zona nyaman

Saat didera batuk dan flu, kemarin saya menonton satu episode “New Lives in The Wild” di BBC Earth. Pada episode itu, Ben Fogle, sang host, terbang dari London ke Filipina untuk menemui Neil Hoag.

Neil meninggalkan Florida, AS, untuk menjemput kehidupan baru di pedalaman Filipina. Ia menikahi Margie, perempuan setempat, dan menjadi satu-satunya pria bule di desa tersebut.

Di Florida, Neil menjadi pengemudi taksi. “Hanya sedikit lebih baik ketimbang pembersih toilet,” kata pria plontos itu kepada Ben.

Dia membangun hidup bersama Margie dan tiga anak lelaki mereka — yang lahir kemudian. Rumah mereka di puncak bukit. Bahannya kombinasi bambu dan dinding semen. Puluhan anak tangga tersusun menuju ke sana. Dari rumah itu, panorama elok terhampar.

Kepada Ben, sengaja saya tak terjemahkan, Neil mengatakan, “My life here is living the dream. People are afraid to let go of what they are familar with. You have to overcome that fear and know you can break free from the mainstream, you can break free from the herd and be captain of your own destiny.”

Di dusun itu, Neil merasa bahagia. Padahal di sana dia harus banyak melakoni aktivitas fisik. Terpencil. Jauh dari keramaian manusia. TV, telepon, dan Internet pun tiada.

Setiap tahun, selama dua bulan, Neil pulang ke Florida. Selain menemui anaknya yang lain, dia bekerja (lagi) sebagai sopir taksi. Ketika duit terkumpul, Neil balik ke Pulau Leyte untuk “mereguk nikmat” hidup.

Saya teringat cerita seorang teman yang mengundurkan diri dari kantornya. “Saya ingin punya waktu luang lebih banyak, tidak melulu bekerja atau memikirkan pekerjaan,” ujar dia.

Padahal perusahaan teman saya itu sedang bersinar dan melaju kencang. Dia justru mengelak, enggan terjebak di zona nyaman — dengan sejumlah kepastian di dalamnya.

Pindah ke mana dia? Perusahaan lain yang kelasnya jauh di bawah perusahaan terdahulu. Tapi ada di sana, dia bilang, “Saya bisa sering ketemu teman-teman, jalan-jalan. Pokoknya punya social life yang pantas.”

Sambil menahan perih radang di tenggorokan, saya membatin, teman itu telah menjadi “captain of his own destiny” seperti disarankan Neil Hoag.

gurauan yang menyelamatkan

Sebanyak 22 grup WA ada di telepon genggam. Terlalu banyak. Kelewat bising.

Saya ingin mengurangi 5 atau 6 di antaranya. Susah ternyata lantaran aneka alasan. Misalnya, terkait urusan pekerjaan. Bisa panjang urusan jika hengkang dari sana.

Atau, terkait informasi yang terkandung di dalamnya. Ada grup yang lalu lintas pesannya melulu kenyinyiran pada pihak yang berseberangan secara politik. Jengah juga. Namun keinginan pergi sirna saat mafhum: sering informasi penting atau gosip politik terpampang di sana — relevan dengan pekerjaan.

Ada juga grup yang berisi para orangtua murid plus wali kelas. Anak sulung saya belajar di sekolah negeri. Dengan begitu, penghuni beragam. Tak cuma Islam. Tapi tetap saja ada seorang orangtua yang kerap melempar postingan bernuansa dakwah. Kok kebelet banget memburu pahala?! Tapi susah juga jika pergi dari sana.

Alhamdulillah, saya juga tergabung di sebuah grup yang ajaib. Penghuninya teman-teman kuliah seangkatan dan sejurusan.

Di sana, kami absen bicara soal politik atau akhirat. Tak pernah, misalnya, menyentuh urusan Pilkada DKI Jakarta atau celoteh tak bermutu seseorang yang mengajak menjauhi Pak Quraish Shihab.

Hanya ada canda. Terutama terkait kegagalan ikhtiar asmara di masa muda. Untuk urusan ini, tak ada simpati atau empati. Bully berjaya! Tentu dengan canda sebagai kemasan. Tak ada niat untuk melukai hati.

