kang yoyon

Orde Baru membredel TEMPO, DeTIK, dan Editor pada 21 Juni 1994. Di Radio Mara, Bandung, Mohamad Sunjaya memutar berulang-ulang Song for Liberty dari Opera Nabuco karya Giuseppe Verdi.

“Saya protes, saya marah, saya pilu, saya tak bisa apa-apa lagi. Saya ulang-ulang tuh lagu,” kata Kang Yoyon, panggilan akrab Sunjaya, kepada jurnalis Agus Sopian yang menulis kisah Radio Mara.

Kang Yoyon bukan penyiar biasa. Dia juga seorang aktor teater yang andal. Dibesarkan Studiklub Teater Bandung (STB), dia lalu mendirikan Actors Unlimited. Untuk Radio Mara, dia bekerja sejak 1971.

Pada 1990-an itu, saya beberapa kali ke kantor Radio Mara untuk bertemu Noor Achirul Layla atau Mbak Ea, dosen wali, yang juga bekerja di sana. “Elu beruntung dapat dia,” kata Mbak Ea saat saya mengajak pacar. Saya hanya tergelak.

(Mbak Ea lebih dulu pamit pada November 2003. Ribuan orang mengantar pemakamannya.)

Orang-orang Mara, dalam penglihatan saya: berpikiran bebas, urakan, ogah menyembah-nyembah otoritas formal.

Pada November 1991, Kang Yoyon dipecat dari posisi pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan Radio pada Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat. Pria kelahiran 1937 itu dianggap bersalah menugaskan reporter untuk meliput demonstrasi mahasiswa yang menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

Sejatinya, Kang Yoyon bukan tak bisa berbuat apa-apa dengan pembredelan tiga media tersebut. Dia rajin merekam siaran radio-radio luar negeri berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah pembredelan.

Puluhan kaset rekaman milik adik kandung Jenderal Yogie S Memet itu kemudian ditranskrip dan dibukukan dengan judul Bredel di Udara. Inilah dokumentasi amat berharga atas kezaliman sebuah rezim.

Kemarin sore kabar duka itu tiba. Wilujeng angkat, Kang Yoyon. Titip salam buat Pak Ton ( atau Jenderal HR Dharsono yang banyak membantu Radio Mara di masa-masa awal) dan Mbak Ea.

koran rahman tolleng

Mereka adalah pendukung Orde Baru. Tapi belakangan justru dihabisi rezim tersebut, beberapa hari setelah Malari. Bulan madu yang tak sampai sewindu, Juni 1966 – Januari 1974.

Pada 1970, ketidakpuasan terhadap Orde Baru mulai merebak. Korupsi kembali terlihat, sementara perbaikan kehidupan rakyat masih jauh panggang dari api. Mahasiswa pun menggeliat lagi, turun ke jalan. Koran ini, Mahasiswa Indonesia, menunjukkan simpati dengan aktif melaporkan aksi-aksi mahasiswa.

Enam edisi Mahasiswa Indonesia ini tiba kemarin di gubuk kami dengan cara tak terduga. Dikirim Bli Gde Dwitya Arief Metera dari kota yang juga punya sejarah panjang soal gerakan mahasiswa: Jogja.

Nah, dalam pengamatan Francois Raillon, “Meski mereka setuju dengan amarah mahasiswa, para pemimpin Mahasiswa Indonesia tetap merasa bertanggung jawab pada Orde Baru. Mereka makin percaya bahwa modernisasi, reformasi, dan keberhasilan pelaksanaannya hanya mungkin dilaksanakan dalam rezim Orde Baru.”

Pemimpin Mahasiswa Indonesia? Ada sejumlah nama. Tapi yang paling menjulang tentu saja Rahman Tolleng, sang pemimpin redaksi. Ia disebut-sebut sebagai konseptor dan aktor intelektual mingguan ini. Pada awal 1970-an itu, Tolleng sudah masuk parlemen dari Golongan Karya (Golkar).

Tolleng adalah legenda aktivisme mahasiswa dekade 60-an dalam menumbangkan Orde Lama. Sosoknya unik: kerap dibicarakan tapi jarang muncul di kerumunan. Ia lebih banyak bergerak di bawah tanah.

Sempat kuliah di IPB, Tolleng lalu pindah ke Bandung untuk belajar di jurusan Farmasi UI (yang belakangan digabungkan ke dalam ITB). Di tingkat empat, ia meninggalkan ilmu eksakta dan masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran. Mahasiswa Indonesia pun berkantor di Bandung.

Meleset dari namanya, mingguan ini tak berbasis di kampus. Ia sejatinya media umum, bukan pers mahasiswa. Sejak awal, Mahasiswa Indonesia mencanangkan diri sebagai “koran ide.” Ide yang diperjuangkannya adalah menyelamatkan Indonesia dari dekadensi dan krisis yang diwariskan Orde Sukarno.

Mahasiswa Indonesia dikenal lantaran kualitasnya. Tulisan-tulisan dikurasi dengan saksama. Sejumlah intelektual rajin menulis di sana. Misalnya Soe Hok Gie, Wiratmo Soekito, atau Mochtar Lubis. Tak mengherankan kiranya jika banyak dibaca.

Pada edisi 26 Januari 1969, misalnya, esai Sanento Yuliman dimuat dengan judul “Gondrong.” Bergaya satire, tulisan ini mengkritisi aparat pemerintah yang memerangi anak-anak muda berambut gondrong. Kita simak paragraf pertamanya, “Rambut gondrong mempunjai beberapa manfaat — ketjuali barangkali bagi tukang2 tjukur. Salah satu manfaat rambut gondrong ialah untuk men-test apakah kepala seseorang masih bebas di Republik yang demokratis ini.”

Malari meletus, Tolleng ikut diciduk bersama ratusan orang lain. Akhirnya hanya 45 orang yang tak dilepaskan. Selain Tolleng, ada tokoh utama Hariman Siregar, advokat Adnan Buyung Nasution, politisi senior Subadio Sastrosatomo, ekonom Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, dan nama-nama lain. Mereka dituding sebagai otak demonstrasi mahasiswa yang berujung rusuh pada 14 Januari 1974.

Di Golongan Karya, tulis Raillon, ada kecurigaan bahwa Tolleng sebenarnya kader Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pada 1960, PSI dibubarkan Sukarno. Kendati demikian, tokoh-tokohnya sangat kritis terhadap Orde Baru. “Saya bukan anggota PSI, meskipun memang saya berteman dengan orang-orang PSI,” kata Tolleng dalam wawancara dengan TIARA, Oktober 1993.

Selama 16 bulan Tolleng ditahan tanpa pernah diadili. Sementara  Mahasiswa Indonesia telah lebih dulu pergi.

nyonya cemplon

Nyonya Cemplon adalah tokoh rekaan. Umar Nur Zain menciptakan sosok tersebut sebagai pipa yang mengalirkan pikiran-pikirannya. Saya menemuinya kembali akhir pekan ini, sekadar meredam lelah dan jenuh.

Renyah mengalir, dengan taburan humor dan sinisme di sana-sini. Sang narator berperan sebagai teman Nyonya Cemplon yang kerap diajak ngobrol, curhat, juga berjumpa di berbagai acara. Cemplon digambarkan super-fleksibel: ada di mana saja, kapan saja.

Tulisan-tulisan itu hadir rutin di Sinar Harapan Minggu pada awal 1980-an. Belum lahir? Saya juga…hehe… Sinar Harapan terbit sore. Sebagian orang, dengan nada mencibir atau bergurau, menyebutnya “koran Kristen.” Beberapa kali dibredel penguasa tapi boleh terbit lagi. Lalu akhirnya benar-benar menemui ajal pada 1986.

Nah, kiranya tak banyak yang mengingat Umar Nur sebagai kolomnis yang oke. Berbeda dengan Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, atau Mahbub Djunaidi. Umar Nur sendiri merupakan jurnalis di Sinar Harapan. Dari hasil googling, ia juga menulis novel.

Saya juga baru tahu belakangan soal Nyonya Cemplon, puluhan tahun setelah kolom-kolom itu dibukukan. Tapi sudah tahu soal penulisnya karena dia juga menyusun buku penulisan feature, yang dipakai saat kami kuliah.

Di kolom-kolomnya, Umar Nur meluncurkan kritik sosial, terutama terkait perilaku masyarakat Jakarta di masa tersebut. Tentang fenomena orang kaya baru, transportasi publik yang menyedihkan, merebaknya disko, penyebaran video porno dll.

Buat milenial dan generasi Z, membacanya bisa menjadi pintu masuk untuk meraba denyut nadi kehidupan sosial pada masa Orde Baru. Buat mereka yang lahir 1960-an atau sebelumnya, antologi ini niscaya menyeret mereka dalam nostalgia.

Itu semua berkat  kehadiran perempuan tajir, cantik, dan wangi bernama Cemplon.

makelar

HB Jassin pernah juga menjadi “makelar” tulisan. Kritikus dan dokumentator sastra ini menerima surat dari Buchari. Isinya tanggapan atas esai Pramoedya Ananta Toer di Bintang Timur pada rubrik “Lentera”, 27 Oktober 1963.

Semula Jassin akan memuat surat tersebut di media yang diasuhnya, Berita Republik. “…tapi setelah dipikir-pikir maka kami batalkan karena mungkin hanya akan mengeruhkan suasana. Barangkali Saudara punya perhatian untuk mempelajarinya dan mengumumkannya untuk dijawab,” tulis Jassin dalam surat untuk Pramoedya Ananta Toer, 2 November 1963.

Pram ternyata memuatnya di Bintang Timur. Jassin pun menyampaikan apresiasi dalam surat tertanggal 13 November 1963: “Bersama ini saya teruskan surat kedua dari Buchari. Oleh karena suratnya yang pertama telah secara fair play telah saudara muat di Lentera – untuk mana kami menyatakan penghormatan dan terima kasih – diharap saudara pun suka memuat surat yang kedua ini…”

Eh, siapa sih Buchari? Dalam keterbatasan referensi, saya teringat Prahara Budaya. Membuka lagi buku kontroversial itu, surat Buchari ternyata ada di sana. Dalam pengantar editor, terkuak bahwa Buchari adalah Bokor Hutasuhut, salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan.

Nama asli Bokor memang Buchari. Kenapa Bokor “menyamar” dengan memakai nama asli yang sedikit orang tahu dan menanggalkan marganya? Barangkali ia sudah mengendus bahaya.

Kira-kira, Manifes merupakan ungkapan protes pada upaya subordinasi kesenian pada politik –hal yang dinisbahkan kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Petikannya,”Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.

Selain Bokor, para penandatangan Manifes adalah Wiratmo Soekito, Jassin, Trisno Sumardjo, Soe Hok Djin (belakangan menjadi Arief Budiman), Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Zaini, Ras Siregar, DS Moeljanto, Djufri Tanissan, A. Bastari Asnin, Sjahwil, Taufiq Ismail, M. Saribi Afn., Purnawan Tjondronegoro, Hartojo Andangdjaja, Binsar Sitompul, dan Boen S. Oemarjati.

Manifes akhirnya dilarang Presiden Sukarno pada 8 Mei 1964. Sebab dianggap tak sesuai dengan semangat revolusi. Tapi, aroma pemberangusan telah tercium beberapa bulan sebelumnya.

“Sejak September 1963 sampai 8 Mei 1964, serangkaian kampanye yang sengit, kadang tidak adil, dan yang jelas sistematis, dilancarkan terutama oleh mereka yang punya hubungan dengan PKI dan PNI. Selama tujuh bulan Manifes Kebudayaan itu diserang lewat statement, pidato, dan tulisan, sampai akhirnya ia dinyatakan terlarang,” tulis Goenawan Mohamad dalam esai panjangnya di TEMPO, 21 Mei 1988.

Para seniman yang terlibat dalam Manifes segera mendapat stempel “kontrarevolusioner,” sebuah cap sangat buruk pada masa itu. Tak mengherankan jika, pada akhir Oktober 1963 itu, Bokor merasa jeri.

Bahwa Jassin membatalkan pemuatan di Berita Republik, agaknya juga harus dibaca dalam konteks tersebut. Ada kecemasan karena ternyata penolakan terhadap Manifes begitu besar. Berbeda jika ditayangkan di koran kiri seperti Bintang Timur. Jassin seperti mengambil jalan memutar: ide yang (mungkin) diyakininya tetap muncul tapi dengan meminjam tangan orang lain.

Setelah Mei 1964, pengganyangan berlanjut kencang. Mereka tak bisa menulis lagi di media massa, tak diizinkan mengajar – seperti yang terjadi pada Jassin. Meski, kata Goenawan dalam tulisan yang sama, itu semua tak sebanding dengan penindasan yang dialami para penulis dan cendekiawan kiri pasca-30 September 1965.

Merasa jeri namun Bokor memilih tak 100% tiarap dan terus menulis meski dengan menyamarkan diri. Dua surat lain dikirim ke Jassin yang lalu meneruskan ke Pram. Surat kedua dimuat dan Pram merespons dengan tulisan. Tapi, surat ketiga Buchari tak ditayangkan.

Jangan bayangkan polemik itu memperdebatkan kualitas karya sastra. Ini lebih menyoal posisi “politis” masing-masing. Judul surat pertama Bokor adalah Apakah Bung Pram Memang Revolusioner?. Di sana Bokor mempermasalahkan, salah satunya, kepergian Pram ke Belanda atas biaya Sticusa (badan kerja sama kebudayaan Indonesia-Belanda) pada 1953. Surat itu ditutup dengan signature: “Dari konco lawasmu, (Buchori).”

Dalam esai tanggapan sebagaimana terbaca di Prahara Budaya, Pram menyebut Buchari adalah Bokor. Saya tak punya akses ke naskah asli di Bintang Timur. Jadi tak bisa memastikan apakah Pram memang tahu bahwa Buchari adalah Bokor. Sementara, dalam surat Jassin ke Pram tertulis,”…saya kirimkan bersama ini surat terbuka dari seorang bernama Buchari.”

Pada masa itu para buzzer belum merebut arena. Makhluk bernama netizen belum menjelma. Hanya segelintir elite cendikia yang bisa bersuara — meski harus menyamar. Bokor menulis surat dan Sang Paus Sastra pun menjadi “makelar.”

 

 

adil

Alkisah, terjadi tawuran antara anak-anak SMA 6 versus SMA 70 Jakarta (ini sekolah saya…hehe…). Ada satu mobil yang parkir di GOR Bulungan, isinya anak-anak 70. Mereka turun dan buka bagasi. Ternyata bagasi memuat batang-batang bambu buat tawuran. Saat bambu dibagi-bagi, Mas Bawor Prayitno melihat dan murka.

“Jangan pernah bagi-bagi senjata di sini. GOR ini kawasan netral, kawasan damai. Boleh berantem di jalan tapi begitu masuk harus lupakan perkelahian!” ujar aktor teater itu kepada mereka.

Entah sejak kapan dia berkegiatan di GOR Bulungan, yang pasti GOR adalah ‘rumah’ buat pria asal Purwokerto tersebut. Selain pegiat teater, dia juga sensei alias guru aikido.

Cerita lain. Seorang pedagang minuman ditegur Mas Bawor. Gara-garanya, di samping gerobak dia ada tripleks besar bertuliskan: tempat itu markas anak-anak dari sekolah tertentu. Pedagang itu pun disemprot Mas Bawor. “GOR ini untuk siapa saja, mereka bebas beraktivitas di sini selama tertib. Nggak ada markas-markasan, nanti ada rajanya segala lagi,” ujar Mas Bawor.

Mas Bawor menyodorkan pilihan buat pedagang itu, hapus tulisan atau dibakar tripleksnya. Sang pedagang memilih menghapus.

Saya kutip dua kisah di atas dari status Mas Bawor di Facebook. Untuk sesaat saya membeku dan terharu ketika membacanya kemarin pagi. Lalu teringat definisi “adil” yang disampaikan pak guru di sekolah dasar dulu, yaitu “letakkan sesuatu pada tempatnya.”

Sehat selalu, Sensei. Salam hormat dari Cinere.

cinta tak pernah kedaluwarsa

Seperti dongeng. Setelah hampir 30 tahun terpisah, mereka berjumpa lagi secara kebetulan di lobi Hotel Indonesia.

“Kamu tinggal di mana?” kata Njoo Tik Tjiong dengan jantung berdebar.

“Cik Di Tiro,” jawab Giok Nie. Itu nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tjiong ingin mencatat nomor telepon Giok Nie. Tapi tak membawa pulpen. Ia segera memanggil doorman Hotel Indonesia yang dikenalnya, William, dan berujar, “Will, pinjam pulpen.”

Nomor telepon rumah Giok Nie dicatat di telapak tangan Tjiong.

Setelah mobil Giok Nie berlalu, William menggoda, “Bekas pacar ya…”

Tjiong adalah pewaris perusahaan roti Orion di Solo. Pernah menikah lantas bercerai. Anaknya dua. Giok Nie adalah janda seorang dokter yang punya saham di RS Hermina. Anaknya tiga.

Lalu Tjiong menyambangi rumah di Jalan Cik Di Tiro tersebut.

“Oh, elu…” Sambutan sinis yang tak disangka-sangka diterima Tjiong. Orang yang mengucapkan adalah tante dari Giok Nie – orang yang puluhan tahun silam tak menyetujui hubungan mereka. Bukan hanya Sang Tante, seisi rumah Giok Nie tak setuju. Mami Giok Nie punya alasan khusus: ia ogah punya menantu Cina-Jawa.

Begitulah, Giok Nie akhirnya menikah dengan Budiono Wibowo, dokter yang meningggal karena kanker itu. Tjiong menjadi pendamping mempelai pria.

“Tjiong dari dulu saya anggap orang yang baik meski omongannya kasar.  Kasarnya itu tidak saya suka. Betapa pun kami berteman sangat baik,” kata Giok Nie kepada Bre Redana, penulis biografi Tjiong alias Purwohadi Sanjoto, Karmacinta.

