“shangri-la” bernama curug mariuk

Aliran deras air menghantam kolam di bawah, menyerempet dinding batu dan melahirkan bebunyian yang ritmis.

Kolamnya jernih, kehijauan, dan dingin menyegarkan. Sangat menggoda untuk diarungi.

Kami datang saat cuaca cerah di musim pancaroba. Angin sejuk menjinakkan rajam matahari. Ya, ini semacam “Shangri-La” yang hanya  60-an kilometer dari Jakarta.

***

Curug Mariuk terletak di kawasan Jonggol, Kabupaten Bogor. Saya mengetahui keberadaannya dari postingan teman di Instagram, beberapa pekan sebelumnya. Foto-foto nan membujuk.

Informasi ini segera saya jalarkan ke Havel dan Kafka. Mereka setuju untuk ke sana setelah mengetahui lintasan perjalanan yang bukan kaleng-kaleng dan curug yang elok.

Pandemi bikin tak leluasa keluar rumah. Padahal perlu juga sesekali pergi untuk menghalau jenuh. Nah, kalau masuk hutan mestinya aman. Apalagi  track yang menanti terbilang ekstrem. Dalam bayangan kami, tak akan banyak orang memilih ke sana.

Pertama kali saya mengajak Havel ke curug saat dia masih tujuh tahun. Kami berdua saja, menyambangi Curug Cilember di kawasan Puncak. Ini curug yang sangat mudah diakses. Dari parkiran mobil, hanya harus menempuh sekitar 50 meter.

Selanjutnya kami, lebih kerap berempat, mendatangi Curug Cigamea, Cibeureum, Sawer, dan sejumlah curug lain.

Saya sendiri mendatangi curug pertama kali saat SMA. Lupa nama curug itu, yang pasti di Ciapus, kaki Gunung Salak. Kami latihan olah vokal di sana, bersaing dengan gerojok air.

***

Minggu pagi, 27 September. Kami berangkat pukul 05.30.  Raya ternyata memutuskan ikut. “Aku mengawal Kafka,” kata dia. Kami tertawa mendengarnya.

Menempuh rute dari Cinere, kami masuk tol Jagorawi, lalu keluar di pintu Citeureup. Dari sana, kendaraan diarahkan menuju Kecamatan Sukamakmur — searah dengan Gunung Batu yang kami daki beberapa pekan sebelumnya.

Pada satu titik,  Google Maps memerintahkan belok kiri. Jalan mengecil. Hanya cukup untuk satu mobil. Jika berpapasan dengan sepeda motor, mohon maaf, yang bersangkutan harus menyisih ketimbang tersenggol.

Jalan terbuat dari, kebanyakan, semen. Di beberapa ruas telah terkelupas. Jelas bukan medan yang bersahabat dengan sedan. Beberapa rumah warga mengapit di kiri dan kanan. Tapi lebih banyak sawah dan kebun.

Hal yang membuat jantung berdegup lebih kencang adalah tanjakan-tanjakan terjal. Mungkin ada yang mendekati 60 derajat. Gigi L mesti digunakan beberapa kali ketimbang mobil tak sanggup melaju. Saya bersyukur karena tidak mengiyakan permintaan Havel untuk mengemudi dua jam sebelumnya.

Hingga tibalah kami di titik yang galib disebut gerbang curug. “Mobil bisa masuk ke dalam, Kang?” tanya saya ke seorang pria.

“Bisa aja, Pak. Cuma jalannya tidak bagus, berbatu-batu, naik-turun. Kecil juga,” kata pria itu. Ia bersama sejumlah teman. Sebuah warung kecil terselip di bagian lain dari gerbang, perlu sedikit menanjak untuk mencapainya.

Cukup sudah momen degdegan lantaran jalan sempit dan banyak tanjakan curam. Kami putuskan mulai hiking sejak gerbang.

Eitss, tunggu dulu. Ada urusan bayar-membayar. Biaya parkir Rp 20 ribu. Per orang kena Rp 20 ribu. Total Rp 100 ribu. Karcis atau tanda bukti lain? Nihil.

***

Hiking pun dimulai. Jalan tanah berbatu. Cukup untuk satu mobil. Naik-turun konturnya, memaksa betis dan lutut bekerja keras. Beberapa kali kami berhenti untuk meredakan lelah.

Pada kiri jalan terlihat perkebunan singkong, entah milik  siapa. Lalu perbukitan batu di atasnya. Di kanan jalan, hadir jurang yang ditutupi pepohonan, lembah, dan perbukitan lain nun di sana. Panorama yang memanjakan mata.

Sekitar 25 menit mengayun langkah, kami bertemu area mendatar di sebelah kiri. Di area tersebut terparkir empat mobil. “Oh, kalau tadi kita bawa, mobil parkir di sini,” kata Raya.

Lalu jalan menurun dan mengalir sungai kecil. Empat batang beton dibentangkan sebagai jembatan. Wah, iya, mobil pasti tak bisa melewati. Mentok di area tadi.

Sekitar 10 menit dari jembatan tersebut, kami sampai di tempat parkir sepeda motor.  Terdapat sebuah warung dan kami singgah untuk rehat.

Sambil menyantap tempe goreng, saya membatin: ini kok beda? Tidak ada menara pandang  di sisi kanan jalan. Saya sudah menonton beberapa video di YouTube yang memperlihatkan kondisi area parkir.

Teteh pengelola warung memungkasi rasa penasaran, “Tempat parkir baru dipindah ke sini. Tadinya di tempat mobil-mobil itu. Menara untuk lihat pemandangan gak dibangun lagi di sini.”

Lepas dari lokasi parkir itu, lansekap alam semakin menawan. Perbukitan hijau sepanjang mata memandang. Cakep banget

Pada saat bersamaan, betis dan lutut terus bekerja keras. Nafas memburu, peluh mengucur. Kontur tetap naik dan turun. Bebatuan semakin jarang di jalan. Terbayang licin dan berlumpurnya jika habis hujan.

Tak jauh dari perkiraan: kami hanya sesekali bertemu manusia lain di sepanjang perjalanan. Aman di masa pandemi, jauh dari kerumunan.

***

Setelah hampir dua jam berjalan, curug terhampar di hadapan. Sekitar 5-7 orang sudah nyemplung di kolamnya. Havel dan Kafka segera melepas kaos.

Tinggi curug hanya sekitar empat meter. Luas kolam tak lebih dari 40 meter persegi. Kedalamannya konon empat meter.

Saya menatap dua anak yang girang itu, sesekali mengambil foto dan video dengan telepon genggam. Ada dua muda-mudi, kayaknya sepasang kekasih, bermain air di sudut lain dari curug.

Sambil menghirup oksigen yang berlimpah, saya kian yakin: semua orang berhak bahagia dengan cara masing-masing, berhak mengejar “Shangri-La” versi diri sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *