menghalau tembakau

Havel,

Sesekali, perlu juga kita melakoni sesuatu yang “berarti.” Misalnya, mengurangi konsumsi tembakau.

Biasanya, aku mengisap sebungkus rokok dalam sehari. Saat tenggat pekerjaan mendesak, bisa dua bungkus. Dua pekan ini, aku hanya mengisap tak lebih dari sebatang kretek saban hari. Itu galib terjadi usai santap siang.

Sejak kuliah, aku telah bergabung dengan puluhan juta perokok di Indonesia. Di kampus, kebanyakan teman lelakiku juga merokok. Uh, nikmat benar jika berhimpun ditemani rokok dan kopi. Lalu, kerap dengan sok pintar, kami berbusa-busa membedah politik, ekonomi, budaya, sejarah. Aku pernah mengibaratkan: rokok itu pengantin pria, kopi itu pengantin perempuan. Bersualah mereka di peraduan…(Kini, kopi pun agak kujauhi.)

Satu lagi. Dulu, di kemasan rokok selalu ada kalimat, “Peringatan pemerintah: merokok dapat mengganggu kesehatan. Setengah berseloroh, seorang teman justru menjadikannya sebagai dalih untuk terus merokok. “Aku tak suka pemerintahan Suharto. Karena itu, aku lawan peringatan mereka,” katanya. He..he..

Statistik bicara, negeri ini niscaya teramat “ramah” buat para pecandu nikotin. Nyaris di semua lokasi, kita bisa merokok. Pembatasan kadar tar nihil. Juga minus kebijakan harga yang membatasi. Tak mengherankan jika, menurut sahibul hikayat, diperkirakan konsumsi rokok Indonesia tiap tahun mencapai 199 miliar batang atau di urutan kelima setelah China (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar). Nilai uang yang dibelanjakan rakyat Indonesia untuk rokok 2,5 kali lipat ketimbang biaya yang digerojokkan untuk pendidikan dan 3,2 kali lipat ongkos kesehatan.

Tentu, deretan data itu tak relevan secara personal. Ada alasan-alasan lain yang melatarbelakangi keputusan ini. Dan, kiranya semua orang yang pernah sekolah mafhum.

Ya, sesekali, kita memang perlu melakoni sesuatu yang “berarti”…

selamat tahun baru

Havel,

Inilah hal-hal yang terjadi sepanjang 2005. Kamu genap tiga tahun. Nazaruddin Sjamsuddin dan Mulyana W. Kusumah duduk di kursi terdakwa. Sekelompok massa anarkis menyerang kaum Ahmadiyah. Supriyono membawa Khaerunisa, anaknya yang telah meninggal, ke Bogor dengan menggunakan KRL. Oom Daniel “Ember” masuk rumah sakit lantaran penyumbatan pembuluh jantung. Dewi Hughes bercerai. Aku memperoleh satu CD lagu-lagu Leo Kristi. Kita menikmati yoghurt di kesejukan Bogor. Gempa di Pakistan dan Afghanistan menewaskan puluhan ribu manusia. Kamu masuk TK Al Kautsar.

Selanjutnya? Nurcholish Madjid wafat. Harga BBM dinaikkan dua kali. Aku terjungkal dari sepeda motor di malam yang kuyup. Kesepakatan damai RI-GAM tercapai. Deandra lahir dan saudara sepupumu bertambah. Dr. Azahari tewas. Rupert Murdoch masuk ke ANTEVE. Pondok Indah Mall 2 selesai dibangun. GIE dinobatkan sebagai film terbaik di FFI 2005. Angela Merkel terpilih menjadi Kanselir Jerman. Sejumlah anggota DPR “menghabiskan” uang rakyat dengan pergi ke Mesir. Mamimu berangkat ke kantor sembari mendengarkan musik di Atoz Silver kita. Oom Philips berangkat ke negeri orang untuk sekolah lagi. Kabinet Indonesia Bersatu di-reshuffle. Kita menghirup udara Simpang Dago seusai subuh.

Lalu? Para demonstran antiglobalisasi merangsek ke konferensi tingkat menteri WTO. Aku menyambangi Orchard Road. Para durjana kembali mengoyak Bali. Peterpan dan Radja menjadi bintang paling bersinar di langit musik tanah air. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad melarang jaringan radio dan televisi di negeri para Mullah itu mengudarakan musik Barat. Pak Japong tak lagi menjadi satpam Bukit Griya Cinere. Freedom Institute menyiarkan iklan dukungan pengurangan subsidi BBM. Aku pergi dari TRUST. Mamimu membeli kacamata baru. Blog ini diluncurkan.

Sekadar itu semua? Tentu tak tepermanai peristiwa lain. Tak tercatat, terlupakan, punah dihempas gelombang sejarah.

Hmm…kita nikmati lagi saja mantera melodius U2:
I want to be with you
be with you night and day
nothing changes on New Year’s Day
on New Year’s Day
I… will be with you again

Selamat tahun baru…

oh my love


Oh my love for the first time in my life
My eyes are wide open
Oh my lover for the first time in my life
My eyes can see

I see the wind, oh I see the trees
Everything is clear in my heart
I see the clouds, oh I see the sky
Everything is clear in our world

Oh my love for the first time in my life
My mind is wide open
Oh my lover for the first time in my life
My mind can feel

I feel the sorrow, oh I feel the dreams
Everything is clear in my heart
I feel life, oh I feel love
Everything is clear in our world

(John Lennon, 9 Oktober 1940 – 8 Desember 1980)

selamat tinggal

Saya selalu membeli setangkai mawar di kios tepi jalan Lapangan Vaclavske untuk saya letakkan di tempat Jan Palach mati. Saya selalu melakukan itu tiap kali saya ke Praha – sebuah kota yang kini saya ingat seperti sebuah foto dalam warna sepia, sayu: sesuatu yang indah dan pelan-pelan memudar. Saya tak tahu di mana ia melipur dan di mana ia menorehkan melankoli. Kota ini sendiri telah melupakan kesedihannya yang lama. Gedung-gedung kusam, polisi rahasia, partai komunis, patung kepahlawanan Soviet, Mala Strana yang seperti hantu. Untuk mengusir sihir buruk itu, Jan Palach mengorbankan diri.

Mahasiswa jurusan filsafat itu tewas hangus, sehari setelah ia menjadikan tubuhnya seunggun api protes yang bernyala di musim dingin 1969, di tanjakan ke Museum Nasional. Ketika itu tank-tank Uni Soviet menggerus Cekoslowakia kembali, begitu kemerdekaan memekik sebentar…

Tapi siapa kini yang ingat? Tahun lalu di Vsetaty, kota kelahirannya, kematian Palach dikenang. Tapi hanya sedikit orang datang. Di tempat saya letakkan kembang, memang masih ada sebuah tanda seperti silang dari kayu mentah, bunga kusut, dan batu berserak. Tapi Praha tiap tahun menenggak jutaan pelancong. Sinar terang menawarkan kasino, dan remang-remang menjanjikan pelacur. Pagi menebarkan komoditi dan senja kelelahan. Etalase di seluruh Staré Mìsto kini dipajang cawan kristal Bohemia, marionette Don Giovanni, keramik cenderamata, dan iklan konser. Warna pastel di tembok-tembok kini tak memerlukan permainan gelap dan cahaya lagi untuk membuat kita terpesona.

Saya teringat kata-kata Havel, 20 tahun setelah Jan Palach mati: “Sang pembangkang… tak hendak membuat publik terpesona…Jika ada yang ditawarkannya, itu hanya jangatnya – dan ia menawarkannya karena ia tak punya jalan lain untuk mengukuhkan kebenaran yang ia pertahankan. Tindakannya hanya untuk mengungkapkan harga dirinya sebagai seorang warga negara, apa pun yang harus ia korbankan.”

Jan Palach bukan seorang pembangkang sebenarnya, kecuali pada momen itu, ketika ia melawan penindasan Soviet dengan membakar tubuhnya. Saya ingat potret parasnya yang rapi – yang kemudian jadi arang pada umur 20 tahun. Hilangkah momen yang heroik seperti itu kini, ketika anak-anak muda hanya berdebar-debar ketika berjalan di jenjang karir, dan sedikit nekat di pasar modal?

Saya berjalan menyeberangi Jembatan Karlov, sendiri melintasi patung orang-orang suci yang telah jadi hitam oleh cuaca berabad-abad: jangan-jangan selalu ada masokhisme pada ingatan. Nostalgia adalah ketika yang nikmat jadi menyakitkan, dan yang menyakitkan jadi nikmat, karena kenyataan telah jadi masa lalu. Apakah orang kota ini mengatakan apa yang pernah dikatakan Tatyana Tolstoya di Rusia: “Bagi kami, masa paling indah selalu kemarin”?

Pernah, dari sebuah kehidupan yang muram dan ungu, dari Praha yang seperti penjara buruk, orang membayangkan sebuah masa depan yang bebas dan bernilai, seperti sebuah sajak. Ketika di tahun 1989 Václav Havel, sang sastrawan pembangkang itu, dipilih jadi presiden, harapan itu semakin berpendar-pendar. Tapi 12 tahun kemudian, di City University, New York, presiden yang tampak kehilangan élan itu berkata: “..Kita tak dapat mengharapkan bahwa dunia – di tangan para penyair – akan mendadak berubah jadi sebuah sajak.”

Mungkin ia capek. “Selamat Tinggal kepada Politik”, itulah judul pidatonya hari itu, yang saya baca dalam The New Review of Books bulan ini. Ia akan berhenti jadi presiden Februari 2003. Adakah ia jera, hidup di dalam proses politik yang akhirnya hanya seperti giliran posisi antara orang-orang yang tak ingin melakukan tindakan besar? Adakah ia merasa malu, terhanyut dalam demokrasi macam itu, politik yang cuma mengikuti prosedur menghitung suara – yang di Amerika membuat seorang Bush jadi presiden dan di Indonesia seorang Sutiyoso jadi gubernur?

Havel tak menjawab. Ia hanya mengemukakan petuah-petuah yang tak baru—mungkin karena seorang presiden (berbeda dengan seorang penyair) harus tidak mengemukakan statemen yang selalu baru. Saya kira ia juga ingin melupakan Jan Palach. Palach menandai kedaruratan, bukan kehidupan yang normal. Sang Presiden merasa aman dengan yang normal. Dari kantornya nun di bukit, yang bila malam, di antara cahaya dan gelap, tampak seperti sebuah istana khayalan, Havel menemukan bahwa demokrasi bukanlah sebuah negeri dongeng. Demokrasi membutuhkan kebajikan yang lain, seperti dikatakannya di New York: “kerja keras, penafian-diri, kesabaran, pengetahuan, sebuah tinjauan luas yang tenang, kesediaan untuk disalahpahami”.

Tapi bukankah itu kebajikan “borjuis” yang lazim? Bukankah itu persis yang dicemooh mereka yang menampik demokrasi “prosedural”, tempat para politisi berlaku ibarat penjaja, dan warga pemilih ibarat pelanggan, hingga seorang anggota parlemen tak akan berani mengungkapkan harga diri, “apa pun yang harus ia korbankan”?

Mungkin, Tuan Havel, kita perlu semangat “agonis”. Demokrasi “prosedural” hanya akan membikin manusia jadi Ordnungmensch (kata Weber), warga yang dicocok hidungnya oleh tertib politik yang rutin, yang akhirnya hanya meraih keadilan sepotong-sepotong.

Tapi mungkin Havel akan menjawab: kapan keadilan tak diperoleh sepotong-sepotong? Jangan lupa: semangat “agonis” mustahil akan berlangsung terus-menerus; kalau tidak, ia bukan lagi “agonis”. Pahlawan mati hanya satu kali. Palach tak bisa diulang, dan tak sepatutnya diulang. Sebab repetisi dan kebosanan akan membasmi sebuah drama. Maka persoalan demokrasi dewasa ini adalah membuat bagaimana semangat “agonis” tidak hilang, tapi politik tak bergerak dari tragedi ke tragedi.

Goenawan Mohamad

di atas bukit utara selaksa bunga rumput goyang bersama

di atas bukit utara semalam
malam larut tenggelam jauh
di bawah kulihat lentera jalan
berkedip-kedip perlahan

dengan sinarnya kuning temaram,
kini aku datang, sayang
seindah mata
seindah rasa
kini aku datang, sayang

purnama terang tersaput awan
birunya rintik perlahan
selimut api cinta, di sana kuberdua
hanya kaca menyapu bayang

dengan sinarnya kuning temaram,
kini aku datang, sayang
seindah mata
seindah rasa
kini aku datang, sayang

selaksa bunga rumput goyang bersama
dalam buaian angin semilir
selaksa bunga rumput goyang bersama
menyambut lembayung fajar, hari yang baru

selaksa bunga rumput goyang bersama
dalam buaian angin semilir
selaksa bunga rumput goyang bersama
menyambut mentari pagi

– Leo Kristi

surakarta, 7 november 1935

Havel,

Aku mengetahui sosok Rendra pertama kali pada 1985 atau 1986. Ketika duduk di bangku SMP itu, aku mulai menyimak HAI — majalah remaja ini masih dipimpin Arswendo Atmowiloto. Beberapa kali Rendra mengisi kolom di sana. Temanya ringan-ringan saja: seputar pengembangan diri sebagai remaja.

Buat abg sepertiku saat itu, Rendra memukau. Samar-samar, aku masih ingat artikel tentang pentingnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Ia berkisah, selama beberapa hari, mata sejumlah cantrik di Bengkel Teater ditutup dengan kain. Latihan ini dilakoni demi mempertajam fungsi pendengaran dan penciuman. Mereka diharapkan sanggup membedakan aneka bunyi hujan, meresapi aroma tanah basah, atau mengenali bau masing-masing ruangan di sanggar.

