memilih

Kami pulang dari bengkel. Ban yang aus itu diganti. Rantai dan rem dicek. Sepeda Kafka kembali meyakinkan. Meski telah agak tua, lungsuran dari abangnya, Havel.

“Habis ini ayah mau ke mana?” kata Kafka.

“Mau ke perpustakaan,” jawab saya.

Saya berencana menyambangi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI. Mengambil cuti, ingin menjenguk karya George Kanahele. Disertasi di Universitas Cornell itu nyaris selalu dirujuk artikel/buku yang membahas periode pendudukan Jepang di Indonesia. Rasa penasaran menggunung.

“Antar aku ke Kumon dong. Kan jarang ayah antar aku,” lanjut Kafka. Tugas tersebut galibnya diemban bude, sapaan Kafka untuk seorang perempuan bertubuh subur, dengan motor bebeknya.

Hari terlanjur siang. Andai mengantar dulu, bisa dipastikan pintu LIPI sudah terkunci. Namun, menatap wajah bocah 8 tahun itu, saya mesti menimbang.

***

Urusan sekolah anak-anak dan hal terkait, saya hampir tak pernah menyentuh. Istri saya, Raya, yang melakoninya. Maka, ketika Havel meraih nilai tertinggi dalam ujian nasional di sekolahnya, saya tak mungkin mengklaim. Raya yang punya saham – sisanya, kerja keras Havel dan izin Tuhan.

Saya masih di kantor saat anak-anak belajar. Ketika tiba di rumah, Kafka kerap telah terlelap. Havel segera menyusul. Hal terjauh yang saya lakukan adalah menelepon.

Ini terinspirasi seorang senior, beberapa tahun silam. Sebagai wartawan, dia juga jarang bisa mendampingi anak-anaknya belajar. Tapi, dia rutin menelepon, bertanya atau mengarahkan. Diam-diam saya menguping. Lalu meniru. Anak sulung senior itu kelak kuliah di Psikologi UGM, bungsunya di Elektro ITB.

Ya, ada masa ketika saya menyepelekan pendidikan formal. Menganggap “jalanan” jauh lebih berfaedah ketimbang “sekolah.” Itu dulu, pada tahun-tahun pertama kuliah. Toh, saya tak kunjung punya nyali untuk men-DO-kan diri. Ijazah sarjana pun tergenggam.

Kini pikiran itu tidak lagi bersemayam. Merembes keyakinan: pertaruhannya terlampau mahal. Tak layak ditempuh. Barangkali seperti Yudhistira menaruh Drupadi di meja judi.

Lantas, menomorsatukan sekolah dan tetek-bengeknya seraya menafikan hak mereka untuk bermain dan bergembira? Ah, benarkah hanya zero sum game itu yang tersedia? Ada banyak bukti, keduanya bisa sehaluan seperjalanan. Jangan terlalu mudah dininabobokan mitos.

***

“Ayo, ayah antar kamu ke Kumon.”

“Yeeeyyyyy…”

George Kanahele masih harus menunggu. Saatnya menebus sedikit “ketidakhadiran” di hari-hari lalu. Besok-besok, permintaan semacam itu boleh jadi tak pernah meluncur lagi.

Sepeda rusak gampang diperbaiki. Tak demikian dengan penyesalan.

One thought on “memilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>