sore bersama rusdi

“Aku ngetik dengan satu jari, Yus,” kata Rusdi Mathari. Ia memperagakan. Tangan kiri memegang telepon genggam, jempol kanan beraksi di keyboard.

Sore kemarin, atas inisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), puluhan teman datang ke rumahnya di Srengseng Sawah, di tepi Setu Babakan. Mengguyurkan semangat, memanjatkan doa. Tiga hari lalu, Rusdi genap setengah abad.

Ia mengaku pernah mencoba mengetik dengan laptop. “Tapi nggak sinkron antara mata dan jari,” lanjut dia. Sesaat saya berniat mengejar soal ketidaksinkronan itu namun batal. Jurnalis senior ini sedang sakit. Kanker.

Sebelum sakit, ia terbilang ceking. Kini nyaris tak bersisa daging. Selembar selimut menutupi tubuhnya.

Rusdi mengaku sedang menyusun novel tentang sakitnya. “Ini novel tanpa dialog,” kata dia. Rusdi tak berubah: tetap bersemangat ketika bicara.

Serpihan-serpihan calon novel tersebut mulai muncul di Mojok.co, situs yang “sedikit nakal, banyak akal” itu.

“Ketika sakit begini, aku jadi tahu, banyak orang sayang sama aku,” lanjut anak Situbondo ini. Penyakit membuatnya sekarang hanya bisa berbaring di ranjang. Lima ruas tulang di punggung hancur dilumat kanker.

Ia berkisah, saat di rumah sakit selama 10 pekan, banyak yang datang membesuk. Beberapa bahkan tak dikenalnya secara pribadi. Beberapa yang lain rutin mengirim uang.

Rusdi juga bercerita tentang sebuah kelompok media yang kerap memberi proyek penulisan. “Mereka enggak pernah lupa dengan para ronin, kecuali orang-orang yang mereka anggap pengkhianat,” ujarnya sambil terkekeh.

Tak cuma itu. Beberapa anak muda, yang belajar menulis darinya, bergantian menemani di rumah sakit. Ia adalah guru yang tak dilupakan para cantrik. Padahal, ia terkenal keras, nyaris tanpa kompromi. Konon demikian beberapa anak muda memberi testimoni.

Kami pernah sekantor. Sejumlah reporter menghindari Rusdi — terutama jika baru saja membuat laporan asal jadi. Meja saya tak jauh dari dia. Saya ingat beberapa reporter yang menunduk saat ditegur redaktur kurus, yang kerap bersarung dan mengisap Dji Sam Soe itu.

Ayah satu anak ini juga esais yang “tajam”. Tulisannya biasa menguliti sebuah masalah  dan sosok tanpa tedeng aling-aling. Mudah bikin panas kuping yang dibahas.

Sore kemarin, saat kami berbincang, seorang pria masuk. Bersama dua anak perempuan kembarnya — taksiran saya, 10 atau 11 tahun usia mereka.

“Halo, Cak…Ini anak saya, mereka pembaca tulisan-tulisan sampeyan, yang terkumpul di Aleppo,” ujar tamu berkacamata itu. Rusdi tersenyum lebar.

Api tak pernah padam dalam dirinya.

sepotong danau, sejumlah cerita

“Kalau kita mancing, mungkin dapat mayat,” ujar Kafka saat menginjak bentangan beton mirip dermaga. Saya tertawa getir. Imajinasi anak sepuluh tahun ini kerap tak terduga.

Dari tempat kami berdiri, puncak gedung rektorat terlihat dan deru kereta terdengar. Perpustakaan Pusat UI, yang sedang direnovasi, menjulang di belakang.

Kami tiba menjelang petang di tepi danau. Angin sungkan menghamburkan diri. Tapi temperatur lumayan bersahabat. Mungkin lantaran kehadiran pepohonan yang menghijaukan lingkungan ini, kampus UI Depok.

Ini kali kedua saya mengajak anak-anak ke sana. Yang pertama, minus ibu mereka yang lagi menghadiri halal bihalal di Bandung. Kemarin komplet berempat.

Pada kunjungan pertama, saya memang bercerita soal kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa UI yang ditemukan di danau itu dalam kondisi tak bernyawa. Hingga kini kasus kematiannya belum terpecahkan.

Pandangan beralih ke titik lain, lokasi Taman Melingkar berada. Sebuah pohon besar tegak di tengah taman. Undak-undakan semen melingkari dan galib berfungsi sebagai tempat duduk.

Enam tahun silam, juga pada September, saya datang ke sana. Diskusi + pentas musik digelar di Taman Melingkar. Jakartabeat.net, yang didirikan sohib saya, Philips Vermonte, menjadi salah satu pihak yang membikin acara. Nama acaranya puitis: Muara Senja.

Sebelum pertunjukan musik, diskusi dilangsungkan. Temanya “Musik dan Kritik Sosial”. Jika tak keliru mengingat, dosen filsafat UI, Tommy F Awuy, juga hadir sebagai salah seorang pembicara.

Selanjutnya, giliran musisi yang tampil: Bangku Taman, Payung Teduh, Risky Summerbee & the Honeythief, dan sejumlah band indie lain.

Di acara tersebut, saya berjumpa para mahasiswa pintar yang hari ini sudah jadi penulis kesohor: Nuran Wibisono, Arman Dhani, Ardyan Erlangga. Jakartabeat jadi tempat mengasah kemampuan menulis. Mereka menempuh ratusan kilometer untuk sampai di Depok.

Ya, di tepi Danau UI saya pertama kali menonton langsung kelompok yang menyedot banyak respek: Efek Rumah Kaca. Ketika band indie itu tampil, sebagai pemuncak acara, gelap telah berkuasa. Hadirin ramai dan bergairah. Kebanyakan belia.

Pada malam itu, saya bersaksi, Cholil Mahmud bukan hanya propagandis yang piawai, melainkan juga penyanyi yang keren.

Sore kemarin tak ada musik yang menggelegar. Juga tak ramai pengunjung. Perpustakaan Pusat UI tutup. Gerai Starbucks Coffee di dalamnya ikut meliburkan diri. “Wah, gak jadi aku minum coklat,” kata Kafka dengan masygul.

Ketika kunjungan pertama, kami mampir ke kedai kopi tersebut. Kafka memesan coklat dingin — entah apa namanya. Eh, dia suka.

Saya belum bercerita soal Starbucks yang memantik kontroversi terkait beberapa hal. Terakhir, ada kampanye untuk memboikot karena pengelola Starbucks dianggap mendukung LGBT.

Masih banyak waktu untuk dihabiskan bersama, untuk berbagi cerita.

najwa shihab: pemandu cerita di layar kaca

“Jadi ada tekanan tertentu yang diberikan oleh pimpinan DPR ke Menteri Keuangan?” kata Najwa Shihab.

“Ya,” ujar Wa Ode Nurhayati, anggota  Badan Anggaran DPR dan anggota Komisi Energi dan Lingkungan Hidup DPR dari Fraksi PAN.

“Saya ingin minta lagi ketegasan. Khusus kasus ini, penjahatnya pimpinan DPR, pimpinan Banggar, Menteri Keuangan, atau siapa?”

“Kalau….tiga-tiganya kayaknya, Mbak.”

“Tiga-tiganya penjahat…Jadi yang banyak bermain itu pimpinan?”

“Ya.”

Percakapan di atas muncul di Mata Najwa edisi  25 Mei 2011 di Metro TV.  Dua hari kemudian, Ketua DPR Marzuki Alie melaporkan Wa Ode Nurhayati ke Badan Kehormatan DPR.  Marzuki merasa tersinggung dengan ucapan Wa Ode.

“Saya meminta yang bersangkutan (Wa Ode) dipanggil, diperiksa untuk membuktikan statement-nya,” kata Marzuki melalui pesan singkat kepada para wartawan, “Bila yang bersangkutan tidak bisa membuktikan ucapannya, maka saya minta agar diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Ini bisa dikategorikan kejahatan IT.”

Pada awal Juli 2011, Badan Kehormatan DPR bergerak. Wa Ode diperiksa. Seusai diperiksa BK, Kamis, 7 Juli, Wa Ode mengatakan, “Mungkin saksi-saksi akan dipanggil, termasuk Mbak Najwa karena ini terkait kalimat penjahat kan,” ujarnya. Dalam pemeriksaan hari itu, politisi PAN ini menegaskan kepada anggota BK bahwa bukan dirinya yang mengucapkan frase “penjahat anggaran” yang kemudian membuat pimpinan DPR berang.

Pada sebuah siang, di sebuah kafe di Senayan City, Jakarta, saya bertanya ke Najwa, ““Soal kata penjahat, itu disengaja?”

“Saya sengaja memilih diksi ‘penjahat’…kita terlalu bermanis-manis dengan white collar crime. Padahal mereka memang melakukan kejahatan anggaran. Angle wawancara juga ingin memperlihatkan betapa bobroknya sistem anggaran di DPR.”

Saat itu, Najwa mengenakan kardigan hitam dan blus coklat. Ia baru saja menyelesaikan makan siang: seporsi salad. Wajahnya nyaris tanpa pulasan kosmetik.

***

Pada 2008, Metro TV mulai mendorong para presenter senior untuk membuat program acara dengan mengusung nama dan karakteristik diri sendiri. Ini tak lepas dari keberhasilan Kick Andy yang dikelola Andy F. Noya.  Najwa juga salah satu yang diminta. Namun, saat itu, ia harus berangkat ke Australia untuk meraih gelar master bidang hukum di Universitas Melbourne. Saat ia kembali, suhu politik mulai memanas seiring kian dekatnya pemilihan presiden 2009. Najwa menjadi salah satu andalan dalam acar-acara terkait momen tersebut. Program miliknya kembali tertunda.

Nama Mata Najwa diusulkan Sjaichu, produser Todays Dialogue. “Saya sebenarnya gak pede dengan nama itu,” kata Najwa. Lalu, dibuat beberapa focus group discussion (FGD) untuk dengan sejumlah pihak untuk menimba masukan.  Untuk menghindari bias, Najwa tak hadir. Saat ditanyakan: apa yang langsung teringat dari seorang Najwa Shihab? Beberapa menjawab: matanya.  Nama itu pun disepakati dan edisi perdana mengudara pada Rabu, 25 November 2010.

Terkait karakter acara, program talk show ini tak beranjak jauh dari politik dan hukum yang selama ini menjadi bidang liputan Najwa. “Akar saya politik, jadi lebih banyak seputar isu itulah topik Mata Najwa,” kata perempuan yang akrab disapa Nana itu.

Di awal, sempat terlintas untuk dibuat agak ringan bisa meraih atensi pemirsa muda. Maka, ada segmen parodi dengan mengundang penulis dan komedian, Raditya Dika. Tapi, setelah beberapa episode, dirasakan tidak cocok. Orang merasa, ini bukan Najwa. Sejak itu, program ini diberi watak “serius.”

Meski sejatinya disiapkan untuk mengangkat isu-isu actual, Mata Najwa  juga kerap diisi dengan episode bernafas sejarah. “Ini untuk variasi tema dan kepentingan stok tema. Juga selama ini di Indonesia belum ada documentary talk show,“ ujar Najwa. Tema sejarah yang dipilih selalu dikaitkan dengan situsi terkini. Misalnya, saat meruyak pro-kontra mengenai gaji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selama tujuh tahun terakhir tidak pernah naik, Mata Najwa mengangkat persoalan serupa di masa lalu pada edisi “Sang Negarawan,” 2 Februari 2011. Diundang untuk bicara putri Bung Hatta, Halida; putri Bung Karno Sukmawati; sejarawan Bonnie Triyana, dan jurnalis TEMPO Arif Zulkifli.

Jabatan Najwa adalah program owner atau executive produser. Ia membawahi tujuh anggota tim: dua produser, dua reporter, dua staf produksi, dan  satu reporter.

Salah satu ciri khas Mata Najwa  adalah kehadiran “Catatan Najwa” yang merupakan komentar atau perspektif dari Najwa selaku program owner terhadap topik yang diangkat pada akhir acara. Segmen ini muncul dalam bentuk narasi Najwa disertai running text. “Ini semacam editorial kecil. Terkadang saya yang nulis atau produser. Tapi, sentuhan akhir di tangan saya,” kata Najwa. Satu hal yang gampang diingat: “Catatan Najwa” ditulis dengan kepekaan bahasa untuk juga enak didengar.

Sebagai sampel, mari simak “Catatan Najwa” episode “Mesin Kuasa,” Rabu  20 Juli 2011:

DI ERA REFORMASI/ PARTAI LAMA MATI SURI/ DI TENGAH KEMISKINAN IDEOLOGI/ SERTA GELAPNYA DINDING NURANI POLITISI//

PARTAI/ AGEN TUNGGAL POLITIK FORMAL/ TERGUSUR OLEH HUKUM BESI OLIGARKI// POLITIK ELIT MEMBELENGGU PARTAI/ SEBATAS ARENA DAGANG SAPI/ DAN LADANG KORUPSI//

BUKAN HANYA POLITISI/ TAPI PARTAI JUGA GAGAL KOREKSI DIRI// PATRONASE SEBANGUN DENGAN POLITIK UANG/ KONSTAN MEMBUAT MANDEG KOMPETISI DAN REGENERASI//

PATRONASE DAN PERSONALISASI FIGUR/ MEMBENAM PARTAI MAKIN JAUH DARI TRANSPARAN DAN  PEMERINTAHAN YANG BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN//

KALAU BETUL DEMIKIAN/  VOX DEI/ VOX POLITISI// SUARA RAKYAT/ VOX POPULI/ SUDAH TAK NYARING LAGI/

Sudah berbilang episode digelar, salah yang paling berkesan adalah “Jakarta Menagih Janji, 13 Oktober 2010. “Saya dapat kritikan dan pujian saat mewawancarai Foke. Saya agak keras di sana,” Alkisah, sudah tiga tahun Fauzi Bowo alias Foke duduk sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, persoalan klasik ibukota seperti kemacetan dan banjir tak kunjung tertanggulangi.

Beberapa pekan dibutuhkan untuk membujuk Foke agar mau datang ke Mata Najwa.  Sambil menunggu, Najwa melakukan riset sangat serius—lebih serius ketimbang episode lain. Bahkan, ia juga memelototi sejumlah peraturan daerah DKI Jakarta.  “Sejak awal, saya mau berperan sebagai devil’s advocate. Rasa frustrasi orang Jakarta mau saya sampaikan,” kata Najwa

Menjelang pilkada DI Jakarta 2007, Najwa memandu debat kandidat Gubernur DKI Jakarta yang mempertemukan pasangan Foke-Priyanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar. Diselenggarakan oleh KPUD DKI Jakarta, acara itu disiarkan secara langsung oleh Metro TV dan Jak TV. Najwa terpilih sebagai pemandu setelah menyisihkan sejumlah presenter lain yang diseleksi KPUD DKI Jakarta.

Najwa langsung tancap gas sejak awal, “Kami menuntut…menagih janji Anda. Ketika kampanye tiga tahun lalu, Anda mengklaim sebagai ahlinya.  Setelah tiga tahun berlalu, tidak ada gebrakan nyata yang dilakukan Anda sebagai gubernur.  Kami menuntut janji Anda, Pak Gubernur.”

“Saya tidak pernah mengklaim bahwa saya ahli segala-galanya. Tidak ada dalam statement saya.  Sedikit pun. Yang jelas, saya sebagai pimpinan, harus mengusahakan ahli yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada di Jakarta,” kata Foke dengan tenang.

“Saya ingin kita fokus ke masalah kemacetan Jakarta yan semakin menggila, Pak Gubernur.  Ada yang menilai, apa yang Anda lakukan baru sebatas rancangan konsep, baru sebatas melakukan pengkajian tapi belum ada yang betul-betul terlihat nyata hasilnya.”

