pagi di taman

Saya kembali ke Pagi di Taman hari ini. Karya keren konon tak gampang dienyahkan dari ingatan. Memanggil-manggil untuk dijenguk ulang.

Cerita pendek Avianti Armand itu saya baca tiga bulan lalu, saat membawa pulang Kereta Tidur. Menjadi kisah penutup di antologi tersebut.

“Cengkeraman” cerita itu sebenarnya baru mulai terasa di paragraf ketiga:

“Bertahun-tahun yang lalu, sulit membayangkan hari ini. Bahkan sekarang pun, rasanya masih aneh berusia tujuh puluh. Banyak hal telah berubah, banyak hal tetap. Mereka  tetap bertetangga dan masih berbagi kopi di malam hari. Tiga hari sekali keduanya akan berbelanja ke pasar, membeli roti, susu, daging, dan berbagai keperluan remeh harian. Tiap Rabu, mereka berjalan ke gedung pertemuan di sebelah kantor walikota, bermain bridge bersama orang-orang tua lain. Sesekali akan datang sekelompok anak muda yang memainkan musik untuk mereka. Anak-anak muda yang rajin ke gereja di hari Minggu dan penuh semangat menjawab, “Baik sekali!” jika kita bertanya, “Apa kabar?”

Perlahan suasana dibangun. Sam dan Dom rutin duduk-duduk di taman. Dua pria 70 tahun itu bicara ngalor-ngidul, juga tentang Mathilda Mendez, perempuan baik hati yang membersihkan rumah mereka. Mathilda rajin memasak untuk mereka meski tak diminta. Masalahnya, ia gagal sebagai koki. Masakannya tidak pernah nikmat.

Tapi tak ada yang mengalahkan supnya. Perasaan mereka kontan hambar jika Mathilda menyuguhkan sup. Dom teringat kencing kuda, sementara Sam melabelinya sebagai ‘racun dari neraka’.

Sam dan Dom telah ditinggal pasangan masing-masing. Istri Sam, Doris, berpulang lebih dulu karena penyakit paru-paru.

Perihal Dom, “Cecil meninggalkannya dan bayi enam bulan mereka untuk pergi bersama seorang gitaris rock, entah ke mana…Dom tak pernah berhenti mencintai Cecil. Ia cuma berhenti mendengarkan musik.”

Bayi enam bulan itu, Monique, sudah dewasa. Namun, agaknya Monique lebih mencintai Kiki, anjingnya, ketimbang Dom.

“Natal tahun lalu, ia tidak datang karena Kiki terserang gatal-gatal. Dokter hewan bilang, anjing peking itu alergi terhadap udara dingin. Thanks Giving tahun ini juga terpaksa dilewatkan Dom hanya bersama Sam, karena kuku Kiki patah ketika ia mengejar rubah di halaman belakang. Lain kali, Monique bilang, anjingnya itu kena selesma, hingga ia tak bisa menemani Dom pergi ke dokter memeriksakan rematiknya yang kumat berkala.”

Teman Sam dan Dom tinggal tiga. Berdua, mereka menjalani masa tua dan melawan kesepian dengan canda. Sesekali terantuk melankolia masa lalu atau sup buatan Mathilda.

Usai membaca Pagi di Taman, saya tiba pada kesimpulan: Avianti sukses mengamalkan realisme. Wajar, mengharukan, tanpa ambisi didaktik yang melanda sejumlah pengarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *