tangan yang mesti istirahat

“Yuk berangkat, nanti dokternya keburu pulang,” kata saya. Keinginan leyeh-leyeh pada Sabtu pagi, apa boleh buat, mesti dilawan.

Kafka bergegas mandi. Ia kembali mengenakan kaos favoritnya. Hitam, sudah mulai pudar lantaran terlalu kerap dicuci.

Pada awal tahun pelajaran lalu, para siswa baru diminta bikin papan karton untuk digantung di leher. Lalu ditulisi nama sendiri dan nama idola.

Dia menulis ‘James Owen Sullivan.’

Ibunya langsung pening. Sullivan adalah drummer Avenged Sevenfold yang meninggal dunia di usia muda. Permainannya gahar, tangannya penuh tato.

“Masak di sekolah Islam yang jadi idola dia,” kata Raya. Tapi Kafka ogah mengubah.

Avenged Sevenfold memang band favoritnya. Kalau membuka YouTube, dia sering memutar lagu-lagunya. Havel yang memperkenalkan kelompok musik cadas ini ke adiknya.

Saya hanya tertawa soal Sullivan di papan karton. Asal bukan koruptor atau penjahat HAM yang jadi idola.

Rabu lalu, di sekolah itu, Kafka terpeleset saat berolah raga. Tangan jadi tumpuan ke lantai secara refleks. Sikunya kemudian bermasalah. Sakit jika diluruskan.

Pagi tadi, kami ke dokter ortopedi. Dirontgen. Ada retak sedikit tapi tak sampai geser atau dislokasi. Perasaan lega segera menghampiri.

Untuk seminggu ke depan, Kafka tak boleh menyentuh drum. Tangannya harus istirahat untuk pemulihan. Arm sling jadi teman yang hanya boleh ditanggalkan saat mandi.

Jeda adalah koentji!

adil

Alkisah, terjadi tawuran antara anak-anak SMA 6 versus SMA 70 Jakarta (ini sekolah saya…hehe…). Ada satu mobil yang parkir di GOR Bulungan, isinya anak-anak 70. Mereka turun dan buka bagasi. Ternyata bagasi memuat batang-batang bambu buat tawuran. Saat bambu dibagi-bagi, Mas Bawor Prayitno melihat dan murka.

“Jangan pernah bagi-bagi senjata di sini. GOR ini kawasan netral, kawasan damai. Boleh berantem di jalan tapi begitu masuk harus lupakan perkelahian!” ujar aktor teater itu kepada mereka.

Entah sejak kapan dia berkegiatan di GOR Bulungan, yang pasti GOR adalah ‘rumah’ buat pria asal Purwokerto tersebut. Selain pegiat teater, dia juga sensei alias guru aikido.

Cerita lain. Seorang pedagang minuman ditegur Mas Bawor. Gara-garanya, di samping gerobak dia ada tripleks besar bertuliskan: tempat itu markas anak-anak dari sekolah tertentu. Pedagang itu pun disemprot Mas Bawor. “GOR ini untuk siapa saja, mereka bebas beraktivitas di sini selama tertib. Nggak ada markas-markasan, nanti ada rajanya segala lagi,” ujar Mas Bawor.

Mas Bawor menyodorkan pilihan buat pedagang itu, hapus tulisan atau dibakar tripleksnya. Sang pedagang memilih menghapus.

Saya kutip dua kisah di atas dari status Mas Bawor di Facebook. Untuk sesaat saya membeku dan terharu ketika membacanya kemarin pagi. Lalu teringat definisi “adil” yang disampaikan pak guru di sekolah dasar dulu, yaitu “letakkan sesuatu pada tempatnya.”

Sehat selalu, Sensei. Salam hormat dari Cinere.

hidup di luar tempurung

Tiba juga saat itu. Anak yang belasan tahun bersama kini harus meninggalkan rumah, pergi menempuh hidup di kota lain. Tempat barunya berjarak hampir 800 km dari kami, di Surabaya.

Ini bukan momen biasa. Tak heran jika ada sesak di dada. Tapi saya telah coba bersiap sejak beberapa bulan lalu. Sebab Havel memang telah memperlihatkan sikap untuk memilih sekolah bukan di Jakarta dan sekitarnya.