“Jakarta ini, kita tahu,  memang sebagai kota…ibaratnya sebagai pasien yang sakit. Dan, sakit itu bukan dimulai saat saya menjadi gubernur. Tapi sudah sakit sejak beberapa saat yang lalu. Contoh yang Anda sebut tadi, yaitu kemacetan, adalah symptom yang secara kasat mata dirasakan seluruh masyarakat Jakarta.  Bukan hanya orang Jakarta di luar rumah saya. Anak saya pun ngomel mengenai masalah kemacetan ini…”

Usai acara, salah seorang staf Foke menelepon dan marah-marah. Rupanya ia tak terima sang bos dicecar sedemikian rupa. Foke sendiri tak mengajukan protes atau keberatan.

“Anda memang sering eksplisit menyatakan keberpihakan, ya?” kejar saya.

“Tak ada yang salah dengan keberpihakan. Apalagi jika menyangkut kebijakan publik. Kalau tidak, what do you stand up for? Sebagai jurnalis, kita mengetahui demikian banyak fakta. Mustahil gak punya opini. Selama tetap memberikan kesempatan bicara pada pihak yang berbeda, itu sah-sah,” kata Najwa.

Terkait respons pemirsa, salah satu episode yang banyak memantik reaksi adalah “Tafsir Poligami. Di episode itu, Mata Najwa menghadirkan pelaku-pelaku poligami di Indonesia. Salah satunya adalah Puspo Wardoyo, pengusaha kuliner yang juga pelaku poligami dengan empat istri dan menjabat Presiden Poligami Indonesia.

Situs salingsilang.com mencatat, linimasa Twitter  pada Rabu, 23 November 2011 malam, ramai membahas poligami. Pemicunya adalah tayangan Mata Najwa di tanggal tersebut.  Salingsilang.com adalah sebuah situs yang menyajikan informasi terkini tentang apa yang tengah ramai diperbincangkan di Internet, khususnya di berbagai kanal sosial media di Indonesia. @jeckodephe, misalnya, menulis, “Nara sumber mata najwa: “kalo poligami namanya bukan cerai, tapi mengundurkan diri” lu kata jabatan wkwkwkw”. Atau, @bulanjelita yang berkicau, “geleng kepala nonton mata najwa…di poligami ada namanya reshuffle istri *senewen berat*”

Belum setahun menjumpai pemirsa, Mata Najwa telah mendulang sejumlah penghargaan.  Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganugerahkan KPI Award 2010 untuk episode “Separuh Jiwaku Pergi” yang tayang pada Rabu, 30 Juni 2010. Episode ini memaparkan kisah cinta mantan Presiden BJ Habibie dengan mendiang istrinya,  Ainun Habibie. “Padahal episode itu bukan tipikal Mata Najwa,” kata sang mepunya program. Maksudnya, bukan mengangkat tema politik atau hukum yang sedang mencuat. Bukan pula mengusung tema sejarah.

Lau, Mata Najwa sebagai program acara diganjar penghargaan sebagai program talk show inspiratif 2011 versi Dompet Dhuafa. Penyerahan penghargaan berlangsung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 13 Agustus 2011. Organisasi nirlaba itu menilai, “Program ini menyajikan “gaya” yang berbeda dari program talk show lainnya. Mengangkat tema-tema yang unik di bidang sosial, politik, kemasyarakatan. Sebagai sebuah tayangan, “Mata Najwa” yang dipandu oleh Najwa Shihab ini dikemas dengan santai, tak menggurui, dan menggelitik….Tayangan ini sangat menyentuh dan sangat baik sebagai wahana meningkatkan kepedulian dan sebagai penambah wawasan penonton.”

Di pengujung 2011, giliran Najwa yang memperoleh penghargaan. Ia memperoleh penghargaan dari Asian Television Awards sebagai pemenang kedua atau Highly Commended untuk kategori Best Current Affairs Presenter dalam program Mata Najwa. Penentuan pemenang pada Asian TV Awards dilakukan oleh panel juri yang beranggotakan senior TV broadcaster dari berbagai negara di Asia. Najwa bersaing dengan Bernard Lo, presenter CNBC Asia Pacific Singapore dalam program Straight Talk with Bernie Lo.

***

Pada akhir 1999, ada iklan di koran soal kesempatan magang selama tiga bulan di RCTI. Najwa yang tinggal menulis skripsi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tertarik dan mengirim lamaran. Diterima.

Di saat itu, banyak reporter yang mengambil cuti lebaran dan Natal. Konsekuensinya, reporter magang kemudian benar-benar diberdayakan. Tak biasanya reporter magang diberi tugas-tugas berat. Lazimnya hanya diminta mendampingi reporter senior.  Najwa hanya diminta tandem di dua liputan pertama. Selebihnya, ia jalan sendiri—bersama juru kamera, tentu.

Ia meliput isu ekonomi, mudik, juga banjir tahunan di Jakarta. “Ada Menteri Luar Negeri Belanda datang, saya yang diminta mewawancarai,” kata Najwa.  Karena pamannya, Alwi Shihab, menjadi Menteri Luar Negeri, ia pun sering ditugaskan di Departemen Luar Negeri.  “Untuk memudahkan, biar punya akses,” kata Najwa, sambil tertawa. Juga meliput ke acara-acara kedutaan asing di Jakarta.

Pada saat bersamaan, Andy F. Noya juga sedang “dimagangkan” terkait rencana pendirian Metro TV. Andy nyaris hanya tahu soal media cetak.  Karena itu, Surya Paloh, bos Metro TV, menitipkannya di RCTI untuk belajar cara mengelola TV. Di sana, Najwa berkenalan dengan Andy.

Selesai magang di RCTI, Najwa balik ke kampus untuk menyelesaikan skripsi. Di saat itulah, Andy menelepon, mengajaknya bergabung dengan Metro TV.  Kelar skripsi, Nana mengirim lamaran ke Metro TV dan RCTI. Keduanya diterima tapi akhirnya ia Metro TV. “Kalau mau jadi reporter berita, masuklah ke TV berita, “ demikian jalan pikirannya.

Ia pun memilih jurnalisme. Suaminya, Ibrahim Assegaf, tak keberatan. Baim, panggilan akrab Ibrahim, adalah senior Najwa di Fakultas Hukum UI. Kini, Ibrahim berkarier sebagai seorang pengacara.

Saat kuliah, Najwa memilih jurusan litigasi. Ia berharap bisa menjadi hakim di pengadilan anak. Ini minoritas di Fakultas Hukum UI. Kebanyakan rekannya memilih hukum ekonomi atau corporate law.  Di jurusan itu, Najwa kerap ikut lomba pengadilan semu. “Kemampuan berbicara dan berdebat di lomba itu terpakai juga saat menjadi pembawa acara talk show,” katanya.

Direkrut sebagai reporter-presenter,  ia masuk ke Metro TV  pada 1 Agustus 2000 dalam keadaan hamil tiga bulan. Najwa adalah generasi pertama presenter yang direkrut bersama Sandrina Malakiano dan Wianda Pusponegoro—keduanya kini sudah tak di Metro TV lagi.  Sebulan pertama, ia berada di Kairo, Mesir, untuk membuat liputan Ramadhan. Saat itu, ayah Najwa, Quraish Shihab, tengah menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir.

Di saat hamil, sesekali ia muncul di layar. Ia benar-benar muncul beberapa bulan setelah melahirkan Izzaat pada Februari 2001.  Di tahun-tahun pertama itu, ia menjadi host untuk acara Metro Hari Ini,  Today’s Dialogue, dan Save Our Nation. Ia pun berkesempatan mewawancarai sejumlah tokoh, dari dalam dan luar negeri seperti Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan mantan Deputi Perdana Malaysia Anwar Ibrahim yang saat itu baru saja dibebaskan dari  bui.

***

Tak selalu Najwa memperoleh penilaian positif. Hasil riset saya, pengamat jurnalisme Andreas Harsono pernah melontarkan kritik di blog-nya. Ia menulis:

Pada 8 Mei 2009, mereka (Jusuf Kalla dan Wiranto, YA) memilih untuk tampil berdua di Metro TV. Ini penampilan mereka pertama setelah menyatakan siap untuk bertanding melawan Presiden Yudhoyono. Wajar jika banyak orang, setidaknya di Jakarta, ingin tahu apa yang hendak ditawarkan Jusuf Kalla.

