ibunda

“Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda, maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka aku,” kata sang ibunda.

“Ampun, Bunda,” kata Minke. Ia menjatuhkan diri, memeluk kaki orang yang melahirkannya itu.

Minke melanjutkan, “Jangan katakan seperti itu, Bunda.  Jangan hukum sahaya lebih berat dari kesalahan sahaya. Sahaya hanya mengetahui yang orang Jawa tidak mengetahui, karena pengetahuan itu milik bangsa Eropa, dan karena memang sahaya belajar dan mereka.”

Demikian petikan percakapan menggetarkan (oh, jangan-jangan paling menggetarkan) di novel  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Meninggalkan tilas yang tak lekas pudar di ingatan, menaruh rasa hangat di dada usai membacanya.

Minke asyik dengan dunianya sendiri di tanah rantau. Tak tahu bahwa sang ayah dipromosikan menjadi bupati di B. Surat-surat itu dibawa ke Wonokromo, rumah Nyai Ontosoroh, tapi tak dibacanya.

Ia dijemput polisi di rumah sang nyai. Tanpa penjelasan apa pun,  dibawa dalam kereta kuda. Ternyata ia diangkut ke B, menuju kediaman resmi bupati.  Apa urusanku dibawa ke sini, batin Minke.

Beberapa saat kemudian segenap rasa penasaran musnah ketika sosok ayahanda Minke muncul di hadapan dengan cambuk di tangan.

Kalau ayahanda main cemeti, ibunda menggunakan tangan langsung. Istri (bakal) bupati itu menjewer telinga anaknya, lalu berlutut dan berbisik:

“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.”

Sebelumnya, perempuan itu pula yang “membela” Minke saat berseteru dengan kakak lelakinya. Sang kakak membaca catatan harian Minke tanpa izin. Sang adik pun murka. Di tengah adu mulut, ibu mereka datang.

“Kau belum lagi ambtenaar yang berhak menjual adikmu untuk sekadar dapat pujian. Kau sendiri belum tentu lebih baik dari adikmu,” ujar perempuan itu saat mendengar niat kakak Minke menyerahkan catatan harian tersebut ke ayahanda.

Tembok feodalisme tak menghalangi sang ibunda untuk bersikap adil. Juga kepada anak HBS yang menyusahkan hatinya itu. Iya, Minke bikin masalah dengan bergaul dengan nyai tapi bukan juga tersedia alasan bagi sang kakak untuk mencari muka.

Setelah debat panjang yang “dimenangkan” sang ibunda, pipi dan rambut Minke dibelai.

“Pada waktu aku hamilkan kau, aku bermimpi seorang tak kukenal telah datang memberikan sebilah belati. Sejak itu aku tahu, Gus, anak dalam kandungan itu bersenjata tajam. Berhati-hati menggunakannya. Jangan sampai terkena dirimu sendiri …”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *