sak madya

Di sebuah SPBU, di perempatan yang sibuk, sekitar 2 km dari Stadion Manahan, Solo. Sebelum gas poll ke Jakarta, saya memeriksakan kembali tekanan ban kendaraan.

“Tolong dicek, Mas, minta 34 masing-masing,” kata saya.

Ternyata masih cukup oke. Rata-rata 32 psi. Hanya harus ditambah sedikit. Pria itu cekatan bekerja. Saya melihat daftar harga: Rp 5 ribu per ban untuk tambah nitrogen.

Setelah empat ban kelar dioprek, saya menyerahkan selembar uang 20 ribuan.

“Sepuluh ribu saja, kan nambahnya cuma sedikit,” ujar pria itu.

Saya yakin dia tahu bahwa saya dari Jakarta. Gampang diketahui dari aksen omongan dan pelat kendaraan. Jadi kemungkinan kembali ke sini kecil sekali. Jika saya orang Solo, mungkin dia akan berpikir soal merawat loyalitas konsumen.

Daftar itu tak menyebut perbedaan harga jika pertambahan nitrogen hanya sedikit. Dia sejatinya tak perlu melakukan “diskresi” karena panduan tersaji.

Dia, dalam spekulasi saya, memilih mengikuti hati, mengabaikan kalkulasi untung-rugi. Tak mau jadi makhluk loba. Kata orang Jawa, sak madya.

Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga berlimpah kebaikan yang kita pancarkan ke seluruh penjuru semesta.

perjalanan berdua

1.
Jika kami bepergian ke luar Indonesia, kemungkinannya dua: pergi sendiri atau mengajak anak-anak. Tak pernah kami, saya dan Raya, hanya pergi berdua.

Pergi berdua ke kantor tidak direken ya. Dalam setahun belakangan, hampir tiap hari kami bareng ngantor. Pulangnya kerap sendiri-sendiri lantaran pekerjaan saya yang sulit dipegang jadwalnya.

Pekan lalu berbeda. Kini dua bocah tersebut telah bisa ditinggal. Biasanya selalu diajak. Havel malah sudah meninggalkan rumah, ngekos di Surabaya. Kafka tak keberatan sendiri.

“Uti nginap di sini untuk menemani kamu?” tanya Raya. Uti adalah panggilan untuk ibu saya.

“Aku berani sendiri kok,’ kata Kafka. Ia 12 tahun, tubuh menjulang, melampaui orangtuanya.

2.
Tujuan hanya sepeminuman teh, yaitu Singapura, untuk menghadiri “kuliah budaya” yang diampu Bono dkk. U2 menggelar  “The Joshua Tree Tour 2019” namun melewatkan Indonesia.

Di sela-sela itu, ada kembara ke Orchard, Kampong Glam, dan Little India. Naik-turun MRT, menjajal ketahanan betis, menjelajahi sudut-sudut kota. Meski buat masing-masing bukan kunjungan yang pertama, Singapura masih menyisakan banyak titik untuk disambangi.

Saat di Orchard, kami berpisah. Saya balik ke hotel, Raya masih di Takashimaya. Pegal saya nungguin yang belanja…😁😂

Rencana jalan ke National Stadium pukul 15.00. Datang lebih awal dengan mimpi bisa mengeksplorasi venue dan sekitarnya. Pun sedikit berharap bisa jumpa beberapa teman dari Jakarta sebelum pertunjukan.

Saya bolak-balik menelepon, meminta Raya segera kembali ke hotel.

“Iya, sebentar lagi,” jawabnya. Ia baru muncul di hotel menjelang pukul 18.00.

Beruntung mentari telat tenggelam di Singapura. Pada 18.30, ketika kami tiba di lokasi, langit masih lumayan terang. Hasrat berfoto-foto tak terganggu gelap.

Dua jam kemudian, Larry Mullen Jr berjalan ke lidah panggung. Pukulan-pukulannya ke snare drum sontak membuat seisi National Stadium bersorak. Konser dimulai dengan Sunday Bloody Sunday.

3.
Pada hari terakhir petualangan, betis menyerah takluk. Kami naik taksi ke Harbour Front untuk menyeberang ke Batam.

Turun dari taksi, masuk dulu ke Vivo City buat cuci mata. Saat lagi lihat-lihat, jreengg…baru ngeh bahwa tas biru gak ada!