It’s okay. Saya juga dulu merantau saat kuliah. Orang tua di Jakarta, saya melanglangbuana di Bandung. Namun Bandung hanya sepelemparan batu dari rumah. Sebulan sekali pulang.

Surabaya lumayan jauh. Tak bisa dia pulang saban bulan. Kami tak berlimpah duit.

Sebaliknya, berlimpah manfaat merantau yang bisa direguknya. Hidup nyaman di rumah segera digantikan dengan sejumlah ‘ketidakpastian’. Namun itu niscaya penting dalam proses pematangan diri.

Havel juga akan melihat dunia yang jauuuuuh lebih luas. Bakal punya perspektif yang lebih kaya karena hidup di zona berbeda dengan sebelumnya. Maka, semoga dia mudah mekar menjadi pribadi yang toleran, adaptif, dan rendah hati.

Apakah ada orang tua yang melarang anaknya merantau? Dari pengamatan saya, cukup banyak. Kira-kira alasan utamanya seragam: cemas dengan pergaulan sosial.

Mustahil dia selamanya hidup dalam ‘tempurung’ bersama keluarga.  Dengan keluar, dia belajar menata banyak hal, tak lagi berkutat dalam ‘supervisi’ kami. Kepercayaan penting diberikan. Bahwa ada risiko ini dan itu, mitigasi dan antisipasinya memang kudu disiapkan.

Si anak yang jadi pusat kepedulian. Maka, ketika pengumuman kelulusan terbit, saya cek, “Kamu senang diterima di ITS?”

Bagaimanapun, ITB yang menjadi pilihan pertamanya. Luput, bukan jodohnya. Karena itu pertanyaan di atas layak dilontarkan.

“Senang dong,” jawabnya dengan air muka cerah. Dia bukan tipe ekspresif. Jadi cerahnya wajah sudah lebih cukup bagi saya.

Sebelum Havel terbang ke Surabaya, saya juga minta dia menghubungi kakung-nya. Minta restu. Mata saya hangat saat Havel menunjukkan pesan Whatsapp dari bapak saya itu — jawaban atas permintaan restu.

Bapak saya sangat menyayanginya. “Kakung mau kok menemani waktu Havel ospek,” kata ibu, beberapa bulan silam. Saya teringat, ketika Havel berusia dua atau tiga tahun, kakung sering mengajaknya ke Toko Surya untuk membeli mainan.

Tempuhlah fase ini, Nak. Doa kami menemanimu.

Catatan: judul saya pinjam dari terjemahan memoar Ben Anderson.

depok baru – duren kalibata

“Stasiun berikutnya, Duren Kalibata.”

Suara perempuan dari pengeras suara itu membuat saya beringsut perlahan.  Menerobos sejumlah orang di dekat pintu. Harus perlahan, atau akan membuat mereka tak nyaman, seraya mengucap, “Permisi…”

Empat hari kemarin saya jadi penumpang commuter line Jakarta-Bogor. Berangkat dari Stasiun Depok Baru, turun di Stasiun Duren Kalibata. Pada malam hari, saya menempuh arah sebaliknya.

Saban mau turun di perjalanan pagi, secuil rasa cemas menyergap. Kereta sangat penuh. Sebagai gambaran, kita tak bisa merentangkan tangan ke depan atau ke samping tanpa menyentuh orang lain. Tak bisa, bahkan setengah tangan pun.

Nah, di setiap stasiun,  kereta berhenti sebentar saja. Hanya sekitar satu menit. Jika terlambat keluar, pintu tertutup dan kita harus terbawa ke stasiun berikutnya. Tanpa ampun!

Di sana, mustahil kita tak bersentuhan. Juga dengan lawan jenis. Kaum pengusung segregasi jenis kelamin seharusnya protes keras. Cuma, biasanya, dua gerbong di ujung kereta dikhususkan untuk kaum Hawa.

Pada Jumat kemarin, kereta berangkat dari Depok Baru pada pukul 06.39. Tiba di Duren Kalibata pada pukul 07.16. Sangat cepat untuk ukuran Jakarta. Jarak kedua tempat itu sekitar 18 kilometer. Ingat, jalur itu melewati kawasan Lenteng Agung-Pasar Minggu yang tersohor kemacetannya.

