pamflet sebelum 100 hari

Republik belum 100 hari. Pada 10 November 1945, Sutan Sjahrir menerbitkan pamflet berjudul Perjuangan Kita. Tipis tapi bertenaga. Telunjuknya mengarah ke sana dan sini kendati tanpa menyebut nama. Ia coba menggeledah situasi yang terhampar pasca-proklamasi.

Buat Sjahrir, situasi tergelar mengecewakan. Kaum muda dihantamnya: “…jiwa pemuda dibentuk untuk dapat menerima perintah saja, untuk tunduk dan mendewa-dewakan, seperti orang Jepang tunduk kepada Tenno dan mendewa-dewakannya. Demikian pula hanya diajar tunduk pada pemimpin dan mendewa-dewakannya, tidak diajar dan tidak cakap bertindak dengan bertanggung jawab sendiri. Kesadaran revolusioner yang harus berdasar pada pengetahuan kemasyarakatan, tipis benar. “

Revolusi berjalan tanpa nalar. Minus kepala dingin. Hanya kebencian dan kemarahan yang dimunculkan ke permukaan. “…tentu pula perbuatan yang sebenarnya tiada berpengertian ini, banyak pula salah tubruk, sehingga merusakkan dan merugikan perjuangan kita. Dengan demikian umpamanya hasutan-hasutan dan perbuatan-perbuatan terhadap bangsa-bangsa asing, yang melemahkan kedudukan perjuangan kita di dalam pandangan dunia internasional,” tulis Sjahrir.

****

Saya membaca lagi Perjuangan Kita. Tiba hari ini, dipesan dari penjual buku di dunia maya. Ketika memegangnya, saya membayangkan reaksi orang-orang yang digasak Sjahrir.

Dalam euforia revolusi, pasti ada yang menyebut putra Minangkabau itu nyinyir. Atau, dalam bahasa anak sekarang, gagal move on setelah berbeda pendapat dengan Sukarno-Hatta jelang 17 Agustus 1945.

Ketika proklamasi dibacakan, Sjahrir tak beranjak dari rumahnya di Jalan Maluku, Jakarta. Menurut Maroeto Nitimihardjo, Bung Kecil masih tidur. Ia lalu dibangunkan dan disodori teks proklamasi. Tetap skeptis. “Kita harus mengupayakan kemerdekaan yang terlepas dari pengaruh Jepang agar mudah diakui Sekutu,” tulis anak Maroeto, Hadidjojo, dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan, menirukan Sjahrir.

perjuangan kitaToh, tak lama dari penerbitan risalah itu, Sjahrir mendapat tempat penting di Republik. Menjadi perdana menteri setelah sistem pemerintah diubah menjadi parlementer.

Ketika jalan diplomasi tak terhindarkan, Sjahrir menjadi pilihan yang pas. Sukarno-Hatta meruapkan aroma fasisme Jepang. Sekutu, sang pemenang perang, memandang rendah: mencap sebagai kolaborator. Bahkan sempat beredar rumor Sukarno bakal diadili selaku penjahat perang. Saat Jepang berkuasa, Sjahrir bergerak di bawah tanah dengan para pemuda binaannya.

Dengan Sukarno, ada banyak cerita bahwa keduanya memang tak pernah akur. Dengan Hatta, Sjahrir jauh lebih dekat. Ini terjalin sejak mereka sama-sama di Belanda dan membangun Perhimpunan Indonesia. Juga kala mereka menegakkan PNI Baru — sebagai antitesa Partindo yang disokong Sukarno. Ketika Hatta bekerja sama dengan penguasa militer Jepang, hubungan dengan Sjahrir tetap baik.

****

Telunjuk Sjahrir juga mengarah ke Dwitunggal dan para pemimpin lain. Ia bilang keterlambatan Sekutu untuk menggantikan militer Jepang sebenarnya menyediakan kans bagi para pemimpin untuk menata bangsa. Namun, hal ini gagal.

“Sebab yang pertama ialah bahwa yang mengendalikan pemerintahan Negara Republik Indonesia bukan orang yang berjiwa kuat. Kebanyakan dari mereka telah terlalu biasa membungkuk serta berlari untuk Jepang atau Belanda; jiwanya bimbang dan nyata tidak sanggup bertindak dan bertanggung jawab,” tulis Sjahrir.

“Sebab yang kedua adalah bahwa banyak di antara mereka merasa berhutang budi kepada Jepang, yang mengkurniakan persediaan Indonesia Merdeka pada mereka. Akhirnya dianggapnya, bahwa ia menjadi pemerintah, ialah oleh karena bekerja bersama dengan Jepang,” lanjut jebolan Universitas Leiden tersebut.

Perjuangan Kita berharga lantaran jujur, jernih, menggugah. Pun menggedor bahwa kritik itu sungguh perlu. Tak usah menunggu satu atau dua tahun. Kritik sah dilayangkan bahkan ketika republik belum 100 hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>