Berteman sangat baik tapi tak berjodoh. Adakah yang lebih tragis ketimbang itu?

Tjiong ingin menuntaskan yang tertunda. Namun tak mulus juga. Sejumlah pihak bilang ke Giok Nie, Tjiong bukan orang yang beres. Hanya mengincar uang janda pemilik RS Hermina. Ada juga yang bilang, perceraian Tjiong karena dia menyia-nyiakan istrinya.

Giok Nie terpengaruh. Ia pun menjauh. “Saya telepon ke rumah, tidak pernah diangkat. Saya cari dia, bahkan sampai ke Singapura,” ungkap Tjiong yang juga kolektor lukisan itu.

Untuk menghindari Tjiong, Giok Nie kerap bepergian. Ke Eropa, Timur Tengah, atau Amerika Serikat — sembari menengok anaknya yang sekolah di sana.

Kemudian, kakak Giok Nie, Doddy, dirawat di Singapura.  Pada kurun waktu bersamaan, Tjiong juga harus menjalani operasi sinus di rumah sakit yang sama. Mengetahui Doddy dirawat, Tjiong menjenguk. Percakapan mereka membelokkan sejarah.

Ketika Giok Nie menjenguk, Doddy bilang, “Kamu sama dia saja. Ada orang yang take care of you.”

Giok Nie mulai goyah. Ia pun menemui teman baik Tjiong, Harry Tjan Silalahi, aktivis 66 dan pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

“Aduh kenapa tidak dari dulu-dulu kalian menikah? Rumah tangganya memang bermasalah, tapi orangnya baik, orangnya begini,” ujar Harry sambil mengacungkan jempol.

Pada 18 Maret 1995, akhirnya mereka menikah. Saat itu Tjiong menjelang 61 tahun, Giok Nie 60 tahun. Mereka kemudian memilih tinggal di Solo.

“Sehari-hari praktis kami hanya berdua. 24 jam sehari bersama dia. Dia tak pernah meninggalkan saya, tak pernah pergi sendiri. Daripada pergi sendiri, dia memilih tak pergi,” kata Giok Nie yang dipanggil “Non” oleh Tjiong.

Kalau Giok Nie sedang kurang sehat, Tjiong ikut menyiapkan obat. “Nonnn, sudah minum obat?”

Mereka jalan-jalan berdua. Ke Eropa, dari museum ke museum. Juga menonton teater. Atau, ke Jakarta — kota yang mempertemukan kembali mereka. Seperti dongeng…

Catatan: tulisan ini sepenuhnya bersumber dari Karmacinta karya Bre Redana.


tragedi amir sjarifuddin

Tentara Jepang itu bertanya, “Kamu seorang Kristen. Apakah kamu tetap pada keyakinan itu?”

“Tetap,” jawab pria itu. Namanya Amir Sjarifuddin.

“Pasti?”

“Pasti.”

“Kristus bersedia berkorban pada kayu salib. Kalau betul-betul seorang Kristen, mestinya kamu juga bersedia digantung pada salib. Kamu berjuang melawan Belanda dulu, sekarang melawan Jepang demi kemerdekaan bangsamu. Bersediakah kamu digantung pula demi keyakinan dan bangsamu?”

Hening. Serdadu itu melanjutkan, “Kristus digantung dengan kepala di atas. Kamu akan digantung dengan kepala di bawah. Sebab setiap murid harus bersedia berkorban lebih berat daripada Sang Guru…”

Amir pun digantung dengan kepala di bawah. Manusia mana yang bisa menanggung kebiadaban semacam itu? Ia kepayahan, nyaris mati. Tapi, prajurit-prajurit itu tak bermaksud menghabisi nyawa Amir. Ia pun diturunkan.

Pada Januari 1943, bersama aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) lain, Amir ditangkap polisi Jepang. Tuduhannya menggalang kekuatan anti-Jepang. Pada Februari 1944, vonis mati jatuh. Sepupunya, Goenoeng Moelia, mendengar kabar itu dan segera menemui , penasihat pemerintahan militer Jepang di Indonesia, Mohammad Hatta. Kondisi Amir disampaikan plus permintaan tolong. Hatta pun bergerak.

Pada Oktober 1945, akhirnya Amir menghirup udara kebebasan. Dari penjara Lowokwaru di Malang itu, ia dibawa ke Surabaya, lalu menuju Jakarta dengan kereta api. Kesehatannya buruk, giginya rusak karena siksaan. Ia ditunggu sebagai Menteri Penerangan dari sebuah republik yang baru lahir.

Setiba di Jakarta, Amir segera menggelar konferensi pers dengan para jurnalis asing. Ia bilang, “Saya adalah seorang demokrat sampai ke tulang sumsum. Perjuangan kemeredekaan di zaman pemerintahan Jepang saya lanjutkan dengan ratusan kawan saya dengan cara underground. Pada tanggal 30 Januari 1943 saya dan 54 kawan seperjuangan ditangkap. Tiga orang di antaranya sudah ditembak mati…Semua itu menunjukkan bahwa cerita-cerita di luar bahwa Pemerintah RI adalah boneka Jepang, tidak benar sama sekali…”

Sukarno, orang yang menunjuknya sebagai Menteri Penerangan,  bukan kawan baru buat Amir. Mereka telah bersama di Partai Indonesia (Partindo) sejak 1933. Keduanya sama-sama orator yang memesona.

 

AMIR LEBIH MUDA ENAM tahun ketimbang Sukarno. Ia dilahirkan di Tapanuli Selatan pada 1907. Ayahnya adalah seorang jaksa, bernama Djamin gelar Baginda Soripada Harahap. Djamin pindah ke Islam untuk menikahi Basunu Siregar, anak seorang saudagar di Tapanuli Utara. Mereka punya tujuh anak dengan Amir sebagai si sulung. Amir memperoleh gelar Sutan Gunung Soaloon. Namun predikat kebangsawanan itu seumur hidup tak pernah dipakainya.

sumber: Wikipedia

Pada usia 14, setelah menamatkan sekolah dasar berbahasa Belanda, Amir dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi. Amir belajar di sebuah sekolah negeri atau gymnasium di Leiden dan Haarlem, tinggal bersama sebuah keluarga Calvinis konservatif dan kemudian dengan seorang janda mantan misionaris. “Di sinilah saya mulai belajar dan menghargai kesusasteraan dan filsafat,” tulis Amir dalam sebuah risalah otobiografis ringkas yang disimpan Arsip Kerajaan Belanda.

Pada 1926, setahun sebelum Amir pulang dari Belanda, ayahnya kehilangan jabatan sebagai jaksa. Baginda Soripada lalu mendapat pekerjaan di Tarutung, bukan sebagai jaksa melainkan karyawan biasa di birokrasi Hindia Belanda.

Dia pun pulang ke Hindia Belanda dan menetap di Jakarta, masuk sekolah tinggi hukum, Rechts Hoogeschool. “Di sini, setelah tahun pelajaran kedua, saya berkenalan dengan politik,” aku Amir. Ia menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan redaktur majalah mahasiswa Indonesia Raja.

Amir tinggal di  asrama Indonesis-Clubgebouw di Jalan Kramat 106, di dekat Senen. Penghuni asrama kebanyakan mahasiswa kedokteran, STOVIA, dan sekolah tinggi lain. Pada 1928-1931, yang tinggal di Indonesis-Clubgebouw di antaranya adalah Amir, Muhammad Yamin, Assat, Abas, Abu Hanifah, dan sejumlah mahasiswa lain.

Mereka semua segelintir kaum pribumi yang beruntung bisa sekolah untuk meraih gelar sarjana – tentu lantaran orangtua mereka juga bukan orang sembarangan. Tapi, mereka bukan anak-anak orang kaya yang mengisi waktu dengan hura-hura. Mereka dekat dengan bacaan-bacaan serius dan aktivitas politik.

“Karena masing-masing memiliki cukup perasaan kritis terhadap apa-apa yang terjadi di Indonesia dan dunia, serta terang mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan buat membicarakan dan memperdebatkan soal-soal politik, kultur, masyarakat, kolonialisme Belanda, teori-teori politik dan hal-hal sehari-hari. Ini sering terjadi ketika habis makan malam pukul 8,” kenang Abu Hanifah.

Pernah berbulan-bulan mereka memperdebatkan revolusi Prancis. Masing-masing mempunyai jago sendiri. Yamin mengagumi Marat, Assat memilih Danton, Abu Hanifah menunjuk Mirabeau, sementara Amir mengidolakan Roberspierre. Diskusi bisa sangat sengit tapi tak ada persoalan pribadi sesudahnya.

sumber: tak terlacak

“Kalau telah capek, pukul 1 malam, kami kumpulkan uang buat cari kopi plus sate atau soto ke pasar Senen. Judul percakapan sudah berubah, lebih ke  soal-soal yang dekat dengan hati pemuda,” tulis Abu Hanifah.

Rata-rata dari mereka terpesona dengan ide kaum kiri, terutama karena menanam tujuan menolong kaum proletar. Namun, menurut Abu Hanifah, tidak ada yang terlalu terpengaruh dengan ajaran komunis.

 

DUKA MELANDA AMIR pada Juni 1931. Ibunya bunuh diri. Tak jelas penyebabnya. Konon, sejak Baginda Soripada pensiun sebagai jaksa, Basunu terpukul. Aktivitas politik Amir kian membuat dirinya depresi.

Setelah ibunya meninggal dunia,  Amir pindah ke Kristen – agama yang dianut kakeknya.

Amir sendiri kian larut dalam kegiatan politik.  Terutama karena tulisan-tulisannya di majalah Partindo, Benteng, dia dipenjara dari Desember 1933 sampai Juni 1935. “Desember 1933, saya menyelesaikan studi dan dua hari kemudian saya dimasukkan ke penjara Jakarta. Lalu dikirim ke Sukamiskin sampai tahun 1935. Tahun itu saya dikeluarkan dari penjara dan menjadi pengacara,” tulis Amir.

Pada 1937, Amir Sjarifuddin bersama sejumlah tokoh lain mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), wadah politik yang mengikat berbagai unsur gerakan nasional setelah PKI dilarang pemerintah kolonial Hindia Belanda dan PNI dibubarkan.

Menjelang Jepang tiba, pejabat senior Hindia Belanda, Van der Plas memberikan 25 ribu gulden ke Amir.  Dengan duit itu, dia diminta menggalang gerakan bawah tanah melawan Jepang.

Buat Amir, fasisme adalah lawan sejati demokrasi. Tak mungkin bersekutu dengannya. Di depan mata, fasisme itu berwujud tentara-tentara cebol dan bermata sipit, datang dari Tokyo dan sekitarnya.

Sial, catatan soal gerakan ini jatuh ke tangan Jepang. Tak lama berselang, puluhan orang, termasuk Amir, dicokok. Amir dipenjara dan mesti menghadapi siksa.

Namun Amir baru menemui ajal pada 1948. Ironisnya, nyawanya pergi di tangan para tentara RI pasca-Peristiwa Madiun. Pengagum Kristus itu ditembak bersama-sama para pengikut komunis.Usianya 41 saat itu, sama dengan ibunya saat menghadap Tuhan.

Sebelum dieksekusi, Amir dan teman-temannya menyanyikan Indonesia Raya dan lagu kaum komunis, Internasionale. Alkitab di tangannya.

Sumber:

Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifuddin, Abu Hanifah, Prisma, Agustus 1977

Amir Sjarifuddin 75 Tahun, Jacques Lecrec, Prisma, Desember 1982

5 Penggerak Bangsa yang Terlupa, Gerry van Klinken, LKiS, 2010

 

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di blog lain yang kini sudah tamat riwayat.

warkop, pintu menuju kemasyhuran

Kasino Hadiwibowo diajak ke rumah bundar di Desa Rarahan, di kaki Gunung Gede. Rumah itu tak sampai satu kilometer dari pintu gerbang Kebun Raya Cibodas.

Mahasiswa Administrasi Niaga FISIP UI ini langsung terkesan, “Wuiihh, asyik tempatnya, mana udara dingin dan sepi suasananya,” kata Kasino.

Selanjutnya adalah bujukan agar Kasino mau bergabung dengan tim kecil Mapala UI untuk mengisi acara di malam api unggun di Perkampungan UI di Cibubur, akhir September 1973. Kasino direncanakan berduet dengan Nanu Mulyono, juga mahasiswa FISIP UI. Keduanya jago bercanda, piawai melempar humor.

Kasino setuju. Duet itu terbukti mampu bikin gempar. “…Kasino dan Nanu tampil gaya dengan gaya slengean. Penonton tertawa, panitia pun puas. Kasino dan Nanu menjadi bintang, a star is born kata Temmy (Lesanpura) yang jadi panitia inti,’ kenang Rudy Badil, aktivis Mapala UI, yang punya andil mempertemukan keduanya.

Kisah berlanjut. Selain kuliah di UI, Temmy juga bekerja sebagai Kepala Program Radio Prambors. Ia rupanya sangat terkesan dengan Kasino dan Nanu. Kepada Badil, ia minta mereka mau mengisi acara di Radio Prambors.

Kasino dan Nanu setuju untuk siaran. Badil juga diminta nimbrung. Mereka diminta untuk ngobrol yang lucu-lucu saja. Tapi punya isi. “Ingat ya, kalian mahasiswa yang biasa mengisi acara di alam terbuka, juga bawakan lagu-lagu kampus sambil cerita lucu-lucuan. Itu saja dipelihara, tapi pakai persiapan,” kata Temmy.

Dalam istilah Temmy, mereka diminta “bercanda otak.”

Djodi Wuryantoro, mahasiswa Psikologi UI dan juga penyiar Prambors, ikut melempar saran. Ia mengingatkan penampilan Kasino dan Nanu di Perkampungan UI. “Kasino sukses menyanyikan lagu pop dangdut yang bercanda abis soal nasib orang di bui… atau Nanu yang dengan suara serak dan kocokan gitar menyanyikan  Hello Dolly, menirukan Louis Armstrong. Atau Nanu dan Kasino duet dengan lagu Tirtonadi yang rada-rada porno. Itu kan ciri kalian. Itu aja yang diterusin,” kata Djodi.

Slot acara mereka di Kamis malam, pukul 21.00. Itu persis bersamaan dengan dimulainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI, acara paling digemari se-Indonesia. Saat itu hanya ada TVRI, belum ada televisi-televisi swasta.

Acara malam Jumat itu pada mulanya hanya punya pendengar terbatas. Cuma kalangan mahasiswa UI. Sejak 1974, ketika lingkup pendengar mulai meluas, pengelola menamakan acara itu Warung Kopi Prambors. Mereka juga dikenal sebagai Warkop Prambors.

Mereka bertiga jadi penyebar terdepan gosip-gosip di seputar anak muda. Juga istilah-istilah khas yang dipakai semacam indehoy asoy, bohai, gintur, atau mana tahan.

Lalu, Wahyu Sardono atau Dono ikut bergabung. Itu bermula ketika mereka menjadi Panitia Pelaksana Pelatihan Nasional Lingkungan Hidup untuk Pemuda Indonesia di Puncak Pass, awal Juni 1975. Dono juga terlibat sebagai jurnalis yang membuat buletin harian acara pelatihan.

Saat malam tiba, mereka mengisi panggung kecil: ngobrol lucu dan menyanyi. Sepulang ke Jakarta, Dono dibujuk untuk ikut bergabung di acara malam Jumat itu.  Mahasiswa Sosiologi UI tersebut bersedia.

Kemudian, mahasiswa Universitas Pancasila bernama Indrojoyo Kusumonegoro atau Indro juga terlibat. Indro tinggal dekat dari studio Radio Prambors di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Ayahnya seorang jenderal polisi. Kawasan tersebut memang banyak dihuni pejabat. Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin dan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo juga tinggal di sana.

Foto: @Warkop_ID

PARODI LAGU MENJADI CIRI khas.  Nanu terampil memainkan gitar. Dia belajar sendiri, tak pernah ikut kursus.

Tak terlalu mahir bergitar, Kasino lebih menonjol sebagai penyanyi. Ia bisa bernyanyi dalam berbagai cengkok. Mulai dari Jawa, Batak, Betawi, sampai Mandarin. Urusan musik di Warkop, pria kelahiran Kebumen ini diplot sebagai frontman – seperti Ariel di Noah atau Duta di Sheila on 7.

Bahkan, pada 1979, Kasino diminta Guruh Soekarnoputra menyanyikan lagu Selamat Datang versi dangdut pada Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra 1979. Juga Jockie Suryoprayogo meminta Kasino menyanyikan parodi lagu Cinderella — aslinya dinyanyikan Ira Maya Sopha – di album “Musik Saya adalah Saya.”

Saat Indro direkrut, salah satu pertimbangan adalah kemampuan bermusiknya. Ia bisa bergitar dan meniup seruling. “Yang gua ingat itu gua disuruh menyanyikan lagu Melati-nya Grace Simon.  Tapi harus dalam langgam Jawa. Edan kan? Kurang kerjaan banget tuh Kasino…hehe…” kenang Indro.

Hanya Dono yang relatif tak bisa bermusik. Terkadang ia ikut menyanyi atau sekadar menabuh ketipung dan bongo.

Dengan parodi, mereka mengobrak-abrik lagu, terutama unsur liriknya.  Bayangkan lagu Kidung yang syahdu itu mereka acak-acak, menjadi menjurus porno.

Soal bahan lawakan, mereka banyak menyerap dari folklore, yang juga diajarkan di jurusan Antropologi. Dalam folklore, berlimpah cerita-cerita cabul, stereotip etnis, atau anekdot. Rudy Badil yang kuliah di Antropologi kerap diminta membawa bahan-bahan kuliah folklore yang diasuh Prof James Danandjaja. Itu semua dikemas ulang Warkop Prambors.

Ada satu contoh lelucon yang digali dari stereotip etnis. Jadi, ada calo bus di Lapangan Banteng, namanya Ucok. Suatu kali, dia ditusuk seseorang dan dibawa ke RSCM. Bapaknya datang sambil menangis, “Ucok, mangucaplah…Ucok, mengucaplah.”

Lalu, Ucok membuka mata dan berujar lirih, “Garogol…Garogol…”

MALAM TAHUN BARU 1977 menjadi pintu bagi kemasyhuran yang lebih gila. Warkop Prambors tampil di acara “Terminal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI. Sejak itu, ketenaran mereka melebar se-Indonesia. Di sini, Rudy Badil sudah tidak aktif. Ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai jurnalis Kompas.

Undangan manggung berdatangan. Dari seluruh penjuru Indonesia. Kocek mereka mulai tebal.

Rupiah kian berlimpah saat tawaran kontrak album kaset datang. Menariknya, album pertama berasal dari pertunjukan live mereka di Palembang. Ternyata sukses!

“Pramaqua langsung mengontrak Warkop untuk proyek kedua. “Kami membayar Warkop dengan jumlah fantastis, Rp 25 juta!” kata Johannes Soerjoko, bos Pramaqua.  Album yang dirilis Agustus 1979 itu juga meledak: terjual 180 ribu kaset dalam 45 hari.

Album kedua ini juga direkam live. Lokasinya Pontianak. Di album ini, Indro mengajukan teka-teki: apa bedanya laki-laki dengan sepak bola?

Tiga rekannya menyerah. Jawaban Indro, “Kalau sepak bola, penyerang membawa bola; bolanya masuk gawang, penyerang tunggu di luar. Kalau laki-laki, penyerang dibawa bola;  penyerang masuk gawang, bola tunggu di luar.”

—————–

Referensi: Warkop: Main-main jadi Bukan Main, Rudy Badil dan Indro Warkop (Editor), Kepustakaan Populer Gramedia, 2016 (cetakan ketiga)

simpang jalan dua wartawan

“Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja,” tulis Sutan Sjahrir dalam esai “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian.”

Pada 17 Februari 1946, koran Merdeka menerbitkan “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia.” Tebalnya 124 halaman. Salah satu yang dimuat adalah esai Sjahrir yang kutipannya nongol di atas.

Sebulan setelah “Nomor Peringatan” terbit, Merdeka terbelah. Kubu Rosihan Anwar mulai didepak. Di Merdeka, BM Diah menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum, Rosihan adalah redaktur utama. Keduanya sudah kerja bareng sejak koran Asia Raja pada masa pendudukan Jepang.

Merdeka mulai terbit 1 Oktober 1945. Koran itu dibangun setelah para wartawan dan karyawan Asia Raja mengambil alih percetakan De Unie dan menempelkan kertas bertuliskan “Milik Repoeblik Indonesia”.

Pemicu friksi Diah dan Rosihan adalah perbedaan visi. Rosihan terlalu dekat dengan faksi Sjahrir, Diah berafiliasi ke Sukarno. Konon tindakan Diah ini hanya reaksi. Sebelumnya, ia mendengar Rosihan dkk yang akan mendepaknya.

Diah tegas mengakui banyak bersimpang pendirian dengan Sjahrir. Perihal perlakuan Sjahrir atas dwitunggal Sukarno-Hatta tak disetujuinya. Sjahrir mengkritik keras mereka sebagai kolaborator Jepang dalam brosur Perjuangan Kita.

Juga soal perjuangan diplomasi yang banyak dipimpin Sjahrir. Dalam Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985, dinyatakan bahwa Diah tidak anti-diplomasi. Tapi, ia meminta jaminan bahwa semua itu bukan dilandasi oleh “bisikan” kubu sosialisme atau komunisme internasional. Harus berdasarkan kepentingan nasional Indonesia.

Karena ada dua “matahari” di Merdeka, pada suatu hari, Sjahrir dikritik. Pada hari lain, perdana menteri pertama RI itu dipuja-puji.

Tapi, kabarnya, soal pemilikan saham pun menjadi pangkal masalah. Rosihan menganggap Diah hendak menguasai Merdeka sendirian, sementara ia ingin semangat kolektif-kolegial dipertahankan. Tribuana Said, salah seorang menantu Diah, yang mengungkap hal ini dalam H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra.

Di autobiografinya, Menulis dalam Air, Rosihan tak menyinggung penyebab keluar dari Merdeka. Kisah yang dituliskan adalah perselisihan dengan Diah saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Oktober 197o. Rosihan mendapat suara terbanyak, tapi Diah mempermasalahkan prosedur pemilihan. Perpecahan PWI Pusat merembes sampai ke daerah. Dualisme kepengurusan terjadi.

Melalui proses yang alot, Rosihan disahkan juga menjadi Ketua PWI meski Rezim Orde Baru lebih suka jika Diah yang naik. Oh iya, di sini tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo, dikabarkan ikut ‘bermain’ dengan menyokong Diah.

Penting diingat bahwa sengketa ini memicu pemecatan Goenawan Mohamad dkk dari Ekspres — majalah yang 60% sahamnya dimiliki BM Diah. Goenawan menyayangkan Diah yang ogah berunding. Pernyataan ini dimuat beberapa surat kabar. Diah pun berang. Selepas Ekspres, pada 1971, Goenawan dkk mendirikan TEMPO.

Balik ke masa revolusi. Setelah keluar dari Merdeka, awal 1947,  Rosihan mendirikan Siasat, sebuah majalah politik dan budaya. Dalam waktu tiga bulan, tirasnya melesat ke 12.ooo.

Kemudian, Rosihan butuh mainan lain. Ia mendirikan Pedoman pada 1948. Koran ini kerap dibilang dekat dengan partai Sjahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia memang pengagum Sjahrir. Dalam autobiografinya itu, Rosihan bilang Perjuangan Kita meninggalkan kesan mendalam.

“Yang berkesan pula pada saya ialah nada kemanusiaan yang terdengar dari uraiannya. Inilah orang yang memperjuangkan tegaknya demenselijke waardigheld, martabat kemanusiaan di bumi persada Indonesia,” tulis Rosihan.