Saya belum pernah merasakan kepadatan yang sama pada MRT Jakarta. Bahkan pada jam-jam sibuk. Saya hanya punya satu dugaan: harga tiket MRT membuatnya secara otomotis membatasi zona ekonomi pengguna. Berbeda dengan commuter line yang jauh lebih murah.

Situasi commuter line pada Sabtu pagi.

Pada Sabtu pagi, situasi lebih manusiawi. Kereta tak sepadat Senin sampai Jumat. Namun, kalau naik dari Depok Baru, tetap jangan berharap untuk duduk–kecuali Anda sudah terlihat sangat sepuh.

Ini jelas moda transportasi yang tidak bersahabat dengan para kaum difabel.  Bagaimana bisa mereka mengejar ‘kecepatan’ pintu yang segera menutup itu?

Ini khas Jakarta? Tidak. Kalau menggunakan subway train di Tokyo, situasi umpel-umpelan juga mudah Anda pergoki pada jam-jam sibuk. Bahkan para petugas lazim mendorong masuk para penumpang agar pintu bisa ditutup.

Bagaimana pun, perkeretapian Indonesia sudah jauh membaik. Ignasius Jonan punya andil besar dalam mengubahnya ketika menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Mulai dari 2009 itu, tak ada lagi penumpang yang merokok, pedagang berseliweran di gerbong, dan penumpang di atap. Ketepatan waktu perjalanan juga bisa diandalkan. Dan seterusnya.

Soal kepadatan, lain cerita. Maka, ketika suara perempuan itu terdengar, saya bergerak dengan semacam rasa cemas. Saya tak mau terbawa sampai Stasiun Cawang.

rok mini dan media sosial

Hanya delapan baris. Pesan pengirimnya, Lela, terang-benderang: kontes rok mini itu mengekspos aurat wanita.  “Apalagi ketua tim juri adalah Titiek Puspa, penyanyi terkenal, hajjah, dan anggota MPR,” tulis Lela yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Protes ini disampaikan ketika belum ada media sosial. Dimuat di rubrik surat pembaca TEMPO edisi 17 September 1988. Saya menemukannya saat ngabuburit di Blok M Square di lapak-lapak bacaan lawas.

Lela dan teman-temannya tak punya banyak keleluasaan. Hanya ada media massa arus utama: koran, majalah, radio, dan televisi.  Para pengelola memasang filter ketat dalam memilah dan memilih konten. Kita abaikan pertimbangannya — mungkin politis, entah ekonomis. Yang pasti  tak gampang bagi ‘nobody’ seperti Lela untuk bersuara dan didengar publik.

Itu sebabnya hadir  kebanggaan tersendiri jika seseorang bisa menembus halaman opini Kompas. Ah, jangankan Kompas, dimuat di Pikiran Rakyat saja membuat penulisnya seperti punya hak menepuk dada.

Bahkan sekadar mengirim surat pembaca, belum pasti dimuat. Mesti bersaing dengan ribuan surat lain. Antre atau dibuang ke keranjang sampah. Jika dimuat, usianya hanya sehari. Besok ada surat-surat lain. Jangan bayangkan pesan itu menjadi viral. Nyaris tak pernah ada.

Lupakan menulis kolom di TEMPO. Karena hampir semua merupakan tulisan pesanan redaksi. Mereka yang dipesan pun hanya nama-nama tenar di jagat penulisan: Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Ong Hok Ham, atau Mahbub Djunaidi.

Saya membayangkan, jika kontes rok mini digelar hari ini, bisa dipastikan bakal jauh lebih riuh. Pro dan kontra meruyak. Pemrotesnya tak akan mengirim surat pembaca ke TEMPO atau Kompas. Tapi dia akan mengunggah ke media sosial, dilengkapi eflyer acara, dan ngetag sejumlah pihak. Tak perlu filter dari redaksi. Pun tak butuh antre – kelar ditulis, dalam hitungan detik langsung tersebar.

Usia pesan bukan hanya sehari. Bisa berhari-hari, bahkan sepekan. Berkat tombol share, pesan menjangkau sangat banyak orang di seluruh penjuru dunia. Berlipat ganda daya tekannya.

Pihak yang pro juga demikian, bakal mengeluarkan argumentasi-argumentasi. Debat tergelar, hiruk-pikuk mewarnai linimasa kita.

