bulungan dan kenangan

Pesan itu muncul di layar telepon genggam: “Suy, gw lagi otw ke Blok M Plaza. ada kak Riki, Kotel, mbak Luky dll. siapa tahu elu free.”

Pengirimnya, Isti, teman seangkatan di SMA. Kami pernah di satu organisasi, organisasi yang katanya himpunan orang gila dan suka bikin drama (dalam arti harfiah). “Kak Riki, Kotel, mbak Luky dll” adalah para senior di organisasi tersebut. Kok “Suy”? Ada cara bicara unik di siswa sekolah kami: membalik aksara.

Saya masih di kantor tapi sudah bersiap pulang. Bertahun-tahun tak pernah berjumpa meski sebagian besar mereka juga tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Kesibukan dan tetek-bengek lain menghalangi.

“Oke, gua ke sana,” jawab saya. Membuncah rasa senang di dada. Ya, sebagian masa remaja dihabiskan bersama mereka. Di Bulungan, Ciloto, Ciapus, dan tempat-tempat lain. Kapan kita sanggup membebaskan diri dari kenangan?!

Di seberang Blok M Plaza, hanya sepelemparan batu dari sekolah kami dulu, pertemuan digelar. Melulu canda dan tawa yang mengalir tak henti. Kisah-kisah masa lalu terungkap kembali. Tak ada gaduh politik mencederai meski, pada saat bersamaan, media sosial berisik dengan kebencian atau dukungan buat Ahok.

Belajar di sekolah negeri, para siswa berasal dari aneka latar sosial, etnis, dan agama. Saya lirik, di sekeliling meja, ada Beresman dari Tapanuli, ada Ricky asal Minahasa, hadir Luky yang Jawa, Sonny Kotel dan Isti yang urang awak, pun saya yang oplosan Banyumas-Cirebon.

Itu masa ketika media sosial belum hadir. Bahkan, telepon genggam masih menjadi masa depan. Komunikasi tatap muka menjadi yang terpenting. Saya berikhtiar mengingat bagaimana cara membatalkan janji bertemu di menit-menit terakhir — hal gampang pada hari ini.

Kami masih remaja. Belum tercelup dalam silang sengkarut dunia orang dewasa. Orde Baru mencengkeram tapi pengaruh dan praktik buruknya samar-samar di mata, sayup-sayup di telinga.

Seingat saya, identitas bukan masalah besar saat itu. Tak ada pihak yang dengan tegas mengerek bendera keyakinan dan menggerebek pihak lain yang tak disetujui. Hidup bergulir rileks.

Pada masa itu, sebagai contoh, Warkop DKI dengan santai menjadikan sosok malaikat sebagai objek humor. Saya bergidik ketika membayangkan hal tersebut dilakoni sekarang. Mungkin mereka terjerat kasus penistaan agama.

Sangat mungkin ada wacana mengkafir-kafirkan orang lain. Cuma belum muncul media sosial yang menjadi  pengganda pesan dengan cepat, mudah, dan murah.

Namun, kemarin, media sosial dengan lekas menghubungkan saya dan mereka. Beberapa jam setelahnya, sebuah WhatsApp Group terbentuk. Penghuninya para alumni organisasi kami.

Tidak (atau belum) ada ujaran kebencian atau hoax yang bikin mual. Kami mengisinya dengan sapa dan canda.  Sekali lagi, membuncah rasa senang di dada.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>