den haag, 9 maret 1928

Buku pesanan itu tiba kemarin siang. Judulnya Indonesia Merdeka. Ya, ini terjemahan pledoi Mohammad Hatta di pengadilan Den Haag, Belanda, 9 Maret 1928. Ia ditahan bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Sutan Pamontjak, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat. Mereka semua aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Kalau kita baca memoar Hatta, semula ada tiga tuduhan buatnya: menjadi anggota organisasi terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut untuk melawan Kerajaan Belanda. Saat jaksa membacakan dakwaan, tinggal satu tersisa, yaitu tuduhan terakhir. Mr JEW Duijs, Mr Mobach, dan Mr Weber mendampingi mereka sebagai pengacara. Continue reading “den haag, 9 maret 1928”

pada sebuah kapal

“Kirimi makanan dan minuman. Saya tidak akan meninggalkan kapal.”

Demikian pesan Kapten Abdul Rivai, nakhoda KM Tampomas II, kepada Kapten Sumirat, nakhoda KM Sangihe. Tampomas II sedang terbakar di perairan Masalembo, akhir Januari 1981. Kapal tersebut hendak menuju Ujung Pandang (kini, Makassar). Sangihe mendekat, coba menolong.

Sumirat tahu benar watak Rivai. Mereka satu angkatan di akademi pelayaran. Pelaut sejati, kata Sumirat. Continue reading “pada sebuah kapal”

imran dan kontroversinya

Buku terbitan 1982 ini tiba kemarin. Tua dan langka. Saya pesan secara online. Isinya dakwaan, pledoi, replik, duplik, dan tuntutan dalam perkara Imran, yang dituding sebagai otak pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla. Terlampir juga sejumlah berita terkait perkara menghebohkan ini.

Banyak hal menarik dimuat. Salah satunya percakapan Pembela di persidangan dengan seorang anggota jamaah Imran yang dijadikan saksi. Percakapan itu dikutip koran Pelita.

“Siapa yang memerintahkan penyerangan Cicendo?”

“Najamudin.”

“Saudara tahu siapa Najamudin itu?”

“Tahu, dia seorang intel.” Continue reading “imran dan kontroversinya”