warkop, pintu menuju kemasyhuran

Kasino Hadiwibowo diajak ke rumah bundar di Desa Rarahan, di kaki Gunung Gede. Rumah itu tak sampai satu kilometer dari pintu gerbang Kebun Raya Cibodas.

Mahasiswa Administrasi Niaga FISIP UI ini langsung terkesan, “Wuiihh, asyik tempatnya, mana udara dingin dan sepi suasananya,” kata Kasino.

Selanjutnya adalah bujukan agar Kasino mau bergabung dengan tim kecil Mapala UI untuk mengisi acara di malam api unggun di Perkampungan UI di Cibubur, akhir September 1973. Kasino direncanakan berduet dengan Nanu Mulyono, juga mahasiswa FISIP UI. Keduanya jago bercanda, piawai melempar humor.

Kasino setuju. Duet itu terbukti mampu bikin gempar. “…Kasino dan Nanu tampil gaya dengan gaya slengean. Penonton tertawa, panitia pun puas. Kasino dan Nanu menjadi bintang, a star is born kata Temmy (Lesanpura) yang jadi panitia inti,’ kenang Rudy Badil, aktivis Mapala UI, yang punya andil mempertemukan keduanya.

Kisah berlanjut. Selain kuliah di UI, Temmy juga bekerja sebagai Kepala Program Radio Prambors. Ia rupanya sangat terkesan dengan Kasino dan Nanu. Kepada Badil, ia minta mereka mau mengisi acara di Radio Prambors.

Kasino dan Nanu setuju untuk siaran. Badil juga diminta nimbrung. Mereka diminta untuk ngobrol yang lucu-lucu saja. Tapi punya isi. “Ingat ya, kalian mahasiswa yang biasa mengisi acara di alam terbuka, juga bawakan lagu-lagu kampus sambil cerita lucu-lucuan. Itu saja dipelihara, tapi pakai persiapan,” kata Temmy.

Dalam istilah Temmy, mereka diminta “bercanda otak.”

Djodi Wuryantoro, mahasiswa Psikologi UI dan juga penyiar Prambors, ikut melempar saran. Ia mengingatkan penampilan Kasino dan Nanu di Perkampungan UI. “Kasino sukses menyanyikan lagu pop dangdut yang bercanda abis soal nasib orang di bui… atau Nanu yang dengan suara serak dan kocokan gitar menyanyikan  Hello Dolly, menirukan Louis Armstrong. Atau Nanu dan Kasino duet dengan lagu Tirtonadi yang rada-rada porno. Itu kan ciri kalian. Itu aja yang diterusin,” kata Djodi.

Slot acara mereka di Kamis malam, pukul 21.00. Itu persis bersamaan dengan dimulainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI, acara paling digemari se-Indonesia. Saat itu hanya ada TVRI, belum ada televisi-televisi swasta.

Acara malam Jumat itu pada mulanya hanya punya pendengar terbatas. Cuma kalangan mahasiswa UI. Sejak 1974, ketika lingkup pendengar mulai meluas, pengelola menamakan acara itu Warung Kopi Prambors. Mereka juga dikenal sebagai Warkop Prambors.

Mereka bertiga jadi penyebar terdepan gosip-gosip di seputar anak muda. Juga istilah-istilah khas yang dipakai semacam indehoy asoy, bohai, gintur, atau mana tahan.

Lalu, Wahyu Sardono atau Dono ikut bergabung. Itu bermula ketika mereka menjadi Panitia Pelaksana Pelatihan Nasional Lingkungan Hidup untuk Pemuda Indonesia di Puncak Pass, awal Juni 1975. Dono juga terlibat sebagai jurnalis yang membuat buletin harian acara pelatihan.

Saat malam tiba, mereka mengisi panggung kecil: ngobrol lucu dan menyanyi. Sepulang ke Jakarta, Dono dibujuk untuk ikut bergabung di acara malam Jumat itu.  Mahasiswa Sosiologi UI tersebut bersedia.

Kemudian, mahasiswa Universitas Pancasila bernama Indrojoyo Kusumonegoro atau Indro juga terlibat. Indro tinggal dekat dari studio Radio Prambors di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Ayahnya seorang jenderal polisi. Kawasan tersebut memang banyak dihuni pejabat. Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin dan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo juga tinggal di sana.

Foto: @Warkop_ID

PARODI LAGU MENJADI CIRI khas.  Nanu terampil memainkan gitar. Dia belajar sendiri, tak pernah ikut kursus.

Tak terlalu mahir bergitar, Kasino lebih menonjol sebagai penyanyi. Ia bisa bernyanyi dalam berbagai cengkok. Mulai dari Jawa, Batak, Betawi, sampai Mandarin. Urusan musik di Warkop, pria kelahiran Kebumen ini diplot sebagai frontman – seperti Ariel di Noah atau Duta di Sheila on 7.

Bahkan, pada 1979, Kasino diminta Guruh Soekarnoputra menyanyikan lagu Selamat Datang versi dangdut pada Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra 1979. Juga Jockie Suryoprayogo meminta Kasino menyanyikan parodi lagu Cinderella — aslinya dinyanyikan Ira Maya Sopha – di album “Musik Saya adalah Saya.”

Saat Indro direkrut, salah satu pertimbangan adalah kemampuan bermusiknya. Ia bisa bergitar dan meniup seruling. “Yang gua ingat itu gua disuruh menyanyikan lagu Melati-nya Grace Simon.  Tapi harus dalam langgam Jawa. Edan kan? Kurang kerjaan banget tuh Kasino…hehe…” kenang Indro.

Hanya Dono yang relatif tak bisa bermusik. Terkadang ia ikut menyanyi atau sekadar menabuh ketipung dan bongo.

Dengan parodi, mereka mengobrak-abrik lagu, terutama unsur liriknya.  Bayangkan lagu Kidung yang syahdu itu mereka acak-acak, menjadi menjurus porno.

Soal bahan lawakan, mereka banyak menyerap dari folklore, yang juga diajarkan di jurusan Antropologi. Dalam folklore, berlimpah cerita-cerita cabul, stereotip etnis, atau anekdot. Rudy Badil yang kuliah di Antropologi kerap diminta membawa bahan-bahan kuliah folklore yang diasuh Prof James Danandjaja. Itu semua dikemas ulang Warkop Prambors.

Ada satu contoh lelucon yang digali dari stereotip etnis. Jadi, ada calo bus di Lapangan Banteng, namanya Ucok. Suatu kali, dia ditusuk seseorang dan dibawa ke RSCM. Bapaknya datang sambil menangis, “Ucok, mangucaplah…Ucok, mengucaplah.”

Lalu, Ucok membuka mata dan berujar lirih, “Garogol…Garogol…”

MALAM TAHUN BARU 1977 menjadi pintu bagi kemasyhuran yang lebih gila. Warkop Prambors tampil di acara “Terminal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI. Sejak itu, ketenaran mereka melebar se-Indonesia. Di sini, Rudy Badil sudah tidak aktif. Ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai jurnalis Kompas.

Undangan manggung berdatangan. Dari seluruh penjuru Indonesia. Kocek mereka mulai tebal.

Rupiah kian berlimpah saat tawaran kontrak album kaset datang. Menariknya, album pertama berasal dari pertunjukan live mereka di Palembang. Ternyata sukses!

“Pramaqua langsung mengontrak Warkop untuk proyek kedua. “Kami membayar Warkop dengan jumlah fantastis, Rp 25 juta!” kata Johannes Soerjoko, bos Pramaqua.  Album yang dirilis Agustus 1979 itu juga meledak: terjual 180 ribu kaset dalam 45 hari.

Album kedua ini juga direkam live. Lokasinya Pontianak. Di album ini, Indro mengajukan teka-teki: apa bedanya laki-laki dengan sepak bola?

Tiga rekannya menyerah. Jawaban Indro, “Kalau sepak bola, penyerang membawa bola; bolanya masuk gawang, penyerang tunggu di luar. Kalau laki-laki, penyerang dibawa bola;  penyerang masuk gawang, bola tunggu di luar.”

—————–

Referensi: Warkop: Main-main jadi Bukan Main, Rudy Badil dan Indro Warkop (Editor), Kepustakaan Populer Gramedia, 2016 (cetakan ketiga)

simpang jalan dua wartawan

“Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja,” tulis Sutan Sjahrir dalam esai “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian.”

Pada 17 Februari 1946, koran Merdeka menerbitkan “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia.” Tebalnya 124 halaman. Salah satu yang dimuat adalah esai Sjahrir yang kutipannya nongol di atas.

Sebulan setelah “Nomor Peringatan” terbit, Merdeka terbelah. Kubu Rosihan Anwar mulai didepak. Di Merdeka, BM Diah menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum, Rosihan adalah redaktur utama. Keduanya sudah kerja bareng sejak koran Asia Raja pada masa pendudukan Jepang.

Merdeka mulai terbit 1 Oktober 1945. Koran itu dibangun setelah para wartawan dan karyawan Asia Raja mengambil alih percetakan De Unie dan menempelkan kertas bertuliskan “Milik Repoeblik Indonesia”.

