rute pulang dan surat nashar

Dari kantor di Senayan, saya punya tiga rute pulang. Karang Tengah-Cinere, Cirendeu-Cinere, atau Ciputat Raya-Kertamukti-Cinere.  Ketika berangkat, saya nyaris pasti menempuh Karang Tengah.

Barangkali soal rasa lelah. Setelah berkutat beberapa jam di kantor, saya ingin perjalanan pulang lebih mengasyikkan. Atau, mungkin lebih tepatnya tidak membosankan. Berganti-ganti rute menjadi resep yang kiranya mujarab.

Begitu yang terjadi sampai kemudian saya membaca ulang kumpulan refleksi pelukis Nashar dalam Surat-surat Malam.  Pada surat kedua, Nashar teringat pertanyaan, atau lebih tepat gugatan, kawan yang dikiriminya surat tersebut: “Apa yang kau cari dengan perahu-perahu, hingga kau getol sekali bolak-balik ke Kali Baru? Apa tidak bosan? Kenapa kau terikat sekali pada perahu-perahu di Kali Baru itu?”

Penjelasan Nashar agak unik, menurut saya. Ia bilang tak ingin berjiwa turistik. Datang, lihat-lihat, lalu pergi. Ia ingin alam dan lingkungan kampung nelayan di Jakarta Utara itu merasuk ke dirinya. “Karena aku sering ke sini, lama-lama aku betah. Barangkali hanya inilah yang bisa aku katakan: kebetahan inilah yang kucari,” tulis seniman asal Minang ini.

Jadi kalau ada pelukis yang melukis obyek yang sama terus-menerus, ada kemungkinan dia memergoki hakikat hidup di sana. Lantas, terus menggali. Letak persoalan, kata Nashar, bukan pada pengulangan, tapi penggaliannya.

Tapi saya hanya hendak menuju rumah, bukan membuat karya seni. Bisakah pikiran-pikiran Nashar itu diterapkan? Oke, saya putuskan melakukan semacam “penggalian” seperti diargumenkan pelukis yang juga guru gambar sosiolog Arief Budiman saat SMP tersebut.

Saya pilih sebuah kedai ayam goreng pinggir jalan di ujung terminal Lebak Bulus. Nah, saban kali melintas, saya melambatkan sepeda motor, lalu mengamati kedai itu: ibu penjual mengenakan baju apa, bagaimana rupa para pembeli, di mana piring-piring dicuci, dan seterusnya.

Tentu saya tak mencari hakikat hidup — dengan observasi ala kadarnya itu. Tapi siapa tahu menemukan sesuatu. Entah apa.

Jadi, tak lagi tiga rute pulang? Tinggal dua. Beberapa puluh meter dari kedai itu, saya belok kiri. Lalu, bisa pilih masuk Karang Tengah atau lewat Cirendeu.

kheng heong dan teman saya

Kheng Heong. Ini nama restoran chinese food di Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan tempat mahal. Dindingnya kayu, tak penuh hingga ke atap di bagian depan.

Tak ada pendingin ruangan, hanya kipas angin bertengger di langit-langit. Sejumlah meja kayu sederhana ditemani kursi-kursi plastik berwarna merah. Pemiliknya, ah saya lupa nama dia – Google juga tak menolong. Kita sebut saja Tuan. Dia membangun Kheng Heong,  30 tahun silam.

Saya belum pernah mampir. Mengetahuinya dari “Taste with Jason” di kanal Asian Food Channel Kamis lalu. Ada yang menggugah dalam kisah rumah makan tersebut. Continue reading “kheng heong dan teman saya”

energi dari suatu masa

Senjakala mailing list telah tiba. Di puncak kejayaannya, 2005-2011, saya mengikuti belasan grup. Niat ingsun menambah wawasan. Salah satunya, Jalansutra.

Ada satu posting di Jalansutra yang, buat saya, istimewa. Meski terselip melankoli di sana. Bondan Winarno yang kirim, hampir tujuh tahun lalu.

Pak Bondan didapuk jadi “kepala suku” di grup kuliner dan jalan-jalan itu. Tulisan-tulisannya mengalir elok…dan bikin air liur memberontak. Tapi, posting itu bukan terutama soal makanan. Continue reading “energi dari suatu masa”

lima terasyik

Latah. Seperti teman-teman lain yang bikin daftar “anu yang…pada 2015.” Biar beda saya susun daftar postingan di blog pribadi yang paling memikat sepanjang 2015.

