in the end…

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
– Martin Luther King, Jr.

(Aku mencomotnya dari mukadimah “Sometimes in April”, sebuah film tentang proyek pembasmian etnis di Rwanda. Karya ini menggarisbawahi satu hal: betapa berbahayanya kebencian yang mengendap dan berkarat di hati terhadap “yang lain.”)

melewati senja bersama mereka

Havel,

Senja turun. Aku berbuka puasa di tepi Sudirman. Di hadapanku, terhampar panorama kuliner jalanan: nasi goreng, tahu Sumedang, siomay, mie ayam, aneka gorengan, dan bakwan Malang. Aku memilih sepiring siomay plus teh botol. Langit lumayan bersahabat. Tapi, Jakarta tetap saja mesti menanggung serbuan polusi nan dahsyat.

Bersamaku, belasan pekerja kantoran mengunyah nasib serupa: tak bisa berbuka di rumah. Rata-rata terlihat sedikit lebih muda dariku. Yang pria perlente, yang perempuan meruapkan wangi parfum. Niscaya, mereka baru menginjak anak-anak tangga karir yang terbawah. Kemapanan belum di genggaman.

Rutinitas tak terelakkan. Pergi pagi, pulang petang — mungkin juga malam. Daftar target pekerjaan tercetak di benak. Adakah mereka bahagia? Masihkah mereka bisa menikmati hidup dan tak terjerat “keterasingan” seperti dilansir Marx?

Jangan terlampau pesimistis. Aku melihat mereka saling melempar canda. Bukankah sosok-sosok seperti mereka yang turut menyesaki pusat-pusat perbelanjaan di akhir pekan? Barangkali sang anak telah menunggu di rumah. Dan, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang bercengkerama dengan si buah hati?

(Kata seorang kawan, selalu ada kans untuk menyempal, untuk sekadar “menunda kekalahan.”)

Usai menikmati jajanan, mereka berpencar. Sebagian besar menuju halte. Ya, mereka masih mengandalkan transportasi umum yang tak manusiawi di Jakarta ini. Ah, salah seorang di antara mereka tengah hamil. Kepalaku mendadak pening membayangkannya berdesak-desakan di bis kota.

Di saat itu, aku teringat sesuatu. Aku pun mematikan rokok. Smash hitam itu kunyalakan. Hari ini, mamimu tak membawa Atoz kita. Aku harus bergegas menjemputnya…

always with me, always with you *

– raya herawati

angka-angka almanak
bergerak teramat perlahan

pada paragraf-paragraf sunyi
kusandarkan rindu
yang dirawat dengan tulus
oleh dedaunan akasia
di tepi-tepi jalan

kemarau ini tertatih-tatih
mengeja namamu
saat senja menorehkan jingga di pelipis
saat serenada menyelundupkan
sejumlah puisi cinta ke saku kemeja

aku pun kembali menghikmati
langit yang beranjak tua
: menjangkaumu, sepanjang usia
pertapaan matahari dan rembulan

bandung, agustus 1995

*sebuah instrumentalia milik gitaris joe satriani.

buku-buku kita


Havel,

Ratusan buku teronggok di rumah kita. Aku mengumpulkannya sejak masa sekolah di Bandung, jauh sebelum kamu nongol ke dunia. Kini, jika ngambekmu kambuh, terkadang buku-buku itu berterbangan dari persemayaman mereka..he..he…

Saban bulan, ada saja buku yang menyelinap masuk. Entah buku baru, bisa jadi buku seken. Menilik jumlahnya, koleksi kita tak luar biasa. Sejumlah orang menghimpun jauh lebih banyak.

Aku sendiri selalu bernafsu untuk memburu karya-karya yang banyak dipergunjingkan. Alhamdulillah, kita punya Saman, Bumi Manusia, The Da Vinci Code, All The President’s Men, Renungan Indonesia, atau Hilangnya Kehormatan Katharina Blum.

Lantaran rutinitas kerja dan kedatangan “teman-teman barunya,” sebagian buku itu tak tergeledah sampai akhir. Baru belasan atau puluhan halaman, segera menghuni rak. Tapi, tak pernah terbersit rasa penyesalan. Suatu saat, mereka pasti dibutuhkan. Barangkali sebagai arsenal berdebat di milis, mungkin selaku referensi sebuah artikel, atau…

Kelak, boleh jadi kamu pun membutuhkannya. Dan, menjadi tugas kami untuk membantu menyediakannya. Bukankah sampai batas tertentu aktivitas ini tak terlalu menyedot duit? Lihat, ada beberapa buku yang bisa kita rengkuh dengan banderol lebih murah ketimbang sebungkus rokokku.

Jadi, jika muncul amarahmu, jangan lampiaskan pada buku-buku kita. Cari sasaran lain, anakku…

blowin’ in the wind

by Bob Dylan

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
Yes, ‘n’ how many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
Yes, ‘n’ how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, ‘n’ how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, ‘n’ how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many years can a mountain exist
Before it’s washed to the sea?
Yes, ‘n’ how many years can some people exist
Before they’re allowed to be free?
Yes, ‘n’ how many times can a man turn his head,
Pretending he just doesn’t see?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

kata tak lazim

Havel,

Pernah mendengar kata “tumpur”? Aku belum pernah. Aku memergoki kata itu di sebuah berita ekonomi di majalah Tempo, dua atau tiga edisi yang lalu. Lantaran penasaran, aku ambil “kitab primbon” milik Sofyan Hartanto, editor bahasa kami. Ternyata, arti tumpur adalah: 1. habis sama sekali, 2. binasa.

Aku lantas terpekur: tidakkah Tempo sedang menempuh risiko dengan menggunakan kata itu? Risiko bahwa akan ada cukup banyak pembaca yang “tersesat” karena tak mengetahui maknanya — sepertiku. Tentu, ini bukan kali pertama, Tempo melansir kata-kata tak lazim di teks-teks beritanya.

Di sisi lain, aku juga melihat jasa Tempo untuk kian memperkaya khazanah pergaulan sosial dengan kata-kata yang selama ini hanya ngumpet di kamus.

Sampai detik ini, sebagai jurnalis, aku sendiri agak jeri untuk menempuh langkah seperti Tempo — selain memang tak punya perbendaharaan kata sekaya mereka (he..he..he..). Galibnya, aku baru berani jika kata bersangkutan telah sempat dipakai media lain, satu atau dua kali.

Atau, kamu punya pendapat lain?