Lalu, aku melihat foto Rendra terpampang di Kompas saat membacakan sajak-sajak protesnya. Ia mengenakan kemeja dan celana jins. Rambutnya nyaris menyentuh bahu. Tangannya mengepal. Mimiknya meyakinkan.

Periode SMA pun tiba. Aku masuk grup teater di sekolah. Cukup intens, meski hanya beberapa kali ikut pentas — salah satu naskahnya adalah Biduanita Botak karya Ionesco yang absurd dan tak aku mengerti. Yang lebih penting, aku belajar bahwa teater bukan melulu kesenian. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Berlatih teater adalah berlatih menjalani hidup. Dan, inilah masa remaja yang menggetarkan….

Ketika telah nyemplung ke dunia kampus, aku memergoki sebuah kitab kurus: Mempertimbangkan Tradisi. Antologi tulisan Rendra tersebut kubeli 1990 atau 1991 di Gramedia Bandung. Malam ini, ia kutengok lagi. Pada sampul abu-abu itu, terpajang foto Rendra hampir setengah badan. Ignas Kleden menyusun kata penutup yang sangat mencerahkan. Masih ada label harga: Rp2.500.

Aku menikmati jalan pikiran Rendra. Ia menulis, “…sebenarnya tradisi kebudayaan alam kita itu antikepribadian. Dan juga anti-pertumbuhan-spriritual….Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan….Alangkah sempurnanya pendidikan kita dalam menciptakan robot-robot yang konservatif.”

Lalu, aku menemukan Potret Pembangunan dalam Puisi. Di situ, Rendra menyajikan pamflet-pamflet. Dengarlah:
“…….
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju

……”

Anak muda mana yang tak terbius oleh “ganja” pemberontakan semacam itu?! Inspirasi mengaliri darah, segaris horison baru menjadi arah.

Namun, hanya sebentar. Belakangan, pesona pria flamboyan ini memudar. Sejumlah figur datang dengan pemikiran yang — dalam anggapanku — lebih mumpuni dan “seksi” untuk menginterogasi situasi. Ia perlahan-lahan menjelma masa silam. Huh, hati muda, ley, ley….

Hari ini, Rendra genap 70 tahun. Selamat ulang tahun, Sang Burung Merak! Semoga senantiasa sentosa di sepanjang sisa usia.

in the end…

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
– Martin Luther King, Jr.

(Aku mencomotnya dari mukadimah “Sometimes in April”, sebuah film tentang proyek pembasmian etnis di Rwanda. Karya ini menggarisbawahi satu hal: betapa berbahayanya kebencian yang mengendap dan berkarat di hati terhadap “yang lain.”)

melewati senja bersama mereka

Havel,

Senja turun. Aku berbuka puasa di tepi Sudirman. Di hadapanku, terhampar panorama kuliner jalanan: nasi goreng, tahu Sumedang, siomay, mie ayam, aneka gorengan, dan bakwan Malang. Aku memilih sepiring siomay plus teh botol. Langit lumayan bersahabat. Tapi, Jakarta tetap saja mesti menanggung serbuan polusi nan dahsyat.

Bersamaku, belasan pekerja kantoran mengunyah nasib serupa: tak bisa berbuka di rumah. Rata-rata terlihat sedikit lebih muda dariku. Yang pria perlente, yang perempuan meruapkan wangi parfum. Niscaya, mereka baru menginjak anak-anak tangga karir yang terbawah. Kemapanan belum di genggaman.

Rutinitas tak terelakkan. Pergi pagi, pulang petang — mungkin juga malam. Daftar target pekerjaan tercetak di benak. Adakah mereka bahagia? Masihkah mereka bisa menikmati hidup dan tak terjerat “keterasingan” seperti dilansir Marx?

Jangan terlampau pesimistis. Aku melihat mereka saling melempar canda. Bukankah sosok-sosok seperti mereka yang turut menyesaki pusat-pusat perbelanjaan di akhir pekan? Barangkali sang anak telah menunggu di rumah. Dan, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang bercengkerama dengan si buah hati?

(Kata seorang kawan, selalu ada kans untuk menyempal, untuk sekadar “menunda kekalahan.”)

Usai menikmati jajanan, mereka berpencar. Sebagian besar menuju halte. Ya, mereka masih mengandalkan transportasi umum yang tak manusiawi di Jakarta ini. Ah, salah seorang di antara mereka tengah hamil. Kepalaku mendadak pening membayangkannya berdesak-desakan di bis kota.

Di saat itu, aku teringat sesuatu. Aku pun mematikan rokok. Smash hitam itu kunyalakan. Hari ini, mamimu tak membawa Atoz kita. Aku harus bergegas menjemputnya…