Demokratisasi informasi? Iya. Selamat tinggal ‘mercusuar opini’ yang dikekalkan media massa? Iya. Kehadiran blog beberapa tahun sebelumnya menjadi pembuka jalan menuju itu semua.

Tunggu dulu. Ini hanya satu sisi dari sekeping uang logam. Satu sisi lainnya sungguh mencemaskan. Media sosial membuat hoaks mudah sekali bergulir dan menyebar. Saya sendiri tak mendukung delik pencemaran nama baik. Enyahkan saja itu dari hukum positif kita — subjektif dan bersifat ‘karet’. Tapi beda dengan kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Kita menengok sebentar ke Myanmar. Penyelidik HAM dan tim investigasi PBB untuk kasus Rohingya menyebut Facebook diduga memiliki andil dalam terciptanya kerusuhan dan persekusi yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan lebih 650 ribu orang mengungsi dari Rakhine pada 2017 lalu.

Tim investigasi menggarisbawahi: Facebook sangat populer di Myanmar dan membuatnya jadi saluran utama penyebaran ujaran kebencian yang menyasar kelompok Rohingya.

Myanmar hanya contoh. Di balik berkah media sosial, ada potensi musibah. Celakanya, musibah itu mustahil dikategorikan ‘enteng-entengan.’ Sedih sekali, misalnya, menonton video seorang anak muda yang bilang ingin memenggal kepala Jokowi. Juga kasus-kasus penyebaran kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian lain di media sosial.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk membikin media sosial lebih sehat. Sejak 2018, Facebook mengembangkan program fact-checking untuk teks, lalu berlanjut untuk foto dan video. Tapi belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh.

Bu Lela sendiri tak jauh dari usia 50 tahun kini. Barangkali punya akun media sosial. Jika punya uneg-uneg, mudah sekali menyampaikannya. Ia tak perlu lagi mengirim surat pembaca ke TEMPO dan lama menanti. Tak cuma delapan baris, boleh sesuka hati.

* Setelah diunggah, tulisan ini beberapa kali disunting. Terakhir pada Senin 3 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.

perjalanan dan ketidakterdugaan

Ketidakterdugaan. Perjalanan liburan lebaran kemarin membawa kami dalam sejumlah ketidakterdugaan. Justru ketika menggunakan teknologi untuk menghalau spekulasi.

Menjelang tengah malam, mungkin di sekitar Kebumen, aplikasi waze mengarahkan untuk mengambil jalanan kampung. Memisahkan diri dari jalan raya.

Arus balik lebaran menyebabkan laju lalu-lintas tersendat. Pun di arah sebaliknya. Kami berangkat dari Pangandaran menuju Jogja.

Roda-roda lalu menggilas aspal kasar. Saat itu giliran istri saya, Raya, yang mengemudi. Saya jadi navigator.

Rumah-rumah pedesaan Jawa terlihat di kiri dan kanan. Lampu-lampu menyala. Hanya sedikit warga yang terlihat. Sisanya boleh jadi telah mengarungi langit mimpi — seperti juga dua bocah di kursi belakang.

Di satu titik, jalanan ternyata sedikit menanjak. Di ujung, terbentang rel kereta api.  Gelap merundung karena hanya persawahan mengurung. Tiba-tiba, persis di rel, kendaraan terhenti. Tak bergerak meski pedal gas telah diinjak. Ada apa ini?

Saya memutuskan turun, mencari tahu. Oh, ternyata ada batu lumayan besar, mengadang laju ban kanan depan. Saya pun meminta Raya untuk memundurkan mobil dan menggeser stir ke kiri.

Wuuss…kami pun lepas dari ketegangan sesaat. Sempat mampir pikiran bagaimana kiranya jika saat itu ada kereta melintas.

***

Aplikasi seperti waze ini mungkin seperti kompas pada beberapa abad silam. Kompas membuat manusia berani menjelajahi belahan dunia lain, tak perlu lagi cemas bagaimana cara kembali ke rumah. Ketidakpastian dilawan dengan teknologi.

Konon, bersama mesin cetak dan mesiu, kompas menjadi bekal penting era renaissance, pintu gerbang abad modern yang membebaskan manusia (baca: manusia Eropa) dari kungkungan otoritas lama.

Jika tak ada kompas, susah membayangkan Christopher Columbus bisa meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai perjalanannya. Maka berlayarlah Nina, Pinta, dan Santa Maria pada Agustus 1492.