Alamak! Interview tersebut jadi terganggu karena kekurangsiapan Metro TV. Mereka memasang Najwa Shihab, seorang wartawan Metro TV, untuk memimpin interview. Saya terganggu karena Shihab lebih panjang bicara daripada memberi kesempatan kepada Kalla dan Wiranto. Mungkin kesimpulan saya salah.

Maka saya menuangkan pikiran tersebut ke dalam Facebook. Ini sebuah media sosial dimana ketika interview berlangsung, ternyata tanggapan orang beruntun masuk ke dalam wall saya. Tanggapan datang dari cukup banyak wartawan. Mereka kebanyakan setuju dengan saya. Najwa Shihab bicara lebih banyak daripada nara sumbernya.

Di lain kesempatan, justru yang “terdesak” oleh narasumber, yaitu Yusril Ihza Mahendra. Pada Mei 2007, ia diberhentikan di tengah jalan dari jabatannya sebagai Menteri Hukum dan HAM oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak lama setelah itu, Metro TV mendapat kesempatan untuk mewawancarainya. Najwa di studio, Yusril di rumahnya.

Alih-alih menjawab secara serius pertanyaan Najwa, pakar Hukum Tata Negara itu membelokkan pertanyaan Najwa ke hal-hal pribadi. Misalnya, Yusril berkata, “Tanya aja ke oom kamu, Pak Alwi Shihab. Dia kan pernah juga juga di-reshuffle. “

Pada 5 Desember 2005, Alwi memang diberhentikan dari jabatan Menko Kesra. Sepanjang kariernya, Najwa selalu “menolak” jika diminta mewawancarai Alwi. Supaya tidak bias. Hanya satu perkecualian, yaitu saat Metro TV membikin tayangan “Lebaran Bersama Keluarga Shihab” pada 2009. Najwa, bersama Prabu Revolusi, menjadi host-nya.

Terkait dengan rencana pasca-reshuffle, Yusril juga bergurau, “Saya mau melamar jadi penyiar Metro TV saha. Berapa sih gajinya?”

Najwa mengaku, saat itu, salah tingkah. Ia tak siap diserang secara pribadi. Ia berusaha menutupi dengan tertawa. Ketika ia ingin wawancara itu cepat berakhir, produser di master control justru ingin mengulurnya karena menganggap sebagai show yang menarik. Perbincangan berlangsung dua segmen, sekitar 14 menit. “Itu wawancara yang sulit buat saya,” kata Najwa, sembari tersenyum.

Perasaan diintimidasi juga dirasakan saat ia hendak mewawancarai salah seorang pejabat di era Orde Baru. Merasa akan “diserang” soal andil di Era Reformasi dan peran di masa Orde Baru, sebelum wawancara, ia mengatakan,”Ayah kamu juga  menterinya Pak Harto, lho.” Sang pejabat, Najwa menolak menginformasikan identitasnya ke saya, seperti mengirim pesan: jangan galak-galak.  Quraish Shihab pernah menjadi Menteri Agama RI (14 Maret 1998-21 Mei 1998).

***

Pada Minggu, 26 Desember 2004, Aceh dan Nias dilanda gempa dahsyat. Saat itu, Najwa adalah asisten produser di Today’s Dialogue. Baru sekitar sebulan ia di posisi tersebut. Saat terdengar Aceh gempa, namun belum tahu ada tsunami, terpikir untuk menjadikannya tema perbincangan di acara tersebut. Ia berpikir, akan lebih oke jika ada yang pergi ke lapangan.  Pada Minggu malam, ia menelepon atasannya, Endah Saptorini, dan bilang, “Saya akan mengusahakan live dari Aceh.”

Najwa bergerak cepat. Mengontak beberapa teman, mencari tahu pesawat yang bisa ditumpangi karena penerbangan komersial dihentikan. Akhirnya, ia mendengar Jusuf Kalla, wakil presiden saat itu, akan berangkat ke Aceh pada Senin pagi, 27 Desember. Ia pun menelepon sekretaris JK. Tim Metro TV bisa ikut rombongan.

Ia tiba pada pukul 06.OO di Lanud Halim Perdanakusumah. Berangkat bersama seorang juru kamera, Najwa membawa pakaian ganti untuk dua atau tiga hari.  Ada beberapa jurnalis lain menyertai JK. Tetap belum dengar kabar soal tsunami karena semua komunikasi putus. Mereka menyangka hanya akan menghadapi dampak gempa biasa.

Keanehan baru dirasakan Najwa saat mereka tak mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka diarahkan ke sebuah lapangan terbang militer. Saat mendarat, JK tak dijemput dengan sedan mewah, melainkan oleh sebuah truk tua.

Dalam perjalanan menuju pusat kota, ia akhirnya melihat betapa hancurnya Banda Aceh. Lapangan Blang Padang, alun-alun Banda Aceh, sudah seperti pasar yang becek, jorok, dan bau. Bukan oleh tumpukan sampah, melainkan timbunan mayat manusia. Di Minggu pagi itu sedang berlangsung lomba marathon. Ada ribuan orang berkumpul. Mereka semua disapu air yang begitu deras. “Melihat ke atas, saya melihat ada jenazah tersangkut di pohon,” kata Najwa.

Yang juga bikin shock, “Saya belum pernah lihat ada orang yang begitu putus asanya,” kata Najwa.  Begitu kehilangan harapan. Najwa bertemu seorang pria dengan tatapan mata yang kosong. Ia kehilangan anaknya.

Semua infrastruktur hancur, termasuk telekomunikasi. Karena itu, pada hari pertama, Najwa melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Total lima hari Najwa di sana. Tinggal di kompleks gubernuran yang selamat dari terjangan tsunami.  Tapi, birokrasi lumpuh selama beberapa hari pertama.  Aparat pemerintahan lokal juga sibuk dengan keluarg masing-maisng. Masyarakat bingung ke mana harus mengadu.  Mereka hanya melihat para kru televisi, termasuk Metro TV. Untuk sesaat, para jurnalis itu menjadi semacam alternatif. Ada seorang ibu yang menitipkan foto anaknya yang hilang ke Najwa. Ada juga seorang ibu yang  meminta susu untuk bayinya.

“Memang kalau hari pertama atau kedua, wajar belum ada  posko. Tapi, jika hari kelima dan keenam belum ada posko, keterlaluan. Laporan saya agak keras soal ini,” kata Najwa. Tak urung, laporan Najwa juga menyentil kinerja sang paman, Alwi Shihab, yang saat itu menjabat Menko Kesra. Selain keras, juga emosianal. Dalam sebuah kesempatan, Najwa menangis saat melaporkan situasi.

Pada hari terakhir 2004, JK pulang ke Jakarta. Najwa kembali ikut. Di pesawat, politisi Partai Golkar Aburizal Bakrie berkata, “Tuh, gara-gara kamu menangis saat laporan, Pak Alwi harus ke sana.” Seminggu setelah bencana, Alwi akhirnya berangkat ke Aceh dan berkantor di sana untuk beberapa lama.

Mulai hari ketiga, ada yang mulai tak beres. Najwa merasa semua beban ada dirinya. Nanti kalau ia pulang, siapa yang urus mereka, begitu ia membatin. Psikologisnya mulai bermasalah. Kerap menangis atau melampiaskan amarah. Pulang adalah solusi.

Setelah sampai Jakarta, selama beberapa hari, ia tak berani membuka telepon genggamnya. Karena, kala membuka kiriman SMS, ada banyak pihak yang meminta bantuannya. Ia memilih tak menjawab karena merasa tak akan bisa banyak menolong.

