangnya.

Lagu Beatles yang dinyanyikan Paul McCartney itu terus terngiang di kepala:

Will you still need me, will you still feed me,  when I’m sixty-four?

bis membawa kami pergi

Afrizal Malna, pada 1985, menulis puisi berjudul “Bis Membawa Mereka Pergi.” Kala itu Orde Baru lagi di puncak. Pertumbuhan ekonomi diburu, tapi korupsi mulai menular seperti virus yang mematikan.

Afrizal menulis: Dengan bis yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah tanpa listrik itu. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di sepanjang jalan. 

Ya, sejak beberapa pekan lalu, saya pindah moda transportasi. Kini mengandalkan Transjakarta untuk menuju dan pulang dari kantor. Dengan ojek online sebagai pendamping.

Asyik juga ternyata. Bisa melaju dalam dekapan hawa sejuk. Sementara kemacetan membekap ribuan mobil di luar, bus kami meluncur (relatif) leluasa.

Saya teringat beberapa teman, para pengendara mobil pribadi, yang sinis dengan Transjakarta. Buat mereka, tak ada hak untuk memperoleh jalur khusus. Ah, kelas menengah ngehek jangan sering-sering didengar. Kebijakan publik mesti berpihak pada orang banyak atau kemacetan akan semakin gila.

Para penumpang memang asing satu sama lain. Nyaris tak pernah bertegur sapa. Paling banter “permisi…” ketika hendak turun dan menguak tubuh-tubuh yang menghalangi. Mereka berkutat dengan gawai masing-masing.

Jika tak menggenggam gawai, mereka tertidur. Atau melamun – mungkin memikirkan cicilan rumah, anak yang harus masuk sekolah menengah, atau tetangga yang bikin resah.

Tabik untuk para pejuang itu, yang melangkahkan kaki untuk mencari rezeki. Tak banyak memang yang punya kemewahan bisa bekerja di rumah atau bebas dari “hukum besi” office hours.

O iya, saya tahu bahwa Seno Gumira Ajidarma konon pernah menulis begini, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Tapi, jika Anda tak korupsi, tak menyikut kolega, atau tak menjilat atasan sembari menginjak bawahan; hidup agaknya masih bisa dibanggakan. Masih ada kisah yang layak dibagikan ke anak dan cucu.

Termasuk soal mesti berdiri sepanjang perjalanan ke kantor di Transjakarta ketika pencuri uang rakyat duduk nyaman di jok empuk nan lembut sedan 3.000 cc.

hari tua pak jo

Mekanik bilang perawatan mobil butuh sekitar dua jam. Oke, saatnya cari sarapan meski terbilang telat. Menuju lantai dua Pasar Segar Cinere, ke lapak yang menyajikan nasi uduk, lontong sayur, dll.

Saya mengambil kursi plastik. Di sebelah, seorang ibu berkacamata menyantap nasi uduk.

Percakapan dua ibu pun lalu terdengar. Keduanya, saya taksir, sudah di atas 50 tahun. Agaknya telah saling mengenal lama.

“Pak Jo sakit,” kata ibu pembeli di sebelah.

“Iya lama gak ke sini. Kasihan sendirian,” balas ibu penjual di depan.

“Nanti sore anak perempuannya datang. Anak lelakinya jauh, di seberang,” ujar ibu pembeli sebelum melahap gorengan.

Saya teringat maraknya fenomena kodokushi di Jepang sejak beberapa tahun belakangan. Kodokushi merupakan istilah buat para orang tua yang hidup sendiri lalu meninggal dunia tanpa diketahui. Mungkin mereka punya anak tapi tinggal terpisah dan berjauhan.

Barangkali juga mereka memang melajang. Tumbuh tren sejak puluhan tahun lalu bahwa ada cukup banyak warga yang memilih tidak menikah. Biasanya punya teman kencan, tapi ya temporer. Lalu, memasuki usia 60 tahun, kebanyakan mereka mulai hidup sendiri.

pasar segar

Kematian baru terendus beberapa hari kemudian setelah “aroma” meruap ke hidung tetangga atau ada yang berkunjung dan tak ada jawaban saat pintu diketuk.

Di Jepang, lebih dari seperempat warga berusia di atas 65 tahun. Tak ada statistik resmi terkait kodokushi, namun diyakini sekitar 30.000 orang meninggal dunia dalam kesendirian per tahun.

Banyaknya kodokushi memicu profesi baru: mereka yang bertugas membawa jenazah, membersihkan kamar mendiang, dan mengamankan benda-benda peninggalan.

Para orang tua yang kesepian bukan khas Jepang. Di Inggris, fenomena ini sudah dianggap mengganggu. Karena itu, Januari 2018,  PM Theresa May menunjuk seorang pejabat setingkat menteri untuk menanganinya. Menteri Olahraga dan Masyarakat Sipil, Tracey Crouch, ditunjuk memimpin kementerian baru itu.

Di Inggris, diperkirakan 9 juta orang hidup dihantui kesepian. Ada yang selama beberapa pekan tak mengalami interaksi sosial. “Kesepian itu realitas menyedihkan di kehidupan modern,” ujar May.

Sambil menikmati lontong sayur, saya lanjut menguping.

“Ini apa?” kata ibu pembeli.

“Nah itu kue kesukaan Pak Jo, kue sus.”

“Minta lima deh. Buat Pak Jo dan anaknya. Pastel minta delapan.”

Saya tak tahu apa hubungan ibu pembeli dengan Pak Jo. Kemungkinan sih tetangganya.

Pak Jo dan hari tua yang sunyi…