Pemicu friksi Diah dan Rosihan adalah perbedaan visi. Rosihan terlalu dekat dengan faksi Sjahrir, Diah berafiliasi ke Sukarno. Konon tindakan Diah ini hanya reaksi. Sebelumnya, ia mendengar Rosihan dkk yang akan mendepaknya.

Diah tegas mengakui banyak bersimpang pendirian dengan Sjahrir. Perihal perlakuan Sjahrir atas dwitunggal Sukarno-Hatta tak disetujuinya. Sjahrir mengkritik keras mereka sebagai kolaborator Jepang dalam brosur Perjuangan Kita.

Juga soal perjuangan diplomasi yang banyak dipimpin Sjahrir. Dalam Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985, dinyatakan bahwa Diah tidak anti-diplomasi. Tapi, ia meminta jaminan bahwa semua itu bukan dilandasi oleh “bisikan” kubu sosialisme atau komunisme internasional. Harus berdasarkan kepentingan nasional Indonesia.

Karena ada dua “matahari” di Merdeka, pada suatu hari, Sjahrir dikritik. Pada hari lain, perdana menteri pertama RI itu dipuja-puji.

Tapi, kabarnya, soal pemilikan saham pun menjadi pangkal masalah. Rosihan menganggap Diah hendak menguasai Merdeka sendirian, sementara ia ingin semangat kolektif-kolegial dipertahankan. Tribuana Said, salah seorang menantu Diah, yang mengungkap hal ini dalam H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra.

Di autobiografinya, Menulis dalam Air, Rosihan tak menyinggung penyebab keluar dari Merdeka. Kisah yang dituliskan adalah perselisihan dengan Diah saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Oktober 197o. Rosihan mendapat suara terbanyak, tapi Diah mempermasalahkan prosedur pemilihan. Perpecahan PWI Pusat merembes sampai ke daerah. Dualisme kepengurusan terjadi.

Melalui proses yang alot, Rosihan disahkan juga menjadi Ketua PWI meski Rezim Orde Baru lebih suka jika Diah yang naik. Oh iya, di sini tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo, dikabarkan ikut ‘bermain’ dengan menyokong Diah.

Penting diingat bahwa sengketa ini memicu pemecatan Goenawan Mohamad dkk dari Ekspres — majalah yang 60% sahamnya dimiliki BM Diah. Goenawan menyayangkan Diah yang ogah berunding. Pernyataan ini dimuat beberapa surat kabar. Diah pun berang. Selepas Ekspres, pada 1971, Goenawan dkk mendirikan TEMPO.

Balik ke masa revolusi. Setelah keluar dari Merdeka, awal 1947,  Rosihan mendirikan Siasat, sebuah majalah politik dan budaya. Dalam waktu tiga bulan, tirasnya melesat ke 12.ooo.

Kemudian, Rosihan butuh mainan lain. Ia mendirikan Pedoman pada 1948. Koran ini kerap dibilang dekat dengan partai Sjahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia memang pengagum Sjahrir. Dalam autobiografinya itu, Rosihan bilang Perjuangan Kita meninggalkan kesan mendalam.

“Yang berkesan pula pada saya ialah nada kemanusiaan yang terdengar dari uraiannya. Inilah orang yang memperjuangkan tegaknya demenselijke waardigheld, martabat kemanusiaan di bumi persada Indonesia,” tulis Rosihan.

Nada esai ringkas Sjahrir di “Nomor Peringatan” kritis pada revolusi – ya, tak jauh berbeda dengan Perjuangan Kita. Bung Kecil menulis, “Agaknja salah-satoe sifat tiap-tiap revoloesi adalah, bahwa ia boeta, jaitoe bahwa orang yang berada dalam soeatoe revoloesi tiada dapat menangkap dan merasakan hoekoem sedjarah dengan pengertian, sehingga bagian terbesar dari pada tenaga yang lepas dari ikatannja dan bergolak didalam masjarakat itoe terboeang pertjoema.”

Saya membayangkan Diah jengkel ketika mengetahui Sjahrir menulis hal tersebut di koran yang dipimpinnya. Sementara Rosihan tersenyum.

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.

 

hatta dan sjahrir, sesaat sebelum jepang datang

Catatan: ini petikan “mentah” dari naskah buku yang entah kapan kelarnya.

Tak lama sebelum meninggalkan Banda Neira, Mohammad Hatta menulis artikel yang menyatakan dukungan kepada Sekutu, sekaligus memperlihatkan penolakan terhadap Jerman dan Jepang. Hatta ada di Banda Neira sejak Januari 1936. Statusnya: orang buangan rezim kolonial Belanda.

Sejak awal abad ke-20, Jepang menggeliat. Menjadi satu kekuatan militer baru dari Timur. Syahwat imperialisme negeri tersebut pun sempurna mekar. Pada awal Desember 1941, Jepang menghajar Pearl Harbour di Hawaii. Api Perang Pasifik berkobar.

Sahabat dekat Hatta dan sesama penghuni tanah pembuangan Banda Neira, Sutan Sjahrir, dikirimi ikhtisar artikel tersebut. “…aku segera menemuinya dan mengusulkan supaya artikel itu jangan dipublikasikan. Aku merasa bahwa pubikasi itu akan mempunyai akibat-akibat yang tidak bisa diramalkan bagi kami, dan tidak ada gunanya untuk mendukung Belanda dengan cara itu,” tulis Sjahrir dalam catatan hariannya.

Sial. Karangan itu telah dikirimkan satu jam sebelumnya via pos. Mereka gagal menganulir pengiriman. Belanda pun menggunakan artikel itu sebagai propaganda. Diterjemahkan dalam beberapa bahasa daerah.

Menurut Sjahrir, sikap Hatta yang anti-fasis lahir dari akal sehat, bukan menjilat Belanda. Sebagai demokrat, Hatta merasa tak punya alasan harus pro-Jepang.

Judul artikel itu Rakjat Indonesia dengan Perang Pasifik, dimuat di Pemandangan, 22 dan 23 Desember 1941. Nukilannya:

“Memang demokrasi Barat tidak akan membawa tertjapainja tjita-tjita Indonesia begitu sadja, djika ia menang dalam pertempuran ini. Ini telah lebih dahulu saja kemukakan. Tetapi adakah Djepang akan memberikannja? Djika Djepang dengan kawan-kawannja menang, dunia akan diperbudaknja. Djika Indonesia tidak diperbagikan antara Djerman dengan Djepang, ia akan jatuh kebawah perintah Djepang. Dan tjita-tjita Indonesia akan sia-sia sama sekali. Pada fascisme tidak dapat dikemukakan tjita-tjita sebagai hak untuk menentukan nasib sendiri. Fascisme menghendaki cuma satu: t u n d u k kepada kekuasaannja. Kepada demokrasi Barat, jang masih membatasi demokrasi bagi dia sendiri, masih dapat dimadjukan alasan jang terambil dari teorinja sendiri.”

Dua tahun sebelumnya, Hatta memperlihatkan sikap anti-fasis secara eksplisit.  Di majalah Pandji Islam, ia menulis esai berjudul Mendjadi Perang Ideologi.

“Kita tidak perlu melihat djauh kenegeri lain seperti ke India, dimana suatu gerakan terus terang menjatakan aliran fasisme. Kita lihat sadja di Indonesia kita ini. Berbagai gerakan pemuda dalam golongan ‘padvinderij”, mengambil gelagat fasis. Tidak heran, sebab fasisme mengetok pada rasa kebangsaan. Dan pemuda jang belum tahu berpikir pandjang terpikat dengan suara itu. Sebagaimana Hitlerjugend memberi salam pada pemimpinnya, tjara itu pula yang dipakaikan. Pakaian militer jang memperkuat semangat disiplin sangat disukai. Anak ketjil jang baru balita hanja mengatakan, bahwa bahaja fasis jang akan meratjun masjarakat kita sudah tampak tanda-tandanja. Sebab itu kita harus awas. Pergerakan jang berdasarkan demokrasi jang harus dikemukakan, bukan pergerakan  jang memakai dasar diktatur atau diktatorium. Ini ratjun, ini bahaja; sebab itu disebut terus-terang disini,” tulis Hatta.

Rumah pembuangan Hatta di Banda Neira (KOMPAS)

Konsistensi Hatta soal fasisme kukuh. Sepuluh tahun sebelumnya, ia menulis esai yang memperingatkan bahaya imperialisme Jepang. Di bawah judul Politik Imperialisme Djepang di Tiongkok, Hatta mengatakan Jepang datang ke Mansjuria, yang merupakan bagian dari Tiongkok, karena kebutuhan dalam negerinya.

Mansjuria adalah tanah yang subur dan kaya. Kekayaan alam itu belum  digarap sepenuhnya. Penduduknya masih sedikit. Jika Mansjuria bisa dikuasai, perekonomian Jepang bakal kuat. Jepang miskin sumber daya alam tapi berupaya keras menyulap diri menjadi negara industri.

“Untuk penghidupan penduduknja dan kemajuan industrinja bergantung pada negeri luaran. Untuk mentjukupi makanan rakjatnya ia perlu mendatangkan gandum dari luar. Untuk industrinja ia perlu akan benda-benda kasar jang ada dalam tanah seperti besi, minjak, dan segala rupa. Kemudian hasil industri itu mesti didjual ke luar negeri. Supaja industrinya djangan roboh dibawah persaingan, maka ia harus mempunjai pasar yang semata-mata dibawah pengaruhnja. Pendeknya ia terpaksa mendjalankan politik imperialisme, mengembangkan sajap kenegeri asing,” tulis Hatta di Daulat Ra’jat, Februari 1932.

Sikap anti-fasisme ini bertolak belakang dengan pendirian rakyat: mendamba kedatangan Jepang sebagai pembebas. Memasuki 1942, rakyat tak lagi takut pada polisi Hindia Belanda. Mereka yakin keruntuhan rezim kolonial tinggal menunggu waktu. “Mereka menyatakan terus terang, bahwa ramalan Joyoboyo akan menjadi kenyataan dan bahwa zaman kekuasaan orang kulit putih sudah berakhir. Kedatangan bangsa Jepang, kata mereka, akan membawa kemerdekaan,” catat Sjahrir.

Sjahrir sendiri beranggapan, sia-sia melawan kepercayaan yang menjalar cepat itu. Ia merasa tak ada yang bisa diperbuat selain berdiam diri dan menunggu saat yang baik.

Lalu, mereka dipindahkan ke Sukabumi pada Februari 1942. Sempat ada usul agar Hatta dan Sjahrir meninggalkan Tanah Air. Rencana ini batal. Mereka belum tuntas berpikir. Pun karena Amir Sjarifuddin, tokoh Gerindo, yang membujuk mereka agar pergi ke Australia saat Jepang tiba, tak muncul lagi. Amir punya akses ke para pejabat kolonial Belanda yang bisa membantu pelarian. Seperti Hatta, Amir tak suka dengan fasisme tapi ia melangkah lebih jauh: berkolaborasi dengan Belanda.

Tak lama berselang, Jepang berhasil menguasai Hindia Belanda dengan lekas bin gampang. Kemudian, dua orang Jepang datang ke Hatta dan Sjahrir. Mereka minta Hatta pergi ke Bandung untuk menemui  para pejabat militer Jepang. Hatta semula menolak. Tapi dua orang itu mendesak.

Kata Sjahrir, Hatta kaget lantaran tak ditangkap meski tulisannya yang pro-Sekutu telah tersebar luas.

Pada akhirnya, “…kami memperhitungkan bahwa Hafil akan harus terpaksa bekerja sama dengan Jepang sampai tingkat tertentu demi kepentingan gerakan kami, sedang aku akan memimpin organisasi dan mengemudikan perjuangan kami di bawah tanah,” lanjut Sjahrir.  Dalam catatan harian itu, nama Hatta disamarkan sebagai Hafil.

Sjahrir benar. Hatta mustahil menolak tawaran Jepang untuk bekerja sama. Penolakan berarti menaruh katana di leher. Selanjutnya adalah sejarah. Hatta ada di dalam sistem, Sjahrir bergerak di bawah tanah.

sawarna

Malam masih muda saat kami memasuki Pandeglang, Banten. Jalanan cukup ramai sehari jelang tutup tahun itu.

Raya duduk di sisi saya yang menyetir sejak Jakarta. Dia jadi navigator dengan mengandalkan aplikasi Waze. Dua anak kami, Havel dan Kafka, duduk di belakang.

“Berapa kilo lagi ke Malingping?” kata saya.

“61 kilo lagi,” jawab Raya sambil menjenguk Waze di telepon genggamnya.

Kami berniat menginap di Malingping. Transit sebelum ke Pantai Sawarna, Lebak. Penjelajahan di Internet menyatakan, dianjurkan tiba sebelum malam di Sawarna. Mendekati pantai itu, jalan berkelok-kelok, naik turun, dan….rusak. Berisiko jika berkendara di malam hari untuk pertama kali.

Oke. Kami bersepakat untuk menginap di Malingping – “peradaban” terakhir sebelum Sawarna.

“Eh, Malingping kan kampungnya Arti. Mampir aja nanti ke rumahnya,” kata Raya tiba-tiba.

Arti adalah mantan asisten di rumah kami. Dia yang ikut mengasuh Kafka sejak lahir sampai usia setahun. Dari beberapa asisten yang datang silih berganti, Arti salah satu yang terbaik.

Dengan bensin penuh di tangki, saya tenang menginjak pedal gas. Di luar ekspektasi, kondisi jalan bersahabat: dicor mulus…luss.

Tapi kegelapan dan ketidaktahuan tentang medan membuat saya memilih main aman: tak berani menembus 40 km per jam.

Mendekati Malingping, kami menjumpai hutan dan perkebunan di kiri-kanan. Diam-diam terbit juga sedikit jeri di hati. Bagaimana jika ada gangguan di mobil? Lalu mogok… Saya telan perasaan itu, tak diungkapkan.

Tak sepenuhnya hutan. Setelah beberapa kilometer, kami bertemu juga dengan perkampungan. Satu-dua penduduk terlihat di pinggir jalan. Lantas hutan dan kegelapan lagi.

Kami pernah mengalami situasi yang mirip saat pulang ke Yogya dari Pantai Baron, Gunungkidul, beberapa tahun silam. Melaju di perbukitan, berkelak-kelok. Gelap menyungkup.

“Nyalakan lampu jauh aja,” ujar Raya.

Saya patuh meski merasa tak ada masalah dangan penglihatan di depan. Sesekali kami berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Lalu déjà vu. Pada tahun pertama kuliah, saya menemani Tony, adik kelas, yang harus survei lokasi untuk acara pelantikan anggota organisasi kami di Lebak. Tony mengendarai sepeda motor, saya membonceng. Berangkat dari Bulungan. Saya sedang libur.

Ya, juga menembus jalanan di hutan. Dalam gulita malam dan hujan saat perjalanan pulang. Kami basah kuyup. Tapi seingat saya, tak ada rasa takut. Saya malah sempat pipis di pinggir jalan karena kebelet.

Usia bertambah, rasa takut menebal.

 

PAGI TIBA. Kami bersiap, check out dari hotel yang kamar termahalnya hanya Rp 250 ribu per malam, dan meninggalkan Malingping.

Saya menyiapkan mental untuk menyetir ke Kecamatan Bayah di jalanan rusak.

Anak-anak riang, membayangkan bermain di ombak Sawarna, sekitar 50 kilometer di tenggara Malingping. Sebuah surga konon…

Ajaib. Perjalanan dilalui di beton dan aspal yang relatif mulus. Hanya terselip dua kilometer yang terbilang rusak: aspal kasar tapi tanpa lubang-lubang yang menganga. Pasti ada perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ruas Malingping-Bayah ini ternyata juga bukan tanpa sentuhan “peradaban”. Indikasinya satu: gerai Alfamart dan Indomart bertebaran.

Di gapura Bayah, saya teringat Tan Malaka.

Bayah pernah menjadi tambang batubara di zaman pendudukan Jepang. Para romusha dikerahkan untuk mengerjakan. Mereka datang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di kawasan pesisir selatan inilah Tan Malaka bekerja sebagai juru tulis. Ia datang ke Bayah pada Juni 1943 dan dikenal masyarakat sebagai Ilyas Hussein.

Dalam perjalanan, sekitar enam atau tujuh kilometer dari gapura itu, kami melintasi Pantai Pulo Manuk.  Pada masanya tempat ini seperti neraka. “Sedikit sekali di antara romusha yang bekerja di sana  yang tiada penyakit yang bisa membawa maut, seperti borok, disentri, dan malaria,” tulis Tan Malaka di memoarnya, Dari Penjara ke Penjara.

Makanan seadanya, obat-obatan sangat terbatas, dokter dan juru rawat hanya beberapa. Mayat-mayat hidup gampang ditemui di pinggir jalan. Demikian Tan Malaka bercerita.

Eksplorasi batubara di sana sudah direncanakan sejak awal abad ke-20 oleh rezim Hindia Belanda. Izin konsesi diterbitkan pada 1903 untuk sejumlah perusahaan swasta. Namun eksplorasi tak kunjung dilakukan. Kabarnya karena pasokan yang mencukupi dari Sumatera dan Kalimantan. Plus, kualitas batubara yang kurang baik.

Jepang punya pendirian lain. Kebutuhan perang mereka tinggi. Kualitas rendah tak mengapa. Maka eksplorasi pun akhirnya dilakukan.

 

SAYA HANYA sesekali menyentuh air. Namun dua anak saya nyaris tak mau beranjak dari gelombang dan ombak. Surga memang…

Seraya menatap kaki langit di kejauhan, saya merenungi perjalanan pada 2017. Pada tahun itu keputusan penting ditempuh. Tidak dengan mudah.

Laut selatan di hadapan. Gelombangnya tinggi, berbahaya, tapi indah. Konon demikian juga kehidupan.

sore bersama rusdi

“Aku ngetik dengan satu jari, Yus,” kata Rusdi Mathari. Ia memperagakan. Tangan kiri memegang telepon genggam, jempol kanan beraksi di keyboard.

Sore kemarin, atas inisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), puluhan teman datang ke rumahnya di Srengseng Sawah, di tepi Setu Babakan. Mengguyurkan semangat, memanjatkan doa. Tiga hari lalu, Rusdi genap setengah abad.