Liputan lima hari itu diapresiasi. Pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Najwa telah membuat Indonesia menangis. Lalu, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2005, Najwa meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, perempuan kelahiran 16 September 1977 ini adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

***

Memasuki 2009, Indonesia dibuat heboh dengan kasus yang melibatkan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Mereka dituding menerima suap dari Anggoro Widjojo, tersangka kasus korupsi pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan yang disidik KPK.

Kabar itu pertama kali meluncur dari Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar yang membuat testimoni tentang penerimaan uang sebesar Rp 6,7 miliar oleh sejumlah pimpinan KPK. Ia juga mengaku pernah menemui Anggoro di Singapura. Antasari dinonaktifkan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

Pada 15 Juli 2009,  Anggodo Widjojo (adik Anggoro) dan Ari Mulyadi membuat pengakuan telah menyerahkan uang Rp 5,1 miliar ke Bibit dan Chandra. Belakangan, Ari Muladi mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) itu, sekaligus menegaskan bahwa dirinya tak pernah menyerahkan uang ke Bibit dan Chandra.

Najwa adalah jurnalis pertama yang sanggup menghadirkan Ari Muladi dan membahas kontroversi itu. Wawancara itu disiarkan Metro TV pada Jumat siang, 6 November 2009.  Untuk mewawancarainya, Najwa harus berjuang keras. Ari Muladi tak mau diwawancarai. “Apa untungnya buat saya,” kata Najwa menirukan penolakan Ari saat dihubungi Jawa Pos, sehari  setelah tayangan tersebut. Ari masih mengkhawatirkan posisinya. Status tersangka mengharuskan ia wajib lapor ke Bareskrim Polri.

Najwa melobi pengacara Ari Muladi, Sugeng Teguh Santosa. Upaya membujuk itu berlangsung selama dua dua hari secara intensif.  Ari Muladi terus menolak. Dia tak mau muncul. Namun, Najwa tak menyerah dan akhirnya dipertemukan langsung dengan Ari Muladi. Najwa menjanjikan bahwa wawancara itu akan membuat keterlibatan Ari jadi terang-benderang.

Kendati Ari Muladi sudah luluh, masalah pun belum selesai. Pasalnya, pengusaha itu tak ingin wawancara tersebut disiarkan langsung alias live. Bahkan, dia minta tempat wawancara itu dirahasiakan. Wawancara tersebut dilakukan di sebuah rumah di Jakarta Selatan. Sugeng yang menentukan tempat tersebut. “Makanya, kami pakai backdrop putih saat wawancara itu. Biar tak ketahuan lokasinya

Wawancara yang berlangsung sekitar setengah jam tersebut selesai ekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa jam kemudian, hasil wawancara itu langsung ditayangkan. Kata Najwa, “Kami nggak pakai duit. Ini murni dia mau.”

Dalam wawancara itu, Ari Muladi menegaskan, dirinya memang telah mencabut BAP pertama yang menyatakan pernah memberi uang pada Chandra dan Bibit. Yang sebenarnya, kata Ari Muladi, uang dari Anggodo diserahkan kepada seseorang bernama Yulianto untuk diteruskan kepada pimpinan KPK . Tapi ia tidak tahu apakah uang itu sampai atau tidak.

Ari Muladi mengakui telah tidak jujur saat diperiksa oleh polisi pada 15 Juli 2009.  “Saya berbohong pada BAP pertama, mengaku bahwa saya pelakunya (yang meyerahkan duit ke Bibit dan Chandara, YA) karena saya ingin menolong teman saya, Anggodo. Saya bohong, seolah-olah saya yang di depan, yang melaksanakan ” kata Ari Muladi.

“Bagaimana kita bisa yakin bahwa Pak Ari tidak sedang berbohong lagi sekarang?”

“Gimana, ya…Saya tidak pernah bertemu dengan mereka.”

“Tidak pernah bertemu Chandra, Bibit, dan Ade Raharja (pejabat KPK, YA)?”

“ Tidak pernah sekali pun.”

……….

“Secara singkat,  apa yang benar? Apa yang menganggu hati nurani Pak Ari sehingga Anda mengubah keterangan? Apa yang sebenarnya?“ tanya Najwa

“Yang sebenarnya, kalau saya berpegang pada BAP pertama, berarti saya akan menzalimi orang lain, akan membuat susah orang lain….Mending saya keluarga saya yang susah daripada keluarga orang lain yang susah.”

“Anda merasa telah menzalimi Chandra dan Bibit?” kata Najwa.

“Ya, dengan BAP yang bohong itu, saya merasa (menzalimi, YA)…”

“Kalau Anda bertemu dengan Chandra dan Bibit, apa yang akan Anda sampaikan?”

“Saya akan meminta maaf ke beliau berdua, karena telah membuat nama beliau berdua tercemar dan mungkin keluarga mereka juga harus menanggung apa yang telah saya lakukan.”

Bersama sejumlah temuan lain, pernyataan Ari Muladi kian menguatkan dugaan kriminalisasi pimpinan KPK oleh sejumlah pihak—terutama di kepolisian RI. Tak ada bukti kuat, Chandra dan Bibit lepas dari jerat hukum.

***

Kami bertemu di medio Januari 2012.  Najwa baru saja bisa keluar rumah setelah memulihkan diri pasca-persalinan anak keduanya, Namiya, pada 17 Desember 2011. Persalinan itu berujung duka karena Namiya meninggal dunia sekitar empat jam setelah dilahirkan. Karena alasan tertentu, operasi dilakukan saat kandungan berusia tujuh bulan. Di saat mengandung, Najwa juga beberapa kali diharuskan beristirahat. Mata Najwa jalan terus. Kala Najwa absen, posisinya digantikan Kania Sutisnawinata—yang juga terbilang senior di Metro TV.

Najwa menikah di usia muda: 20 tahun. “Saya merasa sudah menemukan pria yang tepat sebagai suami. Buat apa menunda kebahagiaan?!” kata Najwa.  Bukan tanpa preseden. Kakaknya, Najeela, bahkan menikah di usia 19.

Semasa SMA ia terpilih mengikuti program American Field Service (AFS), semacam kegiatan pertukaran pelajar, selama satu tahun di negara bagian New York, Amerika Serikat. Ia memetik banyak manfaat dari program ini. Misalnya, “Saya jadi lebih berani bertemu dan berinteraksi dengan orang lain,” katanya. Maklum, hampir saban minggu, ia mesti berbicara di depan umum soal Indonesia—dalam bahasa Inggris, tentu saja.

Saat pulang, ia harus masuk kelas 3 SMA saat teman-temannya telah lulus. Di SMA 6 Jakarta itu, nilai rapor Najwa bagus. Ia pun masuk UI tanpa tes, lewat program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) yang semata melihat nilai-nilai di rapor.

Perjalanan hidupnya memang tak asing dengan penghargaan. Pada 2006,  ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV dan masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards. Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih mengikuti Senior Journalist Seminar di sejumlah kota di AS dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association.

Setahun kemudian, selain kembali masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards, ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang di tingkat Asia, yaitu Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affairs/Talk Show presenter.

Najwa juga meraih penghargaan Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF) yang berkedudukan di Geneva, Swiss. Penghargaan YGL setiap tahun terhadap para profesional muda berusia di bawah 40 tahun dari seluruh dunia. Ribuan kandidat diseleksi secara ketat oleh sebuah panitia seleksi yang dipimpin Ratu Rania Al Abdullah dari Yordania.

Dalam surat yang ditandatangani Executive Chairman The Forum of Young Global Leaders, Klaus Schwab dan Senior Director Head of The Forum of Young Global Leaders, David Aikman, Najwa terpilih sebagai YGL 2011 karena pencapaian profesional, komitmen terhadap masyarakat, dan kontribusinya dalam membentuk masa depan dunia.

Saat kami bertemu, Najwa masih cuti dari kantor. Mulai Februari 2012, ia akan tampil kembali di layar kaca. Muncul dengan pembukaan khas ini: “Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa. Saya, Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa.”

 

[Dimuat pertama kali dalam Jurnalis Berkisah, Metagraf, 2012]

zona nyaman

Saat didera batuk dan flu, kemarin saya menonton satu episode “New Lives in The Wild” di BBC Earth. Pada episode itu, Ben Fogle, sang host, terbang dari London ke Filipina untuk menemui Neil Hoag.