Daftar ini tak dibikin berhari-hari, dengan jidat berkerut. Hanya dipikirkan selama perjalanan pulang dari kantor ke rumah tadi. Sekitar satu jam. Niscaya ada yang luput karena ingatan yang berkhianat dan keterbatasan “wilayah jelajah.”

Pilihan saya bukan tulisan-tulisan “berat”. Cuma cerita-cerita bersahaja namun lama membekas di pikiran dan atau perasaan. Kita disajikan kisah, bukan petuah. Continue reading “lima terasyik”

reuni, perjalanan

Kami memang tak muda lagi — jika menggunakan Raisa atau Isyana Sarasvati sebagai ukuran. Tapi teman-teman perempuan saya itu masih lincah berjoget dan bernyanyi. Organ tunggal mengiringi.

Bertemu kawan lama bisa bikin lupa usia. Tawa lepas. Canda tuntas. Di ketinggian Bandung nan sejuk, kami menggelar reuni.

Lalu, mata tertumbuk pada seorang teman perempuan.  Saya menghampiri dan menyapa, “Haaiii, apa kabar?” Continue reading “reuni, perjalanan”

menyingkir

Situasi itu menerjang seorang kawan setelah cerita manis dinikmati dalam tujuh tahun terakhir.

Karier dia bagus. Gaji puluhan juta tersedia saban bulan. Bonus besar juga menanti. “Tahun lalu, karena jadi manajer terbaik, aku dapat bonus setahun gaji,” kata dia. Tak terpancar kesan sombong di parasnya.

Kami bertemu tak sengaja di lobi sebuah mal di Jakarta. Setelah berbasa-basi sejenak, meluncurlah kisahnya.

“Direktur utama yang baru bikin aku berpikir untuk terus atau stop di sini,” ujar dia. Perusahaannya bergerak di bidang…ah, pokoknya semacam BUMN. Continue reading “menyingkir”

morgan freeman di salemba

Hanya ada tiga pengunjung di lantai 4 gedung tua tersebut. Agaknya mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Saya menyusuri katalog online di Perpustakaan Nasional di Salemba. Lalu, meraih kertas kecil itu.

Pada kertas itu, saya mesti mengisi sejumlah hal. Nama, nomor anggota, nomor panggil, nama pengarang, judul buku.

Tiba-tiba menerobos di ingatan salah satu adegan di film Seven — yang nongol lagi di HBO beberapa hari lalu. Dua detektif, diperankan Morgan Freeman dan Brad Pitt, sedang mengejar seorang pembunuh berantai. Continue reading “morgan freeman di salemba”

rebah

Matahari menjelang rebah ke tanah. Kami masih di Brebes, dalam perjalanan menuju kampung halaman bapak saya di Purwokerto. Lebaran telah berlalu beberapa hari.

Pada etape ini, ibu saya bercerita tentang ayahnya yang ditahan usai G30S. Kakek seorang guru di Cirebon, sebuah kota di pantai utara Jawa. Berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta.

“Tapi, memang beberapa kali ke Jakarta, ke Senayan,” kata ibu.  Tak jelas juga sebenarnya.  Yang pasti itu terkait PKI atau organisasi mantelnya. Continue reading “rebah”

cinta di jatinangor

Lagu karya Pidi Baiq itu saya putar berulang kali di YouTube. Asyik di telinga tapi ditampik anjurannya. Saya mau ke Jatinangor.

Sabtu 19 September, pukul 10.35. Telat 35 menit dari kesepakatan di antara Tim Kerja Jurnalistik Mudik. Acara baru resmi dibuka 2,5 jam lagi. Langit di atas Jatinangor cerah.

Bersama Raya dan Kafka, saya memasuki halaman kampus dengan dua pertanyaan berkecamuk di kepala. Akankah banyak teman yang hadir? Lancarkah semua yang direncanakan? Continue reading “cinta di jatinangor”

kang jalal

Kayaknya langka buku teks berbahasa Indonesia seperti Psikologi Komunikasi ini. Tak bikin jidat berkerut karena kemampuan bertutur yang mumpuni. Bernas lantaran riset kepustakaan yang serius.

Juga kaya ilustrasi. Penulisnya, Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal, mengutip dialog dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare. Pun menaruh puisi Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live. Petikannya:

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
…….

Kekuatan lain buku ini adalah humor. Kebanyakan berwajah satire, humor ditebar sejak halaman-halaman pertama. Pada pengantar edisi kedua, Kang Jalal menulis, “Resensi-resensi yang dilakukan pada surat kabar-surat kabar dan majalah memenuhi dua keinginan saya — ingin diperhatikan dan ingin dipuji.” Mak jleb! Continue reading “kang jalal”