delhi-agra

Havel,

Kemiskinan terhampar. Kering. Kumuh. Sepanjang perjalanan ini, menuju “cinta abadi” buat Mumtaz. Seabad tertinggal, ujar kawan sebelahku. Mungkin dia keliru, tapi ngilu memang menyerang. Miris. Sisi kelam negeri yang kian dekat dengan predikat gergasi ekonomi baru–bersama China, tentu saja.

Dan, inilah tanah yang melahirkan Rabindranath Tagore, Amartya Sen, Jawaharlal Nehru, Arundhati Roy, Sahrukh Khan, Mahatma Gandhi, Prakash Padukone, Manmohan Singh, Kiran Desai….

carmen

Havel,

Minggu siang yang terik, usai membikin kunci serep, kita melangkah ke Mal Cinere. Kamu sibuk dengan soft drink di plastik. “Kita ke Gramedia, Ayah,” ujarmu. (Hmm…pasti ada maunya anak ini, aku membatin). Tapi, tujuanku memang toko buku itu. Kita pun berpencar. Kamu ke bagian buku anak-anak.

Dari rak yang memajang buku-buku baru, aku mencomot edisi terjemahan Inside the Kingdom karya Carmen bin Laden. Dari namanya, kita segera tahu siapa Carmen. Perempuan keturunan Swiss dan Persia ini menikahi Yeslam bin Laden, kakak Osama, pada 1974. Keduanya pertama kali berjumpa di Jenewa saat sejumlah anggota keluarga bin Laden menyewa rumah orang tua Carmen untuk liburan. Keluarga itu amat kaya sehingga liburan  di Eropa  sama gampangnya dengan  jika kita hendak ke rumah  Zhifa, sepupumu, di Ciganjur.

Di rumah, aku membolak-balik halaman kitab tipis itu. Sedikit demi sedikit, informasi meluncur. Demi cinta, Carmen mencemplungkan diri ke sebuah kultur yang sama sekali asing, ketika mereka menetap di Jeddah. Ia, misalnya, dilarang meninggalkan rumah tanpa membungkus tubuh dari kepala sampai ujung kaki. Ia bahkan tak boleh menyeberang jalan tanpa didampingi seorang perempuan tua yang menjadi pengawasnya. Juga tak diperkenankan menyetir mobil.

Kultur itu bukan hanya asing, tapi juga dianggapnya merendahkan kemanusiaan. “Orang-orang Saudi adalah Taliban, dalam kemewahan,” tulis Carmen. Ia pun melawan. Bercerai. Pergi memburu kebebasan, bersama tiga puterinya.

Secara naluriah, manusia selalu berupaya melawan setiap larangan. Kamu pun melakukannya. Sabtu siang, pulang les musik, kamu dan ibumu juga ke Gramedia Mal Cinere. Kamu minta dibelikan sebuah komik. Ibumu menampik. Saat kita ke sana pada Minggu siang, tanpa ibumu, kamu mengulangi permintaan itu dan…sukses. Aku hanya bengong ketika, sesampai di rumah, ibumu berkata, “Lo, ini komik yang kemarin diminta Havel tapi aku gak kasih…”

pas

Havel,

Tadi pagi, di jalan, aku iseng menggeser frekuensi radio, dari Hardrock ke I-radio. Eh, ada suara melengking tapi akrab di kuping, mendendangkan lagu asing. Hmm…ini suara Yuki, vokalis PAS Band. Uh, lama juga tak mendengar dia bernyanyi. Ada satu periode, di masa muda, ketika aku cukup menggandrungi grup asal Bandung itu. Kini, telah berapa album mereka yang terlewat?

Tapi, apa sejatinya yang membuat Yuki dan tiga kawannya itu memikat? Soal teknis bermusik, di tanah air, mereka salah satu yang terbaik. Berisik tapi asyik. Perihal lirik, mereka lumayan matang, mendekati subtil. Tema di banyak lagu: pemberontakan atas keadaan. Cermati, misalnya, petikan dari Singomenggolo ini:

apa daya tanganku lihat hitam disana
tak lagi kawan canda kini jadi legenda
demi uang isap embun tak ada lagi bunga
pagi adalah mati bagi semua cahaya

(Toh, tema-tema ini sama sekali tak orisinal buat lingkungan musik cadas. Susuri dari kurun The Beatles hingga Green Day ketika meneriakkan American Idiot.)

Pemberontakan. Suatu saat, kamu pun mencapai fase ini. Bukan sebagai musisi rock barangkali, tapi sebagai remaja biasa yang memburu jati diri. Dan, kami mesti sigap, sesigap menggeser-geser frekuensi radio…

menikmati hidup

Havel,

Meluncur kabar menarik di BusinessWeek, pekan lalu. Survei majalah itu bersama sebuah lembaga riset, dengan 37.000 lebih mahasiswa AS sebagai responden, menemukan: tujuan berkarir nomor satu adalah “menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional.” Sementara, “membangun basis finansial yang kuat” hanya menjadi alasan ketiga. Pendirian ini membentuk garis kontinum dengan alasan para karyawan muda yang pindah kantor: hari kerja yang seperti tanpa jeda.

Ada aksi, muncul reaksi. Sejumlah perusahaan pun mulai “mengalah.” Mereka menambah hari cuti tahunan dan menawarkan jadwal kerja yang fleksibel. Atau, seperti Lockheed Martin: perusahaan ini mengizinkan para karyawan yang bekerja sembilan jam sehari untuk libur pada Jumat, tiap dua pekan.

Ya, ya, jika ini semua terus membesar bak bola salju, bolehlah diteriakkan: arbeit macht frei, kerja membuat merdeka. (Tapi, tahukah kamu riwayat slogan ini? Hitler memajangnya di gerbang kamp konsentrasi…) Dan, barangkali menjadi “kurang relevan” buat mendengar Morning Sidekick yang memparodikan You’re Beautiful milik James Blunt–sebagai My Cubicle–seperti berikut:

My job is stupid
My day’s a bore
Inside this office
From 8 to 4.

Nothing ever happens
My life is pretty blank
Pretending that I am working
Pray I don’t get canned

My cubicle, my cubicle
It’s 1 of 62
It’s my small space
In a crowded place
Just a six by six board booth
And I hate it, that’s the truth

When I give a sigh
As the boss walks by
No one ever talks to me
Or looks me in the eye
And I really should work
But instead I just sit here
And surf the internet

And my cubicle, my cubicle
It doesn’t have a view
It’s my small space
In a crowded place
I sit inside there too
And sometimes I sit here nude

 

11 september

Havel,

Melesak kian dalam ke rahim September, The House of the Spirits samar-samar teringat lagi. Beberapa tahun silam, sebuah stasiun televisi memutar film yang diangkat dari novel Isabel Allende itu. Di sana, ada Antonio Banderas, menjadi pemuda miskin dan eksponen golongan sosialis, yang menjalin cinta dengan Winona Ryder, yang diplot sebagai puteri seorang tuan tanah. Ayah Ryder, diperankan Jeremy Irons, berang saat mengetahuinya.

Di tengah itu semua, gempa politik melanda. Partai sosialis memenangi pemilu. Segera mereka menggelar program-program populis. Tapi, ada sejumlah pihak yang kepentingannya teriris. Militer kemudian merasa punya pembenaran untuk merebut kekuasaan. Kaum kiri dikejar, demikian pula Banderas dan Ryder.

Ini mirip pengalaman Salvador Allende. Allende? Salvador adalah paman Isabel. Ia terpilih menjadi presiden secara demokratis. Tapi, Jenderal Augusto Pinochet melakukan kudeta. Ajal menjemput Salvador. Ada yang bilang dia dieksekusi, sebagian menyatakan dia bunuh diri. (Dan, banyak orang percaya, Amerika Serikat berada di belakang gerakan ini)

Dengan tangan baja, Pinochet memimpin negeri bernama Chile itu selama 17 tahun. Oposisi dibungkam, ribuan orang hilang. Seusai dia turun, investigasi atas kejahatan-kejahatan rezimnya dijalankan. National Commission on Political Imprisonment and Torture. Dari wawancara dengan 35 ribu mantan tahanan politik diketahui: mereka disetrum, dipukuli, disundut rokok dan…dipaksa menelan tinja serta air kemih sendiri.

The House of the Spirits sendiri bukan sekadar cerita politik. Ini ikhtiar mendedahkan carut marut perjalanan sebuah keluarga, nun di satu negeri di Amerika Selatan, dari 1920-an sampai awal 1970-an: obsesi tentang kemakmuran, riwayat cinta, derita psikologis, dan rentannya relasi sosial. Semua berjalin berkelindan, berujung pada kegetiran. Di bagian awal karya sineas Bille August ini, tokoh yang diperankan Ryder berujar, “Everything happens so fast that we don’t have time to understand events.”

Lantas, apa hubungan segenap noktah ini dengan September? Salvador Allende dimakzulkan pada 11 September 1973—ya, pada 11 September juga para durjana menabrakkan pesawat ke menara WTC di New York. (Rasanya baru kemarin bangunan itu runtuh dan ribuan orang mati. Eh, pekan depan, lima tahun tragedi itu diperingati.)