wij sluiten nu

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer berlayar ke Hindia Belanda. Pada Agustus 1936 itu, ia ditunjuk menjadi gubernur jenderal. Ia segera membetot perhatian lantaran dua hal. Pertama, baru 48 tahun – terbilang muda untuk jabatan tersebut. Kedua, nyaris tak mengenal Hindia Belanda.

Lantas, ia dikenang sebagai birokrat konservatif, tapi murah senyum. Saya membuka Runtuhnya Hindia Belanda karya Onghokham dan cerita soal van Starkenborgh hadir di sana.

Ong, mengutip penulis dan tokoh sosialis demokrat Belanda, J. de Kadt, untuk melukiskan van Starkenborgh. “…seorang birokrat kaku yang ditimbun tumpukan kertas di atas meja… rakyat melihatnya sebagai bapak yang selalu tersenyum saja… mengingatkan pada advertensi tapal gigi Pepsodent…” tulis Ong dalam karya yang semula merupakan skripsinya di jurusan Sejarah UI itu.

Rupanya, Pepsodent telah populer sejak zaman itu. Produsennya, yaitu Unilever, memang perusahaan patungan Inggris dan Belanda.

Van Starkenborgh konservatif karena dedikasinya untuk mempertahankan rezim kolonial tegak 100%. Ia mempertaruhkan segalanya, termasuk bersikap keras terhadap ide nasionalisme yang lagi mekar di sebagian elite terpelajar lokal di Hindia Belanda. Tak ada kompromi.

Kurang dari enam tahun kemudian, van Starkenborgh mesti menelan kenyataan pahit: Jepang merangsek ke Hindia Belanda. Ia pun, bersama sejumlah perwakilan Belanda lain, bertemu panglima militer Jepang, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, di Kalijati, Subang, Minggu 8 Maret 1942 petang.

Imamura membuka percakapan: “Apakah Tuan Mr AWL Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Hindia Belanda?” O iya, saya memulung percakapan mereka dari Selamat Berpisah, Sampai Berjumpa di Saat yang Lebih Baik, karya JC Bijkerk. Ini buku yang mengisahkan lepasnya Hindia Belanda dengan “kesedihan dan simpati di sana-sini” dari penulis.

Bangsawan dari Groningen itu menjawab, “Sebutan yang pertama benar. Tapi sejak 4 Maret saya bukan lagi Panglima Tertinggi. Pembebasan saya dari fungsi itu telah disiarkan melalui radio. Dengan demikian di sini saya hanya berwenang bicara urusan sipil.”

Di sini, kerumitan mulai membelit. Imamura melanjutkan, “Apakah Tuan setuju dengan penyerahan segera tanpa syarat?”

“Tidak, saya tidak akan menyerah.”

“Lalu mengapa Tuan datang ke Kalijati jika tak berniat menyerah?”

“Bukan saya, tapi Tuan yang mengajak berunding.”

BEBERAPA JAM SEBELUMNYA van Starkenborgh masih menolak perundingan. Berlindung di Vila Mei Ling, Bandung, ia sudah mendengar Jepang mengajak bertemu di Kalijati. Ia menolak karena meyakini perundingan hanya akan menghasilkan sejumlah konsesi penting, bahkan penyerahan total. Lagi pula, dari kacamatanya, KNIL belum memberikan perlawanan maksimal.

Lalu, sebuah telepon datang dari Ter Poorten, panglima tertinggi KNIL. Pesan penting dari Ter Poorten adalah Bandung bakal dibumihanguskan jika van Starkenborgh menolak berunding. Pria yang lama berkarier sebagai diplomat ini gamang. Bayangan banyaknya korban sipil menghantui.

Van Starkenborgh akhirnya melunak dan bersedia berangkat. Tiga mobil disiapkan. Para perwira Belanda menghendaki setiap mobil dipasangi bendera putih. Tentu agar tak diserang. Tapi, van Starkenborgh menampik. Bendera Belanda tetap berkibar di bagian depan mobil yang ditumpanginya.

Konvoi berangkat menjelang tengah hari ke Kalijati. Mereka singgah di Vila Isola, yang kini menjadi gedung rektorat UPI Bandung. Bergabung di sana sejumlah perwira Belanda dan penghubung dari militer Jepang, Kapten Yamashita.

Seorang perwira Belanda menanyakan apakah van Starkenborgh akan melapor ke Yamashita. Sang Gubernur Jenderal tak menjawab, hanya memandang lurus ke depan. Ajudannya nimbrung, menyatakan lebih baik memang melapor. Saat itu, seperti dikutip Bijkerk, van Starkenborgh menjawab, “Jika kapten Jepang itu memang harus melihat saya, suruh saja dia ke sini. Dan dia akan yakin bahwa saya memang ada di mobil ini.”

SENJA TIBA DI Kalijati. Imamura bingung. Dia berbicara dengan para stafnya. Lalu mengajukan pertanyaan yang sama, “Apakah Tuan akan menyerah?”

Van Starkenborgh menggelengkan kepala, lalu mengatakan, “Tunggu sebentar. Saya tidak tahu apakah yang di dekat pintu itu wartawan atau juru potret. Tapi saya ingin melihat Tuan memintanya menyingkir.”

Bahkan, ketika kekalahan telah di depan mata, van Starkenborgh tak mau kehilangan muka. Kehadiran jurnalis hanya akan semakin mempermalukan diri…dan bangsanya.

Nyaris buntu, Imamura bilang tak ada gunanya lagi bicara dengan pemimpin sipil. Lebih baik beralih ke para pejabat militer. Di sana, ada Ter Poorten. Letnan Jenderal ini ternyata bersilang pendirian dengan van Starkenborgh. Poorten berpendapat tak ada kans untuk memenangi pertempuran. Secara teknis militer, Jepang mustahil dikalahkan.

Hindia Belanda takluk. Penyiar Bert Gerthoff dari Radio Nirom Bandung, pada 8 Maret pukul 23.00, menyampaikan kata-kata perpisahan yang termasyhur itu: “Wij sluiten nu. Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin! (Kami tutup sekarang. Selamat berpisah, sampai berjumpa di saat yang lebih baik. Hidup Sri Ratu!).”

Van Starkenborgh kecewa dengan ujung semua ini. Toh, ia tak punya pilihan pada akhirnya. Pada Agustus 1967, dalam surat kepada Bijkerk, Imamura mengatakan, “Sampai sekarang, 25 tahun kemudian, saya kagum terhadap tata krama mereka dan saya puji sikap dan pemilihan kata-kata Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>