Gilanya, ada mantan satu gebetan teman kami yang di-invite ke grup itu. Meski kaget pada hari-hari pertama, cewek itu (yang kini telah memiliki dua anak dan menjadi petinggi di sebuah media) juga akhirnya ikut “gila” dan tetap di sana sampai detik ini.

Beberapa hari lalu, ada kegilaan lain yang meletus. Salah seorang admin meng-invite seseorang. Salah seorang kami konon dulu pernah dekat dengan sang anggota baru. Sejak beberapa bulan lalu dia sering dicandai soal perempuan yang kini tinggal di luar Jawa tersebut.

Grup langsung hiruk-pikuk dengan keberadaan anggota baru tersebut. Saya sendiri agak menahan diri, takut perempuan itu tak nyaman dengan “kebrutalan” kami. Bagaimana pun juga dia orang luar.

Sampai beberapa saat kemudian, admin yang men-invite itu menelepon. Inti percakapan membikin hati tenang sekaligus membuat perut saya sakit menahan tawa.

“Itu bukan dia. Itu nomor gua yang lain. Terus gua kasih nama cewek itu,” ujar si teman. Dia hanya membocorkan hal ini kepada tiga teman lain. Hanya sehari perempuan itu hadir. Syukurlah.

Grup itu “menyelamatkan,” mengerek turun dosis ketegangan saat melakoni rutinitas. Meski sesekali khawatir juga kalau-kalau telah melampaui batas.

Di grup WA, politik dan tausyiah kerap menjengkelkan. Bilas saja dengan humor dan canda. Niscaya hidup lebih rileks dan tak gampang naik pitam.

tanah merah

Sejak kepergian Leo Kristi, saya mendengarkan ulang lagu dan menyimak lagi lirik-liriknya. Termasuk lagu yang mendedahkan pembuangan para tokoh politik di Digul: Tanah Merah In Memoriam.

Aku terpisah di belah bumi tertepi
Secarik kabar darimu akan sangat berarti

Di sana nestapa merundung para penghuni. “…sudah terang orang menderita di dalam batin. Wajah-wajah yang lesu, mata yang liar dan kadang-kadang seperti tak normal itu, dikelilingi lingkaran hitam dan dalam, menunjukkan hal itu,” tulis Sutan Sjahrir pada 11 Mei 1935 dalam surat untuk kekasihnya, Maria Duchateau, di Belanda.

Sjahrir, bersama Mohammad Hatta, tiba di Digul pada 21 Februari 1935. Aktivitas mereka bersama PNI Baru dianggap membahayakan. Tanpa proses pengadilan, mereka diberangkatkan ke Digul.

Tanah Merah terletak di hulu Sungai Digul — timur laut Merauke. Karena itu disebut juga Boven Digoel atau Digul Atas. Rezim Hindia Belanda membuka kamp itu pada Januari 1927 untuk menahan para aktivis komunis yang dianggap memberontak. Sjahrir dan Hatta bukan kader komunis tapi mungkin dosis bahaya mereka diyakini setara.

Hanya ada sedikit kontak dengan dunia luar. Itu melalui kapal Albatros yang singgah sebulan sekali, dengan membawa surat-surat yang telah disensor. Juga bacaan-bacaan terpilih.

Di sini hanya satu bangku tidur yang dingin
Namun selalu saja ada dengung ratusan nyamuk seakan pekik semangat rakyatku

Rezim kolonial tak menamakannya “kamp tahanan,” melainkan koloni pengasingan. Tak ada menara jaga dan lampu sorot di ketinggian. Dalam surat kepada bawahannya, Gubernur Jenderal Andries Cornelies Dirk de Graeff menulis, tempat itu mestinya menjadi “lokasi ambisi-ambisi politik digantikan minat pada hal-hal yang sifatnya lebih domestik dan sosial.”

Tempat itu dikepung rimba nan lebat. Amat jauh dari peradaban modern. Makin mencekam karena kehadiran nyamuk malaria yang ganas. Andai hendak kabur, pilihan terbaik adalah Kepulauan Thursday, Australia. Untuk itu, orang mesti menempuh hampir 500 kilometer sepanjang Sungai Digul yang penuh buaya buas, lalu menyeberangi Selat Torres. Setiba di Australia, harus siap kucing-kucingan dengan polisi setempat. Jika tertangkap, ya dipulangkan ke Digul.

 Berdentang-dentang merasuk hati
Aku tak kan pernah mati
Tuhan, tanahku yang hitam ini milikmu jua

Padamu tanahku
Padamu airku
Padamu darahku
Padamu putraku

Namun, dalam deskripsi sejarawan Rudolf Mrazek, “…ini bukan kesepian mutlak ala Heart of Darkness-nya Conrad — ‘kesepian, kesepian mutlak tanpa seorang polisi…kesunyian, kesunyian mutlak tanpa ada hangat suara tetangga yang baik…'”

Ya, para tahanan memang bebas bergerak dalam radius tertentu. Bergaul dengan sesama. Juga diizinkan menulis surat seperti Sjahrir atau mengirim artikel surat kabar seperti Hatta. Bahkan hadir semacam bioskop di sana. Sesekali, catat Mrazek, ada pula konser musik dan pertunjukan wayang.

Pada akhirnya, kebosanan dan ketidakpastian hari esok menjadi jalan mudah menuju remuk jiwa.

Saya tidak tahu apakah Leo pernah ke Digul. Meresapi lirik yang intens merefleksikan tanah pengasingan itu, saya yakin Leo “menggauli” tema itu dengan saksama, entah bagaimana caranya.

Pada karya Leo, sang aktivis — “Aku” dalam lagu itu — dibekap nasib buruk tapi tak mau takluk.

 

keluyuran di depok

Depok itu dekat sekaligus asing buat saya.

Kami sekeluarga menetap di Cinere sejak 2004. Nyaris tiap hari bolak-balik Jakarta untuk memulung rupiah. Meski Cinere merupakan bagian dari Depok, miskin belaka pengetahuan saya soal wilayah ini.

Beberapa pekan lalu perubahan terjadi. Kafka mengikuti perkemahan dua hari satu malam yang digelar sekolahnya di Kukusan. Malam harinya, saya meluncur dari kantor menuju lokasi. “Ayah, nanti bawakan susu ya, sama cemilan,” kata Kafka pada pagi harinya saat kami berpisah di halaman sekolah.

Sengaja tak mengaktifkan perangkat navigasi, saya menempuh jalanan pelosok Depok dengan hanya mengandalkan petunjuk Djibril, rekan kerja yang tinggal di Tanah Baru.

Meski malam hari, saya tahu jalanan dikepung pepohonan. Mestinya kalau siang hari tak terlalu panas. Namun, rumah sesak di kiri dan kanan. Ya, penyangga Jakarta yang padat, yang pernah dipimpin wali kota dengan anjuran untuk warga agar makan memakai tangan kanan.

Jalanan dicor lumayan rapi tapi ukurannya, entah kenapa, dibikin pas dua mobil. Kalau ada sepeda motor ditaruh sembarangan di tepi, arus lalu lintas kontan tersendat.

Dengan salah arah dan bertanya beberapa kali, sampailah saya di lokasi perkemahan — namanya Rumah Kabeda.

Dalam perjalanan pulang, saya melihat rumah keramik milik seniman F Widayanto. Lho, ternyata di sini. Saya sudah lama mendengar tentang tempat rekreasi alternatif ini. Tapi baru pada malam itu memergokinya — itu pun tak masuk, hanya melintasi.

Sejak momen tersebut, saya beberapa kali menyusuri rute Cinere – Tanah Baru – Kukusan – Beji dengan sepeda motor saat libur kerja. Iseng saja, tanpa tujuan pasti. Menggunakan mobil hanya bikin keluyuran tak leluasa. Dengan sepeda motor, saya gampang mlipir untuk membeli pisang barangan, misalnya.

Pun akhirnya tiba di pintu belakang Universitas Indonesia (UI). Saya juga tak masuk, Minggu pagi itu, hanya tertegun di depannya. Banyak orang menyelinap dengan pakaian olah raga. Motor-motor mereka diparkir di luar. Para penjual makanan bertebaran di tepi jalan.

“Itu pintu Kutek, Kukusan Teknik. Paling dekat dari situ emang Fakultas Teknik, Mas. Kosan gua dekat situ dulu,” kata Oscar, lulusan UI yang kini sekantor, beberapa hari kemudian.

Sekitar 400 meter dari pintu Kutek, sebuah apartemen tengah dibangun. Menjulang sendiri, dikelilingi rumah-rumah warga. Ah, gampang diduga target pembeli atau penyewa. Kelak saya penasaran dengan harganya. Rp 350 jutaan ternyata.

Perihal pintu belakang UI sejatinya sudah saya dengar sejak lama dari tetangga yang doyan bersepeda. Ternyata hanya sekitar 15 menit dari rumah kami dengan sepeda motor.

Tanah Baru, Kukusan, dan Beji terletak di sebelah barat Margonda Raya, jalan utama di Depok. Belahan timur (Cimanggis, Cilodong, Kelapa Dua, dkk) niscaya lebih asing lagi buat saya.

Di Beji, ada satu tempat yang belum saya temui: markas Komunitas Bambu, penerbit buku-buku sejarah yang dikomandani JJ Rizal. Sudah diniatkan namun, dari info di situs mereka, hanya buka Senin sampai Jumat. Sementara, jadwal blusukan saya jatuh di akhir pekan.

Menjadi flaneur  tak mesti jauh dari rumah. Depok bisa menjadi destinasi. Biar “dekat tapi asing” tinggal memori. Biar tak cuma keluyuran di media sosial yang kerap gaduh teu puguh

bulungan dan kenangan

Pesan itu muncul di layar telepon genggam: “Suy, gw lagi otw ke Blok M Plaza. ada kak Riki, Kotel, mbak Luky dll. siapa tahu elu free.”

Pengirimnya, Isti, teman seangkatan di SMA. Kami pernah di satu organisasi, organisasi yang katanya himpunan orang gila dan suka bikin drama (dalam arti harfiah). “Kak Riki, Kotel, mbak Luky dll” adalah para senior di organisasi tersebut. Kok “Suy”? Ada cara bicara unik di siswa sekolah kami: membalik aksara.

Saya masih di kantor tapi sudah bersiap pulang. Bertahun-tahun tak pernah berjumpa meski sebagian besar mereka juga tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Kesibukan dan tetek-bengek lain menghalangi.

“Oke, gua ke sana,” jawab saya. Membuncah rasa senang di dada. Ya, sebagian masa remaja dihabiskan bersama mereka. Di Bulungan, Ciloto, Ciapus, dan tempat-tempat lain. Kapan kita sanggup membebaskan diri dari kenangan?!

Di seberang Blok M Plaza, hanya sepelemparan batu dari sekolah kami dulu, pertemuan digelar. Melulu canda dan tawa yang mengalir tak henti. Kisah-kisah masa lalu terungkap kembali. Tak ada gaduh politik mencederai meski, pada saat bersamaan, media sosial berisik dengan kebencian atau dukungan buat Ahok.

Belajar di sekolah negeri, para siswa berasal dari aneka latar sosial, etnis, dan agama. Saya lirik, di sekeliling meja, ada Beresman dari Tapanuli, ada Ricky asal Minahasa, hadir Luky yang Jawa, Sonny Kotel dan Isti yang urang awak, pun saya yang oplosan Banyumas-Cirebon.

Itu masa ketika media sosial belum hadir. Bahkan, telepon genggam masih menjadi masa depan. Komunikasi tatap muka menjadi yang terpenting. Saya berikhtiar mengingat bagaimana cara membatalkan janji bertemu di menit-menit terakhir — hal gampang pada hari ini.

Kami masih remaja. Belum tercelup dalam silang sengkarut dunia orang dewasa. Orde Baru mencengkeram tapi pengaruh dan praktik buruknya samar-samar di mata, sayup-sayup di telinga.

