usia 17

Mira Sato merilis kumpulan puisi ini pada 1975, saat dirinya baru 17 tahun. Judulnya: MATI MATI MATI. Memuat 19 karya. Saya kutipkan satu:

Perjalanan

awan yang menggumpal berarak-arak
tetes hujan yang jatuh di pegunungan
mata air, sungai, dan muara
punggung lautan yang diusap matahari

Saya memperolehnya pekan lalu dari seorang penjual buku online. Hanya 25 ribu perak — sangat murah jika dibandingkan “nilai sejarah” kitab kurus ini.

msBakdi Soemanto, di halaman belakang buku, menulis, “…tiga empat tahun mendatang Mira Sato adalah penyair yang sajaknya pantas diperhitungkan oleh Gunawan Mohamad, Prof A. Teeuw, atau Harry Aveling.”

Ternyata belakangan ia lebih menekuni prosa ketimbang puisi. Terutama, cerita pendek. Menjulang di antara para penulis lain: dihormati kritikus, digemari pembaca.

Tapi tak ada lagi Mira Sato. Publik jauh lebih mengenal pria itu sebagai Seno Gumira Ajidarma.

One thought on “usia 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>