blowin’ in the wind

by Bob Dylan

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
Yes, ‘n’ how many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
Yes, ‘n’ how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, ‘n’ how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, ‘n’ how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many years can a mountain exist
Before it’s washed to the sea?
Yes, ‘n’ how many years can some people exist
Before they’re allowed to be free?
Yes, ‘n’ how many times can a man turn his head,
Pretending he just doesn’t see?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

kata tak lazim

Havel,

Pernah mendengar kata “tumpur”? Aku belum pernah. Aku memergoki kata itu di sebuah berita ekonomi di majalah Tempo, dua atau tiga edisi yang lalu. Lantaran penasaran, aku ambil “kitab primbon” milik Sofyan Hartanto, editor bahasa kami. Ternyata, arti tumpur adalah: 1. habis sama sekali, 2. binasa.

Aku lantas terpekur: tidakkah Tempo sedang menempuh risiko dengan menggunakan kata itu? Risiko bahwa akan ada cukup banyak pembaca yang “tersesat” karena tak mengetahui maknanya — sepertiku. Tentu, ini bukan kali pertama, Tempo melansir kata-kata tak lazim di teks-teks beritanya.

Di sisi lain, aku juga melihat jasa Tempo untuk kian memperkaya khazanah pergaulan sosial dengan kata-kata yang selama ini hanya ngumpet di kamus.

Sampai detik ini, sebagai jurnalis, aku sendiri agak jeri untuk menempuh langkah seperti Tempo — selain memang tak punya perbendaharaan kata sekaya mereka (he..he..he..). Galibnya, aku baru berani jika kata bersangkutan telah sempat dipakai media lain, satu atau dua kali.

Atau, kamu punya pendapat lain?