kheng heong dan teman saya

Kheng Heong. Ini nama restoran chinese food di Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan tempat mahal. Dindingnya kayu, tak penuh hingga ke atap di bagian depan.

Tak ada pendingin ruangan, hanya kipas angin bertengger di langit-langit. Sejumlah meja kayu sederhana ditemani kursi-kursi plastik berwarna merah. Pemiliknya, ah saya lupa nama dia – Google juga tak menolong. Kita sebut saja Tuan. Dia membangun Kheng Heong,  30 tahun silam.

Saya belum pernah mampir. Mengetahuinya dari “Taste with Jason” di kanal Asian Food Channel Kamis lalu. Ada yang menggugah dalam kisah rumah makan tersebut.

Kheng Heong digusur, untuk kali kedua. Tuan memutuskan pensiun. Ingin istirahat. Kedua anaknya tak berminat meneruskan, memilih jalan hidup sendiri. Apalagi dokter menganjurkan Tuan agar menjauhi dapur. “Paru-paru saya bermasalah karena terlalu sering menghirup asap masakan,” kata Tuan.

Tuan memang bertugas di dapur sebagai kepala koki. Istrinya di lini depan, mencatat dan menyajikan pesanan.

Saat tutup, Tuan menerima banyak protes dari pelanggan. Mereka kecewa tak bisa lagi menikmati hidangan di Kheng Heong.

Hati manusia bukan terbikin dari batu. Setelah dua tahun, Tuan akhirnya membuka kembali Kheng Heong. Ia mencari lokasi baru. “Setelah membuka, saya menelepon para pelanggan untuk memberi tahu,” ujar pria 60 tahun itu.

Ada 400 nomor telepon pelanggan yang dicatat Tuan. Tersimpan di sebuah buku tulis lusuh.

Ini memang bukan sekadar bisnis. Ini soal passion. Digambarkan, Tuan dan banyak pelanggan begitu akrab. Cair. Tak ubahnya kawan lama. Bukan dalam relasi penjual-pembeli pada galibnya.

Tuan menjalani passion-nya. Menurut para motivator, itu adalah hidup yang ideal. Menjalani hobi sekaligus menangguk rezeki.

Benar juga. Tapi apakah sekadar passion memadai? Saya teringat seorang teman. Dia mengeluhkan kantornya, sebuah perusahaan media. Teman ini punya passion kuat dalam menulis. Kerja nyaris tak kenal waktu.  “Lha, gua senang kok,” katanya beberapa bulan silam ketika saya mengingatkan untuk tak terlalu memacu diri.

Situasi berubah. Beberapa hari lalu, kami bertemu untuk ngopi. “Kantor gua sudah beda,” kata dia seraya menaburkan gula di espresso-nya. Kami tak pernah sekantor, hanya beberapa kali bertemu saat liputan. Pria ini lebih muda empat-lima tahun ketimbang saya.

Perusahaannya sedang menggeliat. Tapi, kata dia, para bos tak cukup sigap mengelola sumber daya manusia. Beban kerja tak terbagi secara proporsional. Teman saya diberi tanggung jawab sangat banyak, sementara ada kolega yang hanya dititipi setengah bebannya. “Padahal posisi kurang-lebih setara, padahal gaji dia lebih tinggi,” ujar teman saya.

Dia melanjutkan, “Gua senang menulis. Tapi, kalau ada ketidakbecusan manajemen, jengkel gua. Capek lama-lama…”

“Berarti kehadiran elu memang dianggap banget. Kalau gak dianggap, mustahil banyak pekerjaan, yang penting-penting lagi, diberikan,” kata saya, berupaya menghibur.

“Gak begitu, bro. Lha terus buat apa merekrut orang-orang dengan gaji tinggi?”

Saya terdiam. Mengalihkan pandangan ke para pengunjung mal di tepi Jalan Jenderal Sudirman itu.

Passion gua memang menulis. Tapi gak secara otomatis gua nyaman bekerja. Ada syarat-syarat lain supaya gua betah di kantor.”

“Misalnya?”

“Ya itu tadi, manajemen yang beres pikiran dan tindakannya.”

Tuan jauh lebih beruntung ketimbang teman saya. Dia lebih merdeka. Bahkan dokter pun hanya bisa menyarankan, tak kuasa menghentikan.

Musuh Tuan, sejauh ini, hanya penggusuran. Dia tak punya bos yang bisa keliru kalkulasi. Atau tak becus.

One thought on “kheng heong dan teman saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>