akhir pekan tanpa kompas

Sudah sebulan lebih tak menerima Kompas edisi akhir pekan. Tak ada kabar dari bapak yang biasa mengantar dengan sepeda motor itu.

O iya, kami hanya berlangganan untuk Sabtu dan Minggu. Menunggu puisi, cerpen, cerita persona, laporan perjalanan dan pertunjukan, juga kolom Samuel Mulia dan Bre Redana.

Bre pernah menulis kolom di Kompas Minggu yang menuai kontroversi. Judulnya “Inikah Senjakala Kami?” Ia membuka dengan kalimat ini: “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat.

Baris-baris selanjutnya adalah kritik atas anjloknya kualitas jurnalisme di tangan media daring. “Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik,” tulis Bre.

Soal penurunan mutu ini yang memantik polemik. Bre dianggap terlalu menggeneralisir. Siapa bilang koran juga tak menghasilkan sampah? Apakah otomatis media daring tak menghasilkan karya level juara? Dan seterusnya.

Nah, perihal meredupnya media cetak, itu mustahil dibantah. Tiras terus merosot, pemasang iklan kian menjauh. Ya, tak banyak lagi memang yang membaca media cetak. Seorang teman, Tommy Hutomo, menuliskan kisahnya sebagai dosen di halaman facebook saya.

“Baik, sebelum saya mulai. siapa yang satu minggu terakhir membaca koran atau majalah?” tanya Tommy ke mahasiswanya.

Hening.

“Dalam satu bulan terakhir?”

Hening.

“Oke, dalam satu tahun terakhir membaca koran atau majalah?”

Dua dari 30 mahasiswa di kelas pengantar jurnalistik mengangkat tangan.

Saya adalah bagian dari kaum minoritas itu. Edisi Senin sampai Jumat, baca di kantor. Bukan hanya Kompas, tapi juga Koran TEMPO, Republika, dan Jawa Pos. Nah, untuk edisi tertentu yang layak dikoleksi, saya membeli secara eceran di jalan. Misalnya edisi dalam foto di atas.

Ahad kemarin membongkar timbunan kertas di rumah, mencari bon tagihan koran. Ada nomor telepon di sana untuk mencari tahu. Tapi nihil. Kertas-kertas itu kadung dibuang.

Menyesal saya tak pernah menanyakan nama dan nomor teleponnya. Memang jarang bertemu. Ia biasa melemparkan koran ke teras depan dan berlalu. Sebulan sekali menyampaikan tagihan. Bahkan terkadang ia menagih dua bulan sekali.

Semoga Pak Pengantar sehat-sehat belaka. Semoga pula kualitas jurnalisme kita tak makin bikin hati merana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *