berseteru, bersatu

“Meskipun mereka masih menghormati Sukarno sebagai lambang perjuangan nasional, mereka mengkritik taktiknya yang kaku…” tulis sejarawan Australia, John Ingleson, dalam Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934.

Sukarno dinilai terlalu frontal, kurang pintar menghitung posisi kaum pergerakan vis a vis rezim kolonial, dan hanya doyan menyihir massa dengan orasi tapi tak peduli edukasi.

“Mereka” yang dimaksud Ingleson terutama kelompok Mohammad Hatta. Namun keprihatinan juga disampaikan kalangan lebih tua seperti Tjipto Mangunkusumo. Dokter itu menulis surat ke Sukarno dan berikut petikannya, “Jika saudara jatuh, PNI akan tidak mempunyai pemimpin. Tidakkah saudara sebaiknya lebih moderat? Saya kira pidato-pidato telah cukup banyak…”

Sukarno memang “jatuh.” Dia ditahan dan diadili. Tapi pledoi berjudul Indonesia Menggugat membuat dia kian termasyhur. Lalu, sel pengap di penjara Sukamiskin, Bandung, mesti dirasakannya.

Laga kata-kata terus meletup. Dari Rotterdam, misalnya, Hatta mengecam pembubaran PNI pada 1930 menyusul penahanan Sukarno dan beberapa pentolan partai tersebut. Hatta menolak bergabung dengan Partindo yang didirikan setelah PNI dibubarkan.

Pulang dari Belanda, bersama Sjahrir dan sejumlah teman lain, ia coba membesarkan PNI Baru. Organisasi ini tak menggelar rapat massa, memilih rapat kader. “Demonstrasi dan agitasi sadja adalah mudah, karena tidak berkehendak akan kerdja dan usaha terus-menerus. Dengan agitasi mudah membangkitkan kegembiraan hati orang banjak, tetapi tidak membentuk pikiran orang,” tulis Hatta di Daulat Ra’jat, September 1932.

Sukarno punya argumen sendiri. Dalam Penyambung Lidah Rakyat, dia berujar ke Hatta, “Bung tidak akan memperoleh kekuatan melalui untaian kata-kata. Belanda tidak takut pada untaian kata-kata. Mereka hanya takut pada kekuatan nyata, yang digalang dari kerumunan massa.”

Belum stop. Sukarno melanjutkan, “Mereka tahu, upaya pencerdasan itu tidak akan mengancam kekuasaan mereka. Memang upaya pencerdasan itu membuat kita terhindar dari penjara, tetapi juga membuat kita terhindar dari kemerdekaan.”

Pada akhirnya, Sukarno dan Hatta sama-sama menjalani pengasingan. Sukarno menuju Ende, Hatta ke tempat yang lebih mengerikan: Boven Digul.

Periode pendudukan Jepang mempersatukan mereka. Perbedaan gaya dan visi dikubur dulu. Bahkan, menurut Sjahrir, Jepang memulangkan Sukarno ke Jawa atas permintaan kaum Nasionalis, yang terutama didukung Hatta.

Biograf Hatta, Mavis Rose, menulis, “Hatta dan kaum Nasionalis perlu memanfaatkan bakat Sukarno yang luar biasa untuk berkomunikasi dengan rakyat Indonesia.” Bakat yang pada masa lalu justru dikecam Hatta lantaran dianggap digunakan secara sembrono dan berlebihan.

Kemerdekaan dicapai. Kelak. Orde Baru memberi mereka berdua gelar “Pahlawan Proklamator.” Sejarawan JJ Rizal mengkritik gelar itu karena justru mengerdilkan Sukarno dan Hatta. Sebab, terkesankan mereka hanya berjasa saat Proklamasi 17 Agustus 1945.

Peringatan JJ Rizal penting diingat: Sukarno dan Hatta tidak ujug-ujug menjadi pemimpin. Mereka telah melewati jalan terjal, melelahkan, dan berbahaya sejak 1920-an. Kendati tak selalu bersatu, lebih kerap berseteru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>