oh my love


Oh my love for the first time in my life
My eyes are wide open
Oh my lover for the first time in my life
My eyes can see

I see the wind, oh I see the trees
Everything is clear in my heart
I see the clouds, oh I see the sky
Everything is clear in our world

Oh my love for the first time in my life
My mind is wide open
Oh my lover for the first time in my life
My mind can feel

I feel the sorrow, oh I feel the dreams
Everything is clear in my heart
I feel life, oh I feel love
Everything is clear in our world

(John Lennon, 9 Oktober 1940 – 8 Desember 1980)

selamat tinggal

Saya selalu membeli setangkai mawar di kios tepi jalan Lapangan Vaclavske untuk saya letakkan di tempat Jan Palach mati. Saya selalu melakukan itu tiap kali saya ke Praha – sebuah kota yang kini saya ingat seperti sebuah foto dalam warna sepia, sayu: sesuatu yang indah dan pelan-pelan memudar. Saya tak tahu di mana ia melipur dan di mana ia menorehkan melankoli. Kota ini sendiri telah melupakan kesedihannya yang lama. Gedung-gedung kusam, polisi rahasia, partai komunis, patung kepahlawanan Soviet, Mala Strana yang seperti hantu. Untuk mengusir sihir buruk itu, Jan Palach mengorbankan diri.

Mahasiswa jurusan filsafat itu tewas hangus, sehari setelah ia menjadikan tubuhnya seunggun api protes yang bernyala di musim dingin 1969, di tanjakan ke Museum Nasional. Ketika itu tank-tank Uni Soviet menggerus Cekoslowakia kembali, begitu kemerdekaan memekik sebentar…

Tapi siapa kini yang ingat? Tahun lalu di Vsetaty, kota kelahirannya, kematian Palach dikenang. Tapi hanya sedikit orang datang. Di tempat saya letakkan kembang, memang masih ada sebuah tanda seperti silang dari kayu mentah, bunga kusut, dan batu berserak. Tapi Praha tiap tahun menenggak jutaan pelancong. Sinar terang menawarkan kasino, dan remang-remang menjanjikan pelacur. Pagi menebarkan komoditi dan senja kelelahan. Etalase di seluruh Staré Mìsto kini dipajang cawan kristal Bohemia, marionette Don Giovanni, keramik cenderamata, dan iklan konser. Warna pastel di tembok-tembok kini tak memerlukan permainan gelap dan cahaya lagi untuk membuat kita terpesona.

Saya teringat kata-kata Havel, 20 tahun setelah Jan Palach mati: “Sang pembangkang… tak hendak membuat publik terpesona…Jika ada yang ditawarkannya, itu hanya jangatnya – dan ia menawarkannya karena ia tak punya jalan lain untuk mengukuhkan kebenaran yang ia pertahankan. Tindakannya hanya untuk mengungkapkan harga dirinya sebagai seorang warga negara, apa pun yang harus ia korbankan.”

Jan Palach bukan seorang pembangkang sebenarnya, kecuali pada momen itu, ketika ia melawan penindasan Soviet dengan membakar tubuhnya. Saya ingat potret parasnya yang rapi – yang kemudian jadi arang pada umur 20 tahun. Hilangkah momen yang heroik seperti itu kini, ketika anak-anak muda hanya berdebar-debar ketika berjalan di jenjang karir, dan sedikit nekat di pasar modal?

Saya berjalan menyeberangi Jembatan Karlov, sendiri melintasi patung orang-orang suci yang telah jadi hitam oleh cuaca berabad-abad: jangan-jangan selalu ada masokhisme pada ingatan. Nostalgia adalah ketika yang nikmat jadi menyakitkan, dan yang menyakitkan jadi nikmat, karena kenyataan telah jadi masa lalu. Apakah orang kota ini mengatakan apa yang pernah dikatakan Tatyana Tolstoya di Rusia: “Bagi kami, masa paling indah selalu kemarin”?

Pernah, dari sebuah kehidupan yang muram dan ungu, dari Praha yang seperti penjara buruk, orang membayangkan sebuah masa depan yang bebas dan bernilai, seperti sebuah sajak. Ketika di tahun 1989 Václav Havel, sang sastrawan pembangkang itu, dipilih jadi presiden, harapan itu semakin berpendar-pendar. Tapi 12 tahun kemudian, di City University, New York, presiden yang tampak kehilangan élan itu berkata: “..Kita tak dapat mengharapkan bahwa dunia – di tangan para penyair – akan mendadak berubah jadi sebuah sajak.”

Mungkin ia capek. “Selamat Tinggal kepada Politik”, itulah judul pidatonya hari itu, yang saya baca dalam The New Review of Books bulan ini. Ia akan berhenti jadi presiden Februari 2003. Adakah ia jera, hidup di dalam proses politik yang akhirnya hanya seperti giliran posisi antara orang-orang yang tak ingin melakukan tindakan besar? Adakah ia merasa malu, terhanyut dalam demokrasi macam itu, politik yang cuma mengikuti prosedur menghitung suara – yang di Amerika membuat seorang Bush jadi presiden dan di Indonesia seorang Sutiyoso jadi gubernur?

Havel tak menjawab. Ia hanya mengemukakan petuah-petuah yang tak baru—mungkin karena seorang presiden (berbeda dengan seorang penyair) harus tidak mengemukakan statemen yang selalu baru. Saya kira ia juga ingin melupakan Jan Palach. Palach menandai kedaruratan, bukan kehidupan yang normal. Sang Presiden merasa aman dengan yang normal. Dari kantornya nun di bukit, yang bila malam, di antara cahaya dan gelap, tampak seperti sebuah istana khayalan, Havel menemukan bahwa demokrasi bukanlah sebuah negeri dongeng. Demokrasi membutuhkan kebajikan yang lain, seperti dikatakannya di New York: “kerja keras, penafian-diri, kesabaran, pengetahuan, sebuah tinjauan luas yang tenang, kesediaan untuk disalahpahami”.

Tapi bukankah itu kebajikan “borjuis” yang lazim? Bukankah itu persis yang dicemooh mereka yang menampik demokrasi “prosedural”, tempat para politisi berlaku ibarat penjaja, dan warga pemilih ibarat pelanggan, hingga seorang anggota parlemen tak akan berani mengungkapkan harga diri, “apa pun yang harus ia korbankan”?

Mungkin, Tuan Havel, kita perlu semangat “agonis”. Demokrasi “prosedural” hanya akan membikin manusia jadi Ordnungmensch (kata Weber), warga yang dicocok hidungnya oleh tertib politik yang rutin, yang akhirnya hanya meraih keadilan sepotong-sepotong.

Tapi mungkin Havel akan menjawab: kapan keadilan tak diperoleh sepotong-sepotong? Jangan lupa: semangat “agonis” mustahil akan berlangsung terus-menerus; kalau tidak, ia bukan lagi “agonis”. Pahlawan mati hanya satu kali. Palach tak bisa diulang, dan tak sepatutnya diulang. Sebab repetisi dan kebosanan akan membasmi sebuah drama. Maka persoalan demokrasi dewasa ini adalah membuat bagaimana semangat “agonis” tidak hilang, tapi politik tak bergerak dari tragedi ke tragedi.

Goenawan Mohamad

di atas bukit utara selaksa bunga rumput goyang bersama

di atas bukit utara semalam
malam larut tenggelam jauh
di bawah kulihat lentera jalan
berkedip-kedip perlahan

dengan sinarnya kuning temaram,
kini aku datang, sayang
seindah mata
seindah rasa
kini aku datang, sayang

purnama terang tersaput awan
birunya rintik perlahan
selimut api cinta, di sana kuberdua
hanya kaca menyapu bayang

dengan sinarnya kuning temaram,
kini aku datang, sayang
seindah mata
seindah rasa
kini aku datang, sayang

selaksa bunga rumput goyang bersama
dalam buaian angin semilir
selaksa bunga rumput goyang bersama
menyambut lembayung fajar, hari yang baru

selaksa bunga rumput goyang bersama
dalam buaian angin semilir
selaksa bunga rumput goyang bersama
menyambut mentari pagi

– Leo Kristi

melewati senja bersama mereka

Havel,

Senja turun. Aku berbuka puasa di tepi Sudirman. Di hadapanku, terhampar panorama kuliner jalanan: nasi goreng, tahu Sumedang, siomay, mie ayam, aneka gorengan, dan bakwan Malang. Aku memilih sepiring siomay plus teh botol. Langit lumayan bersahabat. Tapi, Jakarta tetap saja mesti menanggung serbuan polusi nan dahsyat.

Bersamaku, belasan pekerja kantoran mengunyah nasib serupa: tak bisa berbuka di rumah. Rata-rata terlihat sedikit lebih muda dariku. Yang pria perlente, yang perempuan meruapkan wangi parfum. Niscaya, mereka baru menginjak anak-anak tangga karir yang terbawah. Kemapanan belum di genggaman.

