sibuk bekerja, lupa bercinta

Dengan seorang teman lama, saya sepakat bertemu di sebuah kedai kopi di ujung Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Matahari telah tergelincir ke Barat.

Enak juga memandang dunia dari jendela ini. Sejuk, tidak berdebu. Selembar kaca bening memisahkan dengan kenyataan di luar sana. Kendaraan lalu-lalang, para pedagang kaki lima mulai memasang tenda dan tiang.

Berjarak dua meja di sebelah, pasangan muda bercengkerama. Saya menunggu kopi Vietnam Drip, mie rebus, dan air mineral. Sang teman terlambat, saya jadi punya waktu untuk melamun.

Beberapa jam sebelumnya, saya meninggalkan kompleks Kompas-Gramedia di Palmerah dan menuju kantor dengan menggunakan commuter line. Turun di Stasiun Tanah Abang, terhampar Jakarta yang berkeringat, tertatih-tatih, runyam.

Para penumpang, tua dan muda, berdesak-desakan di tangga untuk keluar stasiun. Getir hati membayangkan jika saudara-saudara kita yang difabel ada di sana.


Di koridor panjang menuju pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara itu, sepotong kaos tergantung menunggu pembeli. Banderol tercantum: Rp 50 ribu. Di bagian dada tertulis “Pejuang Rupiah: Sibuk Bekerja, Lupa Bercinta.”

Di Tanah Abang, tak ada kaca yang memisahkan. Saya terpilin dalam kenyataan itu: para pedagang yang asyik membujuk dan para ibu yang menyeret tas plastik besar berisi hasil belanjaan. Para pejuang dan perjuangan yang menggetarkan!

Selamat berakhir pekan, Tuan dan Puan. Jangan terlalu sibuk bekerja, sempatkan juga untuk bercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *