jalan alternatif

“Ini bisa ke Bogor, Kang?” kata saya.

“Iya, terus saja,” jawab lelaki berjaket tersebut. Ia terlihat mengatur lalu lintas di pertigaan.

Di kawasan Lido itu, saya memutar kemudi ke kiri, menyingkir dari Jalan Raya Bogor-Sukabumi.  Kami menuju Jakarta. Di dashboard, terlihat:  22.11. Raya, Havel, dan Kafka terlelap, kelelahan usai  perjalanan ke Curug Sawer. Saya baru memikirkan serius jalan alternatif ini selepas Cicurug.

Sebelumnya, sambil menyantap soto mie, saya menelepon kamerad Agus Darmawan: berkonsultasi soal rute pulang. Perjalanan Jakarta-Sukabumi selama 6,5 jam bikin harus berhitung cermat. Apalagi kebugaran telah menyusut, mungkin tinggal 60 persen.

Agus menyarankan lewat Cihideung. “Di Lido, ambil ke kiri. Nanti tembusnya di Batutulis, Bogor,” ujar warga Sukabumi yang Senin sampai Jumat bekerja di Jakarta itu.

“Jalannya bagus? Naik turun?”

“Lumayan bagus tapi memang naik turun.”

Lalu, jalan alternatif ini ditempuh. Nyaris sendiri dari arah Sukabumi, justru dari arah Bogor yang deras mengalir. Di beberapa tikungan, saya  memilih stop. Jalanan hanya lebih sedikit untuk dua mobil, di kiri jalan ada selokan. Jika meleset sedikit, lalu mobil masuk selokan, dan kelaaarrr urusan…

Sebenarnya sempat ragu. Ini perjalanan  ketika gelap menaungi. Tapi, tiga hal akhirnya membuat saya memilih jalur ini. Pertama, bayangan kemacetan selepas Lido ke Ciawi.  Tadi siang mobil-mobil “parkir berjamaah.” Mengular dan mengerikan.

Kedua, ah, saya yakin dengan Si Hitam ini. Mesin oke, keempat ban baru diganti sebulan lalu. Ground clearance-nya bikin hati tenang saat menempuh kondisi jalan apa pun.

Ketiga, kenapa mesti jeri dengan petualangan? Ini memang semacam terra incognita. Tapi, “Ramai kok, kiri-kanan rumah penduduk,” kata Agus, tiga jam sebelumnya. Jangan bayangkan Christopher Columbus saat menjajal benua Amerika.

Dalam satu jam, kami tiba di Jalan Batutulis. Bogor masih sibuk jelang tengah malam itu. Ketiga penumpang tetap terbuai mimpi.

Ya, saya baru memikirkan serius soal jalur Cihideung selepas Cicurug. Cuma tersedia beberapa menit untuk memutuskan: jalur lazim atau alternatif.  Pilih kepastian tapi menjengkelkan atau ketidakpastian namun ada kans tersenyum senang pada akhirnya.

Dan, kiranya situasi seperti ini bakal dihadapi lagi kapan-kapan, bukan lagi ketika menghadapi perjalanan Sukabumi-Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>