when i’m sixty four

“Maaf, saya naikkan kaki, Mas.”

Bapak di samping berujar sambil tersenyum. Kakinya ditumpangkan ke kursi plastik. Beberapa meter di depan, sepeda motor saya tengah dicuci.

“Maklum, sudah tua. Gampang pegal. Kemarin nyetir ke Citeureup, pulangnya langsung tidur seharian,” lanjut dia.

Dia adalah ayah pemilik tempat cucian mobil-motor di belakang perumahan kami. Pensiunan PNS. Umurnya 64 tahun.

Seketika saya ingat lagu The Beatles, When I’m Sixty Four.

Rambutnya nyaris memutih semua. Tapi, badannya cukup ramping. Tak ada luberan lemak tak berguna. Dia mengenakan polo-shirt dan jeans hitam pudar.

Tidak tinggal di Cinere, dia bermukim di Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi sering bolak-balik ke Cinere. Bawaannya mau kontrol bisnis anak melulu, kata dia sambil terkekeh.

“Saya lagi bangun kandang ayam di Bogor,” jawabnya ketika saya tanya keperluan ke Citeureup. Kandang ayam kampung. Untuk pertama kali, dia akan mendatangkan 2.400 ekor. Skala kecil untuk bisnis ini, kata dia.

“Menarik, Mas. Mau Ikutan? Hehe…”

Ia bilang tak mau berleha-leha, nanti gampang pikun. Saya menimpali dengan setengah sok tahu, “Setuju, Pak. Kalau dibawa diam, gampang sakit.”

Setelah menanyakan usia saya, dia bilang: harus bersiap dari sekarang. Segalanya akan berubah di usia senja.

Ngobrol ngalor-ngidul, dia juga cerita sedikit soal dua cucunya yang tinggal di London. “Sudah setahun nggak ketemu. Kangen juga. Paling ngobrol pakai video conference di WA,” kata dia.

Ibu saya, semalam, bilang ke Havel, sulung saya, untuk sering-sering ke rumahnya. “Kalau pulang sekolah, mampir aja. Kan satu jalur,” ujar dia.

Deg! Saya merasa bersalah karena jarang mengajak Havel dan Kafka ke rumah beliau. Padahal jarak terbentang hanya 12 kilometer. Pasti rasa kangen ke cucu kerap menerjangnya.

Lagu Beatles yang dinyanyikan Paul McCartney itu terus terngiang di kepala:

Will you still need me, will you still feed me,  when I’m sixty-four?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *