morgan freeman di salemba

Hanya ada tiga pengunjung di lantai 4 gedung tua tersebut. Agaknya mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Saya menyusuri katalog online di Perpustakaan Nasional di Salemba. Lalu, meraih kertas kecil itu.

Pada kertas itu, saya mesti mengisi sejumlah hal. Nama, nomor anggota, nomor panggil, nama pengarang, judul buku.

Tiba-tiba menerobos di ingatan salah satu adegan di film Seven — yang nongol lagi di HBO beberapa hari lalu. Dua detektif, diperankan Morgan Freeman dan Brad Pitt, sedang mengejar seorang pembunuh berantai.

Freeman, si pintar yang menjelang pensiun, beranggapan sang pembunuh doyan membaca buku dan terobsesi dengan seven deadly sins. Sebab di masing-masing TKP tertulis satu kata yang merujuk pada tujuh dosa pokok tersebut: pride, greed, lust, envy, gluttony, wrath, dan sloth.

Ketika perburuan nyaris menghasilkan putus asa, detektif sepuh itu ingat: FBI memantau para pengunjung perpustakaan. Secara ilegal. Caranya? Menjenguk catatan peminjaman buku-buku tertentu. Misalnya, terkait terorisme atau kelainan jiwa.

Benar saja. Seorang informan FBI (yang disebut Pitt dengan “lelaki berbau tengik”) menyerahkan data, yang menuntun ke seseorang — yang kemudian menembaki mereka. Sang tersangka diperankan dengan memukau oleh Kevin Spacey.

Untuk kasus di film itu, manfaat yang didapat. Tapi bukan mustahil, dalam kasus-kasus lain, pemantauan berujung mudarat. Di atas semuanya, siapa bilang privasi itu nyata? Nah, satu film lagi soal ini: Enemy of The State. Soal negara yang “memantau sampai ruang tidur” bahkan jadi tema utama cerita.

“Aaahh, itu semua kan cuma film, khayalan,” mungkin begitu kata sementara orang. Namun mari intip lagi kisah sejarah. Pulang dari Belanda, jika kita baca memoarnya, Bung Hatta diikuti seorang intel, ke mana saja dia pergi. Berderet cerita-cerita senada.

seven

Menjelang pulang, saya teringat omelan Freeman untuk para petugas keamanan perpustakaan, “Gentlemen, gentlemen…I’ll never understand. All these books, a world of knowledge at your fingertips. What do you do? You play poker all night.”

Tak ingat secara verbatim. Penelusuran di Internet membuat saya menemukan lagi kata-kata di Freeman atas.

Seven dirilis pada 1995 — sebelum Internet diakses banyak orang. Ketika penggunaan Internet meluas, negara punya tambahan area pantauan: e-mail, akun media sosial, juga blog seperti ini.

Saya tak bisa berlama-lama di Salemba. Membuka telepon genggam. “Aku sudah di Metropole,” tulis Raya via WA. Kami memang janjian bertemu di sana.

Barangkali pesan istri saya itu juga diendus pihak ketiga. Mungkin korporasi, mungkin negara — yang hari-hari ini mulai merengek minta “dibela.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>