Neil meninggalkan Florida, AS, untuk menjemput kehidupan baru di pedalaman Filipina. Ia menikahi Margie, perempuan setempat, dan menjadi satu-satunya pria bule di desa tersebut.

Di Florida, Neil menjadi pengemudi taksi. “Hanya sedikit lebih baik ketimbang pembersih toilet,” kata pria plontos itu kepada Ben.

Dia membangun hidup bersama Margie dan tiga anak lelaki mereka — yang lahir kemudian. Rumah mereka di puncak bukit. Bahannya kombinasi bambu dan dinding semen. Puluhan anak tangga tersusun menuju ke sana. Dari rumah itu, panorama elok terhampar.

Kepada Ben, sengaja saya tak terjemahkan, Neil mengatakan, “My life here is living the dream. People are afraid to let go of what they are familar with. You have to overcome that fear and know you can break free from the mainstream, you can break free from the herd and be captain of your own destiny.”

Di dusun itu, Neil merasa bahagia. Padahal di sana dia harus banyak melakoni aktivitas fisik. Terpencil. Jauh dari keramaian manusia. TV, telepon, dan Internet pun tiada.

Setiap tahun, selama dua bulan, Neil pulang ke Florida. Selain menemui anaknya yang lain, dia bekerja (lagi) sebagai sopir taksi. Ketika duit terkumpul, Neil balik ke Pulau Leyte untuk “mereguk nikmat” hidup.

Saya teringat cerita seorang teman yang mengundurkan diri dari kantornya. “Saya ingin punya waktu luang lebih banyak, tidak melulu bekerja atau memikirkan pekerjaan,” ujar dia.

Padahal perusahaan teman saya itu sedang bersinar dan melaju kencang. Dia justru mengelak, enggan terjebak di zona nyaman — dengan sejumlah kepastian di dalamnya.

Pindah ke mana dia? Perusahaan lain yang kelasnya jauh di bawah perusahaan terdahulu. Tapi ada di sana, dia bilang, “Saya bisa sering ketemu teman-teman, jalan-jalan. Pokoknya punya social life yang pantas.”

Sambil menahan perih radang di tenggorokan, saya membatin, teman itu telah menjadi “captain of his own destiny” seperti disarankan Neil Hoag.

gurauan yang menyelamatkan

Sebanyak 22 grup WA ada di telepon genggam. Terlalu banyak. Kelewat bising.

Saya ingin mengurangi 5 atau 6 di antaranya. Susah ternyata lantaran aneka alasan. Misalnya, terkait urusan pekerjaan. Bisa panjang urusan jika hengkang dari sana.

Atau, terkait informasi yang terkandung di dalamnya. Ada grup yang lalu lintas pesannya melulu kenyinyiran pada pihak yang berseberangan secara politik. Jengah juga. Namun keinginan pergi sirna saat mafhum: sering informasi penting atau gosip politik terpampang di sana — relevan dengan pekerjaan.

Ada juga grup yang berisi para orangtua murid plus wali kelas. Anak sulung saya belajar di sekolah negeri. Dengan begitu, penghuni beragam. Tak cuma Islam. Tapi tetap saja ada seorang orangtua yang kerap melempar postingan bernuansa dakwah. Kok kebelet banget memburu pahala?! Tapi susah juga jika pergi dari sana.

Alhamdulillah, saya juga tergabung di sebuah grup yang ajaib. Penghuninya teman-teman kuliah seangkatan dan sejurusan.

Di sana, kami absen bicara soal politik atau akhirat. Tak pernah, misalnya, menyentuh urusan Pilkada DKI Jakarta atau celoteh tak bermutu seseorang yang mengajak menjauhi Pak Quraish Shihab.

Hanya ada canda. Terutama terkait kegagalan ikhtiar asmara di masa muda. Untuk urusan ini, tak ada simpati atau empati. Bully berjaya! Tentu dengan canda sebagai kemasan. Tak ada niat untuk melukai hati.

Gilanya, ada mantan satu gebetan teman kami yang di-invite ke grup itu. Meski kaget pada hari-hari pertama, cewek itu (yang kini telah memiliki dua anak dan menjadi petinggi di sebuah media) juga akhirnya ikut “gila” dan tetap di sana sampai detik ini.

Beberapa hari lalu, ada kegilaan lain yang meletus. Salah seorang admin meng-invite seseorang. Salah seorang kami konon dulu pernah dekat dengan sang anggota baru. Sejak beberapa bulan lalu dia sering dicandai soal perempuan yang kini tinggal di luar Jawa tersebut.

Grup langsung hiruk-pikuk dengan keberadaan anggota baru tersebut. Saya sendiri agak menahan diri, takut perempuan itu tak nyaman dengan “kebrutalan” kami. Bagaimana pun juga dia orang luar.

Sampai beberapa saat kemudian, admin yang men-invite itu menelepon. Inti percakapan membikin hati tenang sekaligus membuat perut saya sakit menahan tawa.

“Itu bukan dia. Itu nomor gua yang lain. Terus gua kasih nama cewek itu,” ujar si teman. Dia hanya membocorkan hal ini kepada tiga teman lain. Hanya sehari perempuan itu hadir. Syukurlah.

Grup itu “menyelamatkan,” mengerek turun dosis ketegangan saat melakoni rutinitas. Meski sesekali khawatir juga kalau-kalau telah melampaui batas.

Di grup WA, politik dan tausyiah kerap menjengkelkan. Bilas saja dengan humor dan canda. Niscaya hidup lebih rileks dan tak gampang naik pitam.

keluyuran di depok

Depok itu dekat sekaligus asing buat saya.

Kami sekeluarga menetap di Cinere sejak 2004. Nyaris tiap hari bolak-balik Jakarta untuk memulung rupiah. Meski Cinere merupakan bagian dari Depok, miskin belaka pengetahuan saya soal wilayah ini.

Beberapa pekan lalu perubahan terjadi. Kafka mengikuti perkemahan dua hari satu malam yang digelar sekolahnya di Kukusan. Malam harinya, saya meluncur dari kantor menuju lokasi. “Ayah, nanti bawakan susu ya, sama cemilan,” kata Kafka pada pagi harinya saat kami berpisah di halaman sekolah.

Sengaja tak mengaktifkan perangkat navigasi, saya menempuh jalanan pelosok Depok dengan hanya mengandalkan petunjuk Djibril, rekan kerja yang tinggal di Tanah Baru.

Meski malam hari, saya tahu jalanan dikepung pepohonan. Mestinya kalau siang hari tak terlalu panas. Namun, rumah sesak di kiri dan kanan. Ya, penyangga Jakarta yang padat, yang pernah dipimpin wali kota dengan anjuran untuk warga agar makan memakai tangan kanan.

Jalanan dicor lumayan rapi tapi ukurannya, entah kenapa, dibikin pas dua mobil. Kalau ada sepeda motor ditaruh sembarangan di tepi, arus lalu lintas kontan tersendat.

Dengan salah arah dan bertanya beberapa kali, sampailah saya di lokasi perkemahan — namanya Rumah Kabeda.

Dalam perjalanan pulang, saya melihat rumah keramik milik seniman F Widayanto. Lho, ternyata di sini. Saya sudah lama mendengar tentang tempat rekreasi alternatif ini. Tapi baru pada malam itu memergokinya — itu pun tak masuk, hanya melintasi.

Sejak momen tersebut, saya beberapa kali menyusuri rute Cinere – Tanah Baru – Kukusan – Beji dengan sepeda motor saat libur kerja. Iseng saja, tanpa tujuan pasti. Menggunakan mobil hanya bikin keluyuran tak leluasa. Dengan sepeda motor, saya gampang mlipir untuk membeli pisang barangan, misalnya.

Pun akhirnya tiba di pintu belakang Universitas Indonesia (UI). Saya juga tak masuk, Minggu pagi itu, hanya tertegun di depannya. Banyak orang menyelinap dengan pakaian olah raga. Motor-motor mereka diparkir di luar. Para penjual makanan bertebaran di tepi jalan.

