kang yoyon

Orde Baru membredel TEMPO, DeTIK, dan Editor pada 21 Juni 1994. Di Radio Mara, Bandung, Mohamad Sunjaya memutar berulang-ulang Song for Liberty dari Opera Nabuco karya Giuseppe Verdi.

“Saya protes, saya marah, saya pilu, saya tak bisa apa-apa lagi. Saya ulang-ulang tuh lagu,” kata Kang Yoyon, panggilan akrab Sunjaya, kepada jurnalis Agus Sopian yang menulis kisah Radio Mara.

Kang Yoyon bukan penyiar biasa. Dia juga seorang aktor teater yang andal. Dibesarkan Studiklub Teater Bandung (STB), dia lalu mendirikan Actors Unlimited. Untuk Radio Mara, dia bekerja sejak 1971.

Pada 1990-an itu, saya beberapa kali ke kantor Radio Mara untuk bertemu Noor Achirul Layla atau Mbak Ea, dosen wali, yang juga bekerja di sana. “Elu beruntung dapat dia,” kata Mbak Ea saat saya mengajak pacar. Saya hanya tergelak.

(Mbak Ea lebih dulu pamit pada November 2003. Ribuan orang mengantar pemakamannya.)

Orang-orang Mara, dalam penglihatan saya: berpikiran bebas, urakan, ogah menyembah-nyembah otoritas formal.

Pada November 1991, Kang Yoyon dipecat dari posisi pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan Radio pada Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat. Pria kelahiran 1937 itu dianggap bersalah menugaskan reporter untuk meliput demonstrasi mahasiswa yang menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

Sejatinya, Kang Yoyon bukan tak bisa berbuat apa-apa dengan pembredelan tiga media tersebut. Dia rajin merekam siaran radio-radio luar negeri berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah pembredelan.

Puluhan kaset rekaman milik adik kandung Jenderal Yogie S Memet itu kemudian ditranskrip dan dibukukan dengan judul Bredel di Udara. Inilah dokumentasi amat berharga atas praktik kezaliman sebuah rezim.

Kemarin sore kabar duka itu tiba. Wilujeng angkat, Kang Yoyon. Titip salam buat Pak Ton ( atau Jenderal HR Dharsono yang banyak membantu Radio Mara di masa-masa awal) dan Mbak Ea.

akhir pekan tanpa kompas

Sudah sebulan lebih tak menerima Kompas edisi akhir pekan. Tak ada kabar dari bapak yang biasa mengantar dengan sepeda motor itu.

O iya, kami hanya berlangganan untuk Sabtu dan Minggu. Menunggu puisi, cerpen, cerita persona, laporan perjalanan dan pertunjukan, juga kolom Samuel Mulia dan Bre Redana.

Bre pernah menulis kolom di Kompas Minggu yang menuai kontroversi. Judulnya “Inikah Senjakala Kami?” Ia membuka dengan kalimat ini: “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat.

Baris-baris selanjutnya adalah kritik atas anjloknya kualitas jurnalisme di tangan media daring. “Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik,” tulis Bre.

Soal penurunan mutu ini yang memantik polemik. Bre dianggap terlalu menggeneralisir. Siapa bilang koran juga tak menghasilkan sampah? Apakah otomatis media daring tak menghasilkan karya level juara? Dan seterusnya.

Nah, perihal meredupnya media cetak, itu mustahil dibantah. Tiras terus merosot, pemasang iklan kian menjauh. Ya, tak banyak lagi memang yang membaca media cetak. Seorang teman, Tommy Hutomo, menuliskan kisahnya sebagai dosen di halaman facebook saya.

“Baik, sebelum saya mulai. siapa yang satu minggu terakhir membaca koran atau majalah?” tanya Tommy ke mahasiswanya.

Hening.

“Dalam satu bulan terakhir?”

Hening.

“Oke, dalam satu tahun terakhir membaca koran atau majalah?”

Dua dari 30 mahasiswa di kelas pengantar jurnalistik mengangkat tangan.

Saya adalah bagian dari kaum minoritas itu. Edisi Senin sampai Jumat, baca di kantor. Bukan hanya Kompas, tapi juga Koran TEMPO, Republika, dan Jawa Pos. Nah, untuk edisi tertentu yang layak dikoleksi, saya membeli secara eceran di jalan. Misalnya edisi dalam foto di atas.

Ahad kemarin membongkar timbunan kertas di rumah, mencari bon tagihan koran. Ada nomor telepon di sana untuk mencari tahu. Tapi nihil. Kertas-kertas itu kadung dibuang.

Menyesal saya tak pernah menanyakan nama dan nomor teleponnya. Memang jarang bertemu. Ia biasa melemparkan koran ke teras depan dan berlalu. Sebulan sekali menyampaikan tagihan. Bahkan terkadang ia menagih dua bulan sekali.

Semoga Pak Pengantar sehat-sehat belaka. Semoga pula kualitas jurnalisme kita tak makin bikin hati merana.

nyonya cemplon

Nyonya Cemplon adalah tokoh rekaan. Umar Nur Zain menciptakan sosok tersebut sebagai pipa yang mengalirkan pikiran-pikirannya. Saya menemuinya kembali akhir pekan ini, sekadar meredam lelah dan jenuh.

Renyah mengalir, dengan taburan humor dan sinisme di sana-sini. Sang narator berperan sebagai teman Nyonya Cemplon yang kerap diajak ngobrol, curhat, juga berjumpa di berbagai acara. Cemplon digambarkan super-fleksibel: ada di mana saja, kapan saja.

Tulisan-tulisan itu hadir rutin di Sinar Harapan Minggu pada awal 1980-an. Belum lahir? Saya juga…hehe… Sinar Harapan terbit sore. Sebagian orang, dengan nada mencibir atau bergurau, menyebutnya “koran Kristen.” Beberapa kali dibredel penguasa tapi boleh terbit lagi. Lalu akhirnya benar-benar menemui ajal pada 1986.

Nah, kiranya tak banyak yang mengingat Umar Nur sebagai kolomnis yang oke. Berbeda dengan Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, atau Mahbub Djunaidi. Umar Nur sendiri merupakan jurnalis di Sinar Harapan. Dari hasil googling, ia juga menulis novel.

Saya juga baru tahu belakangan soal Nyonya Cemplon, puluhan tahun setelah kolom-kolom itu dibukukan. Tapi sudah tahu soal penulisnya karena dia juga menyusun buku penulisan feature, yang dipakai saat kami kuliah.

Di kolom-kolomnya, Umar Nur meluncurkan kritik sosial, terutama terkait perilaku masyarakat Jakarta di masa tersebut. Tentang fenomena orang kaya baru, transportasi publik yang menyedihkan, merebaknya disko, penyebaran video porno dll.

Buat milenial dan generasi Z, membacanya bisa menjadi pintu masuk untuk meraba denyut nadi kehidupan sosial pada masa Orde Baru. Buat mereka yang lahir 1960-an atau sebelumnya, antologi ini niscaya menyeret mereka dalam nostalgia.

Itu semua berkat  kehadiran perempuan tajir, cantik, dan wangi bernama Cemplon.

ibunda

“Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda, maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka aku,” kata sang ibunda.

“Ampun, Bunda,” kata Minke. Ia menjatuhkan diri, memeluk kaki orang yang melahirkannya itu.

Minke melanjutkan, “Jangan katakan seperti itu, Bunda.  Jangan hukum sahaya lebih berat dari kesalahan sahaya. Sahaya hanya mengetahui yang orang Jawa tidak mengetahui, karena pengetahuan itu milik bangsa Eropa, dan karena memang sahaya belajar dan mereka.”

Demikian petikan percakapan menggetarkan (oh, jangan-jangan paling menggetarkan) di novel  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Meninggalkan tilas yang tak lekas pudar di ingatan, menaruh rasa hangat di dada usai membacanya.

