wij sluiten nu

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer berlayar ke Hindia Belanda. Pada Agustus 1936 itu, ia ditunjuk menjadi gubernur jenderal. Ia segera membetot perhatian lantaran dua hal. Pertama, baru 48 tahun – terbilang muda untuk jabatan tersebut. Kedua, nyaris tak mengenal Hindia Belanda.

Lantas, ia dikenang sebagai birokrat konservatif, tapi murah senyum. Saya membuka Runtuhnya Hindia Belanda karya Onghokham dan cerita soal van Starkenborgh hadir di sana.

Ong, mengutip penulis dan tokoh sosialis demokrat Belanda, J. de Kadt, untuk melukiskan van Starkenborgh. “…seorang birokrat kaku yang ditimbun tumpukan kertas di atas meja… rakyat melihatnya sebagai bapak yang selalu tersenyum saja… mengingatkan pada advertensi tapal gigi Pepsodent…” tulis Ong dalam karya yang semula merupakan skripsinya di jurusan Sejarah UI itu. Continue reading “wij sluiten nu”

membaca fariz

Semula arena di Java Jazz Festival 2014 itu nyaris penuh. Setelah sekitar 10 menit, keadaan berubah. Satu per satu penonton “Legendary Chrisye Dekade Project” keluar. Mungkin bosan hanya disuguhi cuplikan video dan penampilan musisi kurang terkenal.

Saya dan istri bertahan. Tengok kanan-kiri, ruangan kini tinggal berisi puluhan orang. Tiba-tiba, seorang pria ceking setengah berlari memasuki panggung. Rambutnya yang memutih diikat. Saya kira, bukan hanya kami yang terkejut. Kemudian seseorang berteriak, “Fariiiizz…” Continue reading “membaca fariz”

selamat jalan, yopi

Yopi,

Aku ambil buku bersampul hitam itu. Lumayan tebal, hampir 500 halaman. Judulnya ditulis dengan tinta merah: Catatan Pinggir 4.

Selembar plastik bening melapisi, semacam ikhtiar menunda kerusakan. Buku itu milikmu, Bung. Aku meminjam dan belum juga mengembalikan. Memalukan ya? Begitulah…hehe…

Tadi malam aku mencomotnya dari rak buku. Mengelus-ngelus, merasakan debu halus di sekujur tubuhnya. Membuka-buka lagi. Sebagian kertasnya sudah mulai menguning. Menua sebagaimana kita. Continue reading “selamat jalan, yopi”

buku, membeli dan membacanya

Kita tak pernah tahu kapan sebuah buku bakal dipakai. Jika kita anggap bagus atau menarik dan terjangkau harganya, ambil saja. Terkhusus, untuk buku yang tak dicetak lagi atau telah menghilang dari toko. Buku bukan roti tawar atau susu kemasan yang punya tanggal kedaluwarsa.

[Ini semacam utilitarianisme buku? Iya sih. Semoga tak terlalu masalah.]

Jadi, tak usah jeri dengan cibiran: “Ah, kau ini pengumpul, bukan pembaca buku.” Benar belaka: durasi membaca kita berbanding terbalik dengan kemampuan membeli. Biar saja. Sekali lagi, buku (jika memang bagus) tak pernah basi. Continue reading “buku, membeli dan membacanya”

narasi dan subversi

catatan: di grup facebook kelas kuliah kami, Michael Dhadack Pambrastho, menyampaikan apresiasi sekaligus kritik terhadap Jurnalis Berkisah yang saya tulis. di bawah, saya salin-rekat komentar mantan demonstran di kampus itu. perihal respons saya, versi di sini lebih panjang ketimbang yang nongol di  grup. 

