ae priyono dan masa muda

Kakak kelas di kampus, Zaenal Bhakti, “memprovokasi” untuk menyimak kumpulan tulisan Dr Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Ini cerita pada awal 90-an, masa yang juga menjadi latar waktu Dilan dan segala romantikanya.

Sudah lupa apa isi provokasi Bang Zaenal. Yang pasti, saya lalu mengejar angkot menuju Pasar Palasari. Ini bursa buku di Bandung dengan dua nilai plus: diskon 20-30% + sampul plastik. Buku hampir 400 halaman tersebut pun menghuni kamar kos di Sekeloa.

Editornya, AE Priyono, menulis prolog panjang, menemani kata pengantar dari M Dawam Rahardjo. Prolog itu membantu mahasiswa bodoh kayak saya untuk lebih mudah masuk ke “rumah pemikiran” sang sejarawan yang wafat pada 2005 tersebut.

Kami saat itu menyaksikan sosok Orde Baru yang gigantis dan represif. Uraian-uraian Pak Kunto direguk dengan bersemangat meski tetap agak kerepotan dalam mencerna karena bekal akademis yang ala kadarnya. Berharap memperoleh amunisi tambahan untuk melawan rezim.

Dari mengamati linimasa di media sosial, agaknya Paradigma Islam   memang menjadi bacaan favorit (aktivis) mahasiswa segenerasi. Nezar Patria, misalnya, menulis di akun facebook-nya, “Sebagai mahasiswa filsafat di tahun pertama, saya terkesima dengan buku itu, dan seketika jatuh cinta dengan pemikiran Kuntowijoyo, salah satu sejarahwan yang jujur dan berpikiran tajam. Lewat buku itu Kunto mencoba membuat sketsa pemikiran sosial dari perspektif Islam, dan mencari landasan untuk sebuah metode yang disebutnya sebagai ilmu sosial profetik.”

Petikan prolog dari Mas AE menegaskan hal itu: Kunto mengajukan kritik tehadap metode pemikiran Islam yang masih sangat normatif. “….selama konsep-konsep normatif tidak dijabarkan dalam formulasi-formulasi teoritis, maka Islam hanya akan bertahan di dunia subjektif dan tidak akan dapat ikut campur dalam realitas objektif,” tulis Mas AE.

Pak Kunto terlihat menjanjikan karena, saya ingat ketika itu, dimasukkan dalam rumpun “Sosialisme-Demokrasi Islam” oleh Fachry Ali dan Bachtiar Effendy dalam karya fenomenal mereka, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Dalam rumpun itu, juga hadir Dawam Rahardjo dan Adi Sasono, dua tokoh LSM yang moncer.

Rumpun inilah yang paling gamblang mengkritisi Orde Baru dibandingkan sejumlah rumpun lain seperti Neo-Modernisme, Modernisme, atau Internasionalisme, paling kentara keberpihakannya pada kaum mustadhafin.

Minggu siang kemarin kabar duka tiba: Mas AE berpulang. Saya tak pernah berinteraksi langsung dengannya. Dari linimasa yang riuh setelah kabar itu beredar, ada semacam konklusi: Almarhum adalah orang baik dengan kontribusi besar untuk jagat pemikiran dan aktivisme di Indonesia. Ia pergi saat Tanah Air, yang tak pernah lepas dari keprihatinannya, tengah dirundung wabah Corona.

Setelah mendengar kabar duka itu, saya jadi ngeh bahwa kayaknya ada buku lain yang disunting pria  kelahiran Temanggung itu di perpustakaan pribadi. Ngubek-ngubek rak dan tumpukan buku, voila… ada Krisis Ilmu-ilmu Sosial dalam Pembangunan Dunia Ketiga yang disunting bersama rekannya di Universitas Islam Indonesia (UII), Asmar Oemar Saleh.

Antologi ini menghimpun esai Soedjatmoko, Toety Herati, Arief Budiman, Hidajat Nataatmadja, Ignas Kleden, dan sejumlah nama lain. Tahun penerbitan: 1984 — jauh sebelum Paradigma Islam meluncur ke publik. Ketika itu Anang Eko Priyono baru 26 tahun.

Selamat jalan, Mas AE. Semoga lempang jalan menuju Keabadian. Titip salam takzim untuk Pak Kunto. Terima kasih atas “andil” yang mewarnai masa muda saya di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *