gerimis, kopi, kebahagiaan

Havel dan Kafka,

Gerimis meningkahi pagi. Para pekerja kantoran bergegas di trotoar dengan payung terkembang. Gedung-gedung pencakar langit tegak di sekeliling. Dari jendela kafe itu, aku melihat mereka. Berteman kopi panas, roti hangat, dan The Wall Street Journal Asia. Sementara, kalian berada ribuan kilometer di tenggara. Continue reading “gerimis, kopi, kebahagiaan”

fatalisme

Havel dan Kafka,

Fatalisme mencengkeram Cikini, Jumat kemarin. Seorang khatib tua bertutur dari balik mimbar. Ia menyodorkan topik soal musibah (alam dan non-alam) dan bagaimana kaum muslim seharusnya menyikapi. Intinya, semua itu kehendak Allah. Manusia hanya bisa menerima dengan sabar, ikhlas, dan tawakal. Terkandung hikmah di sana. Continue reading “fatalisme”

jatinangor

Havel dan Kafka,

Lima tahun berlalu sejak kedatangan terakhirku. Selasa kemarin, aku kembali menghirup udara Jatinangor. Sore sampai selepas Isya. Langit mendung. Tapi, gairah dan geliat kawasan itu tak terbantahkan. Lampu-lampu berpendar di kanan dan kiri jalan. Gerai-gerai perniagaan, kios-kios internet, rumah kos-kosan. Anak-anak muda bertebaran. Continue reading “jatinangor”

nama dan nasib

Havel,

Ide unik hinggap di kepala Robert Lane. Itu terjadi saat anak keenamnya lahir. Lima anak diganjar nama yang lazim. Tapi, anak keenam kebagian nama istimewa: Winner. Pemenang. Lahir pada 1958 di kawasan Harlem, New York, Winner ternyata menjadi pengais bungsu. Adiknya mbrojol ke dunia tiga tahun kemudian. 

Lane, pria berkulit hitam, kembali melakukan aksi nyentrik, bahkan terbilang sinting. Bayangkan, si bungsu dianugerahi nama Loser. Pecundang. Hingga kini tak jelas alasan di balik penamaan tersebut. Namun, “Tak ada tanda-tanda bahwa Robert tak menyukai bayinya itu; dia tampaknya kehabisan nama dari daftar di buku,” demikian tulis Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner dalam Freakonomics.

(Levitt adalah ekonom dari Universitas Chicago. Ia pernah dihadiahi John Bates Clark Medal, penghargaan saban dua tahun untuk ekonom AS berusia di bawah 40 tahun yang dianggap cemerlang. Akan halnya Dubner, ia rutin menulis di di The New Yorker dan The New York Times. Karya mereka, Freakonomics itu, dipuji banyak kalangan. Tahun lalu, Gramedia menejemahkannya ke Bahasa Indonesia.)

Apa yang terjadi kemudian? Loser bersekolah dengan baik. Ia lantas bergabung kepolisian New York. Ia tak punya problem dengan nama. Justru, teman-temannya yang kikuk. Beberapa di antara mereka lalu memanggilnya Lou—sebagai ikhtiar berlaku sopan.

Sementara, saat menginjak usia kepala empat, Winner telah mengantongi rekor berikut: puluhan kali dicokok polisi karena pencurian, kekerasan domestik, masuk rumah orang zonder izin, dan beberapa kesalahan lain.

Lane, ayah mereka, sudah lama dipanggil Tuhan. Loser dan Winner jarang bertegur sapa. Mungkin di kepala masing-masing bersemayam pikiran: betapa ajaib hidup ini, betapa gila ayah kami.

Dan, betapa kita ternyata tak lagi bertiga… adikmu telah bergabung. Dan, kami masih mencari-cari nama untuknya.

terkenang william pada hari ulang tahunmu

Havel,

William James Sidis meregang nyawa dalam keadaan terasing dan rudin. Pada 1944 itu, usianya belum lagi setengah abad. Ironis. Di usia lima tahun, ia telah mampu menyusun artikel tentang anatomi. Enam tahun kemudian, ia diterima di Harvard. Tapi, ada batas. Ia melawan desain yang diterakan sang ayah, Boris, seorang psikolog. Ia memburu hidupnya sendiri. Sunyi.

Dan, agaknya William hanya sepuncak sampel dari gunung es populasi. Sampai hari ini.

darat dan laut

Havel,

Badru terhenti di pertigaan itu. Ia tiba-tiba diserbu perasaan ragu: segera ke rumah atau membereskan kecamuk perasaan terlebih dulu. Beberapa tahun terakhir, hubungan lelaki itu dengan sang ayah bermasalah. Itu sejak ia hijrah ke kota, menempuh pendidikan yang, menurut ayahnya, membuat jauh dari “ajaran yang benar.” Ayahnya bilang, “Sekolah itu syakkun fil Lah.” Frasa bahasa Arab itu bermakna: bimbang kepada Tuhan. Dan, sekolah berbeda dengan pesantren. Continue reading “darat dan laut”