“Itu pintu Kutek, Kukusan Teknik. Paling dekat dari situ emang Fakultas Teknik, Mas. Kosan gua dekat situ dulu,” kata Oscar, lulusan UI yang kini sekantor, beberapa hari kemudian.

Sekitar 400 meter dari pintu Kutek, sebuah apartemen tengah dibangun. Menjulang sendiri, dikelilingi rumah-rumah warga. Ah, gampang diduga target pembeli atau penyewa. Kelak saya penasaran dengan harganya. Rp 350 jutaan ternyata.

Perihal pintu belakang UI sejatinya sudah saya dengar sejak lama dari tetangga yang doyan bersepeda. Ternyata hanya sekitar 15 menit dari rumah kami dengan sepeda motor.

Tanah Baru, Kukusan, dan Beji terletak di sebelah barat Margonda Raya, jalan utama di Depok. Belahan timur (Cimanggis, Cilodong, Kelapa Dua, dkk) niscaya lebih asing lagi buat saya.

Di Beji, ada satu tempat yang belum saya temui: markas Komunitas Bambu, penerbit buku-buku sejarah yang dikomandani JJ Rizal. Sudah diniatkan namun, dari info di situs mereka, hanya buka Senin sampai Jumat. Sementara, jadwal blusukan saya jatuh di akhir pekan.

Menjadi flaneur  tak mesti jauh dari rumah. Depok bisa menjadi destinasi. Biar “dekat tapi asing” tinggal memori. Biar tak cuma keluyuran di media sosial yang kerap gaduh teu puguh

bulungan dan kenangan

Pesan itu muncul di layar telepon genggam: “Suy, gw lagi otw ke Blok M Plaza. ada kak Riki, Kotel, mbak Luky dll. siapa tahu elu free.”

Pengirimnya, Isti, teman seangkatan di SMA. Kami pernah di satu organisasi, organisasi yang katanya himpunan orang gila dan suka bikin drama (dalam arti harfiah). “Kak Riki, Kotel, mbak Luky dll” adalah para senior di organisasi tersebut. Kok “Suy”? Ada cara bicara unik di siswa sekolah kami: membalik aksara.

Saya masih di kantor tapi sudah bersiap pulang. Bertahun-tahun tak pernah berjumpa meski sebagian besar mereka juga tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Kesibukan dan tetek-bengek lain menghalangi.

“Oke, gua ke sana,” jawab saya. Membuncah rasa senang di dada. Ya, sebagian masa remaja dihabiskan bersama mereka. Di Bulungan, Ciloto, Ciapus, dan tempat-tempat lain. Kapan kita sanggup membebaskan diri dari kenangan?!

Di seberang Blok M Plaza, hanya sepelemparan batu dari sekolah kami dulu, pertemuan digelar. Melulu canda dan tawa yang mengalir tak henti. Kisah-kisah masa lalu terungkap kembali. Tak ada gaduh politik mencederai meski, pada saat bersamaan, media sosial berisik dengan kebencian atau dukungan buat Ahok.

Belajar di sekolah negeri, para siswa berasal dari aneka latar sosial, etnis, dan agama. Saya lirik, di sekeliling meja, ada Beresman dari Tapanuli, ada Ricky asal Minahasa, hadir Luky yang Jawa, Sonny Kotel dan Isti yang urang awak, pun saya yang oplosan Banyumas-Cirebon.

Itu masa ketika media sosial belum hadir. Bahkan, telepon genggam masih menjadi masa depan. Komunikasi tatap muka menjadi yang terpenting. Saya berikhtiar mengingat bagaimana cara membatalkan janji bertemu di menit-menit terakhir — hal gampang pada hari ini.

Kami masih remaja. Belum tercelup dalam silang sengkarut dunia orang dewasa. Orde Baru mencengkeram tapi pengaruh dan praktik buruknya samar-samar di mata, sayup-sayup di telinga.

Seingat saya, identitas bukan masalah besar saat itu. Tak ada pihak yang dengan tegas mengerek bendera keyakinan dan menggerebek pihak lain yang tak disetujui. Hidup bergulir rileks.

Pada masa itu, sebagai contoh, Warkop DKI dengan santai menjadikan sosok malaikat sebagai objek humor. Saya bergidik ketika membayangkan hal tersebut dilakoni sekarang. Mungkin mereka terjerat kasus penistaan agama.

Sangat mungkin ada wacana mengkafir-kafirkan orang lain. Cuma belum muncul media sosial yang menjadi  pengganda pesan dengan cepat, mudah, dan murah.

Namun, kemarin, media sosial dengan lekas menghubungkan saya dan mereka. Beberapa jam setelahnya, sebuah WhatsApp Group terbentuk. Penghuninya para alumni organisasi kami.

Tidak (atau belum) ada ujaran kebencian atau hoax yang bikin mual. Kami mengisinya dengan sapa dan canda.  Sekali lagi, membuncah rasa senang di dada.

 

 

api kecil

Saya bukan pembaca buku yang baik. Ada banyak buku yang tak kelar saya baca. Kemudian mereka teronggok di rak atau tempat lain. Andai boleh menyodorkan alasan: rutinitas menggerus energi dan kala membaca. Klise…

Iya, saya rada gampang “terprovokasi” urusan membeli buku. Jika ada buku yang sedang ramai dipergunjingkan, saya bakal ikut memburu. Ini sejak dulu, saat masih sekolah di Bandung. Terus berlanjut sampai sekarang.

Membeli buku, membaca buku, lalu menulis buku.  Buku pertama saya terbit pada 2012. Judulnya Jurnalis Berkisah. Entah berapa persisnya yang terjual. Tapi kayaknya tak sampai 1.000 eksemplar. Jika saya teliti menyimpan surat pemberitahuan royalti, akurasi jumlah bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Sebelum dan sesudahnya, beberapa kali saya terlibat produksi buku. Sebagai editor, inisiator, atau co-author. Terakhir ikut membantu penulisan buku 20 tahun Liputan 6 SCTV. Saya merasakan keasyikan yang paripurna. Saya menikmati detik-detiknya; meski membiarkan durasi tidur malam terkurangi, membuat istri cemas kalau-kalau setelahnya saya disergap flu.

Lalu, kabar-kabar itu berhamburan datang:  kemunculan (kembali) para penerbit kecil. Mereka menerbitkan buku-buku bertema unik, segar, meski kurang diminati pasar; dengan (seringkali) mengabaikan  jalur distribusi konvensional, melalui media sosial atau membangun komunitas.

Selama beberapa bulan saya mencermati. Lantas, tiba di satu titik: lha, saya agaknya juga bisa mengerjakan. Dan, yang pertama dan terutama, saya memang ingin. Masalah terbesar paling pembagian waktu dengan urusan kantor.

Saya bilang ke istri dan dia memberi lampu hijau. Oke, tinggalkan dermaga dan kembangkan layar. Pelan-pelan. Tapi perahu kecil ini belum punya nama. Ah, sambil jalan saja, kata saya dalam hati.

Eureka! Hanya dalam beberapa hari, saya menemukan bakal materi buku pertama. Yaitu, tulisan-tulisan seorang teman yang berserakan di media sosial. Waktu bergerak, teman ini beranjak ragu. “Nanti saja deh,” ujar dia. Beberapa kali dia menyampaikan, dengan segugus alasan. Maka, saya pun putuskan: memang belum jodoh.

Lalu, saya “menemukan” Hawe Setiawan, senior di kampus. Sejak belasan tahun lalu, dia menekuni kerja kebudayaan, khususnya Sunda, secara intens. Orang-orang lalu menobatkannya sebagai budayawan.

Hawe menonjol sejak mahasiswa: pintar tersebab doyan baca buku. Rumah dia di Ledeng, Bandung Utara nan sejuk, sering diinapi teman-teman: diskusi lalu…main kartu truf. Saat pertama kali main ke sana, pada 1990-an, saya tercengang melihat koleksi bukunya. Juga tersihir saat dia memainkan Looking Through the Eyes of Love-nya Melissa Manchester dengan biola di tengah malam yang sunyi.

Hawe rutin menulis kolom di koran. Tapi, saya mengincar karya-karya dia yang lebih “serius”: tulisan untuk diskusi, seminar, atau jurnal ilmiah. Semula mau merangkul semua. Belakangan, Atep Kurnia, rekan di Bandung dan kami minta menjadi editor, menunjukkan haluan yang lebih oke: hanya himpun karya-karya terkait budaya Sunda.

Dalam perjalanan, saya “berjumpa” single berjudul Lelatunipun, karya salah seorang personel duo Banda Neira, Rara Sekar. Saya terpesona dengan kata itu. Nyaris memilihnya sebagai nama penerbit. Cuma, dengan sejumlah pertimbangan, saya mengurungkan. Tidak sepenuhnya meninggalkan. Lelatunipun bermakna “api kecil”.  Demikianlah nama publishing house saya berhulu. Terima kasih, Rara…

Pekan ini, Tanah dan Air Sunda — kumpulan esai Hawe itunaik cetak. Insya Allah sudah bisa dibaca pada pekan kedua Januari 2017.

Ya, saya bukan pembaca yang baik. Tapi, Api Kecil ingin menghadirkan buku-buku yang keren. Seperti yang sudah dan terus dilakoni para pendahulu di Jogja, Jakarta, Bandung. Mungkin tidak sebulan sekali. Satu buku dalam dua-tiga bulan, cukuplah. Semoga.

cinta, masa muda, bandung

Cinta adalah seluruh keherananku pada manusia. Demikian penyair Afrizal Malna pernah menulis.

Beberapa hari lalu, saya seperti menemukan (kembali) kebenaran kalimat tersebut di sebuah mal. Usai buka puasa bersama teman-teman sekampus, saya berbincang dengan seorang teman pria, A.

Saya menyinggung soal S, gadis yang ditaksirnya dulu saat kami kuliah di Bandung. Saya, A, dan S belajar di kampus yang sama. Kini S tinggal di sebuah kota, ribuan kilometer dari Jakarta.

“Malam itu sebenarnya penentuan. Gua sudah bertekad untuk menyatakan ke S,” kata A.

“Kalian sudah dekat?”

“Sudah jalan bareng sekitar enam bulan. Sering nonton atau makan di mana gitu.”

Saat itu, 1990-an, Bandung belum terlalu ramai. Belum hiruk-pikuk dengan mal, kafe, atau factory outlet. Jika malam tiba dan kita mau keluar rumah, jaket atau sweater jadi perlengkapan wajib atau dirajam dingin. Kini tak lagi begitu. Bandung kian panas meski masih sejuk.

Saya membayangkan mereka nonton di Bandung Indah Plaza, mencari kaset di Aquarius Dago, atau menenggak yoghurt di Cisangkuy. Ah, masa muda yang lampau…

“Elu jadi nembak S?”

“Gak jadi. Gara-garanya ketemu teman kita, I,”

I menanyakan mau ke mana. A pun seketika salah tingkah.  S dan I tinggal satu kawasan, sebuah kawasan dengan banyak rumah disewakan untuk mahasiswa. Tak heran kerap bertemu teman jika berjalan kaki di sekitar kawasan tersebut.

Kawan kami ini, I, terkenal eksentrik. Baik hati tapi suka kepo. Dengan logat Jawa-nya yang kental, dia sering memancing tawa — sesekali memicu jengkel.

Malang tak dapat ditolak, I ikut “mendampingi” A ke rumah kos S. Sang tuan rumah tentu heran melihat I datang bersama A — tumben. Bertiga mereka ngobrol di rumah tamu.  Menit demi menit berlalu, A gelisah karena I tak pamit duluan.

Suasana kaku. Percakapan tergelar hambar. Akhirnya A mohon diri dengan kesal. I tetap menguntit, ikut pulang. Dan, “proklamasi hati” pun batal diutarakan.

Hal sangat mengherankan, A lalu memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya ke S sampai mereka lulus dan pergi dari Bandung. Tidak pernah, bahkan sampai detik ini.

“Lho kenapa gak jadi? Kan masih ada kesempatan lain,” kejar saya.

“Gak jadi aja. Gak ada penjelasan juga,” kata A.

A bilang, setelah itu dia pelan-pelan menjauh. Padahal tidak ada persoalan di antara mereka. Konon S pun bertanya-tanya: ada apa. Sekarang A dan S masing-masing sudah berkeluarga, beranak-pinak.

“Terus, elu gak penasaran?”

“Penasaran pastinya. Gua sering berandai-andai, jika saat itu nembak, bakal diterima atau ditolak ya?”

“Coba tanya aja sekarang.”

“Hahaha…”

Afrizal Malna benar belaka.

 

Catatan: Beberapa jam setelah tulisan ini tayang, A mengirim pesan via WA. Ia mengoreksi dan menambahkan sedikit detail. Demi “kebenaran sejarah”, revisi tak terelakkan…hehe.. 

pelajaran dari seorang teman

Tiba-tiba seorang teman saya jadi pakar manajemen. “Kalau mau tahu apakah seorang pemimpin itu benar atau enggak, tengok cara dia memanggil bawahan yang secara hierarki gak jauh,” ujar dia.

“Maksudnya?” kata saya sambil mencomot roti Prancis. Kami sedang duduk di sebuah kafe, melipir sejenak dari kepenatan kerja.

“Kalau menyebut dengan nama panggilan, dia mungkin bos yang asyik tapi bisa juga brengsek. Tapi kalau selalu menyapa dengan nama sebenarnya, haqqul yakin, dia patut kita ragukan.”

Dia memberi contoh. Nama lengkap seorang bawahan adalah Abracadabra. Panggilannya Dabra. Kalau sehari-hari tak pernah menyebut Dabra, tapi memanggil Abracadabra, artinya dia tak mengenal secara baik sang pemilik nama. Ada jarak. Tak peduli penyebabnya, itu masalah.

“Gimana mau bikin tim yang solid jika tak dekat dengan anak buah?” ujar teman saya sambil mencermati mbak-mbak yang melintas di luar kafe.

Saya mulai serius menyimak. Langit Jakarta gelap. Di luar sana (bisa dipastikan) macet masih mengepung.

“Gak perlu tahu mendalam soal-soal personal. Tapi minimal dia tahu cara menyapa si anak buah,” kata teman itu.

“Coy, bos mah super sibuk. Mana sempat memperhatikan hal-hal kayak gitu?!”

“Nah, itu keliru. Sesibuk-sibuknya seorang leader, jangan lupakan hal-hal kecil. Sebuah tim bakal bekerja prima jika orang-orangnya merasa di-wongke, bukan sekadar pemilik nomor induk karyawan atau sekrup sebuah mesin.”

Dia melanjutkan, “Kalau nama panggilan saja gak tahu, gua yakin doi juga gak pernah nyamperin meja anak buah untuk, yaaahh, say hello dan menanyakan kabar. Kalau ngobrol, soal kerjaan mulu. Mesin 100%.”

Saya teringat William Soeryadjaya, pendiri Astra. Si Oom ini tersohor karena sikapnya yang tak menjaga jarak, hangat dengan karyawannya. Juga peduli.

Ada sepenggal cerita ketika William hendak beranjak makan siang. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Saat akan menuju pintu, William mendengar mesin tik berbunyi. Ia pun berkata, “Ted, masih ada yang ngetik tuh. Elu samperin sana, suruh berhenti, ini waktu makan.”

Teddy Tohir, salah seorang manajernya, lalu mencari sumber bunyi. Meminta sang karyawan untuk stop, beristirahat dan makan siang.

Ingatan soal William buyar saat teman saya bilang, “Yah, bisa jadi si bos begitu karena sistem dan beban kerja. Dia dikejar target, target, dan target. Dia juga korban.”

Terkadang teman saya yang berkantor di Kuningan itu sok tahu. Tapi dalam urusan ini, saya kira, dia banyak benarnya.