akhir pekan tanpa kompas

Sudah sebulan lebih tak menerima Kompas edisi akhir pekan. Tak ada kabar dari bapak yang biasa mengantar dengan sepeda motor itu.

O iya, kami hanya berlangganan untuk Sabtu dan Minggu. Menunggu puisi, cerpen, cerita persona, laporan perjalanan dan pertunjukan, juga kolom Samuel Mulia dan Bre Redana.

Bre pernah menulis kolom di Kompas Minggu yang menuai kontroversi. Judulnya “Inikah Senjakala Kami?” Ia membuka dengan kalimat ini: “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat.

Baris-baris selanjutnya adalah kritik atas anjloknya kualitas jurnalisme di tangan media daring. “Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik,” tulis Bre.

Soal penurunan mutu ini yang memantik polemik. Bre dianggap terlalu menggeneralisir. Siapa bilang koran juga tak menghasilkan sampah? Apakah otomatis media daring tak menghasilkan karya level juara? Dan seterusnya.

Nah, perihal meredupnya media cetak, itu mustahil dibantah. Tiras terus merosot, pemasang iklan kian menjauh. Ya, tak banyak lagi memang yang membaca media cetak. Seorang teman, Tommy Hutomo, menuliskan kisahnya sebagai dosen di halaman facebook saya.

“Baik, sebelum saya mulai. siapa yang satu minggu terakhir membaca koran atau majalah?” tanya Tommy ke mahasiswanya.

Hening.

“Dalam satu bulan terakhir?”

Hening.

“Oke, dalam satu tahun terakhir membaca koran atau majalah?”

Dua dari 30 mahasiswa di kelas pengantar jurnalistik mengangkat tangan.

Saya adalah bagian dari kaum minoritas itu. Edisi Senin sampai Jumat, baca di kantor. Bukan hanya Kompas, tapi juga Koran TEMPO, Republika, dan Jawa Pos. Nah, untuk edisi tertentu yang layak dikoleksi, saya membeli secara eceran di jalan. Misalnya edisi dalam foto di atas.

Ahad kemarin membongkar timbunan kertas di rumah, mencari bon tagihan koran. Ada nomor telepon di sana untuk mencari tahu. Tapi nihil. Kertas-kertas itu kadung dibuang.

Menyesal saya tak pernah menanyakan nama dan nomor teleponnya. Memang jarang bertemu. Ia biasa melemparkan koran ke teras depan dan berlalu. Sebulan sekali menyampaikan tagihan. Bahkan terkadang ia menagih dua bulan sekali.

Semoga Pak Pengantar sehat-sehat belaka. Semoga pula kualitas jurnalisme kita tak makin bikin hati merana.

sak madya

Di sebuah SPBU, di perempatan yang sibuk, sekitar 2 km dari Stadion Manahan, Solo. Sebelum gas poll ke Jakarta, saya memeriksakan kembali tekanan ban kendaraan.

“Tolong dicek, Mas, minta 34 masing-masing,” kata saya.

Ternyata masih cukup oke. Rata-rata 32 psi. Hanya harus ditambah sedikit. Pria itu cekatan bekerja. Saya melihat daftar harga: Rp 5 ribu per ban untuk tambah nitrogen.

Setelah empat ban kelar dioprek, saya menyerahkan selembar uang 20 ribuan.

“Sepuluh ribu saja, kan nambahnya cuma sedikit,” ujar pria itu.

Saya yakin dia tahu bahwa saya dari Jakarta. Gampang diketahui dari aksen omongan dan pelat kendaraan. Jadi kemungkinan kembali ke sini kecil sekali. Jika saya orang Solo, mungkin dia akan berpikir soal merawat loyalitas konsumen.

Daftar itu tak menyebut perbedaan harga jika pertambahan nitrogen hanya sedikit. Dia sejatinya tak perlu melakukan “diskresi” karena panduan tersaji.

Dia, dalam spekulasi saya, memilih mengikuti hati, mengabaikan kalkulasi untung-rugi. Tak mau jadi makhluk loba. Kata orang Jawa, sak madya.

Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga berlimpah kebaikan yang kita pancarkan ke seluruh penjuru semesta.

sibuk bekerja, lupa bercinta

Dengan seorang teman lama, saya sepakat bertemu di sebuah kedai kopi di ujung Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Matahari telah tergelincir ke Barat.

Enak juga memandang dunia dari jendela ini. Sejuk, tidak berdebu. Selembar kaca bening memisahkan dengan kenyataan di luar sana. Kendaraan lalu-lalang, para pedagang kaki lima mulai memasang tenda dan tiang.

Berjarak dua meja di sebelah, pasangan muda bercengkerama. Saya menunggu kopi Vietnam Drip, mie rebus, dan air mineral. Sang teman terlambat, saya jadi punya waktu untuk melamun.

Beberapa jam sebelumnya, saya meninggalkan kompleks Kompas-Gramedia di Palmerah dan menuju kantor dengan menggunakan commuter line. Turun di Stasiun Tanah Abang, terhampar Jakarta yang berkeringat, tertatih-tatih, runyam.

Para penumpang, tua dan muda, berdesak-desakan di tangga untuk keluar stasiun. Getir hati membayangkan jika saudara-saudara kita yang difabel ada di sana.


Di koridor panjang menuju pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara itu, sepotong kaos tergantung menunggu pembeli. Banderol tercantum: Rp 50 ribu. Di bagian dada tertulis “Pejuang Rupiah: Sibuk Bekerja, Lupa Bercinta.”

Di Tanah Abang, tak ada kaca yang memisahkan. Saya terpilin dalam kenyataan itu: para pedagang yang asyik membujuk dan para ibu yang menyeret tas plastik besar berisi hasil belanjaan. Para pejuang dan perjuangan yang menggetarkan!

Selamat berakhir pekan, Tuan dan Puan. Jangan terlalu sibuk bekerja, sempatkan juga untuk bercinta.

perjalanan berdua

1.
Jika kami bepergian ke luar Indonesia, kemungkinannya dua: pergi sendiri atau mengajak anak-anak. Tak pernah kami, saya dan Raya, hanya pergi berdua.

Pergi berdua ke kantor tidak direken ya. Dalam setahun belakangan, hampir tiap hari kami bareng ngantor. Pulangnya kerap sendiri-sendiri lantaran pekerjaan saya yang sulit dipegang jadwalnya.

Pekan lalu berbeda. Kini dua bocah tersebut telah bisa ditinggal. Biasanya selalu diajak. Havel malah sudah meninggalkan rumah, ngekos di Surabaya. Kafka tak keberatan sendiri.

“Uti nginap di sini untuk menemani kamu?” tanya Raya. Uti adalah panggilan untuk ibu saya.

“Aku berani sendiri kok,’ kata Kafka. Ia 12 tahun, tubuh menjulang, melampaui orangtuanya.

2.
Tujuan hanya sepeminuman teh, yaitu Singapura, untuk menghadiri “kuliah budaya” yang diampu Bono dkk. U2 menggelar  “The Joshua Tree Tour 2019” namun melewatkan Indonesia.

Di sela-sela itu, ada kembara ke Orchard, Kampong Glam, dan Little India. Naik-turun MRT, menjajal ketahanan betis, menjelajahi sudut-sudut kota. Meski buat masing-masing bukan kunjungan yang pertama, Singapura masih menyisakan banyak titik untuk disambangi.

Saat di Orchard, kami berpisah. Saya balik ke hotel, Raya masih di Takashimaya. Pegal saya nungguin yang belanja…😁😂

Rencana jalan ke National Stadium pukul 15.00. Datang lebih awal dengan mimpi bisa mengeksplorasi venue dan sekitarnya. Pun sedikit berharap bisa jumpa beberapa teman dari Jakarta sebelum pertunjukan.

Saya bolak-balik menelepon, meminta Raya segera kembali ke hotel.

“Iya, sebentar lagi,” jawabnya. Ia baru muncul di hotel menjelang pukul 18.00.

Beruntung mentari telat tenggelam di Singapura. Pada 18.30, ketika kami tiba di lokasi, langit masih lumayan terang. Hasrat berfoto-foto tak terganggu gelap.

Dua jam kemudian, Larry Mullen Jr berjalan ke lidah panggung. Pukulan-pukulannya ke snare drum sontak membuat seisi National Stadium bersorak. Konser dimulai dengan Sunday Bloody Sunday.

3.
Pada hari terakhir petualangan, betis menyerah takluk. Kami naik taksi ke Harbour Front untuk menyeberang ke Batam.

Turun dari taksi, masuk dulu ke Vivo City buat cuci mata. Saat lagi lihat-lihat, jreengg…baru ngeh bahwa tas biru gak ada!

Ya, ketinggalan di taksi. Sialnya, kami lupa nama taksi dll. Waktu juga tak banyak. Power bank, kaca mata cadangan, topi, dan sejumlah barang lain harus diikhlaskan.

(Kami mungkin akan minta bantuan teman yang tinggal di Singapura. Siapa tahu masih berjodoh.)

Ujung cerita, kami bertekad: kapan-kapan bakal ada perjalanan berdua lagi, lebih jauh dan lebih lama. Begitu rencananya.

Tagline sudah disiapkan: berdua kita gempor bersama!

jogja

“Kalau pensiun, enak juga kayaknya pindah dari Jakarta,” kata sang istri.

Mereka dalam perjalanan ke kantor. Lalu lintas lumayan bersahabat. Sejak ada Tol Desari, Cinere-Sudirman kurang dari satu jam. Mereka berpisah di Sudirman, menuju tujuan masing-masing.

“Kita kan tinggal di Cinere, bukan Jakarta,” ujar sang suami sambil lanjut nyetir.

“Bali enak kali yak. Indra Lesmana dan Sophie Navita kan tinggal di sana,” ujar istri. Sang suami membatin, jurnalis cum sineas Erwin Arnada juga tinggal di sana sejak beberapa tahun lalu.

“Gimana kalau Jogja? Pasti tidak di di kotanya, tapi di Sleman atau Mbantul. Pinggiran gituu, biar dapat yang murah…” kata suami.

Dulu sang suami punya impian tinggal di Bogor. Membuka jendela rumah, Gunung Salak tegak anggun di kejauhan. Hujan saban hari. Dedaunan hijau di sekeliling.

Menginjak dunia perkuliahan, sang suami sempat memendam hasrat pindah ke Jogja. Saat itu ia sudah diterima di kampus negeri di Bandung. Belakangan, ingin mendaftar ke Sosiologi atau Antropologi UGM. Sayup-sayup ia mendengar kehidupan intelektual yang bergelora dan ingin juga kecemplung di sana.

Niat itu diurungkan. Tak tega dengan orangtua yang telah membiayai setahun jadi alasan utama. Tapi Jogja tak pernah pergi dari hati.

Buat sang suami, kini Jogja lebih berdaya magnet ketimbang daerah mana pun di Nusantara. Karakter intelektual dan kultural-nya menyeruak kokoh ke permukaan.

Pesohor medsos, Arman Dhani, pernah menulis pada sebuah esai, “Di Jogja…Terlampau banyak perpustakaan, toko buku murah dan kantung-kantung kebudayaan yang membuat kita cerdas. Terlalu sedikit alasan untuk tidak mendatangi mereka dan menjadi pintar karenanya.”

Anda akan sebut semua ini sebagai semacam romantisme? Rasanya sang suami tidak keberatan.

Imajinasi tentang masa pensiun mulai bekerja. Kehidupan yang melambat, menebus masa muda yang bergelimang tenggat. Sambil menyesap teh panas dan mengganyang mendoan di angkringan…

“Eh iya, kayaknya Jogja asik juga.”

Ahaaaiii, perempuan cantik itu mulai tertarik. Mereka pun membuka sarapan yang disiapkan Bibi.

tangan yang mesti istirahat

“Yuk berangkat, nanti dokternya keburu pulang,” kata saya. Keinginan leyeh-leyeh pada Sabtu pagi, apa boleh buat, mesti dilawan.

Kafka bergegas mandi. Ia kembali mengenakan kaos favoritnya. Hitam, sudah mulai pudar lantaran terlalu kerap dicuci.

Pada awal tahun pelajaran lalu, para siswa baru diminta bikin papan karton untuk digantung di leher. Lalu ditulisi nama sendiri dan nama idola.

Dia menulis ‘James Owen Sullivan.’

Ibunya langsung pening. Sullivan adalah drummer Avenged Sevenfold yang meninggal dunia di usia muda. Permainannya gahar, tangannya penuh tato.

“Masak di sekolah Islam yang jadi idola dia,” kata Raya. Tapi Kafka ogah mengubah.

Avenged Sevenfold memang band favoritnya. Kalau membuka YouTube, dia sering memutar lagu-lagunya. Havel yang memperkenalkan kelompok musik cadas ini ke adiknya.

Saya hanya tertawa soal Sullivan di papan karton. Asal bukan koruptor atau penjahat HAM yang jadi idola.

Rabu lalu, di sekolah itu, Kafka terpeleset saat berolah raga. Tangan jadi tumpuan ke lantai secara refleks. Sikunya kemudian bermasalah. Sakit jika diluruskan.