***

Ketidakterdugaan berikut hadir saat ingin ke Candi Prambanan. Titik berangkat adalah kawasan Mangunan, Bantul. Di waze sudah diketik: Prambanan.  Let’s go

Kami diarahkan ke jalan Jogja-Solo. Ya, masuk akal. Tapi kemudian diminta keluar dari jalan raya, masuk ke pedesaan. Ah, siapa tahu ini rute tercepat.

Panorama indah memanjakan mata. Petang telah datang.

Kok jalanan makin kecil. Kalau dua mobil berpapasan, ngepas banget. Mulai tumbuh ragu. Di sebuah pertigaan, keraguan mengeras. Kepada seorang warga, kami pun bertanya, “Nuwun sewu, Mas. Ini jalan menuju Candi Prambanan?’

“Oh bukan, tidak lewat sini,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

Matahari sudah redup. Kami bertanya-tanya apa yang salah. Usut punya usut, kami hanya memasukkan “Prambanan” di waze. Padahal seharusnya “Candi Prambanan.”

Prambanan merupakan juga nama kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang menggunakan nama tersebut. Satu di Sleman, satu di Klaten. Keduanya bersisian. Candi Prambanan ada di Klaten.

Lakukan perjalanan. Maka, kita bakal kian yakin bahwa hidup adalah himpunan ketidakterdugaan meski telah dibantu teknologi.

 

 

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.

 

bis membawa kami pergi

Afrizal Malna, pada 1985, menulis puisi berjudul “Bis Membawa Mereka Pergi.” Kala itu Orde Baru lagi di puncak. Pertumbuhan ekonomi diburu, tapi korupsi mulai menular seperti virus yang mematikan.

Afrizal menulis: Dengan bis yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah tanpa listrik itu. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di sepanjang jalan. 

Ya, sejak beberapa pekan lalu, saya pindah moda transportasi. Kini mengandalkan Transjakarta untuk menuju dan pulang dari kantor. Dengan ojek online sebagai pendamping.

Asyik juga ternyata. Bisa melaju dalam dekapan hawa sejuk. Sementara kemacetan membekap ribuan mobil di luar, bus kami meluncur (relatif) leluasa.

Saya teringat beberapa teman, para pengendara mobil pribadi, yang sinis dengan Transjakarta. Buat mereka, tak ada hak untuk memperoleh jalur khusus. Ah, kelas menengah ngehek jangan sering-sering didengar. Kebijakan publik mesti berpihak pada orang banyak atau kemacetan akan semakin gila.

Para penumpang memang asing satu sama lain. Nyaris tak pernah bertegur sapa. Paling banter “permisi…” ketika hendak turun dan menguak tubuh-tubuh yang menghalangi. Mereka berkutat dengan gawai masing-masing.

Jika tak menggenggam gawai, mereka tertidur. Atau melamun – mungkin memikirkan cicilan rumah, anak yang harus masuk sekolah menengah, atau tetangga yang bikin resah.

Tabik untuk para pejuang itu, yang melangkahkan kaki untuk mencari rezeki. Tak banyak memang yang punya kemewahan bisa bekerja di rumah atau bebas dari “hukum besi” office hours.

O iya, saya tahu bahwa Seno Gumira Ajidarma konon pernah menulis begini, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Tapi, jika Anda tak korupsi, tak menyikut kolega, atau tak menjilat atasan sembari menginjak bawahan; hidup agaknya masih bisa dibanggakan. Masih ada kisah yang layak dibagikan ke anak dan cucu.

Termasuk soal mesti berdiri sepanjang perjalanan ke kantor di Transjakarta ketika pencuri uang rakyat duduk nyaman di jok empuk nan lembut sedan 3.000 cc.

hari tua pak jo

Mekanik bilang perawatan mobil butuh sekitar dua jam. Oke, saatnya cari sarapan meski terbilang telat. Menuju lantai dua Pasar Segar Cinere, ke lapak yang menyajikan nasi uduk, lontong sayur, dll.

Saya mengambil kursi plastik. Di sebelah, seorang ibu berkacamata menyantap nasi uduk.

Percakapan dua ibu pun lalu terdengar. Keduanya, saya taksir, sudah di atas 50 tahun. Agaknya telah saling mengenal lama.

“Pak Jo sakit,” kata ibu pembeli di sebelah.

“Iya lama gak ke sini. Kasihan sendirian,” balas ibu penjual di depan.

“Nanti sore anak perempuannya datang. Anak lelakinya jauh, di seberang,” ujar ibu pembeli sebelum melahap gorengan.

Saya teringat maraknya fenomena kodokushi di Jepang sejak beberapa tahun belakangan. Kodokushi merupakan istilah buat para orang tua yang hidup sendiri lalu meninggal dunia tanpa diketahui. Mungkin mereka punya anak tapi tinggal terpisah dan berjauhan.

Barangkali juga mereka memang melajang. Tumbuh tren sejak puluhan tahun lalu bahwa ada cukup banyak warga yang memilih tidak menikah. Biasanya punya teman kencan, tapi ya temporer. Lalu, memasuki usia 60 tahun, kebanyakan mereka mulai hidup sendiri.

pasar segar

Kematian baru terendus beberapa hari kemudian setelah “aroma” meruap ke hidung tetangga atau ada yang berkunjung dan tak ada jawaban saat pintu diketuk.

Di Jepang, lebih dari seperempat warga berusia di atas 65 tahun. Tak ada statistik resmi terkait kodokushi, namun diyakini sekitar 30.000 orang meninggal dunia dalam kesendirian per tahun.

Banyaknya kodokushi memicu profesi baru: mereka yang bertugas membawa jenazah, membersihkan kamar mendiang, dan mengamankan benda-benda peninggalan.

Para orang tua yang kesepian bukan khas Jepang. Di Inggris, fenomena ini sudah dianggap mengganggu. Karena itu, Januari 2018,  PM Theresa May menunjuk seorang pejabat setingkat menteri untuk menanganinya. Menteri Olahraga dan Masyarakat Sipil, Tracey Crouch, ditunjuk memimpin kementerian baru itu.

Di Inggris, diperkirakan 9 juta orang hidup dihantui kesepian. Ada yang selama beberapa pekan tak mengalami interaksi sosial. “Kesepian itu realitas menyedihkan di kehidupan modern,” ujar May.

Sambil menikmati lontong sayur, saya lanjut menguping.

“Ini apa?” kata ibu pembeli.

“Nah itu kue kesukaan Pak Jo, kue sus.”

“Minta lima deh. Buat Pak Jo dan anaknya. Pastel minta delapan.”

Saya tak tahu apa hubungan ibu pembeli dengan Pak Jo. Kemungkinan sih tetangganya.

Pak Jo dan hari tua yang sunyi…

 

sawarna

Malam masih muda saat kami memasuki Pandeglang, Banten. Jalanan cukup ramai sehari jelang tutup tahun itu.

Raya duduk di sisi saya yang menyetir sejak Jakarta. Dia jadi navigator dengan mengandalkan aplikasi Waze. Dua anak kami, Havel dan Kafka, duduk di belakang.

“Berapa kilo lagi ke Malingping?” kata saya.

“61 kilo lagi,” jawab Raya sambil menjenguk Waze di telepon genggamnya.

Kami berniat menginap di Malingping. Transit sebelum ke Pantai Sawarna, Lebak. Penjelajahan di Internet menyatakan, dianjurkan tiba sebelum malam di Sawarna. Mendekati pantai itu, jalan berkelok-kelok, naik turun, dan….rusak. Berisiko jika berkendara di malam hari untuk pertama kali.

Oke. Kami bersepakat untuk menginap di Malingping – “peradaban” terakhir sebelum Sawarna.

“Eh, Malingping kan kampungnya Arti. Mampir aja nanti ke rumahnya,” kata Raya tiba-tiba.

Arti adalah mantan asisten di rumah kami. Dia yang ikut mengasuh Kafka sejak lahir sampai usia setahun. Dari beberapa asisten yang datang silih berganti, Arti salah satu yang terbaik.

Dengan bensin penuh di tangki, saya tenang menginjak pedal gas. Di luar ekspektasi, kondisi jalan bersahabat: dicor mulus…luss.

Tapi kegelapan dan ketidaktahuan tentang medan membuat saya memilih main aman: tak berani menembus 40 km per jam.

Mendekati Malingping, kami menjumpai hutan dan perkebunan di kiri-kanan. Diam-diam terbit juga sedikit jeri di hati. Bagaimana jika ada gangguan di mobil? Lalu mogok… Saya telan perasaan itu, tak diungkapkan.

Tak sepenuhnya hutan. Setelah beberapa kilometer, kami bertemu juga dengan perkampungan. Satu-dua penduduk terlihat di pinggir jalan. Lantas hutan dan kegelapan lagi.

Kami pernah mengalami situasi yang mirip saat pulang ke Yogya dari Pantai Baron, Gunungkidul, beberapa tahun silam. Melaju di perbukitan, berkelak-kelok. Gelap menyungkup.

“Nyalakan lampu jauh aja,” ujar Raya.

Saya patuh meski merasa tak ada masalah dangan penglihatan di depan. Sesekali kami berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Lalu déjà vu. Pada tahun pertama kuliah, saya menemani Tony, adik kelas, yang harus survei lokasi untuk acara pelantikan anggota organisasi kami di Lebak. Tony mengendarai sepeda motor, saya membonceng. Berangkat dari Bulungan. Saya sedang libur.

Ya, juga menembus jalanan di hutan. Dalam gulita malam dan hujan saat perjalanan pulang. Kami basah kuyup. Tapi seingat saya, tak ada rasa takut. Saya malah sempat pipis di pinggir jalan karena kebelet.

Usia bertambah, rasa takut menebal.

 

PAGI TIBA. Kami bersiap, check out dari hotel yang kamar termahalnya hanya Rp 250 ribu per malam, dan meninggalkan Malingping.

Saya menyiapkan mental untuk menyetir ke Kecamatan Bayah di jalanan rusak.

Anak-anak riang, membayangkan bermain di ombak Sawarna, sekitar 50 kilometer di tenggara Malingping. Sebuah surga konon…

Ajaib. Perjalanan dilalui di beton dan aspal yang relatif mulus. Hanya terselip dua kilometer yang terbilang rusak: aspal kasar tapi tanpa lubang-lubang yang menganga. Pasti ada perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ruas Malingping-Bayah ini ternyata juga bukan tanpa sentuhan “peradaban”. Indikasinya satu: gerai Alfamart dan Indomart bertebaran.

Di gapura Bayah, saya teringat Tan Malaka.

Bayah pernah menjadi tambang batubara di zaman pendudukan Jepang. Para romusha dikerahkan untuk mengerjakan. Mereka datang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di kawasan pesisir selatan inilah Tan Malaka bekerja sebagai juru tulis. Ia datang ke Bayah pada Juni 1943 dan dikenal masyarakat sebagai Ilyas Hussein.

Dalam perjalanan, sekitar enam atau tujuh kilometer dari gapura itu, kami melintasi Pantai Pulo Manuk.  Pada masanya tempat ini seperti neraka. “Sedikit sekali di antara romusha yang bekerja di sana  yang tiada penyakit yang bisa membawa maut, seperti borok, disentri, dan malaria,” tulis Tan Malaka di memoarnya, Dari Penjara ke Penjara.

Makanan seadanya, obat-obatan sangat terbatas, dokter dan juru rawat hanya beberapa. Mayat-mayat hidup gampang ditemui di pinggir jalan. Demikian Tan Malaka bercerita.

Eksplorasi batubara di sana sudah direncanakan sejak awal abad ke-20 oleh rezim Hindia Belanda. Izin konsesi diterbitkan pada 1903 untuk sejumlah perusahaan swasta. Namun eksplorasi tak kunjung dilakukan. Kabarnya karena pasokan yang mencukupi dari Sumatera dan Kalimantan. Plus, kualitas batubara yang kurang baik.

Jepang punya pendirian lain. Kebutuhan perang mereka tinggi. Kualitas rendah tak mengapa. Maka eksplorasi pun akhirnya dilakukan.

 

SAYA HANYA sesekali menyentuh air. Namun dua anak saya nyaris tak mau beranjak dari gelombang dan ombak. Surga memang…

Seraya menatap kaki langit di kejauhan, saya merenungi perjalanan pada 2017. Pada tahun itu keputusan penting ditempuh. Tidak dengan mudah.

Laut selatan di hadapan. Gelombangnya tinggi, berbahaya, tapi indah. Konon demikian juga kehidupan.