brave heart

Havel,

Aku berjumpa seorang kawan lama. Tak sengaja. Dulu, kawan ini dikenal sebagai demonstran di kampus. Saban ada unjuk rasa, bisa dipastikan dia ada di baliknya. Kami tak terlalu akrab, bahkan beberapa kali bersilang pendapat soal aktivisme mahasiswa. Kita sebut saja dia: Fulan.

“Apa kabar, Fulan?” aku menyapa.

“Ya, beginilah, namanya juga penganggur,” ujar Fulan, merendah.

Aku mafhum, dia tak bisa dikategorikan sebagai penganggur. Diam-diam, aku mengamati: t-shirt-nya lusuh, begitu pula sandal kulit itu. Kami tenggelam dalam perbincangan, beberapa menit. Dia belum berubah. Tetap asyik di jalur politik. Hari-hari ini, Fulan sibuk membantu seorang bakal kandidat kepala daerah.

Setelah kami berpisah, aku tercenung: barangkali ini semacam anakronisme. Teman-teman lain telah hidup cukup mapan, Fulan masih “bertualang di jalanan.” Niscaya, itu bukan sebuah kesalahan, apalagi jika itu merupakan pilihan. Tapi, aku tak pernah berani bertanya: apa yang membuat elu memilih jalan ini? Sampai kapan?

Terus terang, aku agak khawatir dengan langkah-langkah kawan seperti Fulan. Aku mendengar, seorang karibnya –sesama demonstran di masa mahasiswa–sempat menjadi “ajudan” tokoh politik lokal di Bandung. Sayangnya, tokoh itu tak memiliki rekam jejak yang “putih” sebagai politisi.

Dari latar belakang keluarga, Fulan terbilang sejahtera. Meski juga anak rantau, dia tak pernah terlihat kekurangan uang. Ah, aku jadi ingat: aku masih berutang beberapa belas ribu rupiah padanya. Duit itu kugunakan untuk menikmati Brave Heart —film yang dibintangi Mel Gibson–di Kiara Condong bersama ibumu (saat itu, kami baru resmi bebogohan..he..he..).

Ya, semoga, aku meminjam dari seseorang yang juga memiliki brave heart. Pun, sampai kini….

0 thoughts on “brave heart

  1. andy budiman says:

    ah,
    kayaknya gue ingat siapa yang elo maksud. ganjil juga, melihat mereka yang menurut istilah Soe Hok Gie, masih ada di persimpangan kiri jalan ini.

    gue jadi ingat, sebuah diskusi kecil di TUK tentang “Kiri di Asia”. anak-anak PRD yang ketika itu baru keluar dari penjara, dengan berapi-api menyampaikan gagasan mereka tentang, apa artinya menjadi kiri.

    melihat semangat ini, tokoh kiri gaek dari Filipina Joel Rocamora sambil bergurau bilang, jangan terlalu serius. Joel yang menjadi pendiri Akbayan memang harus mendapati kenyataan pahit partainya (baca : kekuatan kiri) di negara itu tak pernah bisa berkembang. Joel seolah mau bilang lebih baik orang kiri mempersiapkan diri untuk kalah ketimbang menang.

    dalam diskusi yang sama, seorang tokoh kiri dari Thailand mengibaratkan, menjadi kiri itu seperti pacar lama yang sesekali ingin kita peluk dan cium kembali, tapi tak bisa.

    betul begitu Yus ?

  2. havel's mom says:

    it was so romantic…
    eventhough you borrowed some money :)) which is I didn’t know in the previous …
    tapi kenapa bioskop itu tidak ada lagi??

  3. tatang muttaqin says:

    Mudah-mudahan sebagai sebuah pilihan hidup, Kawan. Ketidakmapanan merupakan suatu yang menantang untuk mencapai “jalan” sejatining urip.

    Kalau Yus bernostalgia di Kircon yang sudah punah, adakah teman kita yang punya nostalgia di bioskop Jatinangor?… he3x

  4. yus,
    hidup tak bisa diperbandingkan secara materi dan ukuran manusia.
    lagipula, hidup adalah pilihan, termasuk pilihan untuk tidak hidup sekalipun.

    apakah pilihan kawan kita tadi buruk? tidak juga. sama dengan pilihan hidup saya atau kau, mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>