Nada esai ringkas Sjahrir di “Nomor Peringatan” kritis pada revolusi – ya, tak jauh berbeda dengan Perjuangan Kita. Bung Kecil menulis, “Agaknja salah-satoe sifat tiap-tiap revoloesi adalah, bahwa ia boeta, jaitoe bahwa orang yang berada dalam soeatoe revoloesi tiada dapat menangkap dan merasakan hoekoem sedjarah dengan pengertian, sehingga bagian terbesar dari pada tenaga yang lepas dari ikatannja dan bergolak didalam masjarakat itoe terboeang pertjoema.”

Saya membayangkan Diah jengkel ketika mengetahui Sjahrir menulis hal tersebut di koran yang dipimpinnya. Sementara Rosihan tersenyum.

 

 

empat kepingan perjalanan

/1./

WILLIAM VAN MAJALENGKA

Keluar dari Tol Cipali via Pintu Kertajati, kami segera menjumpai tanah yang elok ini: Majalengka.

Inilah kampung halaman beberapa teman saya…dan William Soeryadjaya, pendiri Astra Grup. William lahir sebagai Tjia Kian Liong pada 20 Desember 1922.

Kian Liong adalah anak kedua Tjia Tjoe Bie, seorang pengusaha otobus dan pedagang hasil bumi. Rumah mereka mungkin yang terbagus di Majalengka. Di kampungnya, hanya mereka yang memiliki generator listrik.

Pada masa kolonial, Majalengka menjadi tetirah banyak orang Belanda. Dikelilingi gunung, udaranya sejuk. Sampai dikenal sebagai “Kota Angin.”

Majalengka dilalui sejumlah sungai. Salah satunya Cimanuk. Di sungai berarus deras ini, William gemar bermain.

Kelak William juga dikenal gemar memberi ke orang kecil. Saku celananya selalu penuh uang. Kalau makan di restoran, juru parkir, pramusaji, dan petugas kebersihan rutin menerima tip darinya.

“Kalau Oom memberi, nilai nominalnya lebih besar daripada yang orang biasa kasih,” kata Ire, sekretaris pribadi William, dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Dalam satu hari, kata Ire, disediakan Rp 1 juta untuk tip. Pada 1970-an, itu jumlah yang amat besar.

Dalam perjalanan pulang, kami melintas kembali di Tol Cipali. Di KM 161, di atas Sungai Cimanuk, bertengger sebuah jembatan. Namanya: Jembatan William Soeryadjaya.

 

/2./

PRAWIROTAMAN

Tiba saat azan subuh berkumandang. Perjalanan menempuh malam dari Pangandaran berakhir.

Prawirotaman menjadi tempat kami menginap di Jogja. Ini kawasan turis asing. Di sepanjang sisi Prawirotaman, banyak kafe atau restoran yang menyediakan western food.

Jl Parangtritis dan Jl Sisingamangaraja mengapit. Jika menyeberangi Jl Parangtritis, kita akan berjumpa Jl Tirtodipuran, tempat aktor Butet Kartaredjasa membuka rumah makan, Warung Bu Ageng. Pada kunjungan 2014, kami sempat menyambanginya.

Menjelang Jl Sisingamangaraja, hadir kedai gelato yang terlihat selalu ramai. Saking ramainya, mereka harus menyewa lahan parkir khusus di seberang. Bisa menampung 9-10 mobil.

Kami pun masuk. Ya, banyak selebritas yang pernah ke sana. Terpampang foto-foto mereka lagi menikmati gelato. Termasuk mantan Presiden AS Barack Obama.

(By the way, gelato ternyata beda dengan es krim. Penjelasannya ada di sini. Saya juga baru tahu saat menulis catatan ini.)

Kalau ngehits, pasti jadi sasaran untuk selfie. Tempatnya memang lumayan instagramable. Nama kedai itu: Tempo Gelato. Soal rasa? Sila coba sendiri.

 

/3./

KLEWER DAN ARSWENDO

“Sekarang kios-kiosnya lebih kecil,” kata mbak penjual batik di Pasar Klewer, Solo. Selasar lebih sempit. Tapi pedagang yang bisa ditampung jadi lebih banyak.

Pasar itu direnovasi setelah kebakaran pada akhir 2014. Kabarnya, inilah pusat penjualan batik terbesar di Indonesia — bahkan mungkin di Asia Tenggara. Komplet. Dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per lembar.

Perihal  Pasar Klewer, yang tercetak di benak adalah penggambaran dalam novel keren Arswendo Atmowiloto, Canting.

Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik di pasar tersebut. Di sana, Bu Bei menemukan dunia lain, dunia berbeda dengan rumah di balik tembok keraton.

“…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.

Pasar adalah kantor buat perempuan. Adalah karya. Adalah karier. Ya, paling tidak dalam dunia Bu Bei, anak buruh batik yang “naik kelas” ke lingkungan priyayi Solo pada 1940-an ketika Revolusi Kemerdekaan meletus.

 

/4./

LUMPIA (KONON) JUARA

Pasti bisa jika mau. Tapi mereka bertahan di ruangan yang kira-kira hanya 15 meter persegi itu.

Hadir di kawasan Pecinan, di depan sebatang sungai. Tak membuka cabang di tempat lain.

“Buka jam 8 pagi, tutup jam 5 sore. Kalau sebelum jam 5 habis, ya tutup,” kata seorang pekerja di sana.

Panas menyergap jangat. Toh para pembeli ramai. Itu pun tak bisa langsung memperoleh, mesti menunggu 30-40 menit seperti kami.

Harga satuan Rp 15 ribu. Pagi harinya, di kedai soto Pak Man, saya mengganyang lumpia seharga Rp 5 ribu.

Ah, mungkin tak bisa dibandingkan memang. Ada harga, ada rasa. Juga elemen kemasyhuran yang membuat penjual “rileks” memasang banderol.

Sudah lebih 100 tahun, bisnis ini berjalan. Konon masih yang paling laris di Semarang. Internet berjasa menggetoktularkan cerita mereka hingga hari ini.