Pagi tadi, kami ke dokter ortopedi. Dirontgen. Ada retak sedikit tapi tak sampai geser atau dislokasi. Perasaan lega segera menghampiri.

Untuk seminggu ke depan, Kafka tak boleh menyentuh drum. Tangannya harus istirahat untuk pemulihan. Arm sling jadi teman yang hanya boleh ditanggalkan saat mandi.

Jeda adalah koentji!

adil

Alkisah, terjadi tawuran antara anak-anak SMA 6 versus SMA 70 Jakarta (ini sekolah saya…hehe…). Ada satu mobil yang parkir di GOR Bulungan, isinya anak-anak 70. Mereka turun dan buka bagasi. Ternyata bagasi memuat batang-batang bambu buat tawuran. Saat bambu dibagi-bagi, Mas Bawor Prayitno melihat dan murka.

“Jangan pernah bagi-bagi senjata di sini. GOR ini kawasan netral, kawasan damai. Boleh berantem di jalan tapi begitu masuk harus lupakan perkelahian!” ujar aktor teater itu kepada mereka.

Entah sejak kapan dia berkegiatan di GOR Bulungan, yang pasti GOR adalah ‘rumah’ buat pria asal Purwokerto tersebut. Selain pegiat teater, dia juga sensei alias guru aikido.

Cerita lain. Seorang pedagang minuman ditegur Mas Bawor. Gara-garanya, di samping gerobak dia ada tripleks besar bertuliskan: tempat itu markas anak-anak dari sekolah tertentu. Pedagang itu pun disemprot Mas Bawor. “GOR ini untuk siapa saja, mereka bebas beraktivitas di sini selama tertib. Nggak ada markas-markasan, nanti ada rajanya segala lagi,” ujar Mas Bawor.

Mas Bawor menyodorkan pilihan buat pedagang itu, hapus tulisan atau dibakar tripleksnya. Sang pedagang memilih menghapus.

Saya kutip dua kisah di atas dari status Mas Bawor di Facebook. Untuk sesaat saya membeku dan terharu ketika membacanya kemarin pagi. Lalu teringat definisi “adil” yang disampaikan pak guru di sekolah dasar dulu, yaitu “letakkan sesuatu pada tempatnya.”

Sehat selalu, Sensei. Salam hormat dari Cinere.

hidup di luar tempurung

Tiba juga saat itu. Anak yang belasan tahun bersama kini harus meninggalkan rumah, pergi menempuh hidup di kota lain. Tempat barunya berjarak hampir 800 km dari kami, di Surabaya.

Ini bukan momen biasa. Tak heran jika ada sesak di dada. Tapi saya telah coba bersiap sejak beberapa bulan lalu. Sebab Havel memang telah memperlihatkan sikap untuk memilih sekolah bukan di Jakarta dan sekitarnya.

It’s okay. Saya juga dulu merantau saat kuliah. Orang tua di Jakarta, saya melanglangbuana di Bandung. Namun Bandung hanya sepelemparan batu dari rumah. Sebulan sekali pulang.

Surabaya lumayan jauh. Tak bisa dia pulang saban bulan. Kami tak berlimpah duit.

Sebaliknya, berlimpah manfaat merantau yang bisa direguknya. Hidup nyaman di rumah segera digantikan dengan sejumlah ‘ketidakpastian’. Namun itu niscaya penting dalam proses pematangan diri.

Havel juga akan melihat dunia yang jauuuuuh lebih luas. Bakal punya perspektif yang lebih kaya karena hidup di zona berbeda dengan sebelumnya. Maka, semoga dia mudah mekar menjadi pribadi yang toleran, adaptif, dan rendah hati.

Apakah ada orang tua yang melarang anaknya merantau? Dari pengamatan saya, cukup banyak. Kira-kira alasan utamanya seragam: cemas dengan pergaulan sosial.

Mustahil dia selamanya hidup dalam ‘tempurung’ bersama keluarga.  Dengan keluar, dia belajar menata banyak hal, tak lagi berkutat dalam ‘supervisi’ kami. Kepercayaan penting diberikan. Bahwa ada risiko ini dan itu, mitigasi dan antisipasinya memang kudu disiapkan.

Si anak yang jadi pusat kepedulian. Maka, ketika pengumuman kelulusan terbit, saya cek, “Kamu senang diterima di ITS?”

Bagaimanapun, ITB yang menjadi pilihan pertamanya. Luput, bukan jodohnya. Karena itu pertanyaan di atas layak dilontarkan.