Dhadack:
puji tuhan, masih bisa menyisihkan dana buat “jurnalis berkisah”. siang tadi aku mendapatkannya. semoga nambah berkah buat havel dan kundera. baru sempet baca metta, linda dan maria. hmmm…imaji mengembang, memori berkelana dan mata sempet juga “mbrebes mili”. terima kasih untuk itu, kawan yus. tapi ada sedikit harap yang menggantung (atau mungkin tak sepenuhnya terpenuhi?) seperasaanku, yus masih terlalu faktual, kurang berani eksploratif dengan intuisi-intuisinya. kalau dalam istilah perwacanaan, mungkin teks-teksnya lebih banyak “narasi” dan “deskripsi”, kurang “argumentatif”. entahlah. Continue reading “narasi dan subversi”

erwin arnada

Jika tak ada aral, September nanti, buku saya dilempar ke pasar. Judulnya: Jurnalis Berkisah. Tiga Serangkai yang menerbitkannya. Bisa ditebak dari judul, buku itu memuat cerita pengalaman para jurnalis–persisnya, jurnalis Indonesia. Dengan sejumlah pertimbangan, saya memilih 10 jurnalis.

Salah satu jurnalis itu adalah Erwin Arnada, mantan Pemimpin Redaksi Playboy Indonesia. Teman-teman, ini nukilan tulisan tentangnya di buku itu: Continue reading “erwin arnada”

manusia kamar

Dengan cara apa dirimu mengenal Seno Gumira Ajidarma? Saya mengenalnya lewat kumpulan cerpen Manusia Kamar. Dibeli di Bandung, pada 1992 atau 1993, buku itu sampai sekarang masih bertengger di rak.

Cerita paling nonjok di sana, buat saya, adalah Manusia Kamar itu sendiri. Berikut intronya: “Pada umurnya yang ke-20 ini, ia mulai memasuki periode sinis kepada dunia. Aku telah mengenalnya semenjak ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Aku bilang padanya, dalam kehidupan itu semua biasa. Ia bisa mengerti, tapi tak bisa menerima.” Continue reading “manusia kamar”

muda, beda, dan mengajar di desa

Pesimisme mestinya sesuai dosis. Anak-anak muda Indonesia bukan hanya mereka yang mem-bully adik kelas di sekolah mahal di Pondok Indah; bukan hanya mereka yang suka adu balap di jalanan samping kantor saya dengan mobil yang, berani taruhan, bukan dibeli dari hasil peluh sendiri. Sila simak dua paragraf ini:

“Para Pengajar Muda adalah pejuang-pejuang yang tangguh. Karena tangguhnya, dulu saat pelatihan di Modern Training Camp, kami saling berebut untuk memilih tempat yang paling ekstrem, yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, jalanan jelek, bangunan sekolah yang kurang layak, dan jauh dari ingar-bingar peradaban.” Continue reading “muda, beda, dan mengajar di desa”

menulis buku dan pak kayam

Tiba-tiba ada perasaan ganjil menyelinap dalam dua-tiga hari belakangan. Saya merasa rileks. Tak muncul beban pikiran yang menghantui. Ooohh…ternyata semua naskah buku sudah saya kirim. Tinggal menunggu komentar atau koreksi editor.

Saya mengirimnya dengan sistem cicilan, sejak September 2011. Saya sempat bertekad: kirim satu bab tiap dua pekan. Saat itu, wawancara dan riset sudah 80%. Penulisan bisa dimulai. Pada kenyataannya, itu berhenti di bibir. Bahkan, saya pernah memerlukan enam pekan untuk menyelesaikan satu bab. Sampai merasa tak enak hati dengan pihak penerbit yang akhirnya menagih. Ingkar janji menjadi rada biasa meski tak pernah meniatkannya. Continue reading “menulis buku dan pak kayam”

lima puisi

Lantaran pekerjaan, saya kerap pulang menjelang dini hari. Membunuh senyap, saya menghidupkan radio di mobil. Beberapa kali, tanpa sengaja, telinga saya dihampiri lagu penutup siaran ini:

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Ismail Marzuki tak pernah gagal membuat dada saya tergetar dengan karyanya itu. Tidak, saya tidak sedang menggelorakan kembali semangat mooi indie. Indonesia jauh lebih berwarna ketimbang sekadar eksotisme pantai dan pegunungan atau para perempuan bergurau dengan alu di tangan. Continue reading “lima puisi”