lima terasyik

Latah. Seperti teman-teman lain yang bikin daftar “anu yang…pada 2015.” Biar beda saya susun daftar postingan di blog pribadi yang paling memikat sepanjang 2015.

Daftar ini tak dibikin berhari-hari, dengan jidat berkerut. Hanya dipikirkan selama perjalanan pulang dari kantor ke rumah tadi. Sekitar satu jam. Niscaya ada yang luput karena ingatan yang berkhianat dan keterbatasan “wilayah jelajah.”

Pilihan saya bukan tulisan-tulisan “berat”. Cuma cerita-cerita bersahaja namun lama membekas di pikiran dan atau perasaan. Kita disajikan kisah, bukan petuah. Continue reading

reuni, perjalanan

Kami memang tak muda lagi — jika menggunakan Raisa atau Isyana Sarasvati sebagai ukuran. Tapi teman-teman perempuan saya itu masih lincah berjoget dan bernyanyi. Organ tunggal mengiringi.

Bertemu kawan lama bisa bikin lupa usia. Tawa lepas. Canda tuntas. Di ketinggian Bandung nan sejuk, kami menggelar reuni.

Lalu, mata tertumbuk pada seorang teman perempuan.  Saya menghampiri dan menyapa, “Haaiii, apa kabar?” Continue reading

menyingkir

Situasi itu menerjang seorang kawan setelah cerita manis dinikmati dalam tujuh tahun terakhir.

Karier dia bagus. Gaji puluhan juta tersedia saban bulan. Bonus besar juga menanti. “Tahun lalu, karena jadi manajer terbaik, aku dapat bonus setahun gaji,” kata dia. Tak terpancar kesan sombong di parasnya.

Kami bertemu tak sengaja di lobi sebuah mal di Jakarta. Setelah berbasa-basi sejenak, meluncurlah kisahnya.

“Direktur utama yang baru bikin aku berpikir untuk terus atau stop di sini,” ujar dia. Perusahaannya bergerak di bidang…ah, pokoknya semacam BUMN. Continue reading

morgan freeman di salemba

Hanya ada tiga pengunjung di lantai 4 gedung tua tersebut. Agaknya mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Saya menyusuri katalog online di Perpustakaan Nasional di Salemba. Lalu, meraih kertas kecil itu.

Pada kertas itu, saya mesti mengisi sejumlah hal. Nama, nomor anggota, nomor panggil, nama pengarang, judul buku.

Tiba-tiba menerobos di ingatan salah satu adegan di film Seven — yang nongol lagi di HBO beberapa hari lalu. Dua detektif, diperankan Morgan Freeman dan Brad Pitt, sedang mengejar seorang pembunuh berantai. Continue reading

rebah

Matahari menjelang rebah ke tanah. Kami masih di Brebes, dalam perjalanan menuju kampung halaman bapak saya di Purwokerto. Lebaran telah berlalu beberapa hari.

Pada etape ini, ibu saya bercerita tentang ayahnya yang ditahan usai G30S. Kakek seorang guru di Cirebon, sebuah kota di pantai utara Jawa. Berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta.

“Tapi, memang beberapa kali ke Jakarta, ke Senayan,” kata ibu.  Tak jelas juga sebenarnya.  Yang pasti itu terkait PKI atau organisasi mantelnya. Continue reading

cinta di jatinangor

Lagu karya Pidi Baiq itu saya putar berulang kali di YouTube. Asyik di telinga tapi ditampik anjurannya. Saya mau ke Jatinangor.

Sabtu 19 September, pukul 10.35. Telat 35 menit dari kesepakatan di antara Tim Kerja Jurnalistik Mudik. Acara baru resmi dibuka 2,5 jam lagi. Langit di atas Jatinangor cerah.

Bersama Raya dan Kafka, saya memasuki halaman kampus dengan dua pertanyaan berkecamuk di kepala. Akankah banyak teman yang hadir? Lancarkah semua yang direncanakan? Continue reading

kang jalal

Kayaknya langka buku teks berbahasa Indonesia seperti Psikologi Komunikasi ini. Tak bikin jidat berkerut karena kemampuan bertutur yang mumpuni. Bernas lantaran riset kepustakaan yang serius.

Juga kaya ilustrasi. Penulisnya, Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal, mengutip dialog dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare. Pun menaruh puisi Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live. Petikannya:

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
…….

Kekuatan lain buku ini adalah humor. Kebanyakan berwajah satire, humor ditebar sejak halaman-halaman pertama. Pada pengantar edisi kedua, Kang Jalal menulis, “Resensi-resensi yang dilakukan pada surat kabar-surat kabar dan majalah memenuhi dua keinginan saya — ingin diperhatikan dan ingin dipuji.” Mak jleb! Continue reading

percaya

Saya pesan dua buku lawas secara online, dari perkawanan di facebook. Belum dibayar, sang penjual sudah beraksi. Dia mengirim foto bukti pengiriman buku.

Padahal ini pemesanan perdana. Saya juga yakin dia tak mengenal saya secara personal.

Bisnis, konon, 80 persennya adalah urusan merawat kepercayaan. Siapa bisa dipercaya, sukses bakal membayang di depan mata. Di satu sisi, si penjual berhasil memperoleh kepercayaan saya. Continue reading

berseteru, bersatu

“Meskipun mereka masih menghormati Sukarno sebagai lambang perjuangan nasional, mereka mengkritik taktiknya yang kaku…” tulis sejarawan Australia, John Ingleson, dalam Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934.

Sukarno dinilai terlalu frontal, kurang pintar menghitung posisi kaum pergerakan vis a vis rezim kolonial, dan hanya doyan menyihir massa dengan orasi tapi tak peduli edukasi.

“Mereka” yang dimaksud Ingleson terutama kelompok Mohammad Hatta. Namun keprihatinan juga disampaikan kalangan lebih tua seperti Tjipto Mangunkusumo. Dokter itu menulis surat ke Sukarno dan berikut petikannya, “Jika saudara jatuh, PNI akan tidak mempunyai pemimpin. Tidakkah saudara sebaiknya lebih moderat? Saya kira pidato-pidato telah cukup banyak…” Continue reading

memilih

Kami pulang dari bengkel. Ban yang aus itu diganti. Rantai dan rem dicek. Sepeda Kafka kembali meyakinkan. Meski telah agak tua, lungsuran dari abangnya, Havel.

“Habis ini ayah mau ke mana?” kata Kafka.

“Mau ke perpustakaan,” jawab saya.

Saya berencana menyambangi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI. Mengambil cuti, ingin menjenguk karya George Kanahele. Disertasi di Universitas Cornell itu nyaris selalu dirujuk artikel/buku yang membahas periode pendudukan Jepang di Indonesia. Rasa penasaran menggunung. Continue reading