jatinangor

Havel dan Kafka,

Lima tahun berlalu sejak kedatangan terakhirku. Selasa kemarin, aku kembali menghirup udara Jatinangor. Sore sampai selepas Isya. Langit mendung. Tapi, gairah dan geliat kawasan itu tak terbantahkan. Lampu-lampu berpendar di kanan dan kiri jalan. Gerai-gerai perniagaan, kios-kios internet, rumah kos-kosan. Anak-anak muda bertebaran. Continue reading “jatinangor”

nama dan nasib

Havel,

Ide unik hinggap di kepala Robert Lane. Itu terjadi saat anak keenamnya lahir. Lima anak diganjar nama yang lazim. Tapi, anak keenam kebagian nama istimewa: Winner. Pemenang. Lahir pada 1958 di kawasan Harlem, New York, Winner ternyata menjadi pengais bungsu. Adiknya mbrojol ke dunia tiga tahun kemudian. 

Lane, pria berkulit hitam, kembali melakukan aksi nyentrik, bahkan terbilang sinting. Bayangkan, si bungsu dianugerahi nama Loser. Pecundang. Hingga kini tak jelas alasan di balik penamaan tersebut. Namun, “Tak ada tanda-tanda bahwa Robert tak menyukai bayinya itu; dia tampaknya kehabisan nama dari daftar di buku,” demikian tulis Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner dalam Freakonomics.

(Levitt adalah ekonom dari Universitas Chicago. Ia pernah dihadiahi John Bates Clark Medal, penghargaan saban dua tahun untuk ekonom AS berusia di bawah 40 tahun yang dianggap cemerlang. Akan halnya Dubner, ia rutin menulis di di The New Yorker dan The New York Times. Karya mereka, Freakonomics itu, dipuji banyak kalangan. Tahun lalu, Gramedia menejemahkannya ke Bahasa Indonesia.)

Apa yang terjadi kemudian? Loser bersekolah dengan baik. Ia lantas bergabung kepolisian New York. Ia tak punya problem dengan nama. Justru, teman-temannya yang kikuk. Beberapa di antara mereka lalu memanggilnya Lou—sebagai ikhtiar berlaku sopan.

Sementara, saat menginjak usia kepala empat, Winner telah mengantongi rekor berikut: puluhan kali dicokok polisi karena pencurian, kekerasan domestik, masuk rumah orang zonder izin, dan beberapa kesalahan lain.

Lane, ayah mereka, sudah lama dipanggil Tuhan. Loser dan Winner jarang bertegur sapa. Mungkin di kepala masing-masing bersemayam pikiran: betapa ajaib hidup ini, betapa gila ayah kami.

Dan, betapa kita ternyata tak lagi bertiga… adikmu telah bergabung. Dan, kami masih mencari-cari nama untuknya.

terkenang william pada hari ulang tahunmu

Havel,

William James Sidis meregang nyawa dalam keadaan terasing dan rudin. Pada 1944 itu, usianya belum lagi setengah abad. Ironis. Di usia lima tahun, ia telah mampu menyusun artikel tentang anatomi. Enam tahun kemudian, ia diterima di Harvard. Tapi, ada batas. Ia melawan desain yang diterakan sang ayah, Boris, seorang psikolog. Ia memburu hidupnya sendiri. Sunyi.

Dan, agaknya William hanya sepuncak sampel dari gunung es populasi. Sampai hari ini.

darat dan laut

Havel,

Badru terhenti di pertigaan itu. Ia tiba-tiba diserbu perasaan ragu: segera ke rumah atau membereskan kecamuk perasaan terlebih dulu. Beberapa tahun terakhir, hubungan lelaki itu dengan sang ayah bermasalah. Itu sejak ia hijrah ke kota, menempuh pendidikan yang, menurut ayahnya, membuat jauh dari “ajaran yang benar.” Ayahnya bilang, “Sekolah itu syakkun fil Lah.” Frasa bahasa Arab itu bermakna: bimbang kepada Tuhan. Dan, sekolah berbeda dengan pesantren. Continue reading “darat dan laut”

sepanjang jalan kenangan

Havel,

Senja tertinggal, tersengal-sengal di belakang. Malam menuju sempurna. Dan, kita masih di Bandung meski rutinitas kerja telah menanti esok hari. Aku melirik ke mommy-mu. Perutnya menggunung. Ini mungkin perjalanan luar kota terakhirnya sebelum persalinan adikmu.

Kita menyusuri Dago. Tak terlampau macet. Mobil-mobil pelat Jakarta sudah banyak menghilang. Sesampai Simpang Dago, aku ambil kanan, menghambur ke Dipati Ukur. Jalan itu kian ramai kini. Sejumlah sekolah membangun kampus di sepanjangnya. Kios-kios fotokopi bertambah eksis. Cahaya lampu berpendar-pendar.

Menjelang tikungan ke Sekeloa, aku sedikit menginjak pedal rem, memberi jalan pada ingatan untuk menjulur ke masa silam. Sekeloa, dulu, menjadi salah satu kawasan favorit tempat kos mahasiswa Unpad–apalagi mereka yang kuliah komunikasi dan kedokteran gigi. Dekat kampus, harga terjangkau, lokasi mengisi perut bertebaran. Enam tahun aku hidup di sana.

Deru roda berlanjut. Di sisi kanan, kampus tua itu masih tegak. Di sana, aku menonton teman-teman berdemonstrasi, menyajikan hasil riset, menemani ibumu saat pemberangkatan ke lokasi KKN, menyaksikan teater, ngariung di sebuah sekretariat unit kegiatan mahasiswa…

Aku memilih Jalan Hasanudin untuk mengantar kita kembali ke Dago. Pohon-pohon besar meningkahi keremangan. Aku mencari-cari Toko Yu. Tak ketemu. “Makan mie kocok dulu, yuk. Di Jalan Sunda,” kata mommy-mu. Oke, oke, keinginan ibu hamil kudu dilunasi.

Dago hanya perantara. Kita masuk Jalan Sumatera. Lahan parkir Kelapa Lagoon, tempatku berjumpa teman-teman lama beberapa jam sebelumnya, sesak oleh kendaraan. Lalu, belok kiri ke Jalan Veteran, dan merambah Jalan Sunda. Tapi, di mana tempat mie kocok itu? Kami memasang mata. Ah, Toserba Yogya terlampaui. Itu artinya target terlewati. Penyakit lupa ternyata telah menjangkiti. Kita pun memutar, karena Jalan Sunda diplot searah, balik lagi ke Sumatera dan seterusnya.

Seraya menikmati mie, aku memandangmu yang asyik mengunyah kerupuk. Kamu hampir lima tahun. Ada perasaan “tak ikhlas” melihatmu meninggalkan kepolosan seorang balita. Namun, waktu mustahil dilawan. Biarlah itu semua menjadi kenangan, seperti kami menapaktilasi sepotong Bandung, menyusuri lagi lebuh-lebuh yang menyimpan sekelumit cerita di kala muda.

Selepas pintu tol Pasteur, mataku terasa hangat…