keluyuran di depok

Depok itu dekat sekaligus asing buat saya.

Kami sekeluarga menetap di Cinere sejak 2004. Nyaris tiap hari bolak-balik Jakarta untuk memulung rupiah. Meski Cinere merupakan bagian dari Depok, miskin belaka pengetahuan saya soal wilayah ini.

Beberapa pekan lalu perubahan terjadi. Kafka mengikuti perkemahan dua hari satu malam yang digelar sekolahnya di Kukusan. Malam harinya, saya meluncur dari kantor menuju lokasi. “Ayah, nanti bawakan susu ya, sama cemilan,” kata Kafka pada pagi harinya saat kami berpisah di halaman sekolah.

Sengaja tak mengaktifkan perangkat navigasi, saya menempuh jalanan pelosok Depok dengan hanya mengandalkan petunjuk Djibril, rekan kerja yang tinggal di Tanah Baru.

Meski malam hari, saya tahu jalanan dikepung pepohonan. Mestinya kalau siang hari tak terlalu panas. Namun, rumah sesak di kiri dan kanan. Ya, penyangga Jakarta yang padat, yang pernah dipimpin wali kota dengan anjuran untuk warga agar makan memakai tangan kanan.

Jalanan dicor lumayan rapi tapi ukurannya, entah kenapa, dibikin pas dua mobil. Kalau ada sepeda motor ditaruh sembarangan di tepi, arus lalu lintas kontan tersendat.

Dengan salah arah dan bertanya beberapa kali, sampailah saya di lokasi perkemahan — namanya Rumah Kabeda.

Dalam perjalanan pulang, saya melihat rumah keramik milik seniman F Widayanto. Lho, ternyata di sini. Saya sudah lama mendengar tentang tempat rekreasi alternatif ini. Tapi baru pada malam itu memergokinya — itu pun tak masuk, hanya melintasi.

Sejak momen tersebut, saya beberapa kali menyusuri rute Cinere – Tanah Baru – Kukusan – Beji dengan sepeda motor saat libur kerja. Iseng saja, tanpa tujuan pasti. Menggunakan mobil hanya bikin keluyuran tak leluasa. Dengan sepeda motor, saya gampang mlipir untuk membeli pisang barangan, misalnya.

Pun akhirnya tiba di pintu belakang Universitas Indonesia (UI). Saya juga tak masuk, Minggu pagi itu, hanya tertegun di depannya. Banyak orang menyelinap dengan pakaian olah raga. Motor-motor mereka diparkir di luar. Para penjual makanan bertebaran di tepi jalan.

“Itu pintu Kutek, Kukusan Teknik. Paling dekat dari situ emang Fakultas Teknik, Mas. Kosan gua dekat situ dulu,” kata Oscar, lulusan UI yang kini sekantor, beberapa hari kemudian.

Sekitar 400 meter dari pintu Kutek, sebuah apartemen tengah dibangun. Menjulang sendiri, dikelilingi rumah-rumah warga. Ah, gampang diduga target pembeli atau penyewa. Kelak saya penasaran dengan harganya. Rp 350 jutaan ternyata.

Perihal pintu belakang UI sejatinya sudah saya dengar sejak lama dari tetangga yang doyan bersepeda. Ternyata hanya sekitar 15 menit dari rumah kami dengan sepeda motor.

Tanah Baru, Kukusan, dan Beji terletak di sebelah barat Margonda Raya, jalan utama di Depok. Belahan timur (Cimanggis, Cilodong, Kelapa Dua, dkk) niscaya lebih asing lagi buat saya.

Di Beji, ada satu tempat yang belum saya temui: markas Komunitas Bambu, penerbit buku-buku sejarah yang dikomandani JJ Rizal. Sudah diniatkan namun, dari info di situs mereka, hanya buka Senin sampai Jumat. Sementara, jadwal blusukan saya jatuh di akhir pekan.

Menjadi flaneur¬† tak mesti jauh dari rumah. Depok bisa menjadi destinasi. Biar “dekat tapi asing” tinggal memori. Biar tak cuma keluyuran di media sosial yang kerap gaduh teu puguh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>