Ya, ketinggalan di taksi. Sialnya, kami lupa nama taksi dll. Waktu juga tak banyak. Power bank, kaca mata cadangan, topi, dan sejumlah barang lain harus diikhlaskan.

(Kami mungkin akan minta bantuan teman yang tinggal di Singapura. Siapa tahu masih berjodoh.)

Ujung cerita, kami bertekad: kapan-kapan bakal ada perjalanan berdua lagi, lebih jauh dan lebih lama. Begitu rencananya.

Tagline sudah disiapkan: berdua kita gempor bersama!

jogja

“Kalau pensiun, enak juga kayaknya pindah dari Jakarta,” kata sang istri.

Mereka dalam perjalanan ke kantor. Lalu lintas lumayan bersahabat. Sejak ada Tol Desari, Cinere-Sudirman kurang dari satu jam. Mereka berpisah di Sudirman, menuju tujuan masing-masing.

“Kita kan tinggal di Cinere, bukan Jakarta,” ujar sang suami sambil lanjut nyetir.

“Bali enak kali yak. Indra Lesmana dan Sophie Navita kan tinggal di sana,” ujar istri. Sang suami membatin, jurnalis cum sineas Erwin Arnada juga tinggal di sana sejak beberapa tahun lalu.

“Gimana kalau Jogja? Pasti tidak di di kotanya, tapi di Sleman atau Mbantul. Pinggiran gituu, biar dapat yang murah…” kata suami.

Dulu sang suami punya impian tinggal di Bogor. Membuka jendela rumah, Gunung Salak tegak anggun di kejauhan. Hujan saban hari. Dedaunan hijau di sekeliling.

Menginjak dunia perkuliahan, sang suami sempat memendam hasrat pindah ke Jogja. Saat itu ia sudah diterima di kampus negeri di Bandung. Belakangan, ingin mendaftar ke Sosiologi atau Antropologi UGM. Sayup-sayup ia mendengar kehidupan intelektual yang bergelora dan ingin juga kecemplung di sana.

Niat itu diurungkan. Tak tega dengan orangtua yang telah membiayai setahun jadi alasan utama. Tapi Jogja tak pernah pergi dari hati.

Buat sang suami, kini Jogja lebih berdaya magnet ketimbang daerah mana pun di Nusantara. Karakter intelektual dan kultural-nya menyeruak kokoh ke permukaan.

Pesohor medsos, Arman Dhani, pernah menulis pada sebuah esai, “Di Jogja…Terlampau banyak perpustakaan, toko buku murah dan kantung-kantung kebudayaan yang membuat kita cerdas. Terlalu sedikit alasan untuk tidak mendatangi mereka dan menjadi pintar karenanya.”

Anda akan sebut semua ini sebagai semacam romantisme? Rasanya sang suami tidak keberatan.

Imajinasi tentang masa pensiun mulai bekerja. Kehidupan yang melambat, menebus masa muda yang bergelimang tenggat. Sambil menyesap teh panas dan mengganyang mendoan di angkringan…

“Eh iya, kayaknya Jogja asik juga.”

Ahaaaiii, perempuan cantik itu mulai tertarik. Mereka pun membuka sarapan yang disiapkan Bibi.

tangan yang mesti istirahat

“Yuk berangkat, nanti dokternya keburu pulang,” kata saya. Keinginan leyeh-leyeh pada Sabtu pagi, apa boleh buat, mesti dilawan.

Kafka bergegas mandi. Ia kembali mengenakan kaos favoritnya. Hitam, sudah mulai pudar lantaran terlalu kerap dicuci.

Pada awal tahun pelajaran lalu, para siswa baru diminta bikin papan karton untuk digantung di leher. Lalu ditulisi nama sendiri dan nama idola.

Dia menulis ‘James Owen Sullivan.’

Ibunya langsung pening. Sullivan adalah drummer Avenged Sevenfold yang meninggal dunia di usia muda. Permainannya gahar, tangannya penuh tato.

“Masak di sekolah Islam yang jadi idola dia,” kata Raya. Tapi Kafka ogah mengubah.

Avenged Sevenfold memang band favoritnya. Kalau membuka YouTube, dia sering memutar lagu-lagunya. Havel yang memperkenalkan kelompok musik cadas ini ke adiknya.

Saya hanya tertawa soal Sullivan di papan karton. Asal bukan koruptor atau penjahat HAM yang jadi idola.

Rabu lalu, di sekolah itu, Kafka terpeleset saat berolah raga. Tangan jadi tumpuan ke lantai secara refleks. Sikunya kemudian bermasalah. Sakit jika diluruskan.

Pagi tadi, kami ke dokter ortopedi. Dirontgen. Ada retak sedikit tapi tak sampai geser atau dislokasi. Perasaan lega segera menghampiri.

Untuk seminggu ke depan, Kafka tak boleh menyentuh drum. Tangannya harus istirahat untuk pemulihan. Arm sling jadi teman yang hanya boleh ditanggalkan saat mandi.

Jeda adalah koentji!

adil

Alkisah, terjadi tawuran antara anak-anak SMA 6 versus SMA 70 Jakarta (ini sekolah saya…hehe…). Ada satu mobil yang parkir di GOR Bulungan, isinya anak-anak 70. Mereka turun dan buka bagasi. Ternyata bagasi memuat batang-batang bambu buat tawuran. Saat bambu dibagi-bagi, Mas Bawor Prayitno melihat dan murka.

“Jangan pernah bagi-bagi senjata di sini. GOR ini kawasan netral, kawasan damai. Boleh berantem di jalan tapi begitu masuk harus lupakan perkelahian!” ujar aktor teater itu kepada mereka.

Entah sejak kapan dia berkegiatan di GOR Bulungan, yang pasti GOR adalah ‘rumah’ buat pria asal Purwokerto tersebut. Selain pegiat teater, dia juga sensei alias guru aikido.

Cerita lain. Seorang pedagang minuman ditegur Mas Bawor. Gara-garanya, di samping gerobak dia ada tripleks besar bertuliskan: tempat itu markas anak-anak dari sekolah tertentu. Pedagang itu pun disemprot Mas Bawor. “GOR ini untuk siapa saja, mereka bebas beraktivitas di sini selama tertib. Nggak ada markas-markasan, nanti ada rajanya segala lagi,” ujar Mas Bawor.

Mas Bawor menyodorkan pilihan buat pedagang itu, hapus tulisan atau dibakar tripleksnya. Sang pedagang memilih menghapus.

Saya kutip dua kisah di atas dari status Mas Bawor di Facebook. Untuk sesaat saya membeku dan terharu ketika membacanya kemarin pagi. Lalu teringat definisi “adil” yang disampaikan pak guru di sekolah dasar dulu, yaitu “letakkan sesuatu pada tempatnya.”

Sehat selalu, Sensei. Salam hormat dari Cinere.

hidup di luar tempurung

Tiba juga saat itu. Anak yang belasan tahun bersama kini harus meninggalkan rumah, pergi menempuh hidup di kota lain. Tempat barunya berjarak hampir 800 km dari kami, di Surabaya.

Ini bukan momen biasa. Tak heran jika ada sesak di dada. Tapi saya telah coba bersiap sejak beberapa bulan lalu. Sebab Havel memang telah memperlihatkan sikap untuk memilih sekolah bukan di Jakarta dan sekitarnya.

It’s okay. Saya juga dulu merantau saat kuliah. Orang tua di Jakarta, saya melanglangbuana di Bandung. Namun Bandung hanya sepelemparan batu dari rumah. Sebulan sekali pulang.

Surabaya lumayan jauh. Tak bisa dia pulang saban bulan. Kami tak berlimpah duit.

Sebaliknya, berlimpah manfaat merantau yang bisa direguknya. Hidup nyaman di rumah segera digantikan dengan sejumlah ‘ketidakpastian’. Namun itu niscaya penting dalam proses pematangan diri.

Havel juga akan melihat dunia yang jauuuuuh lebih luas. Bakal punya perspektif yang lebih kaya karena hidup di zona berbeda dengan sebelumnya. Maka, semoga dia mudah mekar menjadi pribadi yang toleran, adaptif, dan rendah hati.

Apakah ada orang tua yang melarang anaknya merantau? Dari pengamatan saya, cukup banyak. Kira-kira alasan utamanya seragam: cemas dengan pergaulan sosial.

Mustahil dia selamanya hidup dalam ‘tempurung’ bersama keluarga.  Dengan keluar, dia belajar menata banyak hal, tak lagi berkutat dalam ‘supervisi’ kami. Kepercayaan penting diberikan. Bahwa ada risiko ini dan itu, mitigasi dan antisipasinya memang kudu disiapkan.

Si anak yang jadi pusat kepedulian. Maka, ketika pengumuman kelulusan terbit, saya cek, “Kamu senang diterima di ITS?”

Bagaimanapun, ITB yang menjadi pilihan pertamanya. Luput, bukan jodohnya. Karena itu pertanyaan di atas layak dilontarkan.

“Senang dong,” jawabnya dengan air muka cerah. Dia bukan tipe ekspresif. Jadi cerahnya wajah sudah lebih cukup bagi saya.

Sebelum Havel terbang ke Surabaya, saya juga minta dia menghubungi kakung-nya. Minta restu. Mata saya hangat saat Havel menunjukkan pesan Whatsapp dari bapak saya itu — jawaban atas permintaan restu.

Bapak saya sangat menyayanginya. “Kakung mau kok menemani waktu Havel ospek,” kata ibu, beberapa bulan silam. Saya teringat, ketika Havel berusia dua atau tiga tahun, kakung sering mengajaknya ke Toko Surya untuk membeli mainan.

Tempuhlah fase ini, Nak. Doa kami menemanimu.

Catatan: judul saya pinjam dari terjemahan memoar Ben Anderson.

depok baru – duren kalibata

“Stasiun berikutnya, Duren Kalibata.”

Suara perempuan dari pengeras suara itu membuat saya beringsut perlahan.  Menerobos sejumlah orang di dekat pintu. Harus perlahan, atau akan membuat mereka tak nyaman, seraya mengucap, “Permisi…”

Empat hari kemarin saya jadi penumpang commuter line Jakarta-Bogor. Berangkat dari Stasiun Depok Baru, turun di Stasiun Duren Kalibata. Pada malam hari, saya menempuh arah sebaliknya.

Saban mau turun di perjalanan pagi, secuil rasa cemas menyergap. Kereta sangat penuh. Sebagai gambaran, kita tak bisa merentangkan tangan ke depan atau ke samping tanpa menyentuh orang lain. Tak bisa, bahkan setengah tangan pun.

Nah, di setiap stasiun,  kereta berhenti sebentar saja. Hanya sekitar satu menit. Jika terlambat keluar, pintu tertutup dan kita harus terbawa ke stasiun berikutnya. Tanpa ampun!

Di sana, mustahil kita tak bersentuhan. Juga dengan lawan jenis. Kaum pengusung segregasi jenis kelamin seharusnya protes keras. Cuma, biasanya, dua gerbong di ujung kereta dikhususkan untuk kaum Hawa.

Pada Jumat kemarin, kereta berangkat dari Depok Baru pada pukul 06.39. Tiba di Duren Kalibata pada pukul 07.16. Sangat cepat untuk ukuran Jakarta. Jarak kedua tempat itu sekitar 18 kilometer. Ingat, jalur itu melewati kawasan Lenteng Agung-Pasar Minggu yang tersohor kemacetannya.

Saya belum pernah merasakan kepadatan yang sama pada MRT Jakarta. Bahkan pada jam-jam sibuk. Saya hanya punya satu dugaan: harga tiket MRT membuatnya secara otomotis membatasi zona ekonomi pengguna. Berbeda dengan commuter line yang jauh lebih murah.

Situasi commuter line pada Sabtu pagi.

Pada Sabtu pagi, situasi lebih manusiawi. Kereta tak sepadat Senin sampai Jumat. Namun, kalau naik dari Depok Baru, tetap jangan berharap untuk duduk–kecuali Anda sudah terlihat sangat sepuh.

Ini jelas moda transportasi yang tidak bersahabat dengan para kaum difabel.  Bagaimana bisa mereka mengejar ‘kecepatan’ pintu yang segera menutup itu?

Ini khas Jakarta? Tidak. Kalau menggunakan subway train di Tokyo, situasi umpel-umpelan juga mudah Anda pergoki pada jam-jam sibuk. Bahkan para petugas lazim mendorong masuk para penumpang agar pintu bisa ditutup.

Bagaimana pun, perkeretapian Indonesia sudah jauh membaik. Ignasius Jonan punya andil besar dalam mengubahnya ketika menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Mulai dari 2009 itu, tak ada lagi penumpang yang merokok, pedagang berseliweran di gerbong, dan penumpang di atap. Ketepatan waktu perjalanan juga bisa diandalkan. Dan seterusnya.

Soal kepadatan, lain cerita. Maka, ketika suara perempuan itu terdengar, saya bergerak dengan semacam rasa cemas. Saya tak mau terbawa sampai Stasiun Cawang.

rok mini dan media sosial

Hanya delapan baris. Pesan pengirimnya, Lela, terang-benderang: kontes rok mini itu mengekspos aurat wanita.  “Apalagi ketua tim juri adalah Titiek Puspa, penyanyi terkenal, hajjah, dan anggota MPR,” tulis Lela yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Protes ini disampaikan ketika belum ada media sosial. Dimuat di rubrik surat pembaca TEMPO edisi 17 September 1988. Saya menemukannya saat ngabuburit di Blok M Square di lapak-lapak bacaan lawas.

Lela dan teman-temannya tak punya banyak keleluasaan. Hanya ada media massa arus utama: koran, majalah, radio, dan televisi.  Para pengelola memasang filter ketat dalam memilah dan memilih konten. Kita abaikan pertimbangannya — mungkin politis, entah ekonomis. Yang pasti  tak gampang bagi ‘nobody’ seperti Lela untuk bersuara dan didengar publik.

Itu sebabnya hadir  kebanggaan tersendiri jika seseorang bisa menembus halaman opini Kompas. Ah, jangankan Kompas, dimuat di Pikiran Rakyat saja membuat penulisnya seperti punya hak menepuk dada.

Bahkan sekadar mengirim surat pembaca, belum pasti dimuat. Mesti bersaing dengan ribuan surat lain. Antre atau dibuang ke keranjang sampah. Jika dimuat, usianya hanya sehari. Besok ada surat-surat lain. Jangan bayangkan pesan itu menjadi viral. Nyaris tak pernah ada.

Lupakan menulis kolom di TEMPO. Karena hampir semua merupakan tulisan pesanan redaksi. Mereka yang dipesan pun hanya nama-nama tenar di jagat penulisan: Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Ong Hok Ham, atau Mahbub Djunaidi.

Saya membayangkan, jika kontes rok mini digelar hari ini, bisa dipastikan bakal jauh lebih riuh. Pro dan kontra meruyak. Pemrotesnya tak akan mengirim surat pembaca ke TEMPO atau Kompas. Tapi dia akan mengunggah ke media sosial, dilengkapi eflyer acara, dan ngetag sejumlah pihak. Tak perlu filter dari redaksi. Pun tak butuh antre – kelar ditulis, dalam hitungan detik langsung tersebar.

Usia pesan bukan hanya sehari. Bisa berhari-hari, bahkan sepekan. Berkat tombol share, pesan menjangkau sangat banyak orang di seluruh penjuru dunia. Berlipat ganda daya tekannya.

Pihak yang pro juga demikian, bakal mengeluarkan argumentasi-argumentasi. Debat tergelar, hiruk-pikuk mewarnai linimasa kita.

Demokratisasi informasi? Iya. Selamat tinggal ‘mercusuar opini’ yang dikekalkan media massa? Iya. Kehadiran blog beberapa tahun sebelumnya menjadi pembuka jalan menuju itu semua.

Tunggu dulu. Ini hanya satu sisi dari sekeping uang logam. Satu sisi lainnya sungguh mencemaskan. Media sosial membuat hoaks mudah sekali bergulir dan menyebar. Saya sendiri tak mendukung delik pencemaran nama baik. Enyahkan saja itu dari hukum positif kita — subjektif dan bersifat ‘karet’. Tapi beda dengan kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Kita menengok sebentar ke Myanmar. Penyelidik HAM dan tim investigasi PBB untuk kasus Rohingya menyebut Facebook diduga memiliki andil dalam terciptanya kerusuhan dan persekusi yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan lebih 650 ribu orang mengungsi dari Rakhine pada 2017 lalu.

Tim investigasi menggarisbawahi: Facebook sangat populer di Myanmar dan membuatnya jadi saluran utama penyebaran ujaran kebencian yang menyasar kelompok Rohingya.

Myanmar hanya contoh. Di balik berkah media sosial, ada potensi musibah. Celakanya, musibah itu mustahil dikategorikan ‘enteng-entengan.’ Sedih sekali, misalnya, menonton video seorang anak muda yang bilang ingin memenggal kepala Jokowi. Juga kasus-kasus penyebaran kabar bohong, fitnah, dan ujaran kebencian lain di media sosial.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk membikin media sosial lebih sehat. Sejak 2018, Facebook mengembangkan program fact-checking untuk teks, lalu berlanjut untuk foto dan video. Tapi belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh.

Bu Lela sendiri tak jauh dari usia 50 tahun kini. Barangkali punya akun media sosial. Jika punya uneg-uneg, mudah sekali menyampaikannya. Ia tak perlu lagi mengirim surat pembaca ke TEMPO dan lama menanti. Tak cuma delapan baris, boleh sesuka hati.

* Setelah diunggah, tulisan ini beberapa kali disunting. Terakhir pada Senin 3 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.

perjalanan dan ketidakterdugaan

Ketidakterdugaan. Perjalanan liburan lebaran kemarin membawa kami dalam sejumlah ketidakterdugaan. Justru ketika menggunakan teknologi untuk menghalau spekulasi.

Menjelang tengah malam, mungkin di sekitar Kebumen, aplikasi waze mengarahkan untuk mengambil jalanan kampung. Memisahkan diri dari jalan raya.

Arus balik lebaran menyebabkan laju lalu-lintas tersendat. Pun di arah sebaliknya. Kami berangkat dari Pangandaran menuju Jogja.

Roda-roda lalu menggilas aspal kasar. Saat itu giliran istri saya, Raya, yang mengemudi. Saya jadi navigator.

Rumah-rumah pedesaan Jawa terlihat di kiri dan kanan. Lampu-lampu menyala. Hanya sedikit warga yang terlihat. Sisanya boleh jadi telah mengarungi langit mimpi — seperti juga dua bocah di kursi belakang.

Di satu titik, jalanan ternyata sedikit menanjak. Di ujung, terbentang rel kereta api.  Gelap merundung karena hanya persawahan mengurung. Tiba-tiba, persis di rel, kendaraan terhenti. Tak bergerak meski pedal gas telah diinjak. Ada apa ini?

Saya memutuskan turun, mencari tahu. Oh, ternyata ada batu lumayan besar, mengadang laju ban kanan depan. Saya pun meminta Raya untuk memundurkan mobil dan menggeser stir ke kiri.

Wuuss…kami pun lepas dari ketegangan sesaat. Sempat mampir pikiran bagaimana kiranya jika saat itu ada kereta melintas.

***

Aplikasi seperti waze ini mungkin seperti kompas pada beberapa abad silam. Kompas membuat manusia berani menjelajahi belahan dunia lain, tak perlu lagi cemas bagaimana cara kembali ke rumah. Ketidakpastian dilawan dengan teknologi.

Konon, bersama mesin cetak dan mesiu, kompas menjadi bekal penting era renaissance, pintu gerbang abad modern yang membebaskan manusia (baca: manusia Eropa) dari kungkungan otoritas lama.

Jika tak ada kompas, susah membayangkan Christopher Columbus bisa meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai perjalanannya. Maka berlayarlah Nina, Pinta, dan Santa Maria pada Agustus 1492.

***

Ketidakterdugaan berikut hadir saat ingin ke Candi Prambanan. Titik berangkat adalah kawasan Mangunan, Bantul. Di waze sudah diketik: Prambanan.  Let’s go

Kami diarahkan ke jalan Jogja-Solo. Ya, masuk akal. Tapi kemudian diminta keluar dari jalan raya, masuk ke pedesaan. Ah, siapa tahu ini rute tercepat.

Panorama indah memanjakan mata. Petang telah datang.

Kok jalanan makin kecil. Kalau dua mobil berpapasan, ngepas banget. Mulai tumbuh ragu. Di sebuah pertigaan, keraguan mengeras. Kepada seorang warga, kami pun bertanya, “Nuwun sewu, Mas. Ini jalan menuju Candi Prambanan?’

“Oh bukan, tidak lewat sini,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

Matahari sudah redup. Kami bertanya-tanya apa yang salah. Usut punya usut, kami hanya memasukkan “Prambanan” di waze. Padahal seharusnya “Candi Prambanan.”

Prambanan merupakan juga nama kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang menggunakan nama tersebut. Satu di Sleman, satu di Klaten. Keduanya bersisian. Candi Prambanan ada di Klaten.

Lakukan perjalanan. Maka, kita bakal kian yakin bahwa hidup adalah himpunan ketidakterdugaan meski telah dibantu teknologi.

 

 

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.