Minke asyik dengan dunianya sendiri di tanah rantau. Tak tahu bahwa sang ayah dipromosikan menjadi bupati di B. Surat-surat itu dibawa ke Wonokromo, rumah Nyai Ontosoroh, tapi tak dibacanya.

Ia dijemput polisi di rumah sang nyai. Tanpa penjelasan apa pun,  dibawa dalam kereta kuda. Ternyata ia diangkut ke B, menuju kediaman resmi bupati.  Apa urusanku dibawa ke sini, batin Minke.

Beberapa saat kemudian segenap rasa penasaran musnah ketika sosok ayahanda Minke muncul di hadapan dengan cambuk di tangan.

Kalau ayahanda main cemeti, ibunda menggunakan tangan langsung. Istri (bakal) bupati itu menjewer telinga anaknya, lalu berlutut dan berbisik:

“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.”

Sebelumnya, perempuan itu pula yang “membela” Minke saat berseteru dengan kakak lelakinya. Sang kakak membaca catatan harian Minke tanpa izin. Sang adik pun murka. Di tengah adu mulut, ibu mereka datang.

“Kau belum lagi ambtenaar yang berhak menjual adikmu untuk sekadar dapat pujian. Kau sendiri belum tentu lebih baik dari adikmu,” ujar perempuan itu saat mendengar niat kakak Minke menyerahkan catatan harian tersebut ke ayahanda.

Tembok feodalisme tak menghalangi sang ibunda untuk bersikap adil. Juga kepada anak HBS yang menyusahkan hatinya itu. Iya, Minke bikin masalah dengan bergaul dengan nyai tapi bukan juga tersedia alasan bagi sang kakak untuk mencari muka.

Setelah debat panjang yang “dimenangkan” sang ibunda, pipi dan rambut Minke dibelai.

“Pada waktu aku hamilkan kau, aku bermimpi seorang tak kukenal telah datang memberikan sebilah belati. Sejak itu aku tahu, Gus, anak dalam kandungan itu bersenjata tajam. Berhati-hati menggunakannya. Jangan sampai terkena dirimu sendiri …”

cinta tak pernah kedaluwarsa

Seperti dongeng. Setelah hampir 30 tahun terpisah, mereka berjumpa lagi secara kebetulan di lobi Hotel Indonesia.

“Kamu tinggal di mana?” kata Njoo Tik Tjiong dengan jantung berdebar.

“Cik Di Tiro,” jawab Giok Nie. Itu nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tjiong ingin mencatat nomor telepon Giok Nie. Tapi tak membawa pulpen. Ia segera memanggil doorman Hotel Indonesia yang dikenalnya, William, dan berujar, “Will, pinjam pulpen.”

Nomor telepon rumah Giok Nie dicatat di telapak tangan Tjiong.

Setelah mobil Giok Nie berlalu, William menggoda, “Bekas pacar ya…”

Tjiong adalah pewaris perusahaan roti Orion di Solo. Pernah menikah lantas bercerai. Anaknya dua. Giok Nie adalah janda seorang dokter yang punya saham di RS Hermina. Anaknya tiga.

Lalu Tjiong menyambangi rumah di Jalan Cik Di Tiro tersebut.

“Oh, elu…” Sambutan sinis yang tak disangka-sangka diterima Tjiong. Orang yang mengucapkan adalah tante dari Giok Nie – orang yang puluhan tahun silam tak menyetujui hubungan mereka. Bukan hanya Sang Tante, seisi rumah Giok Nie tak setuju. Mami Giok Nie punya alasan khusus: ia ogah punya menantu Cina-Jawa.

Begitulah, Giok Nie akhirnya menikah dengan Budiono Wibowo, dokter yang meningggal karena kanker itu. Tjiong menjadi pendamping mempelai pria.