Seingat saya, identitas bukan masalah besar saat itu. Tak ada pihak yang dengan tegas mengerek bendera keyakinan dan menggerebek pihak lain yang tak disetujui. Hidup bergulir rileks.

Pada masa itu, sebagai contoh, Warkop DKI dengan santai menjadikan sosok malaikat sebagai objek humor. Saya bergidik ketika membayangkan hal tersebut dilakoni sekarang. Mungkin mereka terjerat kasus penistaan agama.

Sangat mungkin ada wacana mengkafir-kafirkan orang lain. Cuma belum muncul media sosial yang menjadi  pengganda pesan dengan cepat, mudah, dan murah.

Namun, kemarin, media sosial dengan lekas menghubungkan saya dan mereka. Beberapa jam setelahnya, sebuah WhatsApp Group terbentuk. Penghuninya para alumni organisasi kami.

Tidak (atau belum) ada ujaran kebencian atau hoax yang bikin mual. Kami mengisinya dengan sapa dan canda.  Sekali lagi, membuncah rasa senang di dada.

 

 

empat buku terbaik 2016

Ini empat buku terbaik karya penulis Indonesia, yang saya baca dan terbit pada 2016. Niscaya ada sejumlah buku lain yang juga layak masuk daftar. Tapi  lantaran saya belum membacanya, bagaimana mungkin menyusup?! Saya urutkan sesuai aturan alfabetis.

Raden Mandasia — Yusi Avianto Pareanom
Mengasyikkan. Mungkin karena menyajikan petualangan seru, bertabur humor, miskin khotbah, dan menampilkan kemahiran bertutur. Yusi mengoplos pelbagai cerita dari masa dan tempat berbeda ke dongeng ini dan membuat terperangah. Bahkan pada halaman terakhir, buku ini masih menembakkan kejutan ke pembaca.

Satu Setengah Mata-Mata — Nirwan Dewanto
Dalam karya ini, dia menghimpun esai-esai tentang seni rupa. Teknik berceritanya kurang lazim sebagai telaah seni: menempatkan diri sebagai orang ketiga. Berkat keluasan wawasan dan kemampuan bercerita, Nirwan memikat. Pun lantaran menyisipkan sejumlah catatan autobiografis. Alih-alih ke penerbit arus utama, dia menyerahkan antologi ini ke sejumlah anak muda Jogja yang membangun penerbitan indie.

Simulakra Sepakbola — Zen RS
Tak melulu soal utak-atik taktik. Di sekujur buku ada tilikan historis, amatan filosofis, juga tatapan politis terkait sepakbola. Penulisnya punya wawasan yang bikin  iri, pun kecakapan memilih dan menenun kata yang mumpuni. Zen juga gemar bereksperimen soal cara bertutur. Baca, misalnya, “Kesebelasan Para Bapak Bangsa.” Di sana, dia memilih sebelas tokoh pendiri bangsa dan menaruh mereka selayaknya tim sepakbola: kiper, bek tengah, gelandang bertahan, dan seterusnya…lengkap dengan argumentasi.

Tidak Ada New York Hari Ini — M Aan Mansyur
Benar belaka pilihan Mira Lesmana untuk meminta M Aan Mansyur menghiasi Ada Apa dengan Cinta 2? dengan puisi-puisinya. Ketika digarap menjadi buku, saya tersihir. Getir dan sentimentil, tapi tak terpuruk menjadi murahan. Paduan puisi dan foto membikin perasaan diaduk-aduk — dan tak perlu dalam keadaan jatuh cinta. Jika font size teks dinaikkan sedikit, makin sulit menemukan “lubang” dalam karya ini.

api kecil

Saya bukan pembaca buku yang baik. Ada banyak buku yang tak kelar saya baca. Kemudian mereka teronggok di rak atau tempat lain. Andai boleh menyodorkan alasan: rutinitas menggerus energi dan kala membaca. Klise…

Iya, saya rada gampang “terprovokasi” urusan membeli buku. Jika ada buku yang sedang ramai dipergunjingkan, saya bakal ikut memburu. Ini sejak dulu, saat masih sekolah di Bandung. Terus berlanjut sampai sekarang.

Membeli buku, membaca buku, lalu menulis buku.  Buku pertama saya terbit pada 2012. Judulnya Jurnalis Berkisah. Entah berapa persisnya yang terjual. Tapi kayaknya tak sampai 1.000 eksemplar. Jika saya teliti menyimpan surat pemberitahuan royalti, akurasi jumlah bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Sebelum dan sesudahnya, beberapa kali saya terlibat produksi buku. Sebagai editor, inisiator, atau co-author. Terakhir ikut membantu penulisan buku 20 tahun Liputan 6 SCTV. Saya merasakan keasyikan yang paripurna. Saya menikmati detik-detiknya; meski membiarkan durasi tidur malam terkurangi, membuat istri cemas kalau-kalau setelahnya saya disergap flu.

Lalu, kabar-kabar itu berhamburan datang:  kemunculan (kembali) para penerbit kecil. Mereka menerbitkan buku-buku bertema unik, segar, meski kurang diminati pasar; dengan (seringkali) mengabaikan  jalur distribusi konvensional, melalui media sosial atau membangun komunitas.

Selama beberapa bulan saya mencermati. Lantas, tiba di satu titik: lha, saya agaknya juga bisa mengerjakan. Dan, yang pertama dan terutama, saya memang ingin. Masalah terbesar paling pembagian waktu dengan urusan kantor.

Saya bilang ke istri dan dia memberi lampu hijau. Oke, tinggalkan dermaga dan kembangkan layar. Pelan-pelan. Tapi perahu kecil ini belum punya nama. Ah, sambil jalan saja, kata saya dalam hati.

Eureka! Hanya dalam beberapa hari, saya menemukan bakal materi buku pertama. Yaitu, tulisan-tulisan seorang teman yang berserakan di media sosial. Waktu bergerak, teman ini beranjak ragu. “Nanti saja deh,” ujar dia. Beberapa kali dia menyampaikan, dengan segugus alasan. Maka, saya pun putuskan: memang belum jodoh.

Lalu, saya “menemukan” Hawe Setiawan, senior di kampus. Sejak belasan tahun lalu, dia menekuni kerja kebudayaan, khususnya Sunda, secara intens. Orang-orang lalu menobatkannya sebagai budayawan.

Hawe menonjol sejak mahasiswa: pintar tersebab doyan baca buku. Rumah dia di Ledeng, Bandung Utara nan sejuk, sering diinapi teman-teman: diskusi lalu…main kartu truf. Saat pertama kali main ke sana, pada 1990-an, saya tercengang melihat koleksi bukunya. Juga tersihir saat dia memainkan Looking Through the Eyes of Love-nya Melissa Manchester dengan biola di tengah malam yang sunyi.

Hawe rutin menulis kolom di koran. Tapi, saya mengincar karya-karya dia yang lebih “serius”: tulisan untuk diskusi, seminar, atau jurnal ilmiah. Semula mau merangkul semua. Belakangan, Atep Kurnia, rekan di Bandung dan kami minta menjadi editor, menunjukkan haluan yang lebih oke: hanya himpun karya-karya terkait budaya Sunda.

Dalam perjalanan, saya “berjumpa” single berjudul Lelatunipun, karya salah seorang personel duo Banda Neira, Rara Sekar. Saya terpesona dengan kata itu. Nyaris memilihnya sebagai nama penerbit. Cuma, dengan sejumlah pertimbangan, saya mengurungkan. Tidak sepenuhnya meninggalkan. Lelatunipun bermakna “api kecil”.  Demikianlah nama publishing house saya berhulu. Terima kasih, Rara…

Pekan ini, Tanah dan Air Sunda — kumpulan esai Hawe itunaik cetak. Insya Allah sudah bisa dibaca pada pekan kedua Januari 2017.

Ya, saya bukan pembaca yang baik. Tapi, Api Kecil ingin menghadirkan buku-buku yang keren. Seperti yang sudah dan terus dilakoni para pendahulu di Jogja, Jakarta, Bandung. Mungkin tidak sebulan sekali. Satu buku dalam dua-tiga bulan, cukuplah. Semoga.

subur bulungan

Kami berjumpa di depan SMA 6 Jakarta. Tak sengaja. Kebetulan.

“Lho, Mas Subur, apa kabar?” kata saya.

“Eh baik. Dari mana? Ambil raport juga?” kata Subur. Saya tak yakin dia ingat nama saya. Ingat wajah mungkin. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Saya memang baru mengambil raport bayangan Havel.

“Yang mana anakmu? Ada fotonya gak?” kata dia. Saya merogoh saku, mengambil ponsel. Menunjukkan foto si sulung.

Subur tinggal di lingkungan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan di Bulungan. Sampai sekarang di sana, bahkan ketika usianya menjelang senja kini. Dia bagian dari kaum Arek Blok M.

Anak-anak SMA 6 sekarang mengenalnya sebagai Babeh Taman — karena memang kerap nongkrong di taman depan sekolah.

Saat sekolah di SMA 70, saya mengenal dia. Orangnya ramah. Meski, banyak orang bilang, dia jagoan. Dia sering membantu ketika kelompok drama kami hendak manggung.

Langit gelap. Sebentar lagi hujan. Saya pamit ke Subur. Dia tersenyum.

kacamata

Kami menuju sebuah optik. Hasil pemeriksaan, Kafka disarankan mengenakan kacamata. Mata dia dinyatakan minus dan ada silindrisnya.  Mata kanan minus 0,5; yang kiri 1,25.

Usia Kafka baru sembilan tahun. Terlalu dini, pikir saya. Kami menghampiri optik lain — hanya belasan meter dari optik pertama. Semoga ada kabar baik. Ups, hasilnya sama: anak bungsu kami itu memang kudu menggunakan kacamata.

Ada masa ketika kacamata identik dengan sosok serius, pendiam, kaku. Mengingat asosiasi ini, saya mengernyitkan jidat: Kafka lumayan jauh dengan semua sifat itu.

Mungkin Bung Hatta bisa menjadi contoh paripurna. “Oom Hatta selalu terlihat serius, untuk itu kami menjulukinya “Oom Kacamata” … Oom Hatta sangat teratur menyusun acara-acaranya yang dilakukan setiap hari. Mengajar murid jam 11.00, membaca jam 13.00 hingga 14.00. Setelah makan siang, dilanjutkan istirahat siang selama satu jam,” tulis Des Alwi.

Des mengenal Hatta saat orang Minang itu dibuang rezim kolonial ke Banda Neira. Des lahir di Banda. Ia masih bocah saat Hatta mendarat di sana pada awal 1936.

Terkait buku, Hatta dikenal kaku. Ia kerap meminjamkan buku-bukunya. Namun, akan gusar jika peminjam mengembalikan dalam keadaan lecek atau dihiasi coretan.  Hatta memperlakukan buku sebagai harta tak ternilai, yang layak dijaga sepenuh hati.

Pernyataan Hatta ini masih sering dikutip: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas.” Sejumlah anak muda bahkan menaruhnya sebagai teks di kaos oblong.

Namun, ada sosok berkacamata lain yang mengendap di ingatan: John Lennon. Berbeda dengan Hatta, Lennon adalah sosok urakan. Ya, soal karakter, Kafka rada dekat dengan Lennon.

Bentuk kacamata Lennon bundar. Jenis ini disebut teashades. Mulai banyak digunakan sejak awal 1960-an di Amerika Serikat dan Eropa. Terutama, konon, untuk menyembunyikan efek narkotika di sekitar mata.

Untuk memperingati ulang tahun ke-44 pernikahan dengan Lennon, Maret 2013, Yoko Ono men-tweet foto kacamata yang berlumuran darah itu — salah satu benda yang dipakai Lennon saat kematiannya. Dalam tweet itu, Yoko Ono menulis, “Lebih dari 1.057.000 orang tewas akibat penyalahgunaan senjata di AS, sejak Lennon ditembak dan dibunuh Mark Chapman pada 8 Desember 1980.”