Ia mengaku pernah mencoba mengetik dengan laptop. “Tapi nggak sinkron antara mata dan jari,” lanjut dia. Sesaat saya berniat mengejar soal ketidaksinkronan itu namun batal. Jurnalis senior ini sedang sakit. Kanker.

Sebelum sakit, ia terbilang ceking. Kini nyaris tak bersisa daging. Selembar selimut menutupi tubuhnya.

Rusdi mengaku sedang menyusun novel tentang sakitnya. “Ini novel tanpa dialog,” kata dia. Rusdi tak berubah: tetap bersemangat ketika bicara.

Serpihan-serpihan calon novel tersebut mulai muncul di Mojok.co, situs yang “sedikit nakal, banyak akal” itu.

“Ketika sakit begini, aku jadi tahu, banyak orang sayang sama aku,” lanjut anak Situbondo ini. Penyakit membuatnya sekarang hanya bisa berbaring di ranjang. Lima ruas tulang di punggung hancur dilumat kanker.

Ia berkisah, saat di rumah sakit selama 10 pekan, banyak yang datang membesuk. Beberapa bahkan tak dikenalnya secara pribadi. Beberapa yang lain rutin mengirim uang.

Rusdi juga bercerita tentang sebuah kelompok media yang kerap memberi proyek penulisan. “Mereka enggak pernah lupa dengan para ronin, kecuali orang-orang yang mereka anggap pengkhianat,” ujarnya sambil terkekeh.

Tak cuma itu. Beberapa anak muda, yang belajar menulis darinya, bergantian menemani di rumah sakit. Ia adalah guru yang tak dilupakan para cantrik. Padahal, ia terkenal keras, nyaris tanpa kompromi. Konon demikian beberapa anak muda memberi testimoni.

Kami pernah sekantor. Sejumlah reporter menghindari Rusdi — terutama jika baru saja membuat laporan asal jadi. Meja saya tak jauh dari dia. Saya ingat beberapa reporter yang menunduk saat ditegur redaktur kurus, yang kerap bersarung dan mengisap Dji Sam Soe itu.

Ayah satu anak ini juga esais yang “tajam”. Tulisannya biasa menguliti sebuah masalah  dan sosok tanpa tedeng aling-aling. Mudah bikin panas kuping yang dibahas.

Sore kemarin, saat kami berbincang, seorang pria masuk. Bersama dua anak perempuan kembarnya — taksiran saya, 10 atau 11 tahun usia mereka.

“Halo, Cak…Ini anak saya, mereka pembaca tulisan-tulisan sampeyan, yang terkumpul di Aleppo,” ujar tamu berkacamata itu. Rusdi tersenyum lebar.

Api tak pernah padam dalam dirinya.

sepotong danau, sejumlah cerita

“Kalau kita mancing, mungkin dapat mayat,” ujar Kafka saat menginjak bentangan beton mirip dermaga. Saya tertawa getir. Imajinasi anak sepuluh tahun ini kerap tak terduga.

Dari tempat kami berdiri, puncak gedung rektorat terlihat dan deru kereta terdengar. Perpustakaan Pusat UI, yang sedang direnovasi, menjulang di belakang.

Kami tiba menjelang petang di tepi danau. Angin sungkan menghamburkan diri. Tapi temperatur lumayan bersahabat. Mungkin lantaran kehadiran pepohonan yang menghijaukan lingkungan ini, kampus UI Depok.

Ini kali kedua saya mengajak anak-anak ke sana. Yang pertama, minus ibu mereka yang lagi menghadiri halal bihalal di Bandung. Kemarin komplet berempat.

Pada kunjungan pertama, saya memang bercerita soal kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa UI yang ditemukan di danau itu dalam kondisi tak bernyawa. Hingga kini kasus kematiannya belum terpecahkan.

Pandangan beralih ke titik lain, lokasi Taman Melingkar berada. Sebuah pohon besar tegak di tengah taman. Undak-undakan semen melingkari dan galib berfungsi sebagai tempat duduk.

Enam tahun silam, juga pada September, saya datang ke sana. Diskusi + pentas musik digelar di Taman Melingkar. Jakartabeat.net, yang didirikan sohib saya, Philips Vermonte, menjadi salah satu pihak yang membikin acara. Nama acaranya puitis: Muara Senja.

Sebelum pertunjukan musik, diskusi dilangsungkan. Temanya “Musik dan Kritik Sosial”. Jika tak keliru mengingat, dosen filsafat UI, Tommy F Awuy, juga hadir sebagai salah seorang pembicara.

Selanjutnya, giliran musisi yang tampil: Bangku Taman, Payung Teduh, Risky Summerbee & the Honeythief, dan sejumlah band indie lain.

Di acara tersebut, saya berjumpa para mahasiswa pintar yang hari ini sudah jadi penulis kesohor: Nuran Wibisono, Arman Dhani, Ardyan Erlangga. Jakartabeat jadi tempat mengasah kemampuan menulis. Mereka menempuh ratusan kilometer untuk sampai di Depok.

Ya, di tepi Danau UI saya pertama kali menonton langsung kelompok yang menyedot banyak respek: Efek Rumah Kaca. Ketika band indie itu tampil, sebagai pemuncak acara, gelap telah berkuasa. Hadirin ramai dan bergairah. Kebanyakan belia.

Pada malam itu, saya bersaksi, Cholil Mahmud bukan hanya propagandis yang piawai, melainkan juga penyanyi yang keren.

Sore kemarin tak ada musik yang menggelegar. Juga tak ramai pengunjung. Perpustakaan Pusat UI tutup. Gerai Starbucks Coffee di dalamnya ikut meliburkan diri. “Wah, gak jadi aku minum coklat,” kata Kafka dengan masygul.

Ketika kunjungan pertama, kami mampir ke kedai kopi tersebut. Kafka memesan coklat dingin — entah apa namanya. Eh, dia suka.

Saya belum bercerita soal Starbucks yang memantik kontroversi terkait beberapa hal. Terakhir, ada kampanye untuk memboikot karena pengelola Starbucks dianggap mendukung LGBT.

Masih banyak waktu untuk dihabiskan bersama, untuk berbagi cerita.

najwa shihab: pemandu cerita di layar kaca

“Jadi ada tekanan tertentu yang diberikan oleh pimpinan DPR ke Menteri Keuangan?” kata Najwa Shihab.

“Ya,” ujar Wa Ode Nurhayati, anggota  Badan Anggaran DPR dan anggota Komisi Energi dan Lingkungan Hidup DPR dari Fraksi PAN.

“Saya ingin minta lagi ketegasan. Khusus kasus ini, penjahatnya pimpinan DPR, pimpinan Banggar, Menteri Keuangan, atau siapa?”

“Kalau….tiga-tiganya kayaknya, Mbak.”

“Tiga-tiganya penjahat…Jadi yang banyak bermain itu pimpinan?”

“Ya.”

Percakapan di atas muncul di Mata Najwa edisi  25 Mei 2011 di Metro TV.  Dua hari kemudian, Ketua DPR Marzuki Alie melaporkan Wa Ode Nurhayati ke Badan Kehormatan DPR.  Marzuki merasa tersinggung dengan ucapan Wa Ode.

“Saya meminta yang bersangkutan (Wa Ode) dipanggil, diperiksa untuk membuktikan statement-nya,” kata Marzuki melalui pesan singkat kepada para wartawan, “Bila yang bersangkutan tidak bisa membuktikan ucapannya, maka saya minta agar diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Ini bisa dikategorikan kejahatan IT.”

Pada awal Juli 2011, Badan Kehormatan DPR bergerak. Wa Ode diperiksa. Seusai diperiksa BK, Kamis, 7 Juli, Wa Ode mengatakan, “Mungkin saksi-saksi akan dipanggil, termasuk Mbak Najwa karena ini terkait kalimat penjahat kan,” ujarnya. Dalam pemeriksaan hari itu, politisi PAN ini menegaskan kepada anggota BK bahwa bukan dirinya yang mengucapkan frase “penjahat anggaran” yang kemudian membuat pimpinan DPR berang.

Pada sebuah siang, di sebuah kafe di Senayan City, Jakarta, saya bertanya ke Najwa, ““Soal kata penjahat, itu disengaja?”

“Saya sengaja memilih diksi ‘penjahat’…kita terlalu bermanis-manis dengan white collar crime. Padahal mereka memang melakukan kejahatan anggaran. Angle wawancara juga ingin memperlihatkan betapa bobroknya sistem anggaran di DPR.”

Saat itu, Najwa mengenakan kardigan hitam dan blus coklat. Ia baru saja menyelesaikan makan siang: seporsi salad. Wajahnya nyaris tanpa pulasan kosmetik.

***

Pada 2008, Metro TV mulai mendorong para presenter senior untuk membuat program acara dengan mengusung nama dan karakteristik diri sendiri. Ini tak lepas dari keberhasilan Kick Andy yang dikelola Andy F. Noya.  Najwa juga salah satu yang diminta. Namun, saat itu, ia harus berangkat ke Australia untuk meraih gelar master bidang hukum di Universitas Melbourne. Saat ia kembali, suhu politik mulai memanas seiring kian dekatnya pemilihan presiden 2009. Najwa menjadi salah satu andalan dalam acar-acara terkait momen tersebut. Program miliknya kembali tertunda.

