cinta, masa muda, bandung

Cinta adalah seluruh keherananku pada manusia. Demikian penyair Afrizal Malna pernah menulis.

Beberapa hari lalu, saya seperti menemukan (kembali) kebenaran kalimat tersebut di sebuah mal. Usai buka puasa bersama teman-teman sekampus, saya berbincang dengan seorang teman pria, A.

Saya menyinggung soal S, gadis yang ditaksirnya dulu saat kami kuliah di Bandung. Saya, A, dan S belajar di kampus yang sama. Kini S tinggal di sebuah kota, ribuan kilometer dari Jakarta.

“Malam itu sebenarnya penentuan. Gua sudah bertekad untuk menyatakan ke S,” kata A.

“Kalian sudah dekat?”

“Sudah jalan bareng sekitar enam bulan. Sering nonton atau makan di mana gitu.”

Saat itu, 1990-an, Bandung belum terlalu ramai. Belum hiruk-pikuk dengan mal, kafe, atau factory outlet. Jika malam tiba dan kita mau keluar rumah, jaket atau sweater jadi perlengkapan wajib atau dirajam dingin. Kini tak lagi begitu. Bandung kian panas meski masih sejuk.

Saya membayangkan mereka nonton di Bandung Indah Plaza, mencari kaset di Aquarius Dago, atau menenggak yoghurt di Cisangkuy. Ah, masa muda yang lampau…

“Elu jadi nembak S?”

“Gak jadi. Gara-garanya ketemu teman kita, I,”

I menanyakan mau ke mana. A pun seketika salah tingkah.  S dan I tinggal satu kawasan, sebuah kawasan dengan banyak rumah disewakan untuk mahasiswa. Tak heran kerap bertemu teman jika berjalan kaki di sekitar kawasan tersebut.

Kawan kami ini, I, terkenal eksentrik. Baik hati tapi suka kepo. Dengan logat Jawa-nya yang kental, dia sering memancing tawa — sesekali memicu jengkel.

Malang tak dapat ditolak, I ikut “mendampingi” A ke rumah kos S. Sang tuan rumah tentu heran melihat I datang bersama A — tumben. Bertiga mereka ngobrol di rumah tamu.  Menit demi menit berlalu, A gelisah karena I tak pamit duluan.

Suasana kaku. Percakapan tergelar hambar. Akhirnya A mohon diri dengan kesal. I tetap menguntit, ikut pulang. Dan, “proklamasi hati” pun batal diutarakan.

Hal sangat mengherankan, A lalu memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya ke S sampai mereka lulus dan pergi dari Bandung. Tidak pernah, bahkan sampai detik ini.

“Lho kenapa gak jadi? Kan masih ada kesempatan lain,” kejar saya.

“Gak jadi aja. Gak ada penjelasan juga,” kata A.

A bilang, setelah itu dia pelan-pelan menjauh. Padahal tidak ada persoalan di antara mereka. Konon S pun bertanya-tanya: ada apa. Sekarang A dan S masing-masing sudah berkeluarga, beranak-pinak.

“Terus, elu gak penasaran?”

“Penasaran pastinya. Gua sering berandai-andai, jika saat itu nembak, bakal diterima atau ditolak ya?”

“Coba tanya aja sekarang.”

“Hahaha…”

Afrizal Malna benar belaka.

 

Catatan: Beberapa jam setelah tulisan ini tayang, A mengirim pesan via WA. Ia mengoreksi dan menambahkan sedikit detail. Demi “kebenaran sejarah”, revisi tak terelakkan…hehe.. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>