“Senang dong,” jawabnya dengan air muka cerah. Dia bukan tipe ekspresif. Jadi cerahnya wajah sudah lebih cukup bagi saya.

Sebelum Havel terbang ke Surabaya, saya juga minta dia menghubungi kakung-nya. Minta restu. Mata saya hangat saat Havel menunjukkan pesan Whatsapp dari bapak saya itu — jawaban atas permintaan restu.

Bapak saya sangat menyayanginya. “Kakung mau kok menemani waktu Havel ospek,” kata ibu, beberapa bulan silam. Saya teringat, ketika Havel berusia dua atau tiga tahun, kakung sering mengajaknya ke Toko Surya untuk membeli mainan.

Tempuhlah fase ini, Nak. Doa kami menemanimu.

Catatan: judul saya pinjam dari terjemahan memoar Ben Anderson.

depok baru – duren kalibata

“Stasiun berikutnya, Duren Kalibata.”

Suara perempuan dari pengeras suara itu membuat saya beringsut perlahan.  Menerobos sejumlah orang di dekat pintu. Harus perlahan, atau akan membuat mereka tak nyaman, seraya mengucap, “Permisi…”

Empat hari kemarin saya jadi penumpang commuter line Jakarta-Bogor. Berangkat dari Stasiun Depok Baru, turun di Stasiun Duren Kalibata. Pada malam hari, saya menempuh arah sebaliknya.

Saban mau turun di perjalanan pagi, secuil rasa cemas menyergap. Kereta sangat penuh. Sebagai gambaran, kita tak bisa merentangkan tangan ke depan atau ke samping tanpa menyentuh orang lain. Tak bisa, bahkan setengah tangan pun.

Nah, di setiap stasiun,  kereta berhenti sebentar saja. Hanya sekitar satu menit. Jika terlambat keluar, pintu tertutup dan kita harus terbawa ke stasiun berikutnya. Tanpa ampun!

Di sana, mustahil kita tak bersentuhan. Juga dengan lawan jenis. Kaum pengusung segregasi jenis kelamin seharusnya protes keras. Cuma, biasanya, dua gerbong di ujung kereta dikhususkan untuk kaum Hawa.

Pada Jumat kemarin, kereta berangkat dari Depok Baru pada pukul 06.39. Tiba di Duren Kalibata pada pukul 07.16. Sangat cepat untuk ukuran Jakarta. Jarak kedua tempat itu sekitar 18 kilometer. Ingat, jalur itu melewati kawasan Lenteng Agung-Pasar Minggu yang tersohor kemacetannya.

Saya belum pernah merasakan kepadatan yang sama pada MRT Jakarta. Bahkan pada jam-jam sibuk. Saya hanya punya satu dugaan: harga tiket MRT membuatnya secara otomotis membatasi zona ekonomi pengguna. Berbeda dengan commuter line yang jauh lebih murah.

Situasi commuter line pada Sabtu pagi.

Pada Sabtu pagi, situasi lebih manusiawi. Kereta tak sepadat Senin sampai Jumat. Namun, kalau naik dari Depok Baru, tetap jangan berharap untuk duduk–kecuali Anda sudah terlihat sangat sepuh.

Ini jelas moda transportasi yang tidak bersahabat dengan para kaum difabel.  Bagaimana bisa mereka mengejar ‘kecepatan’ pintu yang segera menutup itu?

Ini khas Jakarta? Tidak. Kalau menggunakan subway train di Tokyo, situasi umpel-umpelan juga mudah Anda pergoki pada jam-jam sibuk. Bahkan para petugas lazim mendorong masuk para penumpang agar pintu bisa ditutup.

Bagaimana pun, perkeretapian Indonesia sudah jauh membaik. Ignasius Jonan punya andil besar dalam mengubahnya ketika menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Mulai dari 2009 itu, tak ada lagi penumpang yang merokok, pedagang berseliweran di gerbong, dan penumpang di atap. Ketepatan waktu perjalanan juga bisa diandalkan. Dan seterusnya.

Soal kepadatan, lain cerita. Maka, ketika suara perempuan itu terdengar, saya bergerak dengan semacam rasa cemas. Saya tak mau terbawa sampai Stasiun Cawang.

rok mini dan media sosial

Hanya delapan baris. Pesan pengirimnya, Lela, terang-benderang: kontes rok mini itu mengekspos aurat wanita.  “Apalagi ketua tim juri adalah Titiek Puspa, penyanyi terkenal, hajjah, dan anggota MPR,” tulis Lela yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Protes ini disampaikan ketika belum ada media sosial. Dimuat di rubrik surat pembaca TEMPO edisi 17 September 1988. Saya menemukannya saat ngabuburit di Blok M Square di lapak-lapak bacaan lawas.

Lela dan teman-temannya tak punya banyak keleluasaan. Hanya ada media massa arus utama: koran, majalah, radio, dan televisi.  Para pengelola memasang filter ketat dalam memilah dan memilih konten. Kita abaikan pertimbangannya — mungkin politis, entah ekonomis. Yang pasti  tak gampang bagi ‘nobody’ seperti Lela untuk bersuara dan didengar publik.

Itu sebabnya hadir  kebanggaan tersendiri jika seseorang bisa menembus halaman opini Kompas. Ah, jangankan Kompas, dimuat di Pikiran Rakyat saja membuat penulisnya seperti punya hak menepuk dada.

Bahkan sekadar mengirim surat pembaca, belum pasti dimuat. Mesti bersaing dengan ribuan surat lain. Antre atau dibuang ke keranjang sampah. Jika dimuat, usianya hanya sehari. Besok ada surat-surat lain. Jangan bayangkan pesan itu menjadi viral. Nyaris tak pernah ada.

Lupakan menulis kolom di TEMPO. Karena hampir semua merupakan tulisan pesanan redaksi. Mereka yang dipesan pun hanya nama-nama tenar di jagat penulisan: Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Ong Hok Ham, atau Mahbub Djunaidi.

Saya membayangkan, jika kontes rok mini digelar hari ini, bisa dipastikan bakal jauh lebih riuh. Pro dan kontra meruyak. Pemrotesnya tak akan mengirim surat pembaca ke TEMPO atau Kompas. Tapi dia akan mengunggah ke media sosial, dilengkapi eflyer acara, dan ngetag sejumlah pihak. Tak perlu filter dari redaksi. Pun tak butuh antre – kelar ditulis, dalam hitungan detik langsung tersebar.

Usia pesan bukan hanya sehari. Bisa berhari-hari, bahkan sepekan. Berkat tombol share, pesan menjangkau sangat banyak orang di seluruh penjuru dunia. Berlipat ganda daya tekannya.

Pihak yang pro juga demikian, bakal mengeluarkan argumentasi-argumentasi. Debat tergelar, hiruk-pikuk mewarnai linimasa kita.

Demokratisasi informasi? Iya. Selamat tinggal ‘mercusuar opini’ yang dikekalkan media massa? Iya. Kehadiran blog beberapa tahun sebelumnya menjadi pembuka jalan menuju itu semua.

Tunggu dulu. Ini hanya satu sisi dari sekeping uang logam. Satu sisi lainnya sungguh mencemaskan. Media sosial membuat hoaks mudah sekali bergulir dan menyebar. Saya sendiri tak mendukung delik pencemaran nama baik. Enyahkan saja itu dari hukum positif kita — subjektif dan bersifat ‘karet’. Tapi beda dengan kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Kita menengok sebentar ke Myanmar. Penyelidik HAM dan tim investigasi PBB untuk kasus Rohingya menyebut Facebook diduga memiliki andil dalam terciptanya kerusuhan dan persekusi yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan lebih 650 ribu orang mengungsi dari Rakhine pada 2017 lalu.

Tim investigasi menggarisbawahi: Facebook sangat populer di Myanmar dan membuatnya jadi saluran utama penyebaran ujaran kebencian yang menyasar kelompok Rohingya.

Myanmar hanya contoh. Di balik berkah media sosial, ada potensi musibah. Celakanya, musibah itu mustahil dikategorikan ‘enteng-entengan.’ Sedih sekali, misalnya, menonton video seorang anak muda yang bilang ingin memenggal kepala Jokowi. Juga kasus-kasus penyebaran kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian lain di media sosial.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk membikin media sosial lebih sehat. Sejak 2018, Facebook mengembangkan program fact-checking untuk teks, lalu berlanjut untuk foto dan video. Tapi belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh.

Bu Lela sendiri tak jauh dari usia 50 tahun kini. Barangkali punya akun media sosial. Jika punya uneg-uneg, mudah sekali menyampaikannya. Ia tak perlu lagi mengirim surat pembaca ke TEMPO dan lama menanti. Tak cuma delapan baris, boleh sesuka hati.

* Setelah diunggah, tulisan ini beberapa kali disunting. Terakhir pada Senin 3 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.