Nama Mata Najwa diusulkan Sjaichu, produser Todays Dialogue. “Saya sebenarnya gak pede dengan nama itu,” kata Najwa. Lalu, dibuat beberapa focus group discussion (FGD) untuk dengan sejumlah pihak untuk menimba masukan.  Untuk menghindari bias, Najwa tak hadir. Saat ditanyakan: apa yang langsung teringat dari seorang Najwa Shihab? Beberapa menjawab: matanya.  Nama itu pun disepakati dan edisi perdana mengudara pada Rabu, 25 November 2010.

Terkait karakter acara, program talk show ini tak beranjak jauh dari politik dan hukum yang selama ini menjadi bidang liputan Najwa. “Akar saya politik, jadi lebih banyak seputar isu itulah topik Mata Najwa,” kata perempuan yang akrab disapa Nana itu.

Di awal, sempat terlintas untuk dibuat agak ringan bisa meraih atensi pemirsa muda. Maka, ada segmen parodi dengan mengundang penulis dan komedian, Raditya Dika. Tapi, setelah beberapa episode, dirasakan tidak cocok. Orang merasa, ini bukan Najwa. Sejak itu, program ini diberi watak “serius.”

Meski sejatinya disiapkan untuk mengangkat isu-isu actual, Mata Najwa  juga kerap diisi dengan episode bernafas sejarah. “Ini untuk variasi tema dan kepentingan stok tema. Juga selama ini di Indonesia belum ada documentary talk show,“ ujar Najwa. Tema sejarah yang dipilih selalu dikaitkan dengan situsi terkini. Misalnya, saat meruyak pro-kontra mengenai gaji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selama tujuh tahun terakhir tidak pernah naik, Mata Najwa mengangkat persoalan serupa di masa lalu pada edisi “Sang Negarawan,” 2 Februari 2011. Diundang untuk bicara putri Bung Hatta, Halida; putri Bung Karno Sukmawati; sejarawan Bonnie Triyana, dan jurnalis TEMPO Arif Zulkifli.

Jabatan Najwa adalah program owner atau executive produser. Ia membawahi tujuh anggota tim: dua produser, dua reporter, dua staf produksi, dan  satu reporter.

Salah satu ciri khas Mata Najwa  adalah kehadiran “Catatan Najwa” yang merupakan komentar atau perspektif dari Najwa selaku program owner terhadap topik yang diangkat pada akhir acara. Segmen ini muncul dalam bentuk narasi Najwa disertai running text. “Ini semacam editorial kecil. Terkadang saya yang nulis atau produser. Tapi, sentuhan akhir di tangan saya,” kata Najwa. Satu hal yang gampang diingat: “Catatan Najwa” ditulis dengan kepekaan bahasa untuk juga enak didengar.

Sebagai sampel, mari simak “Catatan Najwa” episode “Mesin Kuasa,” Rabu  20 Juli 2011:

DI ERA REFORMASI/ PARTAI LAMA MATI SURI/ DI TENGAH KEMISKINAN IDEOLOGI/ SERTA GELAPNYA DINDING NURANI POLITISI//

PARTAI/ AGEN TUNGGAL POLITIK FORMAL/ TERGUSUR OLEH HUKUM BESI OLIGARKI// POLITIK ELIT MEMBELENGGU PARTAI/ SEBATAS ARENA DAGANG SAPI/ DAN LADANG KORUPSI//

BUKAN HANYA POLITISI/ TAPI PARTAI JUGA GAGAL KOREKSI DIRI// PATRONASE SEBANGUN DENGAN POLITIK UANG/ KONSTAN MEMBUAT MANDEG KOMPETISI DAN REGENERASI//

PATRONASE DAN PERSONALISASI FIGUR/ MEMBENAM PARTAI MAKIN JAUH DARI TRANSPARAN DAN  PEMERINTAHAN YANG BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN//

KALAU BETUL DEMIKIAN/  VOX DEI/ VOX POLITISI// SUARA RAKYAT/ VOX POPULI/ SUDAH TAK NYARING LAGI/

Sudah berbilang episode digelar, salah yang paling berkesan adalah “Jakarta Menagih Janji, 13 Oktober 2010. “Saya dapat kritikan dan pujian saat mewawancarai Foke. Saya agak keras di sana,” Alkisah, sudah tiga tahun Fauzi Bowo alias Foke duduk sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, persoalan klasik ibukota seperti kemacetan dan banjir tak kunjung tertanggulangi.

Beberapa pekan dibutuhkan untuk membujuk Foke agar mau datang ke Mata Najwa.  Sambil menunggu, Najwa melakukan riset sangat serius—lebih serius ketimbang episode lain. Bahkan, ia juga memelototi sejumlah peraturan daerah DKI Jakarta.  “Sejak awal, saya mau berperan sebagai devil’s advocate. Rasa frustrasi orang Jakarta mau saya sampaikan,” kata Najwa

Menjelang pilkada DI Jakarta 2007, Najwa memandu debat kandidat Gubernur DKI Jakarta yang mempertemukan pasangan Foke-Priyanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar. Diselenggarakan oleh KPUD DKI Jakarta, acara itu disiarkan secara langsung oleh Metro TV dan Jak TV. Najwa terpilih sebagai pemandu setelah menyisihkan sejumlah presenter lain yang diseleksi KPUD DKI Jakarta.

Najwa langsung tancap gas sejak awal, “Kami menuntut…menagih janji Anda. Ketika kampanye tiga tahun lalu, Anda mengklaim sebagai ahlinya.  Setelah tiga tahun berlalu, tidak ada gebrakan nyata yang dilakukan Anda sebagai gubernur.  Kami menuntut janji Anda, Pak Gubernur.”

“Saya tidak pernah mengklaim bahwa saya ahli segala-galanya. Tidak ada dalam statement saya.  Sedikit pun. Yang jelas, saya sebagai pimpinan, harus mengusahakan ahli yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada di Jakarta,” kata Foke dengan tenang.

“Saya ingin kita fokus ke masalah kemacetan Jakarta yan semakin menggila, Pak Gubernur.  Ada yang menilai, apa yang Anda lakukan baru sebatas rancangan konsep, baru sebatas melakukan pengkajian tapi belum ada yang betul-betul terlihat nyata hasilnya.”

“Jakarta ini, kita tahu,  memang sebagai kota…ibaratnya sebagai pasien yang sakit. Dan, sakit itu bukan dimulai saat saya menjadi gubernur. Tapi sudah sakit sejak beberapa saat yang lalu. Contoh yang Anda sebut tadi, yaitu kemacetan, adalah symptom yang secara kasat mata dirasakan seluruh masyarakat Jakarta.  Bukan hanya orang Jakarta di luar rumah saya. Anak saya pun ngomel mengenai masalah kemacetan ini…”

Usai acara, salah seorang staf Foke menelepon dan marah-marah. Rupanya ia tak terima sang bos dicecar sedemikian rupa. Foke sendiri tak mengajukan protes atau keberatan.

“Anda memang sering eksplisit menyatakan keberpihakan, ya?” kejar saya.

“Tak ada yang salah dengan keberpihakan. Apalagi jika menyangkut kebijakan publik. Kalau tidak, what do you stand up for? Sebagai jurnalis, kita mengetahui demikian banyak fakta. Mustahil gak punya opini. Selama tetap memberikan kesempatan bicara pada pihak yang berbeda, itu sah-sah,” kata Najwa.

Terkait respons pemirsa, salah satu episode yang banyak memantik reaksi adalah “Tafsir Poligami. Di episode itu, Mata Najwa menghadirkan pelaku-pelaku poligami di Indonesia. Salah satunya adalah Puspo Wardoyo, pengusaha kuliner yang juga pelaku poligami dengan empat istri dan menjabat Presiden Poligami Indonesia.

Situs salingsilang.com mencatat, linimasa Twitter  pada Rabu, 23 November 2011 malam, ramai membahas poligami. Pemicunya adalah tayangan Mata Najwa di tanggal tersebut.  Salingsilang.com adalah sebuah situs yang menyajikan informasi terkini tentang apa yang tengah ramai diperbincangkan di Internet, khususnya di berbagai kanal sosial media di Indonesia. @jeckodephe, misalnya, menulis, “Nara sumber mata najwa: “kalo poligami namanya bukan cerai, tapi mengundurkan diri” lu kata jabatan wkwkwkw”. Atau, @bulanjelita yang berkicau, “geleng kepala nonton mata najwa…di poligami ada namanya reshuffle istri *senewen berat*”

Belum setahun menjumpai pemirsa, Mata Najwa telah mendulang sejumlah penghargaan.  Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganugerahkan KPI Award 2010 untuk episode “Separuh Jiwaku Pergi” yang tayang pada Rabu, 30 Juni 2010. Episode ini memaparkan kisah cinta mantan Presiden BJ Habibie dengan mendiang istrinya,  Ainun Habibie. “Padahal episode itu bukan tipikal Mata Najwa,” kata sang mepunya program. Maksudnya, bukan mengangkat tema politik atau hukum yang sedang mencuat. Bukan pula mengusung tema sejarah.

Lau, Mata Najwa sebagai program acara diganjar penghargaan sebagai program talk show inspiratif 2011 versi Dompet Dhuafa. Penyerahan penghargaan berlangsung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 13 Agustus 2011. Organisasi nirlaba itu menilai, “Program ini menyajikan “gaya” yang berbeda dari program talk show lainnya. Mengangkat tema-tema yang unik di bidang sosial, politik, kemasyarakatan. Sebagai sebuah tayangan, “Mata Najwa” yang dipandu oleh Najwa Shihab ini dikemas dengan santai, tak menggurui, dan menggelitik….Tayangan ini sangat menyentuh dan sangat baik sebagai wahana meningkatkan kepedulian dan sebagai penambah wawasan penonton.”

Di pengujung 2011, giliran Najwa yang memperoleh penghargaan. Ia memperoleh penghargaan dari Asian Television Awards sebagai pemenang kedua atau Highly Commended untuk kategori Best Current Affairs Presenter dalam program Mata Najwa. Penentuan pemenang pada Asian TV Awards dilakukan oleh panel juri yang beranggotakan senior TV broadcaster dari berbagai negara di Asia. Najwa bersaing dengan Bernard Lo, presenter CNBC Asia Pacific Singapore dalam program Straight Talk with Bernie Lo.

***

Pada akhir 1999, ada iklan di koran soal kesempatan magang selama tiga bulan di RCTI. Najwa yang tinggal menulis skripsi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tertarik dan mengirim lamaran. Diterima.

Di saat itu, banyak reporter yang mengambil cuti lebaran dan Natal. Konsekuensinya, reporter magang kemudian benar-benar diberdayakan. Tak biasanya reporter magang diberi tugas-tugas berat. Lazimnya hanya diminta mendampingi reporter senior.  Najwa hanya diminta tandem di dua liputan pertama. Selebihnya, ia jalan sendiri—bersama juru kamera, tentu.

Ia meliput isu ekonomi, mudik, juga banjir tahunan di Jakarta. “Ada Menteri Luar Negeri Belanda datang, saya yang diminta mewawancarai,” kata Najwa.  Karena pamannya, Alwi Shihab, menjadi Menteri Luar Negeri, ia pun sering ditugaskan di Departemen Luar Negeri.  “Untuk memudahkan, biar punya akses,” kata Najwa, sambil tertawa. Juga meliput ke acara-acara kedutaan asing di Jakarta.

Pada saat bersamaan, Andy F. Noya juga sedang “dimagangkan” terkait rencana pendirian Metro TV. Andy nyaris hanya tahu soal media cetak.  Karena itu, Surya Paloh, bos Metro TV, menitipkannya di RCTI untuk belajar cara mengelola TV. Di sana, Najwa berkenalan dengan Andy.

Selesai magang di RCTI, Najwa balik ke kampus untuk menyelesaikan skripsi. Di saat itulah, Andy menelepon, mengajaknya bergabung dengan Metro TV.  Kelar skripsi, Nana mengirim lamaran ke Metro TV dan RCTI. Keduanya diterima tapi akhirnya ia Metro TV. “Kalau mau jadi reporter berita, masuklah ke TV berita, “ demikian jalan pikirannya.

Ia pun memilih jurnalisme. Suaminya, Ibrahim Assegaf, tak keberatan. Baim, panggilan akrab Ibrahim, adalah senior Najwa di Fakultas Hukum UI. Kini, Ibrahim berkarier sebagai seorang pengacara.

Saat kuliah, Najwa memilih jurusan litigasi. Ia berharap bisa menjadi hakim di pengadilan anak. Ini minoritas di Fakultas Hukum UI. Kebanyakan rekannya memilih hukum ekonomi atau corporate law.  Di jurusan itu, Najwa kerap ikut lomba pengadilan semu. “Kemampuan berbicara dan berdebat di lomba itu terpakai juga saat menjadi pembawa acara talk show,” katanya.

Direkrut sebagai reporter-presenter,  ia masuk ke Metro TV  pada 1 Agustus 2000 dalam keadaan hamil tiga bulan. Najwa adalah generasi pertama presenter yang direkrut bersama Sandrina Malakiano dan Wianda Pusponegoro—keduanya kini sudah tak di Metro TV lagi.  Sebulan pertama, ia berada di Kairo, Mesir, untuk membuat liputan Ramadhan. Saat itu, ayah Najwa, Quraish Shihab, tengah menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir.

Di saat hamil, sesekali ia muncul di layar. Ia benar-benar muncul beberapa bulan setelah melahirkan Izzaat pada Februari 2001.  Di tahun-tahun pertama itu, ia menjadi host untuk acara Metro Hari Ini,  Today’s Dialogue, dan Save Our Nation. Ia pun berkesempatan mewawancarai sejumlah tokoh, dari dalam dan luar negeri seperti Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan mantan Deputi Perdana Malaysia Anwar Ibrahim yang saat itu baru saja dibebaskan dari  bui.

***

Tak selalu Najwa memperoleh penilaian positif. Hasil riset saya, pengamat jurnalisme Andreas Harsono pernah melontarkan kritik di blog-nya. Ia menulis:

Pada 8 Mei 2009, mereka (Jusuf Kalla dan Wiranto, YA) memilih untuk tampil berdua di Metro TV. Ini penampilan mereka pertama setelah menyatakan siap untuk bertanding melawan Presiden Yudhoyono. Wajar jika banyak orang, setidaknya di Jakarta, ingin tahu apa yang hendak ditawarkan Jusuf Kalla.

Alamak! Interview tersebut jadi terganggu karena kekurangsiapan Metro TV. Mereka memasang Najwa Shihab, seorang wartawan Metro TV, untuk memimpin interview. Saya terganggu karena Shihab lebih panjang bicara daripada memberi kesempatan kepada Kalla dan Wiranto. Mungkin kesimpulan saya salah.

Maka saya menuangkan pikiran tersebut ke dalam Facebook. Ini sebuah media sosial dimana ketika interview berlangsung, ternyata tanggapan orang beruntun masuk ke dalam wall saya. Tanggapan datang dari cukup banyak wartawan. Mereka kebanyakan setuju dengan saya. Najwa Shihab bicara lebih banyak daripada nara sumbernya.

Di lain kesempatan, justru yang “terdesak” oleh narasumber, yaitu Yusril Ihza Mahendra. Pada Mei 2007, ia diberhentikan di tengah jalan dari jabatannya sebagai Menteri Hukum dan HAM oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak lama setelah itu, Metro TV mendapat kesempatan untuk mewawancarainya. Najwa di studio, Yusril di rumahnya.

Alih-alih menjawab secara serius pertanyaan Najwa, pakar Hukum Tata Negara itu membelokkan pertanyaan Najwa ke hal-hal pribadi. Misalnya, Yusril berkata, “Tanya aja ke oom kamu, Pak Alwi Shihab. Dia kan pernah juga juga di-reshuffle. “

Pada 5 Desember 2005, Alwi memang diberhentikan dari jabatan Menko Kesra. Sepanjang kariernya, Najwa selalu “menolak” jika diminta mewawancarai Alwi. Supaya tidak bias. Hanya satu perkecualian, yaitu saat Metro TV membikin tayangan “Lebaran Bersama Keluarga Shihab” pada 2009. Najwa, bersama Prabu Revolusi, menjadi host-nya.

Terkait dengan rencana pasca-reshuffle, Yusril juga bergurau, “Saya mau melamar jadi penyiar Metro TV saha. Berapa sih gajinya?”

Najwa mengaku, saat itu, salah tingkah. Ia tak siap diserang secara pribadi. Ia berusaha menutupi dengan tertawa. Ketika ia ingin wawancara itu cepat berakhir, produser di master control justru ingin mengulurnya karena menganggap sebagai show yang menarik. Perbincangan berlangsung dua segmen, sekitar 14 menit. “Itu wawancara yang sulit buat saya,” kata Najwa, sembari tersenyum.

Perasaan diintimidasi juga dirasakan saat ia hendak mewawancarai salah seorang pejabat di era Orde Baru. Merasa akan “diserang” soal andil di Era Reformasi dan peran di masa Orde Baru, sebelum wawancara, ia mengatakan,”Ayah kamu juga  menterinya Pak Harto, lho.” Sang pejabat, Najwa menolak menginformasikan identitasnya ke saya, seperti mengirim pesan: jangan galak-galak.  Quraish Shihab pernah menjadi Menteri Agama RI (14 Maret 1998-21 Mei 1998).

***

Pada Minggu, 26 Desember 2004, Aceh dan Nias dilanda gempa dahsyat. Saat itu, Najwa adalah asisten produser di Today’s Dialogue. Baru sekitar sebulan ia di posisi tersebut. Saat terdengar Aceh gempa, namun belum tahu ada tsunami, terpikir untuk menjadikannya tema perbincangan di acara tersebut. Ia berpikir, akan lebih oke jika ada yang pergi ke lapangan.  Pada Minggu malam, ia menelepon atasannya, Endah Saptorini, dan bilang, “Saya akan mengusahakan live dari Aceh.”

Najwa bergerak cepat. Mengontak beberapa teman, mencari tahu pesawat yang bisa ditumpangi karena penerbangan komersial dihentikan. Akhirnya, ia mendengar Jusuf Kalla, wakil presiden saat itu, akan berangkat ke Aceh pada Senin pagi, 27 Desember. Ia pun menelepon sekretaris JK. Tim Metro TV bisa ikut rombongan.

Ia tiba pada pukul 06.OO di Lanud Halim Perdanakusumah. Berangkat bersama seorang juru kamera, Najwa membawa pakaian ganti untuk dua atau tiga hari.  Ada beberapa jurnalis lain menyertai JK. Tetap belum dengar kabar soal tsunami karena semua komunikasi putus. Mereka menyangka hanya akan menghadapi dampak gempa biasa.

Keanehan baru dirasakan Najwa saat mereka tak mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka diarahkan ke sebuah lapangan terbang militer. Saat mendarat, JK tak dijemput dengan sedan mewah, melainkan oleh sebuah truk tua.

Dalam perjalanan menuju pusat kota, ia akhirnya melihat betapa hancurnya Banda Aceh. Lapangan Blang Padang, alun-alun Banda Aceh, sudah seperti pasar yang becek, jorok, dan bau. Bukan oleh tumpukan sampah, melainkan timbunan mayat manusia. Di Minggu pagi itu sedang berlangsung lomba marathon. Ada ribuan orang berkumpul. Mereka semua disapu air yang begitu deras. “Melihat ke atas, saya melihat ada jenazah tersangkut di pohon,” kata Najwa.

Yang juga bikin shock, “Saya belum pernah lihat ada orang yang begitu putus asanya,” kata Najwa.  Begitu kehilangan harapan. Najwa bertemu seorang pria dengan tatapan mata yang kosong. Ia kehilangan anaknya.

Semua infrastruktur hancur, termasuk telekomunikasi. Karena itu, pada hari pertama, Najwa melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Total lima hari Najwa di sana. Tinggal di kompleks gubernuran yang selamat dari terjangan tsunami.  Tapi, birokrasi lumpuh selama beberapa hari pertama.  Aparat pemerintahan lokal juga sibuk dengan keluarg masing-maisng. Masyarakat bingung ke mana harus mengadu.  Mereka hanya melihat para kru televisi, termasuk Metro TV. Untuk sesaat, para jurnalis itu menjadi semacam alternatif. Ada seorang ibu yang menitipkan foto anaknya yang hilang ke Najwa. Ada juga seorang ibu yang  meminta susu untuk bayinya.

“Memang kalau hari pertama atau kedua, wajar belum ada  posko. Tapi, jika hari kelima dan keenam belum ada posko, keterlaluan. Laporan saya agak keras soal ini,” kata Najwa. Tak urung, laporan Najwa juga menyentil kinerja sang paman, Alwi Shihab, yang saat itu menjabat Menko Kesra. Selain keras, juga emosianal. Dalam sebuah kesempatan, Najwa menangis saat melaporkan situasi.

Pada hari terakhir 2004, JK pulang ke Jakarta. Najwa kembali ikut. Di pesawat, politisi Partai Golkar Aburizal Bakrie berkata, “Tuh, gara-gara kamu menangis saat laporan, Pak Alwi harus ke sana.” Seminggu setelah bencana, Alwi akhirnya berangkat ke Aceh dan berkantor di sana untuk beberapa lama.

Mulai hari ketiga, ada yang mulai tak beres. Najwa merasa semua beban ada dirinya. Nanti kalau ia pulang, siapa yang urus mereka, begitu ia membatin. Psikologisnya mulai bermasalah. Kerap menangis atau melampiaskan amarah. Pulang adalah solusi.

Setelah sampai Jakarta, selama beberapa hari, ia tak berani membuka telepon genggamnya. Karena, kala membuka kiriman SMS, ada banyak pihak yang meminta bantuannya. Ia memilih tak menjawab karena merasa tak akan bisa banyak menolong.

Liputan lima hari itu diapresiasi. Pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Najwa telah membuat Indonesia menangis. Lalu, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2005, Najwa meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, perempuan kelahiran 16 September 1977 ini adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

***

Memasuki 2009, Indonesia dibuat heboh dengan kasus yang melibatkan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Mereka dituding menerima suap dari Anggoro Widjojo, tersangka kasus korupsi pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan yang disidik KPK.

Kabar itu pertama kali meluncur dari Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar yang membuat testimoni tentang penerimaan uang sebesar Rp 6,7 miliar oleh sejumlah pimpinan KPK. Ia juga mengaku pernah menemui Anggoro di Singapura. Antasari dinonaktifkan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

Pada 15 Juli 2009,  Anggodo Widjojo (adik Anggoro) dan Ari Mulyadi membuat pengakuan telah menyerahkan uang Rp 5,1 miliar ke Bibit dan Chandra. Belakangan, Ari Muladi mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) itu, sekaligus menegaskan bahwa dirinya tak pernah menyerahkan uang ke Bibit dan Chandra.

Najwa adalah jurnalis pertama yang sanggup menghadirkan Ari Muladi dan membahas kontroversi itu. Wawancara itu disiarkan Metro TV pada Jumat siang, 6 November 2009.  Untuk mewawancarainya, Najwa harus berjuang keras. Ari Muladi tak mau diwawancarai. “Apa untungnya buat saya,” kata Najwa menirukan penolakan Ari saat dihubungi Jawa Pos, sehari  setelah tayangan tersebut. Ari masih mengkhawatirkan posisinya. Status tersangka mengharuskan ia wajib lapor ke Bareskrim Polri.

Najwa melobi pengacara Ari Muladi, Sugeng Teguh Santosa. Upaya membujuk itu berlangsung selama dua dua hari secara intensif.  Ari Muladi terus menolak. Dia tak mau muncul. Namun, Najwa tak menyerah dan akhirnya dipertemukan langsung dengan Ari Muladi. Najwa menjanjikan bahwa wawancara itu akan membuat keterlibatan Ari jadi terang-benderang.

Kendati Ari Muladi sudah luluh, masalah pun belum selesai. Pasalnya, pengusaha itu tak ingin wawancara tersebut disiarkan langsung alias live. Bahkan, dia minta tempat wawancara itu dirahasiakan. Wawancara tersebut dilakukan di sebuah rumah di Jakarta Selatan. Sugeng yang menentukan tempat tersebut. “Makanya, kami pakai backdrop putih saat wawancara itu. Biar tak ketahuan lokasinya

Wawancara yang berlangsung sekitar setengah jam tersebut selesai ekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa jam kemudian, hasil wawancara itu langsung ditayangkan. Kata Najwa, “Kami nggak pakai duit. Ini murni dia mau.”

Dalam wawancara itu, Ari Muladi menegaskan, dirinya memang telah mencabut BAP pertama yang menyatakan pernah memberi uang pada Chandra dan Bibit. Yang sebenarnya, kata Ari Muladi, uang dari Anggodo diserahkan kepada seseorang bernama Yulianto untuk diteruskan kepada pimpinan KPK . Tapi ia tidak tahu apakah uang itu sampai atau tidak.

Ari Muladi mengakui telah tidak jujur saat diperiksa oleh polisi pada 15 Juli 2009.  “Saya berbohong pada BAP pertama, mengaku bahwa saya pelakunya (yang meyerahkan duit ke Bibit dan Chandara, YA) karena saya ingin menolong teman saya, Anggodo. Saya bohong, seolah-olah saya yang di depan, yang melaksanakan ” kata Ari Muladi.

“Bagaimana kita bisa yakin bahwa Pak Ari tidak sedang berbohong lagi sekarang?”

“Gimana, ya…Saya tidak pernah bertemu dengan mereka.”

“Tidak pernah bertemu Chandra, Bibit, dan Ade Raharja (pejabat KPK, YA)?”

“ Tidak pernah sekali pun.”

……….

“Secara singkat,  apa yang benar? Apa yang menganggu hati nurani Pak Ari sehingga Anda mengubah keterangan? Apa yang sebenarnya?“ tanya Najwa

“Yang sebenarnya, kalau saya berpegang pada BAP pertama, berarti saya akan menzalimi orang lain, akan membuat susah orang lain….Mending saya keluarga saya yang susah daripada keluarga orang lain yang susah.”

“Anda merasa telah menzalimi Chandra dan Bibit?” kata Najwa.

“Ya, dengan BAP yang bohong itu, saya merasa (menzalimi, YA)…”

“Kalau Anda bertemu dengan Chandra dan Bibit, apa yang akan Anda sampaikan?”

“Saya akan meminta maaf ke beliau berdua, karena telah membuat nama beliau berdua tercemar dan mungkin keluarga mereka juga harus menanggung apa yang telah saya lakukan.”

Bersama sejumlah temuan lain, pernyataan Ari Muladi kian menguatkan dugaan kriminalisasi pimpinan KPK oleh sejumlah pihak—terutama di kepolisian RI. Tak ada bukti kuat, Chandra dan Bibit lepas dari jerat hukum.

***

Kami bertemu di medio Januari 2012.  Najwa baru saja bisa keluar rumah setelah memulihkan diri pasca-persalinan anak keduanya, Namiya, pada 17 Desember 2011. Persalinan itu berujung duka karena Namiya meninggal dunia sekitar empat jam setelah dilahirkan. Karena alasan tertentu, operasi dilakukan saat kandungan berusia tujuh bulan. Di saat mengandung, Najwa juga beberapa kali diharuskan beristirahat. Mata Najwa jalan terus. Kala Najwa absen, posisinya digantikan Kania Sutisnawinata—yang juga terbilang senior di Metro TV.

Najwa menikah di usia muda: 20 tahun. “Saya merasa sudah menemukan pria yang tepat sebagai suami. Buat apa menunda kebahagiaan?!” kata Najwa.  Bukan tanpa preseden. Kakaknya, Najeela, bahkan menikah di usia 19.

Semasa SMA ia terpilih mengikuti program American Field Service (AFS), semacam kegiatan pertukaran pelajar, selama satu tahun di negara bagian New York, Amerika Serikat. Ia memetik banyak manfaat dari program ini. Misalnya, “Saya jadi lebih berani bertemu dan berinteraksi dengan orang lain,” katanya. Maklum, hampir saban minggu, ia mesti berbicara di depan umum soal Indonesia—dalam bahasa Inggris, tentu saja.

Saat pulang, ia harus masuk kelas 3 SMA saat teman-temannya telah lulus. Di SMA 6 Jakarta itu, nilai rapor Najwa bagus. Ia pun masuk UI tanpa tes, lewat program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) yang semata melihat nilai-nilai di rapor.

Perjalanan hidupnya memang tak asing dengan penghargaan. Pada 2006,  ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV dan masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards. Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih mengikuti Senior Journalist Seminar di sejumlah kota di AS dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association.

Setahun kemudian, selain kembali masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards, ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang di tingkat Asia, yaitu Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affairs/Talk Show presenter.

Najwa juga meraih penghargaan Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF) yang berkedudukan di Geneva, Swiss. Penghargaan YGL setiap tahun terhadap para profesional muda berusia di bawah 40 tahun dari seluruh dunia. Ribuan kandidat diseleksi secara ketat oleh sebuah panitia seleksi yang dipimpin Ratu Rania Al Abdullah dari Yordania.

Dalam surat yang ditandatangani Executive Chairman The Forum of Young Global Leaders, Klaus Schwab dan Senior Director Head of The Forum of Young Global Leaders, David Aikman, Najwa terpilih sebagai YGL 2011 karena pencapaian profesional, komitmen terhadap masyarakat, dan kontribusinya dalam membentuk masa depan dunia.

Saat kami bertemu, Najwa masih cuti dari kantor. Mulai Februari 2012, ia akan tampil kembali di layar kaca. Muncul dengan pembukaan khas ini: “Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa. Saya, Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa.”

 

[Dimuat pertama kali dalam Jurnalis Berkisah, Metagraf, 2012]

zona nyaman

Saat didera batuk dan flu, kemarin saya menonton satu episode “New Lives in The Wild” di BBC Earth. Pada episode itu, Ben Fogle, sang host, terbang dari London ke Filipina untuk menemui Neil Hoag.

Neil meninggalkan Florida, AS, untuk menjemput kehidupan baru di pedalaman Filipina. Ia menikahi Margie, perempuan setempat, dan menjadi satu-satunya pria bule di desa tersebut.

Di Florida, Neil menjadi pengemudi taksi. “Hanya sedikit lebih baik ketimbang pembersih toilet,” kata pria plontos itu kepada Ben.

Dia membangun hidup bersama Margie dan tiga anak lelaki mereka — yang lahir kemudian. Rumah mereka di puncak bukit. Bahannya kombinasi bambu dan dinding semen. Puluhan anak tangga tersusun menuju ke sana. Dari rumah itu, panorama elok terhampar.

Kepada Ben, sengaja saya tak terjemahkan, Neil mengatakan, “My life here is living the dream. People are afraid to let go of what they are familar with. You have to overcome that fear and know you can break free from the mainstream, you can break free from the herd and be captain of your own destiny.”

Di dusun itu, Neil merasa bahagia. Padahal di sana dia harus banyak melakoni aktivitas fisik. Terpencil. Jauh dari keramaian manusia. TV, telepon, dan Internet pun tiada.

Setiap tahun, selama dua bulan, Neil pulang ke Florida. Selain menemui anaknya yang lain, dia bekerja (lagi) sebagai sopir taksi. Ketika duit terkumpul, Neil balik ke Pulau Leyte untuk “mereguk nikmat” hidup.

Saya teringat cerita seorang teman yang mengundurkan diri dari kantornya. “Saya ingin punya waktu luang lebih banyak, tidak melulu bekerja atau memikirkan pekerjaan,” ujar dia.

Padahal perusahaan teman saya itu sedang bersinar dan melaju kencang. Dia justru mengelak, enggan terjebak di zona nyaman — dengan sejumlah kepastian di dalamnya.

Pindah ke mana dia? Perusahaan lain yang kelasnya jauh di bawah perusahaan terdahulu. Tapi ada di sana, dia bilang, “Saya bisa sering ketemu teman-teman, jalan-jalan. Pokoknya punya social life yang pantas.”

Sambil menahan perih radang di tenggorokan, saya membatin, teman itu telah menjadi “captain of his own destiny” seperti disarankan Neil Hoag.

tanah merah

Sejak kepergian Leo Kristi, saya mendengarkan ulang lagu dan menyimak lagi lirik-liriknya. Termasuk lagu yang mendedahkan pembuangan para tokoh politik di Digul: Tanah Merah In Memoriam.

Aku terpisah di belah bumi tertepi
Secarik kabar darimu akan sangat berarti

Di sana nestapa merundung para penghuni. “…sudah terang orang menderita di dalam batin. Wajah-wajah yang lesu, mata yang liar dan kadang-kadang seperti tak normal itu, dikelilingi lingkaran hitam dan dalam, menunjukkan hal itu,” tulis Sutan Sjahrir pada 11 Mei 1935 dalam surat untuk kekasihnya, Maria Duchateau, di Belanda.

Sjahrir, bersama Mohammad Hatta, tiba di Digul pada 21 Februari 1935. Aktivitas mereka bersama PNI Baru dianggap membahayakan. Tanpa proses pengadilan, mereka diberangkatkan ke Digul.

Tanah Merah terletak di hulu Sungai Digul — timur laut Merauke. Karena itu disebut juga Boven Digoel atau Digul Atas. Rezim Hindia Belanda membuka kamp itu pada Januari 1927 untuk menahan para aktivis komunis yang dianggap memberontak. Sjahrir dan Hatta bukan kader komunis tapi mungkin dosis bahaya mereka diyakini setara.

Hanya ada sedikit kontak dengan dunia luar. Itu melalui kapal Albatros yang singgah sebulan sekali, dengan membawa surat-surat yang telah disensor. Juga bacaan-bacaan terpilih.

Di sini hanya satu bangku tidur yang dingin
Namun selalu saja ada dengung ratusan nyamuk seakan pekik semangat rakyatku

Rezim kolonial tak menamakannya “kamp tahanan,” melainkan koloni pengasingan. Tak ada menara jaga dan lampu sorot di ketinggian. Dalam surat kepada bawahannya, Gubernur Jenderal Andries Cornelies Dirk de Graeff menulis, tempat itu mestinya menjadi “lokasi ambisi-ambisi politik digantikan minat pada hal-hal yang sifatnya lebih domestik dan sosial.”

Tempat itu dikepung rimba nan lebat. Amat jauh dari peradaban modern. Makin mencekam karena kehadiran nyamuk malaria yang ganas. Andai hendak kabur, pilihan terbaik adalah Kepulauan Thursday, Australia. Untuk itu, orang mesti menempuh hampir 500 kilometer sepanjang Sungai Digul yang penuh buaya buas, lalu menyeberangi Selat Torres. Setiba di Australia, harus siap kucing-kucingan dengan polisi setempat. Jika tertangkap, ya dipulangkan ke Digul.

 Berdentang-dentang merasuk hati
Aku tak kan pernah mati
Tuhan, tanahku yang hitam ini milikmu jua

Padamu tanahku
Padamu airku
Padamu darahku
Padamu putraku

Namun, dalam deskripsi sejarawan Rudolf Mrazek, “…ini bukan kesepian mutlak ala Heart of Darkness-nya Conrad — ‘kesepian, kesepian mutlak tanpa seorang polisi…kesunyian, kesunyian mutlak tanpa ada hangat suara tetangga yang baik…'”

Ya, para tahanan memang bebas bergerak dalam radius tertentu. Bergaul dengan sesama. Juga diizinkan menulis surat seperti Sjahrir atau mengirim artikel surat kabar seperti Hatta. Bahkan hadir semacam bioskop di sana. Sesekali, catat Mrazek, ada pula konser musik dan pertunjukan wayang.

Pada akhirnya, kebosanan dan ketidakpastian hari esok menjadi jalan mudah menuju remuk jiwa.

Saya tidak tahu apakah Leo pernah ke Digul. Meresapi lirik yang intens merefleksikan tanah pengasingan itu, saya yakin Leo “menggauli” tema itu dengan saksama, entah bagaimana caranya.

Pada karya Leo, sang aktivis — “Aku” dalam lagu itu — dibekap nasib buruk tapi tak mau takluk.