sidney

Havel dan Kafka,

Otto Schechtel amat bangga karena tak pernah membaca buku. Sepanjang hidup. Tak mengherankan jika ia gundah mengetahui anak lelakinya lebih gemar di rumah, menikmati buku yang dipinjam dari perpustakaan umum. “Matamu akan rusak. Mengapa kau tidak seperti Seymour, sepupumu itu? Ia suka bermain bola…” Continue reading “sidney”

tentang ucok

from yus ariyanto
to hawe setiawan
date Apr 12, 2007 5:38 PM
subject kios buku pasar jumat

ji,

aku penasaran dengan kios buku bekas di pasar jumat yang anda sebut-sebut dalam tanda tangan karen. letaknya di sebelah mana? dekat terminal lebak bulus? atau, malah mengarah ke gedung fedex?

siapa tahu kalo lagi mengantarkan anakku ke rumah neneknya, aku bisa mampir ke sana…

hatur nuhun.

salam,
yus
Continue reading “tentang ucok”

gerimis, kopi, kebahagiaan

Havel dan Kafka,

Gerimis meningkahi pagi. Para pekerja kantoran bergegas di trotoar dengan payung terkembang. Gedung-gedung pencakar langit tegak di sekeliling. Dari jendela kafe itu, aku melihat mereka. Berteman kopi panas, roti hangat, dan The Wall Street Journal Asia. Sementara, kalian berada ribuan kilometer di tenggara. Continue reading “gerimis, kopi, kebahagiaan”

fatalisme

Havel dan Kafka,

Fatalisme mencengkeram Cikini, Jumat kemarin. Seorang khatib tua bertutur dari balik mimbar. Ia menyodorkan topik soal musibah (alam dan non-alam) dan bagaimana kaum muslim seharusnya menyikapi. Intinya, semua itu kehendak Allah. Manusia hanya bisa menerima dengan sabar, ikhlas, dan tawakal. Terkandung hikmah di sana. Continue reading “fatalisme”

jatinangor

Havel dan Kafka,

Lima tahun berlalu sejak kedatangan terakhirku. Selasa kemarin, aku kembali menghirup udara Jatinangor. Sore sampai selepas Isya. Langit mendung. Tapi, gairah dan geliat kawasan itu tak terbantahkan. Lampu-lampu berpendar di kanan dan kiri jalan. Gerai-gerai perniagaan, kios-kios internet, rumah kos-kosan. Anak-anak muda bertebaran. Continue reading “jatinangor”

nama dan nasib

Havel,

Ide unik hinggap di kepala Robert Lane. Itu terjadi saat anak keenamnya lahir. Lima anak diganjar nama yang lazim. Tapi, anak keenam kebagian nama istimewa: Winner. Pemenang. Lahir pada 1958 di kawasan Harlem, New York, Winner ternyata menjadi pengais bungsu. Adiknya mbrojol ke dunia tiga tahun kemudian. 

Lane, pria berkulit hitam, kembali melakukan aksi nyentrik, bahkan terbilang sinting. Bayangkan, si bungsu dianugerahi nama Loser. Pecundang. Hingga kini tak jelas alasan di balik penamaan tersebut. Namun, “Tak ada tanda-tanda bahwa Robert tak menyukai bayinya itu; dia tampaknya kehabisan nama dari daftar di buku,” demikian tulis Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner dalam Freakonomics.

(Levitt adalah ekonom dari Universitas Chicago. Ia pernah dihadiahi John Bates Clark Medal, penghargaan saban dua tahun untuk ekonom AS berusia di bawah 40 tahun yang dianggap cemerlang. Akan halnya Dubner, ia rutin menulis di di The New Yorker dan The New York Times. Karya mereka, Freakonomics itu, dipuji banyak kalangan. Tahun lalu, Gramedia menejemahkannya ke Bahasa Indonesia.)

Apa yang terjadi kemudian? Loser bersekolah dengan baik. Ia lantas bergabung kepolisian New York. Ia tak punya problem dengan nama. Justru, teman-temannya yang kikuk. Beberapa di antara mereka lalu memanggilnya Lou—sebagai ikhtiar berlaku sopan.

Sementara, saat menginjak usia kepala empat, Winner telah mengantongi rekor berikut: puluhan kali dicokok polisi karena pencurian, kekerasan domestik, masuk rumah orang zonder izin, dan beberapa kesalahan lain.

Lane, ayah mereka, sudah lama dipanggil Tuhan. Loser dan Winner jarang bertegur sapa. Mungkin di kepala masing-masing bersemayam pikiran: betapa ajaib hidup ini, betapa gila ayah kami.

Dan, betapa kita ternyata tak lagi bertiga… adikmu telah bergabung. Dan, kami masih mencari-cari nama untuknya.