persinggahan

Menghuni rumah itu, saya kerap teringat Rendra dalam Sawojajar 5, Yogyakarta:

Inilah tempat yang damai
di mana gelora dosa diredakan.
Tempat membasuh kaki yang payah
yang telah berjalan dengan resah
menempuh kekosongan dan kebimbangan.

Mulai tiga pekan lalu, kami tak di sana untuk sementara. Rumah kontrakan hanya terpaut puluhan meter dari rumah itu. Di kompleks yang sama.

Kafka tetap bertemu teman-temannya. Havel? Anak-anak sebaya dia di kompleks kami lebih suka ngendon di rumah sepulang sekolah. 

Lantaran jarak tak seberapa, kami masih bisa dengan mudah mengunjungi orangtua istri saya — yang tinggal persis di sebelah sejak tahun lalu. Mungkin dengan membawa martabak manis atau ketan bersalut kelapa parut.

Kami melakukan renovasi. Anak-anak membutuhkan kamar masing-masing. Dan, rumah itu sudah ringsek di sana-sini. Tak nyaman dipandang, kurang layak lagi dihuni.

Belum terlalu tua sebenarnya. Konon, kata staf pengembang, dibangun 1994 atau 1995. Bergaya Mexico. Luas tanahnya cuma 120 meter.

rumah kami

Beberapa bulan setelah menikah pada April 2001, kami mencicilnya. Uang muka berasal dari “amplop tamu” pernikahan kami. “Daripada habis enggak karuan, buat DP rumah aja,” ujar istri saya, Raya, saat itu.

Letaknya di Cinere. Sekitar lima kilometer dari perbatasan Jakarta-Depok. Udaranya lebih sejuk ketimbang Tangerang atau Bekasi. Mirip Bogor. Masih terdengar kicau burung-burung. Pepohonan rimbun.

Kami baru menempatinya pada 2004. Havel baru dua warsa, Kafka belum mbrojol ke dunia. Renovasi kecil dilakukan sebelumnya. Sehingga sebuah ruang keluarga tercipta.

Jelang Kafka lahir, pada 2007, penambahan kamar dilakukan lagi di lantai atas. Renovasi kedua ini kelak kami ketahui dikerjakan pemborong dengan sembrono: detail yang buruk, pengabaian soal keamanan bangunan. Satu contoh, ada pertemuan dua sisi dinding tak “diikat” dengan baik.

Lalu perpindahan terjadi tiga pekan lalu. Kira-kira luasnya separuh rumah kami, rumah kontrakan tersebut sesak dengan barang-barang. Bahkan carport diisi lemari, sofa, dan benda lain.

Tambahan lagi, daya listriknya terlampau kecil. Jika pendingin ruangan dinyalakan bersamaan dengan mesin air, listrik kontan padam. Maka, kami harus menghidupkan kipas angin demi menghalau gerah. Jendela bisa saja dibuka dan hawa segar menyusup, tapi bersamaan dengan itu pula nyamuk niscaya merajalela.

Tak nyaman juga. Namun tak apa. Hanya hingga Oktober atau November nanti. Jer basuki mawa bea (Eh, apakah pas ungkapan itu dipakai di sini?).

Kini, bayangkan mereka yang mesti pergi dari rumah. Entah sampai kapan. Bukan sebab kemauan sendiri. Semata-mata karena berbeda dengan mayoritas: Syiah, Ahmadiyah, atau Rohingya. Tinggal di pengungsian yang tak manusiawi.

Kami hanya beberapa bulan. Berbeda dengan mereka yang dirajam ketidakpastian — juga ketidakadilan; mereka yang tak kunjung punya “tempat yang damai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>