“Tjiong dari dulu saya anggap orang yang baik meski omongannya kasar.  Kasarnya itu tidak saya suka. Betapa pun kami berteman sangat baik,” kata Giok Nie kepada Bre Redana, penulis biografi Tjiong alias Purwohadi Sanjoto, Karmacinta.

Berteman sangat baik tapi tak berjodoh. Adakah yang lebih tragis ketimbang itu?

Tjiong ingin menuntaskan yang tertunda. Namun tak mulus juga. Sejumlah pihak bilang ke Giok Nie, Tjiong bukan orang yang beres. Hanya mengincar uang janda pemilik RS Hermina. Ada juga yang bilang, perceraian Tjiong karena dia menyia-nyiakan istrinya.

Giok Nie terpengaruh. Ia pun menjauh. “Saya telepon ke rumah, tidak pernah diangkat. Saya cari dia, bahkan sampai ke Singapura,” ungkap Tjiong yang juga kolektor lukisan itu.

Untuk menghindari Tjiong, Giok Nie kerap bepergian. Ke Eropa, Timur Tengah, atau Amerika Serikat — sembari menengok anaknya yang sekolah di sana.

Kemudian, kakak Giok Nie, Doddy, dirawat di Singapura.  Pada kurun waktu bersamaan, Tjiong juga harus menjalani operasi sinus di rumah sakit yang sama. Mengetahui Doddy dirawat, Tjiong menjenguk. Percakapan mereka membelokkan sejarah.

Ketika Giok Nie menjenguk, Doddy bilang, “Kamu sama dia saja. Ada orang yang take care of you.”

Giok Nie mulai goyah. Ia pun menemui teman baik Tjiong, Harry Tjan Silalahi, aktivis 66 dan pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

“Aduh kenapa tidak dari dulu-dulu kalian menikah? Rumah tangganya memang bermasalah, tapi orangnya baik, orangnya begini,” ujar Harry sambil mengacungkan jempol.

Pada 18 Maret 1995, akhirnya mereka menikah. Saat itu Tjiong menjelang 61 tahun, Giok Nie 60 tahun. Mereka kemudian memilih tinggal di Solo.

“Sehari-hari praktis kami hanya berdua. 24 jam sehari bersama dia. Dia tak pernah meninggalkan saya, tak pernah pergi sendiri. Daripada pergi sendiri, dia memilih tak pergi,” kata Giok Nie yang dipanggil “Non” oleh Tjiong.

Kalau Giok Nie sedang kurang sehat, Tjiong ikut menyiapkan obat. “Nonnn, sudah minum obat?”

Mereka jalan-jalan berdua. Ke Eropa, dari museum ke museum. Juga menonton teater. Atau, ke Jakarta — kota yang mempertemukan kembali mereka. Seperti dongeng…

Catatan: tulisan ini sepenuhnya bersumber dari Karmacinta karya Bre Redana.


kaum ngeyel

Raymond Babbit  adalah sosok dengan autisme tapi genius. Ia mampu menyelesaikan perhitungan rumit dengan sangat cepat. Juga memiliki ruang penyimpanan data sungguh besar di otaknya.

Tapi, tokoh dalam Rain Man ini tidak kuasa mengelola data-data itu  menjadi konteks yang koheren. “Apa pun yang diingat Ray jauh lebih penting ketimbang semua fakta lain di dunia,” tulis Tom Nichols dalam bukunya yang sangat relevan, The Death of Expertise.

Suatu hari, Ray (diperankan dengan gemilang oleh Dustin Hoffman) harus terbang dari Ohio ke California bersama saudaranya, Charlie (Tom Cruise yang memerankan). Ray panik dan menolak terbang. Ingatannya mencatat: semua maskapai pernah mengalami kecelakaan. Bahkan ia mengingat seluruh tanggal dan jumlah korban dalam masing-masing kecelakaan.

Charlie jengkel. “Jadi maskapai apa yang kamu percaya?”

“Qantas. Tidak pernah mengalami kecelakaan,” kata Ray.

Masalahnya, maskapai Australia tersebut tak melayani rute domestik di Amerika Serikat.

Akhirnya, mereka menuju California dengan mobil. Ray tak menolak. Kalau saja kepalanya terisi data kecelakaan mobil, cerita bakal berbeda.

“Kita semua rada mirip dengan Ray. Kita fokus ke data yang mengonfirmasi ketakutan kita atau mendukung harapan kita,” tulis Tom Nichols. Inilah bias konfirmasi.

Pada hari-hari ini, mudah belaka memergoki orang-orang yang mengidap bias konfirmasi. Tengok saja media sosial atau kehidupan riil. Ngeyel-nya minta ampun meski sudah disodori data atau fakta yang akurat.

Jadi teringat dengan frasa post-truth? Ya, mirip-mirip. “…relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief,” demikian definisi post-truth di kamus Oxford.

Banyak juga dari mereka yang berpendidikan tinggi.  Celakanya, tak sedikit yang punya pengaruh di masyarakat.

Saya kok agak yakin fenomena kaum ngeyel (maafkan jika istilah ini kurang tepat) ini akan semakin marak pada hari-hari esok. Iklim curiga dan prasangka yang dicekokkan jadi pupuk mujarab untuk menyuburkannya. Satu lagi, kian banyak orang yang merasa jadi pakar hanya karena membaca satu-dua artikel di Internet.

Merisaukan? Pasti. Sebab kaum ngeyel ini berbeda dengan Raymond Babbit. Mereka berbahaya secara sosial.

 

pagi di taman

Saya kembali ke Pagi di Taman hari ini. Karya keren konon tak gampang dienyahkan dari ingatan. Memanggil-manggil untuk dijenguk ulang.

Cerita pendek Avianti Armand itu saya baca tiga bulan lalu, saat membawa pulang Kereta Tidur. Menjadi kisah penutup di antologi tersebut.

“Cengkeraman” cerita itu sebenarnya baru mulai terasa di paragraf ketiga:

“Bertahun-tahun yang lalu, sulit membayangkan hari ini. Bahkan sekarang pun, rasanya masih aneh berusia tujuh puluh. Banyak hal telah berubah, banyak hal tetap. Mereka  tetap bertetangga dan masih berbagi kopi di malam hari. Tiga hari sekali keduanya akan berbelanja ke pasar, membeli roti, susu, daging, dan berbagai keperluan remeh harian. Tiap Rabu, mereka berjalan ke gedung pertemuan di sebelah kantor walikota, bermain bridge bersama orang-orang tua lain. Sesekali akan datang sekelompok anak muda yang memainkan musik untuk mereka. Anak-anak muda yang rajin ke gereja di hari Minggu dan penuh semangat menjawab, “Baik sekali!” jika kita bertanya, “Apa kabar?”

Perlahan suasana dibangun. Sam dan Dom rutin duduk-duduk di taman. Dua pria 70 tahun itu bicara ngalor-ngidul, juga tentang Mathilda Mendez, perempuan baik hati yang membersihkan rumah mereka. Mathilda rajin memasak untuk mereka meski tak diminta. Masalahnya, ia gagal sebagai koki. Masakannya tidak pernah nikmat.

Tapi tak ada yang mengalahkan supnya. Perasaan mereka kontan hambar jika Mathilda menyuguhkan sup. Dom teringat kencing kuda, sementara Sam melabelinya sebagai ‘racun dari neraka’.

Sam dan Dom telah ditinggal pasangan masing-masing. Istri Sam, Doris, berpulang lebih dulu karena penyakit paru-paru.

Perihal Dom, “Cecil meninggalkannya dan bayi enam bulan mereka untuk pergi bersama seorang gitaris rock, entah ke mana…Dom tak pernah berhenti mencintai Cecil. Ia cuma berhenti mendengarkan musik.”

Bayi enam bulan itu, Monique, sudah dewasa. Namun, agaknya Monique lebih mencintai Kiki, anjingnya, ketimbang Dom.

“Natal tahun lalu, ia tidak datang karena Kiki terserang gatal-gatal. Dokter hewan bilang, anjing peking itu alergi terhadap udara dingin. Thanks Giving tahun ini juga terpaksa dilewatkan Dom hanya bersama Sam, karena kuku Kiki patah ketika ia mengejar rubah di halaman belakang. Lain kali, Monique bilang, anjingnya itu kena selesma, hingga ia tak bisa menemani Dom pergi ke dokter memeriksakan rematiknya yang kumat berkala.”

Teman Sam dan Dom tinggal tiga. Berdua, mereka menjalani masa tua dan melawan kesepian dengan canda. Sesekali terantuk melankolia masa lalu atau sup buatan Mathilda.

Usai membaca Pagi di Taman, saya tiba pada kesimpulan: Avianti sukses mengamalkan realisme. Wajar, mengharukan, tanpa ambisi didaktik yang melanda sejumlah pengarang.

selalu bersama di mana-mana

Sendiri.  Menyendiri. Mengapa kita cemas jika sendiri dan menyendiri?

Pada buku Roanne Van Voorst, Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta, terselip satu bab penting, menyentuh, sekaligus kocak soal “menyendiri.”

Di Indonesia, juga di Bantaran Kali yang pernah dihuni Roanne, ganjil belaka jika ada seseorang yang menyendiri.

Warga miskin di Bantaran Kali mengaku tidak takut dengan penyakit, banjir, atau penggusuran. Hal yang ditakutkan adalah “tidur sendirian” seperti yang dilakoni Roanne di kampung mereka.

Roanne, antropolog muda Belanda yang meneliti respons manusia terhadap banjir, tinggal di sebuah kampung kumuh di Jakarta. Lebih dari setahun. Bergaul dengan orang-orang di sana, coba memahami alam pikiran mereka.

Salah satu temuannya: mereka sangat terbiasa dengan kolektivisme. Kebersamaan. Nonton bola bareng, ngopi juga demikian. Dan seterusnya.

Padahal, di Belanda, kata Roanne, “Saya sering pergi berlibur tanpa pacar atau sangat menikmati pergi ke bioskop sendirian.”

Roanne bilang itu semua adalah cara untuk memulihkan tenaga, mengisi ulang energi sebelum melakukan perjumpaan-perjumpaan sosial berikutnya.

Saya kira, memang bukan hanya di Bantaran Kali. Ini fenomena umum di Indonesia. Kehadiran idiom “mangan ora mangan sing penting kumpul” sejatinya mengafirmasi prinsip hidup demikian.

Di sini, miskin bukan masalah sepanjang ada keluarga yang bisa menjadi semacam jaring pengaman sosial. Atau, tetangga yang siap menyingsingkan lengan baju jika kita memerlukan bantuan.

Tapi selalu ada batas seharusnya. Niscaya perlu momen-momen ketika kita hanya sendiri. Benar belaka kata-kata Roanne: berada di lingkungan pergaulan sosial kerap bikin lelah. Kita tak hanya berjumpa orang-orang yang sepemahaman. Tidak jarang kita dihadapkan pada pertikaian pendapat atau mereka yang mengeluh. Bukankah itu semua bikin capek?!

Menyendiri kini bukan monopoli para begawan atau resi. Dulu mereka menjauh dari keramaian, bermeditasi. Tapi siapa bilang kita, orang-orang biasa ini, tak perlu sesekali “bermeditasi”?

Bab berjudul “Selalu Bersama di Mana-mana” tersebut ditutup dengan kisah Roanne untuk menggapai “me time”-nya, yaitu nonton di bioskop. Di sana dia berharap bisa sejenak “menyendiri” setelah hampir 10 bulan tinggal di Bantaran Kali dan cuma pernah beberapa jam sendirian.

Dia membeli tiket, lalu  duduk nyaman di ruangan sejuk, siap menikmati hiburan. Tiba-tiba, dari belakang, meluncur suara seorang ibu, “Dari mana?”

“Dari Belanda,” jawab Roanne.

Si ibu kemudian meminta anak-anaknya menemani Roanne, di kiri dan kanan. “Senang kan, nonton film ramai-ramai kayak gini,” ujar dia.

simpang jalan dua wartawan

“Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja,” tulis Sutan Sjahrir dalam esai “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian.”

Pada 17 Februari 1946, koran Merdeka menerbitkan “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia.” Tebalnya 124 halaman. Salah satu yang dimuat adalah esai Sjahrir yang kutipannya nongol di atas.

Sebulan setelah “Nomor Peringatan” terbit, Merdeka terbelah. Kubu Rosihan Anwar mulai didepak. Di Merdeka, BM Diah menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum, Rosihan adalah redaktur utama. Keduanya sudah kerja bareng sejak koran Asia Raja pada masa pendudukan Jepang.

Merdeka mulai terbit 1 Oktober 1945. Koran itu dibangun setelah para wartawan dan karyawan Asia Raja mengambil alih percetakan De Unie dan menempelkan kertas bertuliskan “Milik Repoeblik Indonesia”.

Pemicu friksi Diah dan Rosihan adalah perbedaan visi. Rosihan terlalu dekat dengan faksi Sjahrir, Diah berafiliasi ke Sukarno. Konon tindakan Diah ini hanya reaksi. Sebelumnya, ia mendengar Rosihan dkk yang akan mendepaknya.

Diah tegas mengakui banyak bersimpang pendirian dengan Sjahrir. Perihal perlakuan Sjahrir atas dwitunggal Sukarno-Hatta tak disetujuinya. Sjahrir mengkritik keras mereka sebagai kolaborator Jepang dalam brosur Perjuangan Kita.

Juga soal perjuangan diplomasi yang banyak dipimpin Sjahrir. Dalam Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985, dinyatakan bahwa Diah tidak anti-diplomasi. Tapi, ia meminta jaminan bahwa semua itu bukan dilandasi oleh “bisikan” kubu sosialisme atau komunisme internasional. Harus berdasarkan kepentingan nasional Indonesia.

Karena ada dua “matahari” di Merdeka, pada suatu hari, Sjahrir dikritik. Pada hari lain, perdana menteri pertama RI itu dipuja-puji.

Tapi, kabarnya, soal pemilikan saham pun menjadi pangkal masalah. Rosihan menganggap Diah hendak menguasai Merdeka sendirian, sementara ia ingin semangat kolektif-kolegial dipertahankan. Tribuana Said, salah seorang menantu Diah, yang mengungkap hal ini dalam H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra.

Di autobiografinya, Menulis dalam Air, Rosihan tak menyinggung penyebab keluar dari Merdeka. Kisah yang dituliskan adalah perselisihan dengan Diah saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Oktober 197o. Rosihan mendapat suara terbanyak, tapi Diah mempermasalahkan prosedur pemilihan. Perpecahan PWI Pusat merembes sampai ke daerah. Dualisme kepengurusan terjadi.

Melalui proses yang alot, Rosihan disahkan juga menjadi Ketua PWI meski Rezim Orde Baru lebih suka jika Diah yang naik. Oh iya, di sini tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo, dikabarkan ikut ‘bermain’ dengan menyokong Diah.

Penting diingat bahwa sengketa ini memicu pemecatan Goenawan Mohamad dkk dari Ekspres — majalah yang 60% sahamnya dimiliki BM Diah. Goenawan menyayangkan Diah yang ogah berunding. Pernyataan ini dimuat beberapa surat kabar. Diah pun berang. Selepas Ekspres, pada 1971, Goenawan dkk mendirikan TEMPO.

Balik ke masa revolusi. Setelah keluar dari Merdeka, awal 1947,  Rosihan mendirikan Siasat, sebuah majalah politik dan budaya. Dalam waktu tiga bulan, tirasnya melesat ke 12.ooo.

Kemudian, Rosihan butuh mainan lain. Ia mendirikan Pedoman pada 1948. Koran ini kerap dibilang dekat dengan partai Sjahrir, Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia memang pengagum Sjahrir. Dalam autobiografinya itu, Rosihan bilang Perjuangan Kita meninggalkan kesan mendalam.

“Yang berkesan pula pada saya ialah nada kemanusiaan yang terdengar dari uraiannya. Inilah orang yang memperjuangkan tegaknya demenselijke waardigheld, martabat kemanusiaan di bumi persada Indonesia,” tulis Rosihan.

Nada esai ringkas Sjahrir di “Nomor Peringatan” kritis pada revolusi – ya, tak jauh berbeda dengan Perjuangan Kita. Bung Kecil menulis, “Agaknja salah-satoe sifat tiap-tiap revoloesi adalah, bahwa ia boeta, jaitoe bahwa orang yang berada dalam soeatoe revoloesi tiada dapat menangkap dan merasakan hoekoem sedjarah dengan pengertian, sehingga bagian terbesar dari pada tenaga yang lepas dari ikatannja dan bergolak didalam masjarakat itoe terboeang pertjoema.”

Saya membayangkan Diah jengkel ketika mengetahui Sjahrir menulis hal tersebut di koran yang dipimpinnya. Sementara Rosihan tersenyum.

 

 

when i’m sixty four

“Maaf, saya naikkan kaki, Mas.”

Bapak di samping berujar sambil tersenyum. Kakinya ditumpangkan ke kursi plastik. Beberapa meter di depan, sepeda motor saya tengah dicuci.

“Maklum, sudah tua. Gampang pegal. Kemarin nyetir ke Citeureup, pulangnya langsung tidur seharian,” lanjut dia.

Dia adalah ayah pemilik tempat cucian mobil-motor di belakang perumahan kami. Pensiunan PNS. Umurnya 64 tahun.

Seketika saya ingat lagu The Beatles, When I’m Sixty Four.

Rambutnya nyaris memutih semua. Tapi, badannya cukup ramping. Tak ada luberan lemak tak berguna. Dia mengenakan polo-shirt dan jeans hitam pudar.

Tidak tinggal di Cinere, dia bermukim di Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi sering bolak-balik ke Cinere. Bawaannya mau kontrol bisnis anak melulu, kata dia sambil terkekeh.

“Saya lagi bangun kandang ayam di Bogor,” jawabnya ketika saya tanya keperluan ke Citeureup. Kandang ayam kampung. Untuk pertama kali, dia akan mendatangkan 2.400 ekor. Skala kecil untuk bisnis ini, kata dia.

“Menarik, Mas. Mau Ikutan? Hehe…”

Ia bilang tak mau berleha-leha, nanti gampang pikun. Saya menimpali dengan setengah sok tahu, “Setuju, Pak. Kalau dibawa diam, gampang sakit.”

Setelah menanyakan usia saya, dia bilang: harus bersiap dari sekarang. Segalanya akan berubah di usia senja.

Ngobrol ngalor-ngidul, dia juga cerita sedikit soal dua cucunya yang tinggal di London. “Sudah setahun nggak ketemu. Kangen juga. Paling ngobrol pakai video conference di WA,” kata dia.

Ibu saya, semalam, bilang ke Havel, sulung saya, untuk sering-sering ke rumahnya. “Kalau pulang sekolah, mampir aja. Kan satu jalur,” ujar dia.

Deg! Saya merasa bersalah karena jarang mengajak Havel dan Kafka ke rumah beliau. Padahal jarak terbentang hanya 12 kilometer. Pasti rasa kangen ke cucu kerap menerjangnya.

Lagu Beatles yang dinyanyikan Paul McCartney itu terus terngiang di kepala:

Will you still need me, will you still feed me,  when I’m sixty-four?