pelajaran dari seorang teman

Tiba-tiba seorang teman saya jadi pakar manajemen. “Kalau mau tahu apakah seorang pemimpin itu benar atau enggak, tengok cara dia memanggil bawahan yang secara hierarki gak jauh,” ujar dia.

“Maksudnya?” kata saya sambil mencomot roti Prancis. Kami sedang duduk di sebuah kafe, melipir sejenak dari kepenatan kerja.

“Kalau menyebut dengan nama panggilan, dia mungkin bos yang asyik tapi bisa juga brengsek. Tapi kalau selalu menyapa dengan nama sebenarnya, haqqul yakin, dia patut kita ragukan.”

Dia memberi contoh. Nama lengkap seorang bawahan adalah Abracadabra. Panggilannya Dabra. Kalau sehari-hari tak pernah menyebut Dabra, tapi memanggil Abracadabra, artinya dia tak mengenal secara baik sang pemilik nama. Ada jarak. Tak peduli penyebabnya, itu masalah.

“Gimana mau bikin tim yang solid jika tak dekat dengan anak buah?” ujar teman saya sambil mencermati mbak-mbak yang melintas di luar kafe.

Saya mulai serius menyimak. Langit Jakarta gelap. Di luar sana (bisa dipastikan) macet masih mengepung.

“Gak perlu tahu mendalam soal-soal personal. Tapi minimal dia tahu cara menyapa si anak buah,” kata teman itu.

“Coy, bos mah super sibuk. Mana sempat memperhatikan hal-hal kayak gitu?!”

“Nah, itu keliru. Sesibuk-sibuknya seorang leader, jangan lupakan hal-hal kecil. Sebuah tim bakal bekerja prima jika orang-orangnya merasa di-wongke, bukan sekadar pemilik nomor induk karyawan atau sekrup sebuah mesin.”

Dia melanjutkan, “Kalau nama panggilan saja gak tahu, gua yakin doi juga gak pernah nyamperin meja anak buah untuk, yaaahh, say hello dan menanyakan kabar. Kalau ngobrol, soal kerjaan mulu. Mesin 100%.”

Saya teringat William Soeryadjaya, pendiri Astra. Si Oom ini tersohor karena sikapnya yang tak menjaga jarak, hangat dengan karyawannya. Juga peduli.

Ada sepenggal cerita ketika William hendak beranjak makan siang. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Saat akan menuju pintu, William mendengar mesin tik berbunyi. Ia pun berkata, “Ted, masih ada yang ngetik tuh. Elu samperin sana, suruh berhenti, ini waktu makan.”

Teddy Tohir, salah seorang manajernya, lalu mencari sumber bunyi. Meminta sang karyawan untuk stop, beristirahat dan makan siang.

Ingatan soal William buyar saat teman saya bilang, “Yah, bisa jadi si bos begitu karena sistem dan beban kerja. Dia dikejar target, target, dan target. Dia juga korban.”

Terkadang teman saya yang berkantor di Kuningan itu sok tahu. Tapi dalam urusan ini, saya kira, dia banyak benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>