rebah

Matahari menjelang rebah ke tanah. Kami masih di Brebes, dalam perjalanan menuju kampung halaman bapak saya di Purwokerto. Lebaran telah berlalu beberapa hari.

Pada etape ini, ibu saya bercerita tentang ayahnya yang ditahan usai G30S. Kakek seorang guru di Cirebon, sebuah kota di pantai utara Jawa. Berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta.

“Tapi, memang beberapa kali ke Jakarta, ke Senayan,” kata ibu.  Tak jelas juga sebenarnya.  Yang pasti itu terkait PKI atau organisasi mantelnya.

Saat itu, ibu baru 10 tahun. Dia anak tertua, adiknya empat orang.

Suatu malam, rumah mereka dikepung ratusan orang. “Mereka dari Ansor dan Marhaenis,” lanjut ibu. Saat kejadian dia tak tahu siapa mereka. Orang-orang dewasa yang kelak memberi tahu.

Anak-anak kakek semua perempuan. Mereka hanya bisa menangis melihat rumah dilempari batu.  Salah seorang adik ibu nyaris terinjak-injak massa.

Tiga tahun  kakek dibui di Cirebon.  Selama itu, anehnya, keluarga diminta untuk mengirim bahan makanan seperti beras. Juga kayu bakar untuk memasak.

“Enggak diberi makan?”

“Enggak. Keluarga harus menyediakan,” kata ibu.

Saya terus menyetir. Jalanan tak ramai. Sawah membentang di kiri dan kanan. Baru saja dipanen. Sisa cahaya memancar indah.

Dua anak saya, lahir jauh setelah peristiwa itu, penasaran. Mereka bertanya-tanya. Saya jelaskan sedikit soal PKI, Soeharto, dan pembantaian orang yang dituding anggota PKI atau simpatisannya. Meski mungkin cuma secuil yang menyusup ke pemahaman mereka.

Pertanyaan siapa dalang G30S, kata saya, tetap tak terpecahkan. Sejumlah teori muncul — ada yang meyakinkan, ada yang menggelikan.

senja

Saya sepakat dengan John Roosa yang menulis, “Gerakan 30 September dengan begitu telah menghamparkan sebuah misteri tak terpecahkan bagi para sejarawan. Bukti-bukti yang terbatas adanya kebanyakan tidak dapat diandalkan.”

Jumlah korban pembantaian pun bervariasi. Untuk amannya, para sejarawan membikin rentang: antara 500 ribu sampai 1 juta orang tewas dibantai. Terbanyak ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Hal yang saya tekankan ke mereka: Orde Baru melakukan persekusi, tanpa proses peradilan. Andaikan benar PKI yang mendalangi pembunuhan para jenderal itu, anggota dan simpatisannya tetap tak boleh dihabisi begitu saja, tanpa melalui proses hukum.

Kakek juga tak pernah diajukan ke meja hijau. Tiga tahun setelah dicokok, keberadaan dia tak diketahui. Tak lagi di Cirebon. Ada yang bilang dibawa ke Pulau Buru. Ada yang bilang dieksekusi.

Dulu, ketika masih di SD, saya pernah diajak bapak naik bus ke Bandung, ke markas Kodam Siliwangi. Mencari tahu soal kakek alias mertua bapak. Tak banyak pertanyaan saya saat itu.

“Tidak ada catatan. Tidak ada yang tahu di mana kakek,” ujar bapak.

“Kalau lihat Yus, dulu Mimi sering menangis. Wajah kakek mirip Yus,” kata ibu. Mimi adalah panggilan untuk nenek saya. Kakek baru 30-an tahun saat tragedi merundungnya. Riwayat ini baru sekarang tersampaikan lumayan detail.

Beberapa tahun nenek kemudian menikah lagi. Sebelumnya ia mengajukan “perceraian in absentia” pada pihak berwenang. Tapi anak-anaknya memisahkan diri, tinggal dengan ibu dari ayah mereka. Tak sreg dengan sosok bapak tiri.

Matahari telah sepenuhnya terbenam. Gelap menaungi. Kami terus melaju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>