Rutinitas tak terelakkan. Pergi pagi, pulang petang — mungkin juga malam. Daftar target pekerjaan tercetak di benak. Adakah mereka bahagia? Masihkah mereka bisa menikmati hidup dan tak terjerat “keterasingan” seperti dilansir Marx?

Jangan terlampau pesimistis. Aku melihat mereka saling melempar canda. Bukankah sosok-sosok seperti mereka yang turut menyesaki pusat-pusat perbelanjaan di akhir pekan? Barangkali sang anak telah menunggu di rumah. Dan, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang bercengkerama dengan si buah hati?

(Kata seorang kawan, selalu ada kans untuk menyempal, untuk sekadar “menunda kekalahan.”)

Usai menikmati jajanan, mereka berpencar. Sebagian besar menuju halte. Ya, mereka masih mengandalkan transportasi umum yang tak manusiawi di Jakarta ini. Ah, salah seorang di antara mereka tengah hamil. Kepalaku mendadak pening membayangkannya berdesak-desakan di bis kota.

Di saat itu, aku teringat sesuatu. Aku pun mematikan rokok. Smash hitam itu kunyalakan. Hari ini, mamimu tak membawa Atoz kita. Aku harus bergegas menjemputnya…

buku-buku kita


Havel,

Ratusan buku teronggok di rumah kita. Aku mengumpulkannya sejak masa sekolah di Bandung, jauh sebelum kamu nongol ke dunia. Kini, jika ngambekmu kambuh, terkadang buku-buku itu berterbangan dari persemayaman mereka..he..he…

Saban bulan, ada saja buku yang menyelinap masuk. Entah buku baru, bisa jadi buku seken. Menilik jumlahnya, koleksi kita tak luar biasa. Sejumlah orang menghimpun jauh lebih banyak.

Aku sendiri selalu bernafsu untuk memburu karya-karya yang banyak dipergunjingkan. Alhamdulillah, kita punya Saman, Bumi Manusia, The Da Vinci Code, All The President’s Men, Renungan Indonesia, atau Hilangnya Kehormatan Katharina Blum.

Lantaran rutinitas kerja dan kedatangan “teman-teman barunya,” sebagian buku itu tak tergeledah sampai akhir. Baru belasan atau puluhan halaman, segera menghuni rak. Tapi, tak pernah terbersit rasa penyesalan. Suatu saat, mereka pasti dibutuhkan. Barangkali sebagai arsenal berdebat di milis, mungkin selaku referensi sebuah artikel, atau…

Kelak, boleh jadi kamu pun membutuhkannya. Dan, menjadi tugas kami untuk membantu menyediakannya. Bukankah sampai batas tertentu aktivitas ini tak terlalu menyedot duit? Lihat, ada beberapa buku yang bisa kita rengkuh dengan banderol lebih murah ketimbang sebungkus rokokku.

Jadi, jika muncul amarahmu, jangan lampiaskan pada buku-buku kita. Cari sasaran lain, anakku…

blowin’ in the wind

by Bob Dylan

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
Yes, ‘n’ how many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
Yes, ‘n’ how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, ‘n’ how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, ‘n’ how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

How many years can a mountain exist
Before it’s washed to the sea?
Yes, ‘n’ how many years can some people exist
Before they’re allowed to be free?
Yes, ‘n’ how many times can a man turn his head,
Pretending he just doesn’t see?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind,
The answer is blowin’ in the wind.

kata tak lazim

Havel,

Pernah mendengar kata “tumpur”? Aku belum pernah. Aku memergoki kata itu di sebuah berita ekonomi di majalah Tempo, dua atau tiga edisi yang lalu. Lantaran penasaran, aku ambil “kitab primbon” milik Sofyan Hartanto, editor bahasa kami. Ternyata, arti tumpur adalah: 1. habis sama sekali, 2. binasa.

Aku lantas terpekur: tidakkah Tempo sedang menempuh risiko dengan menggunakan kata itu? Risiko bahwa akan ada cukup banyak pembaca yang “tersesat” karena tak mengetahui maknanya — sepertiku. Tentu, ini bukan kali pertama, Tempo melansir kata-kata tak lazim di teks-teks beritanya.

Di sisi lain, aku juga melihat jasa Tempo untuk kian memperkaya khazanah pergaulan sosial dengan kata-kata yang selama ini hanya ngumpet di kamus.

Sampai detik ini, sebagai jurnalis, aku sendiri agak jeri untuk menempuh langkah seperti Tempo — selain memang tak punya perbendaharaan kata sekaya mereka (he..he..he..). Galibnya, aku baru berani jika kata bersangkutan telah sempat dipakai media lain, satu atau dua kali.

Atau, kamu punya pendapat lain?