Hatta dan Lennon sama-sama pejuang. Dengan cara masing-masing, mereka melawan ketidakadilan, peduli dengan situasi di luar. Pada 1969,  Give Peace a Chance  dinyanyikan ratusan ribu orang pada demonstrasi besar di Washington DC untuk menentang Perang Vietnam. Pada tahun yang sama, Lennon mengembalikan penghargaan dari Ratu Elizabeth II beberapa tahun sebelumnya sebagai protes atas dukungan Inggris untuk perang tersebut.

Nah, agar tudingan tak peduli menjauh, saya harus segera mencari kacamata buat Kafka. Give glasses a chance

cinta, masa muda, bandung

Cinta adalah seluruh keherananku pada manusia. Demikian penyair Afrizal Malna pernah menulis.

Beberapa hari lalu, saya seperti menemukan (kembali) kebenaran kalimat tersebut di sebuah mal. Usai buka puasa bersama teman-teman sekampus, saya berbincang dengan seorang teman pria, A.

Saya menyinggung soal S, gadis yang ditaksirnya dulu saat kami kuliah di Bandung. Saya, A, dan S belajar di kampus yang sama. Kini S tinggal di sebuah kota, ribuan kilometer dari Jakarta.

“Malam itu sebenarnya penentuan. Gua sudah bertekad untuk menyatakan ke S,” kata A.

“Kalian sudah dekat?”

“Sudah jalan bareng sekitar enam bulan. Sering nonton atau makan di mana gitu.”

Saat itu, 1990-an, Bandung belum terlalu ramai. Belum hiruk-pikuk dengan mal, kafe, atau factory outlet. Jika malam tiba dan kita mau keluar rumah, jaket atau sweater jadi perlengkapan wajib atau dirajam dingin. Kini tak lagi begitu. Bandung kian panas meski masih sejuk.

Saya membayangkan mereka nonton di Bandung Indah Plaza, mencari kaset di Aquarius Dago, atau menenggak yoghurt di Cisangkuy. Ah, masa muda yang lampau…

“Elu jadi nembak S?”

“Gak jadi. Gara-garanya ketemu teman kita, I,”

I menanyakan mau ke mana. A pun seketika salah tingkah.  S dan I tinggal satu kawasan, sebuah kawasan dengan banyak rumah disewakan untuk mahasiswa. Tak heran kerap bertemu teman jika berjalan kaki di sekitar kawasan tersebut.

Kawan kami ini, I, terkenal eksentrik. Baik hati tapi suka kepo. Dengan logat Jawa-nya yang kental, dia sering memancing tawa — sesekali memicu jengkel.

Malang tak dapat ditolak, I ikut “mendampingi” A ke rumah kos S. Sang tuan rumah tentu heran melihat I datang bersama A — tumben. Bertiga mereka ngobrol di rumah tamu.  Menit demi menit berlalu, A gelisah karena I tak pamit duluan.

Suasana kaku. Percakapan tergelar hambar. Akhirnya A mohon diri dengan kesal. I tetap menguntit, ikut pulang. Dan, “proklamasi hati” pun batal diutarakan.

Hal sangat mengherankan, A lalu memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya ke S sampai mereka lulus dan pergi dari Bandung. Tidak pernah, bahkan sampai detik ini.

“Lho kenapa gak jadi? Kan masih ada kesempatan lain,” kejar saya.

“Gak jadi aja. Gak ada penjelasan juga,” kata A.

A bilang, setelah itu dia pelan-pelan menjauh. Padahal tidak ada persoalan di antara mereka. Konon S pun bertanya-tanya: ada apa. Sekarang A dan S masing-masing sudah berkeluarga, beranak-pinak.

“Terus, elu gak penasaran?”

“Penasaran pastinya. Gua sering berandai-andai, jika saat itu nembak, bakal diterima atau ditolak ya?”

“Coba tanya aja sekarang.”

“Hahaha…”

Afrizal Malna benar belaka.

 

Catatan: Beberapa jam setelah tulisan ini tayang, A mengirim pesan via WA. Ia mengoreksi dan menambahkan sedikit detail. Demi “kebenaran sejarah”, revisi tak terelakkan…hehe..